Apa yang Kamu Ketahui tentang Kabupaten Barru?

Oleh: M. Farid W Makkulau *)

ETTAPEDIA.ORG – Menelusuri Sejarah Kabupaten Barru lewat postingan penulis yang tersebar di internet tentu akan memberikan perspektif yang unik. Mengapa demikian? Berbeda dengan narasi sejarah arus utama yang sering kali berfokus hanya pada hegemoni Gowa dan Bone, penulis mengangkat Barru sebagai sebuah mozaik konfederasi yang memiliki kemandirian politik dan kekayaan spiritual yang sangat spesifik.

Kabupaten Barru, yang terletak di pesisir barat Sulawesi Selatan, sering kali dijuluki sebagai daerah yang “tenang namun menghanyutkan” dalam lintasan sejarah. Melalui berbagai riset, penulis mencoba membedah bahwa ketenangan Barru hari ini adalah hasil dari kedewasaan politik masa lalu. Barru bukan hanya sekadar jalur perlintasan antara Makassar dan Parepare, melainkan sebuah wilayah yang menjadi saksi bisu harmonisasi antara adat dan syariat.

Map Kabupaten Barru. (foto: ist/*)
Map Kabupaten Barru. (foto: ist/*)

***

Mari kita lihat sisi terdalam dari Sejarah Barru, penulis mencoba mengangkat kembali penjelasan mengenai struktur Pitu Babana Binanga (Tujuh Muara Sungai). Berbeda dengan Pangkep yang memiliki Tiga Dimensi atau Bone dengan Ade’ Pitu, Barru dikenal melalui konfederasi tujuh kerajaan kecil yang mendiami muara-muara sungai utama.

Ketujuh entitas tersebut, yaitu: Kerajaan Balusu, Kerajaan Soppeng Riaja, Kerajaan Mallusetasi, Kerajaan Barru (sebagai pusat administrasi kemudian), Kerajaan Tanete, Kerajaan Pujananti, dan Kerajaan Agatareng. Keunikan federasi ini terletak pada kemandirian masing-masing kerajaan namun terikat dalam pakta pertahanan bersama. Kemandirian itu bisa dilihat, salah satunya terkait bagaimana muara sungai menjadi urat nadi ekonomi dan pertahanan yang membuat Barru menjadi wilayah yang disegani oleh pelaut-pelaut asing pada masa kolonial.

Tanete adalah salah satu kerajaan di Sulawesi Selatan yang paling progresif dalam hal kepemimpinan perempuan dan literasi. Lihatlah bagaimana sosok Colliq Pujié (Arung Pancana Toa), seorang intelektual perempuan jenius dari Tanete yang membantu B.F. Mattheus menyalin dan menyelamatkan naskah I La Galigalo. Tanpa peran Colliq Pujie’ dari Barru ini, dunia mungkin tidak akan pernah mengenal epik terpanjang di dunia tersebut secara utuh. Hal ini spesifik menunjukkan bahwa Barru adalah “rahim” bagi pelestarian budaya Bugis.

Tugu Kota Barru. (foto: ist/*)
Tugu Kota Barru. (foto: ist/*)

Dalam catatan riset penulis, Posisi Barru seringkali menjadi “daerah penyangga” yang cerdas secara diplomatik. Barru memiliki hubungan yang dinamis dengan Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Beberapa raja di Barru (seperti di Tanete dan Balusu) memiliki garis keturunan yang bersinggungan langsung dengan penguasa-penguasa besar di Sulawesi Selatan. Namun, uniknya, Barru sering kali berhasil menjaga netralitasnya atau memilih aliansi yang menguntungkan rakyatnya, menunjukkan bahwa pemimpin Barru masa lalu adalah diplomat ulung yang lebih mengutamakan stabilitas daerah daripada ambisi ekspansi.

Dari aspek lain, Spiritualitas dan Jejak Islam di Barru, dareah ini berhasil menjadi pusat pengembangan agama Islam yang moderat. Bacalah peran Anregurutta (ulama besar) yang lahir atau menetap di Barru. Salah satu yang spesifik pernah penulis ulas adalah keberadaan Pesantren DDI Mangkoso. Mangkoso bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai identitas spiritual Barru dan memberikan warna religius bagi daerah di sekitarnya. Barru adalah contoh nyata di mana “Adat dan Syara’” tidak hanya bersentuhan, tetapi menyatu secara harmonis.

***

Barru juga unik dalam hal kekayaan arkeologi Barru. Keberadaan situs-situs batu pelantikan raja dan pemakaman kuno di Barru menunjukkan bahwa peradaban di Barru telah mapan jauh sebelum pengaruh kolonial masuk. Penulis pernah memosting Situs Megalitikum di Soppeng Riaja dan jejak-jejak pemukiman kuno di perbukitan Barru. Sejarah Barru tidak dimulai dari pembentukan kabupaten tahun 1960, melainkan ribuan tahun sebelumnya saat manusia prasejarah mulai mendiami gua-gua dan lembah di wilayah ini.

Karena letak geografisnya yang memanjang di pesisir, banyak periset termasuk penulissering mengeksplorasi budaya bahari Barru. Pelaut Barru memiliki keahlian navigasi yang setara dengan pelaut Bugis lainnya. Lihatlah misalnya bagaimana teknologi pembuatan perahu di wilayah pesisir Barru dan bagaimana perdagangan antar-pulau membentuk karakter masyarakat Barru yang terbuka terhadap pendatang.  Pelabuhan-pelabuhan kuno di Barru memberikan gambaran bahwa daerah ini dulunya adalah titik temu perdagangan rempah dan komoditas penting lainnya.

Yang tak kalah menariknya adalah Cara orang Barru mengekspresikan kesyukuran kepada alam. Terkait bagaimana hidangan syukur itu disajikan dalam acara “Mappaedde” atau ritual panen, yang menunjukkan bahwa masyarakat Barru sangat menghargai kedaulatan pangan dan kelestarian ekosistem darat maupun laut.

Orang Barru sebagai sosok yang memiliki etika tinggi (Adele’) dan rasa malu (Siri’) yang sangat terjaga. Kekuatan Barru bukan pada militeristiknya di masa kerajaan, melainkan pada Intelektualitas dan Spiritualitas. Kabupaten Barru tampil bukan sebagai daerah pinggiran, melainkan sebagai pusat literasi dan spiritualitas di Sulawesi Selatan.

Dari kejeniusan Colliq Pujié hingga kearifan para ulama di Mangkoso, Mari memotret Barru lebih meluas lagi sebagai wilayah yang menjaga warisan masa lalu untuk membangun masa depan yang beradab. Barru adalah “Tanah Para Intelektual” dalam bingkai federasi Pitu Babana Binanga. (*)

(* M. Farid W Makkulau, Peneliti Sejarah Budaya Sulawesi Selatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga