Oleh: La Oddang Tosessungriu
ETTAPEDIA.ORG – Hari itu, Jum’at, 8 Maret 2019, saya menerima telpon dari Junjunganku Opu TopapoataE Datu Luwu XL dari Jakarta. Sejak beberapa lama ini barusan saya bangun pagi dan terberkati dengan sapaan ramah junjunganku, meski tidak bertemu muka. Seketika ini teringat perihal philosofi “kulu-kulu”, yakni sejenis burung langka yang kemudian dijadikan penamaan “pangulu” (gagang) badik Bugis yang tersohor itu.
Pangulu Kulu-kulu bentuknya sederhana, namun sejauh ini tidak banyak “panrE pangulu wanua” (tukang gagang warangka) yang dapat membuatnya dengan benar. Masalahnya, ia disebut gagang kepala burung, namun bentuknya juga tidak menyerupai kepala burung.
Pangulu ini bulat pipih menyerupai kepala burung, memiliki mata dan telinga, namun tidak memiliki paruh. Memang burung apa yang tidak memiliki paruh? Orang menyebutnya: Kulu-kulu!

Bagaimana bentuk burung Kulu-kulu itu? Wallahu ‘alam bish-shawab, demikian jawabnya pula. Menjadilah “pangulu kulu-kulu” yang bentuk dan rupanya seperti ini, burung bukan burung, dan pastinya bukanlah naga. Namun “kulu-kulu” itu bukannya burung mitologi, ia nyata adanya meskipun fiksi (meminjam pikiran Rocky G tentang fiksi). Suaranya keras memekakkan telinga, “kuuuulukulu kulu kulu kulu!” membangunkan burung lain dan makhluk disekitarnya yang masih terlelap dibuai mimpi tidurnya.
Sungguh ia-lah burung yang paling dulu berzikir menyambut fajar, ditingkahi suara kokok ayam bersahutan. Ia-lah yang paling dulu terjaga karena sarangnya senantiasa terletak pada puncak pohon Tippulu, yakni pohon tertinggi di rimba Sulawesi ini. Niscaya bumi tak pernah datar dalam pandangannya, melainkan bulat setengah lingkaran, sehingga sinar mentari yang jelang terbit dikejauhan sudah nampak olehnya. Lalu bagaimana bentuk dan warna bulunya?
Orang tua-tua Bugis tidak ada yang “mau” mendeskripsikannya, seraya berujar, “tenrisseng pakkassara’, Ana’” (kita tidak tahu mendeskripsikannya, nak). “Apakah tidak ada yang berusaha melihatnya?” – tanyaku penasaran ketika itu. Sesungguhnya, ada banyak hal yang lebih bernilai jika menjadi misteri, demikian jawabnya. Meski hal misteri itu dapat saja kita singkap dibalik tabirnya, tambahnya pula.
Bahwa keseharian dalam kehidupan ini menjadi menarik justru karena ada banyak hal yang terlindung dibalik tabir pandangan kita. Imajinasi dalam benak kita akan bekerja dengan aneka warna cerah yang terdegradasi dengan harmonis, sehingga hari-hari dijalani dengan optimis, namun tak memandang sebelah mata pada realita.


Luwu, yakni negeri dimana hulu sungai falsafah kearifan Bugis bermata air, adalah negeri yang penuh misteri. Pada negeri ini terdapat sosok yang nampak namun tanpa suara dan juga suara-suara yang terdengar namun tak berwujud siapa pengucapnya.
Untaian sejarahnya sekilas menyebut La Sameggu yang dijuluki Lontaraq Bugis sebagai “La Mengngu” (yang mendengung) karena Konsep-konsep briliannya senantiasa lestari hingga hari ini, namun gambaran tentang sosok dan kehidupannya sangat sedikit yang dapat direkam sejarah, jika tidak dapat dikatakan nihil sama sekali. Beliaulah yang menggagas pembentukan Ade’ Seppulodua (Dewan Adat 12) selaku eksekutif pemerintahan (passolompawo) yang berhadapan dengan Ade’ AsEra (Dewan Adat 9) selaku legislative (pangelle’ waEpasang).


Tidak ada Lontaraq yang menulis Teori Ketatanegaraan sebagai pengingat atas namanya, namun realitanya hari ini Dewan Adat 12 dan Dewan Adat 9 yang digagasnya dalam Abad 14 masih lestari hingga hari ini. Olehnya itu dikenallah suatu ungkapan lama pada kalangan Orang Bugis, yaitu: “dEgaga MENGNGU-MENGNGU najajimua jamangna” (meskipun tanpa suara, namun pekerjaannya tuntas).
Walhasil sosok orang Luwu yang brillian lainnya adalah To Ciung. Entah siapa namanya yang sesungguhnya, hanya Allah SWT Yang Maha Tahu. Beliau dikenal hanya nama gelarnya, yakni “To Ciung” yang kemudian ditambahkan sebutan lain oleh muridnya (La Pagala NEnE Mallomo), yakni: To Tongeng MaccaE ri Luwu (orang yang benar-benar pintar di Luwu).

Perihal kehidupan dan kearifan petuahnya sejauh ini belum didapati ditulis di Luwu, kecuali secuil tentang keberadaannya pada Lontara Akkarungeng Luwu (lbr. 78, tentang La Dewaraja). Namun demikian, justru murid-muridnya dari luar Tana Luwu yang banyak menulis tentang kedalaman tuahnya, yakni oleh La Pagala NEnE Mallomo Petta PammulaiyyE DEcEng ri SidEnrEng (Lontara Pau-Paunna NEnE Mallomo) dan La Mannussa’ Toakkarangeng Petta MatinroE ri Tanana Datu SoppEng IX (1534 – 1556).
Pada kedua tokoh sejarah kerajaan di kawasan Bugis inilah sehingga kedua “kulu-kulu” dari Tana Luwu itu terdengar gaungnya. Maka dari itu dikenal suatu ungkapan bahasa Ugi’ di Luwu, bahwa: “Aja’ na’ikkeng teppui onikkeng // nasaba’ sisala ammani lE oninna na bulunna” (janganlah kita yang menyebutkan apa “bunyi” kita // jangan sampai berbeda bunyinya dari corak bulunya).

Hal tersebut dinyatakan kembali oleh Tomalebbikkeng Opu Maddika Bua Andi Syaifuddin Kaddiradja Opu Tosettiaraja dalam suatu kesempatan, antara lain dimaksudkan bahwa janganlah menyebut diri, biarlah orang yang menyebut apa dan siapa diri kita. Sebagaimanapun mawasnya kita menilik diri didepan cermin, niscaya tak mungkin melihat keseluruhan diri dibagian punggung. Olehnya itu barangsiapa yang menilai diri, besar kemungkinan akan menilai lebih dari yang sesungguhnya.
Maka berbedalah nilai itu dari realitas yang sesungguhnya, sebagaimana disebut “sisala oninna na bulunna” (berbeda bunyi dari warna bulunya). Selanjutnya Tociung dalam wasiat NEnE Mallomo menyatakan pentingnya pula untuk sekali-kali menilai diri (intropeksi).

Namun menurut proporsi standar dibawah garis perkiraan, sebagaimana dinyatakannya: “Alai mariawaE rigangkanna sitinajaE // lalloi mariase’E ritessinajaE // lebbi irui’E mEnrE’ // naiyya rirui’E noo’” (pilihlah yang dibawah menurut yang sewajarnya // tinggalkan yang tinggi namun tak sepantasnya // lebih baik ditarik naik keatas // daripada ditarik turun ke bawah).
Bahwa kulu-kulu adalah makhluk yang rendah hati, namun keberadaannya diketahui dari suaranya yang menggugah mahluk lainnya dari tidur lelap pada pagi hari. Ketinggian martabatnya didasari azas manfaat sehingga kita tidak “mempertanyakan” lagi bagaimana bentuk dan warna bulunya. Sekali lagi benarlah wejangan Gus Dur, bahwa, “Orang takkan menanyakan apa suku dan agamamu, melainkan apa yang telah engkau lakukan”. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)





















