30 C
Makassar
Oktober 6, 2026, 10:03 pm

Apa yang Kamu Tahu tentang Kabupaten Bone?

Oleh: M. Farid W Makkulau *)

Related Post: Beberapa Hal Penting dalam Memahami Riwayat Raja Bone (1), Beberapa Hal Penting dalam Memahami Riwayat Raja Bone (2)

ETTAPEDIA.ORG – Apa yang Kamu Tahu tentang Kabupaten Bone? Bagi penulis, Bone merupakan salah satu pilar utama peradaban Bugis. Hal ini hanya bisa dipahami jika kita serius menggali manuskrip Lontaraq, suatu sumber yang memberikan perspektif yang kaya akan detail silsilah, heroisme, dan filosofi kekuasaan yang membentuk jati diri “Tau Bone” (Orang Bone).

Kabupaten Bone bukan sekadar wilayah geografis di pesisir timur Sulawesi Selatan; ia adalah simbol supremasi politik dan kemuliaan adat Bugis. Bagi penulis, memotret Bone haruslah utuh sebagai entitas yang memiliki sistem ketatanegaraan paling mapan di zamannya. Memahami Bone adalah kunci untuk memahami dinamika “Siri’ na Paccé” dalam skala makro.

***

Membincang Bone dari segi sejarahnya, salah satunya bisa bermula dari memahami kedatangan Manurungngé ri Matajang (Mata Silompoe’) sebagai Titik Awal Kedaulatan Bone. Mengawali narasi sejarah Bone haruslah jelas alurnya, dari awal bagaimana transisi dari masa Sianré Balé (masa kekacauan di mana yang kuat memakan yang lemah) menuju terbentuknya negara yang teratur.

Kehadiran Manurunge’ di Matajang bukan sekadar mitos kesaktian, melainkan sebuah kontrak sosial, menjelaskan bahwa rakyat Bone secara sukarela menyerahkan kedaulatan kepada pemimpin yang mampu memberikan keadilan, dan seterusnya hingga terbentuk struktur awal Bone yang dibangun di atas fondasi persekutuan tujuh komunitas (Tujuh Panynyadi) yang kemudian dikenal sebagai Ade’ Pitu.

@madidi_ea

Selamat Hari Jadi Kabupaten Bone ke-696, 6 April 2026, “To Masseddi Patarompoi Wanua Bone”. #bone #bugisbone #bugissulawesi #fypbone #bloggerlife

♬ suara asli – Etta Adil – Etta Adil

Ade’ Pitu (Tujuh Dewan Adat) adalah refresentasi rakyat dengan tugas masing-masing dewan, mulai dari urusan pertahanan, agama, hingga kesejahteraan rakyat. Bahwa Arumpone (sebutan Raja Bone) tidak bisa dan tidak boleh bertindak sewenang-wenang. Jika Ade Pitu’ menganggap raja telah melanggar janji atau sumpah jabatan, mereka memiliki mekanisme untuk menurunkan sang raja. Ini adalah bukti bahwa demokrasi dan checks and balances sudah dipraktikkan di Bone ratusan tahun lalu.

Umumnya orang mengenal sejarah Bone dalam kaitannya dengan Arung Palakka, bersinggungan dengan Perang Makassar di masa kekuasaan Sultan Hasanuddin. Ya, Sosok Arung Palakka Lattenritatta adalah figur sentral yang paling sering diulas, namun juga sering disalah-persepsi. Penulis telah beberapa kali berupaya menghadirkan narasi dan fakta sejarah yang objektif namun tetap empatik, menjernihkan stigma sejarah yang sering kali memojokkan Arung Palakka sebagai “pengkhianat” dalam narasi sejarah nasional yang sentris pada Gowa.

Penulis dalam Kompleks Pemakaman Raja Bone, Arung Palakka di Gowa. (foto: ist/*)
Penulis dalam Kompleks Pemakaman Raja Bone, Arung Palakka di Gowa. (foto: ist/*)

Beberapa poin spesifik yang penulis angkat mengenai Arung Palakka, diantaranya adalah bahwa Perlawanan Arung Palakka bukan didorong oleh kebencian personal, melainkan oleh harga diri (Siri’) bangsa Bugis (Bone dan Soppeng) yang pada saat itu berada di bawah tekanan kerja paksa (proyek parit dan benteng-benteng Makassar).

Disisi lain, kita bisa melihat kepiawaian Diplomasi Internasional. Keberhasilan Arung Palakka dalam membangun aliansi dengan VOC dapat dipandang sebagai strategi militer untuk meruntuhkan hegemoni Gowa yang sangat kuat, dan setelah kemenangan dalam Perang Makassar, Arung Palakka tidak serta merta menjadi raja yang tiran. Ia justru melakukan rekonsiliasi dan memperkuat persaudaraan Tellumpoccoé (Bone, Soppeng, Wajo).

***

Salah satu hal unik ketika membincang Sejarah Bone adalah dinamika penguasa kerajaan ini dalam Persekutuan Tellumpoccoé. Ini adalah perjanjian legendaris di Timurung yang melibatkan Bone, Soppeng, dan Wajo. Dari sinilah lahir filosofi “Malelu sipakainge, Mainge pi sipatoktok” (Saling mengingatkan saat lupa, saling membantu saat butuh). Bone, meskipun merupakan yang “tertua” dalam persekutuan tersebut, tetap menghormati kedaulatan saudara-saudaranya. Ini adalah bentuk diplomasi kuno yang harus dicontoh oleh pemimpin masa kini.

Patung Arung Palakka di Lapangan Merdeka, Bone. (foto: ist/*)
Patung Arung Palakka di Lapangan Merdeka, Bone. (foto: ist/*)

Untuk memahami Sejarah Bone secara utuh, maka salah satu bacaan yang bisa mengobati kegalauan narasi sejarah adalah Lontaraq Akkarungeng ri Bone, yang penulis telah populerkan lewat berbagai tulisan di blog. Ya, penulis memang secara khusus dan mendokumentasikan masa pemerintahan raja-raja Bone (Mangkau’é ri Bone).

Beberapa sosok yang penulis beri perhatian khusus selain Arung Palakka adalah: La Ummasa’ (Raja Bone II) yang dikenal dengan pengembangan teknologi pertanian dan pertukangan, La Tenri Rawe Bongkangnge’ (Raja Bone VII) yang merintis modernisasi Kerajaan Bone serta perluasan wilayah, La Tenrituppu (Raja Bone X) yang pada masa Islam mulai masuk secara resmi ke Bone. Farid mencatat perdebatan batin dan proses adaptasi budaya saat Islam bersinggungan dengan adat pra-Islam, serta Arung Daeng Pallé (Raja Bone XXXI) dengan endokumentasikan perjuangan Bone melawan penjajahan Belanda yang semakin intens pada abad ke-19 dan ke-20.

***

Dalam aspek kebudayaan material, ada banyak makna di balik regalia (benda pusaka) Kerajaan Bone yang bisa dipelajari dan diteliti. Teddung Pulaweng (Payung Emas) bukan sekadar alat pelindung dari matahari, melainkan simbol bahwa raja adalah pengayom bagi rakyatnya. Gelar Mangkau bagi raja Bone, yang berarti kedudukan bagi seluruh alam semesta kecil (wilayah kekuasaannya) dimana terselip pesan bahwa kemegahan simbol-simbol ini harus dibarengi dengan kualitas moral pemimpinnya.

Bola Soba Bone. (foto: ist/*)
Bola Soba Bone. (foto: ist/*)

Yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana peran institusi Parewa Syara’ (perangkat syariat) yang bekerja berdampingan dengan pemangku adat. Hal ini menunjukkan bahwa di Bone, hukum Islam dan hukum adat saling melengkapi dalam menjaga ketertiban sosial, sebuah konsep yang ia sebut sebagai moderasi lokal.

Jati diri orang Bone adalah perpaduan antara keteguhan prinsip, keberanian membela kebenaran, dan ketaatan pada janji. Ia sering mengutip pepatah Bugis dalam tulisan-tulisannya untuk menggambarkan karakter ini, seperti “Masseddi mualajappi” (Bersatu kita teguh).

Sejarah Bone bukan sekadar deretan tahun dan nama raja, melainkan kumpulan nilai yang harus diwariskan. Kegigihan Arung Palakka dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsanya dipandang sebagai bentuk tertinggi dari implementasi Siri’ dan sejak itu, Kerajaan Bone tampil sebagai entitas yang megah namun manusiawi. (*)

(* Muhammad Farid Wajdi, Peneliti Sejarah Budaya Sulsel.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga