Oleh: M. Farid W Makkulau *)
Related Post: Lirik dan Arti Lagu Makassar: Kelong Turatea
ETTAPEDIA.ORG – Apa yang kamu ketahui tentang Jeneponto? Ya, tentu menelusuri sejarah dan kebudayaan Kabupaten Jeneponto adalah sebuah upaya memahami karakter “Turatea” yang sesungguhnya. Jeneponto—sebuah daerah yang sering disalahpahami hanya karena citra “kerasnya”, padahal menyimpan kedalaman filosofi dan sejarah ketatanegaraan yang luar biasa.
Bagi banyak orang, Jeneponto mungkin hanya dikenal melalui hamparan garam, kuda, dan PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu). Namun, mari kita melihatnya dari sisi yang lebih dalam. Jeneponto bagi penulis adalah sebuah entitas kebudayaan yang memiliki martabat sejarah yang tinggi. Mari melihat Jeneponto bukan sekadar dari aspek geografisnya yang gersang, melainkan dari “kesuburan” nilai-nilai Siri’ yang tertanam dalam struktur kerajaan lamanya, terutama Kerajaan Binamu.
@etta.palontaraq Angngurai? #fypage #fyp #fypjeneponto #jeneponto #sulawesiselatan
***
Satu hal spesifik yang sering ditekankan penulis tekankan adalah pemahaman makna di balik sebutan Turatea. Secara harfiah, Tu atau Tura berarti orang dan Tea (atau Rate) berarti atas. Jadi, Turatea berarti “Orang Atas”.
Penyebutan nama lain daerah Jeneponto ini menjelaskan bahwa istilah ini bukan sekadar penunjuk geografis (masyarakat yang tinggal di dataran lebih tinggi dibanding wilayah pesisir tertentu), melainkan sebuah identitas psikososial. Turatea mestilah digambarkan sebagai masyarakat yang memiliki kepercayaan diri tinggi, teguh pada pendirian, dan tidak mudah tunduk pada tekanan. Identitas Turatea inilah yang menjadi motor penggerak Sejarah perlawanan di Jeneponto.
Dalam rekonstruksi dan penelitian sejarah yang pernah penulis lakukan, Kerajaan Binamu menempati posisi sentral, sekaligus menjelaskan bahwa sebelum terbentuknya Kabupaten Jeneponto yang kita kenal sekarang, wilayah ini terdiri dari beberapa kerajaan kecil seperti Binamu, Bangkala, Arungkeke, dan Tarowang. Namun, Binamu sering kali menjadi sorotan utama karena struktur kekuasaannya yang mapan.
Keunikan struktur pemerintahan di Binamu yang melibatkan Toddo Appaka (Empat Tiang Utama). Sistem ini menunjukkan bahwa sejak dahulu, Jeneponto telah mempraktikkan pembagian kekuasaan yang demokratis. Masing-masing Toddo memiliki peran spesifik dalam menjaga stabilitas kerajaan, mulai dari urusan pertahanan hingga urusan adat dan kemasyarakatan.
Untuk mendapatkan pemahaman yang kompleks terkait Sejarah Jeneponto, maka kita seharusnya jeli memotretnya dalam berbagai aspek, misal hubungan antara Jeneponto (khususnya Binamu dan Bangkala) dengan pusat kekuasaan di Kerajaan Gowa. Bahwa meskipun berada dalam pengaruh Gowa, kerajaan-kerajaan di Jeneponto tetap memiliki otonomi yang kuat.
Beberapa diantaranya yang sempat penulis catat, yaitu bahwa para bangsawan Jeneponto sering kali menjadi sekutu strategis bagi Gowa, namun mereka juga tidak segan-segan bersikap kritis jika kebijakan pusat dianggap mencederai kehormatan lokal. Hubungan ini dapat dipandang sebagai “kemitraan antar-bangsawan” yang dilandasi oleh rasa saling menghormati, bukan sekadar hubungan atasan dan bawahan.
***
Jeneponto sangat identik dengan kuda. Kuda bagi masyarakat Turatea bukan hanya sekadar alat transportasi atau hewan ternak untuk konsumsi (Gantala Jarang). Kuda sejatinya adalah simbol status dan kejantanan. Lihatlah misalnya, bagaimana ketangkasan menunggang kuda mencerminkan ketangkasan seorang pemimpin. Kuda adalah mitra hidup yang melambangkan kecepatan, kekuatan, dan ketahanan—tiga karakter utama yang juga melekat pada jati diri orang Jeneponto.

Reinterpretasi terhadap karakter “keras” orang Jeneponto sudah beberapa kali penulis luruskan. Bahwa kekerasan yang sering diasosiasikan dengan daerah ini sebenarnya adalah wujud dari penegakan Siri’ (harga diri). Orang Jeneponto sangat menghargai kejujuran dan keterbukaan. Dalam catatan penulis, kemarahan orang Turatea biasanya hanya dipicu oleh pelanggaran terhadap prinsip-prinsip harga diri yang fundamental. Karena itu, mari kita coba menggeser stigma negatif tersebut menjadi sebuah nilai positif, yaitu ketegasan dalam membela kebenaran.
***
Dari sisi keras yang sering disalah-persepsikan, mari kita melihatnya sisi lembut dari kebudayaan Jeneponto. Misal pada tarian tradisional yang masih lestari dan sastra lisan seperti Pappaseng (pesan-pesan bijak) yang dituturkan dalam bahasa Makassar dialek Turatea.
Meskipun dialek Turatea terdengar lebih “tegas” dibanding dialek Makassar di pusat kota (Gowa/Makassar), bahasa sejatinya adalah penyimpan kekayaan metafora yang luar biasa. Banyak sekali ungkapan-ungkapan kuno yang menunjukkan betapa tingginya peradaban pemikiran leluhur di tanah Binamu dan Bangkala.
Hal lainnya yang tak kalah menarik adalah Jejak Islam di Tanah Turatea, terkait bagaimana Islam masuk dan beradaptasi di Jeneponto. Hal ini bisa dilihat dari keberadaan Masjid-masjid tua dan makam-makam raja yang menjadi saksi bisu harmonisasi antara ajaran Islam dan tradisi lokal.
Dari jejak penyebaran Islam di Turatea ini kita bisa mendapati rekam jejak sosial budaya terkait bagaimana Nilai-nilai Islam memperkuat konsep Siri’, di mana membela harga diri juga dipandang sebagai bagian dari menjaga kehormatan agama. Masyarakat Jeneponto sebagai salah satu contoh masyarakat yang paling taat dalam menjalankan tradisi, namun tetap memegang teguh identitas keislaman mereka.
Dari segi sosiogeografis Jeneponto, kita bisa memandang karakteristik alam Jeneponto yang kering sebagai tantangan yang membentuk ketangguhan penduduknya. Pemanfaatan angin melalui PLTB Jeneponto dipandang sebagai kelanjutan dari “kekuatan angin” yang dahulu membantu para pelaut dan petani di daerah ini. Jeneponto di kekinian adalah daerah yang sedang bertransformasi, dan semoga saja kemajuan daerah ini tidak melupakan akar sejarahnya.
Mari untuk melihat Kabupaten Jeneponto dengan cara yang lebih bermartabat. Jeneponto bukan sekadar daerah yang gersang atau keras, melainkan sebuah tanah yang melahirkan ksatria-ksatria Turatea yang memegang teguh janji dan harga diri. Memahami Turatea adalah memahami separuh dari nyawa kebudayaan Makassar, terkait sejarah raja-rajanya, filosofi, dan keteguhan masyarakatnya adalah aset budaya yang tak ternilai. (*)
(* M. Farid W. Makkulau, Penulis dan Peneliti Sejarah Budaya Sulawesi Selatan.





















