Oleh: M. Farid W Makkulau *)
Related Post: Pallu–pallu: Tradisi Sahur yang Mulai Terlupakan
ETTAPEDIA.ORG – Ramadhan di tanah Daeng bukan sekadar perkara menahan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Bagi masyarakat Makassar, Ramadhan adalah sebuah “peristiwa kebudayaan” yang kolosal. Di dalamnya, denyut spiritualitas berkelindan mesra dengan ritme sosial yang telah dipelihara selama berabad-abad. Namun, jika kita menengok ke jendela malam di kampung-kampung hari ini, ada sesuatu yang hilang. Ada suatu tradisi Ramadhan yang senyap dan bahkan hilang di waktu sahur, yaitu Tradisi Pallu-pallu.
Sebagai seorang pelaku “Pallu-pallu” di masa kecil dan remaja, penulis melihat Pallu-pallu bukan sekadar kebisingan dinihari. Ia adalah detak jantung kebersamaan yang kini perlahan melemah, tergerus oleh jempol-jempol yang menari di atas layar kaca yang dingin.
Secara etimologis dan praktis, Pallu-pallu (b.makassar) itu berarti Masak-masak atau Panggilan membangunkan untuk memasak persiapan sahur bersama, Pallu-pallu adalah aktivitas memukul atau membunyikan benda-benda, biasanya bambu, ember, periuk, dan alat dapur lainnya yang bisa menimbulkan bunyi di kampung-kampung Makassar masa lalu. Di masa itu, ketika jam dinding masih menjadi barang mewah dan menara masjid belum tentu memiliki pengeras suara yang menjangkau pelosok lorong, anak-anak dan remaja mengambil peran sebagai “alarm organik”.
Mereka keluar menembus dinginnya embun malam. Senjatanya sederhana: bambu yang dilubangi menjadi kentongan (ganrang-ganrang), jeriken bekas, tutup panci, hingga botol kaca. Mereka berkeliling kampung dengan ritme yang khas, meneriakkan frasa yang sakral namun akrab: “Pallu-pallu,,, pallu ….. pallu …. sahuru’… sahuru’…!” atau “Bangun-ki’ sahur…!”
Di balik bebunyian itu, ada Pangngaderreng (adat istiadat/etik) yang bekerja. Pallu-pallu adalah bentuk “kepedulian kolektif”. Anak-anak itu tidak dibayar. Mereka bergerak atas dasar sukarela, sebuah manifestasi dari sifat Siri’ na Pacce. Ada rasa Pacce (empati) di sana; mereka tidak ingin tetangganya melewatkan keberkahan sahur. Mereka tidak ingin ada saudara seiman yang harus berpuasa dengan perut kosong hanya karena terlelap.
Bagi anak-anak dan remaja Makassar, ikut serta dalam rombongan Pallu-pallu adalah sebuah ritus pendewasaan sosial. Di sanalah mereka belajar mengenal kondisi dan suasana kampungnya. Mereka belajar siapa yang tinggal di rumah ujung, siapa janda tua yang butuh diingatkan lebih awal, dan siapa yang sering marah jika bunyinya terlalu nyaring.
Ada dialektika antara si pembangun sahur dan penghuni rumah. Terkadang, dari balik jendela, seorang ibu akan memberikan kue atau sekadar teriakan terima kasih. Di sini, Pallu-pallu berfungsi sebagai perekat sosial yang cair. Ia meluruhkan sekat-sekat kelas ekonomi. Di bawah cahaya bulan, semua sama: pejuang sahur yang saling menjaga.
Inilah yang dalam sosiologi kita sebut sebagai organic solidarity. Tradisi ini menciptakan ketergantungan yang sehat antar-warga. Tanpa Pallu-pallu, malam Ramadhan terasa hambar, seperti Coto tanpa Ketupat, seperti hidangan ikan dan udang tanpa raca-raca taipa.Â
Kini, zaman telah berganti kulit. Kita telah berada di era yang oleh para pemikir disebut sebagai Hyperreality. Handphone dan gadget telah mereduksi kehadiran fisik menjadi sekadar notifikasi. Saat ini, seorang ibu tidak lagi menunggu suara bambu dipukul untuk bangun. Ia cukup menyetel alarm di smartphone-nya dengan nada dering lagu pop atau murottal. Anak-anak muda yang dulu berkeliling kampung, kini lebih memilih duduk di teras rumah atau di kafe, “membangunkan” teman-temannya melalui grup WhatsApp atau Live TikTok.
Masyarakat Makassar yang tadinya komunal kini berubah menjadi individu-individu yang terisolasi dalam cangkang digitalnya masing-masing. Membangunkan sahur via WhatsApp memang efektif dari segi waktu, tetapi ia kehilangan “jiwa”. Tidak ada keringat yang menetes, tidak ada kaki yang melangkah menembus gang sempit, dan tidak ada interaksi langsung yang hangat.
Di media sosial, fenomena membangunkan sahur bergeser menjadi konten. Orang-orang berlomba membuat video kreatif membangunkan sahur, tetapi tujuannya bukan lagi untuk warga di kampungnya, melainkan untuk mendapatkan Likes dan Views dari orang asing di belahan dunia lain. Ada pergeseran dari Ketulusan Lokal menjadi Pencitraan Global.
***
Salah satu peran penting Pallu-pallu adalah mengingatkan waktu imsak. Menjelang batas akhir sahur, ritme bebunyian biasanya berubah menjadi lebih cepat dan intens. Ini adalah sinyal darurat yang dipahami secara intuitif oleh seluruh warga kampung. Dalam dunia digital, peringatan Imsak kini bersifat personal. Jika handphone mati atau kuota habis, seseorang bisa saja terlewat. Namun lebih dari itu, “rasa memiliki waktu” itu hilang.
Dahulu, waktu Imsak adalah milik bersama, dijaga bersama. Sekarang, waktu adalah milik masing-masing layar. Kita kehilangan “ritme publik”. Tradisi Pallu-pallu sebenarnya adalah kawah candradimaka kepemimpinan. Seorang remaja yang memimpin rombongan Pallu-pallu belajar mengorganisir massa, belajar mengatur ritme, dan belajar bertanggung jawab atas ketepatan waktu.
Ketika tradisi ini hilang dan digantikan oleh interaksi online, kita kehilangan satu jalur pendidikan karakter informal. Anak muda kita menjadi lebih mahir berkomentar di kolom chat daripada berinteraksi secara fisik di lapangan. Mereka kehilangan keberanian untuk tampil di depan publik dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar (sense of belonging).
Kita tentu tidak anti-teknologi. Teknologi adalah keniscayaan. Namun, kebudayaan adalah pilihan. Kita harus mampu melakukan “hibridasi budaya”. Mengapa tidak menggunakan gadget untuk mengoordinasi gerakan Pallu-pallu fisik? Mengapa tidak menjadikan media sosial sebagai sarana untuk mendokumentasikan keindahan tradisi ini agar anak-anak milenial merasa bangga melakukannya kembali?
@etta.palontaraq Ramadhan dan Tradisi Pallu-pallu #sahur #fypp #fypsahur #blogger #makassartiktokers
Kita butuh Pallu-pallu versi baru yang tetap berpijak pada nilai Pacce. Bukan sekadar berteriak di depan kamera, tapi kembali menyentuh tanah kampung. Ramadhan adalah bulan penyucian, dan salah satu yang perlu disucikan adalah cara kita berinteraksi. Jangan biarkan gadget membunuh kemanusiaan kita. Jangan biarkan cahaya smartphone meredupkan cahaya kebersamaan di lorong-lorong Anak Makassar.
Pallu-pallu adalah simbol bahwa kita tidak sendirian. Bahwa di kegelapan malam, ada saudara kita yang peduli. Jika suara bambu itu benar-benar hilang dan digantikan sepenuhnya oleh sunyinya chat WhatsApp, maka sesungguhnya kita sedang mengalami “Imsak Kebudayaan”—sebuah batas di mana kita berhenti menjadi makhluk sosial dan mulai menjadi robot-robot digital.
Mari kita ambil kembali bambu-bambu itu. Mari kita bunyikan kembali kegembiraan itu. Bukan karena kita tidak punya alarm, tapi karena kita punya cinta pada sesama. Bukankah solidaritas dan interaksi yang sehat adalah Ibadah. Membangunkan orang lain untuk kebaikan (sahur) adalah bentuk dakwah bil-hal yang paling nyata. Mari gunakan gadget untuk memudahkan hidup, tapi jangan biarkan ia menggantikan kehadiran fisik yang bermakna. (*)
(* M. Farid W Makkulau, Pemerhati Budaya/Ketua I Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Kabupaten Pangkep.






















