27 C
Makassar
Oktober 6, 2026, 11:07 pm

Kanre Ma’pa dan Sipakalabbiri saat Makan Sahur

Oleh: M. Farid W Makkulau *)

Related Post: Bagaimana Menjaga Asupan Gizi selama Bulan Ramadhan?

ETTAPEDIA.ORG – Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, makan bukan sekadar aktivitas biologis. Ia adalah sebuah ritus. Di dalam rumah-rumah panggung di Pangkep hingga pelosok Gowa, meja makan adalah tempat di mana nilai-nilai luhur diwariskan secara lisan dan dipraktikkan secara nyata. Salah satu momen paling sakral dalam siklus tahunan umat Islam adalah makan sahur di bulan Ramadhan.

Dalam tradisi Makassar, sahur bukan hanya soal “mengisi tenaga”, melainkan momentum untuk mempraktikkan nilai Sipakalabbiri (saling memuliakan). Dan di pusat tradisi ini, terdapat sebuah hidangan sederhana namun penuh filosofi, yaitu Kanre Ma’pa. Apa dan bagaimana itu Kanre Ma’pa?

Memahami Terminologi “Kanre Ma’pa” dan “Sipakalabbiri”

Secara bahasa, Kanre berarti nasi atau makanan, sementara Ma’pa merujuk pada kondisi yang merapat, menyatu, atau dipadatkan. Berbeda dengan nasi biasa yang disajikan buyar (berasa’ hambur), Kanre Ma’pa diolah dengan teknik penekanan (nipappa’) sehingga butir-butir nasi saling mengunci satu sama lain.

Secara fisik, Kanre Ma’pa memiliki ketahanan yang lebih lama dibanding nasi biasa. Hal ini menjadikannya pilihan utama bagi para pelaut Makassar zaman dahulu saat mengarungi samudera, maupun para petani yang harus bekerja di sawah hingga siang hari. Teksturnya yang padat memberikan rasa kenyang yang lebih lama—sebuah aspek fungsional yang sangat krusial saat seseorang menjalankan ibadah puasa.

Sementara itu, istilah Sipakalabbiri berasal dari kata Labbiri yang berarti mulia atau agung. Dalam konteks keluarga, Sipakalabbiri berarti tindakan saling menghargai dan memuliakan antar anggota keluarga. Bagaimana Kanre Ma’pa merepresentasikan nilai ini saat sahur? Memadatkan nasi dalam bentuk Kanre Ma’pa adalah bentuk penghormatan terhadap padi (ase).

Dalam kosmologi masyarakat lokal, padi dianggap memiliki “nyawa” atau spirit. Menyajikan nasi yang tertata rapi dan padat mencerminkan rasa syukur dan penghormatan terhadap usaha keras petani dan anugerah Tuhan. Dalam penyajian sahur, Kanre Ma’pa biasanya diletakkan di tengah atau disajikan secara khusus untuk orang yang dituakan.

Menyiapkan Kanre Ma’pa memerlukan tenaga ekstra untuk menekan nasi selagi panas. Tindakan istri atau ibu yang menyiapkan nasi ini adalah bentuk Sipakalabbiri kepada suami dan anak-anak agar mereka kuat menjalani puasa. Sebagaimana butir-butir nasi yang merapat kuat dalam Kanre Ma’pa, demikian pula harapan bagi keluarga yang menyantapnya.

Makan sahur bersama (Suro’ Sipolong) dengan menu Kanre Ma’pa adalah simbol bahwa meskipun anggota keluarga memiliki karakter berbeda, mereka harus menyatu dalam visi spiritual yang sama selama bulan suci. Proses pembuatan Kanre Ma’pa adalah sebuah seni yang membutuhkan intuisi. Ibu-ibu di Makassar dan Pangkep biasanya memulai persiapan ini sesaat setelah bangun di tengah malam.

Pertama yang dilakukan adalah Teknik Nalulung, dimana Beras dimasak dengan takaran air yang presisi. Air tidak boleh terlalu banyak agar tidak menjadi bubur, namun tidak boleh terlalu sedikit agar nasi bisa merekat. Kemudian, Nasi harus dipadatkan saat uap panas masih mengepul. Dalam kondisi panas, pati dalam beras berada dalam kondisi paling fleksibel untuk dibentuk.

Kedua, Penggunaan Pappa’ (Sendok Kayu). Menggunakan sendok kayu besar, nasi ditekan-tekan di pinggir wadah (kandotto’). Gerakan ini harus ritmis dan bertenaga. Setelah dilakukan Pembungkusan. Daun pisang yang telah dilayukan di atas api menjadi pelengkap sempurna. Aroma daun pisang yang meresap ke dalam nasi yang panas menciptakan sensasi wangi yang membangkitkan selera makan di waktu sahur yang dingin.

***

Jika kita menengok catatan sejarah—sebagaimana fokus Anda pada Kerajaan Siang di Pangkep—kita akan menemukan bahwa makanan padat adalah kunci ketahanan logistik. Para pejuang Makassar yang terlibat dalam perang-perang besar melawan kolonial seringkali membawa perbekalan yang serupa dengan Kanre Ma’pa. Dalam konteks Islamisasi, para penyebar agama (seperti Datuk Tallua) juga beradaptasi dengan budaya lokal. Mereka tidak mengubah menu makanan, melainkan menyisipkan nilai-nilai keislaman ke dalamnya.

Menikmati Sahur dengan Kanre Ma’pa menjadi media dakwah bahwa Islam menghargai kearifan lokal yang mengajarkan ketahanan fisik dan kekompakan sosial. Di tengah serbuan makanan cepat saji dan gaya hidup instan, Kanre Ma’pa mulai jarang ditemui di meja sahur perkotaan. Namun, bagi masyarakat yang memegang teguh identitas budayanya, hidangan ini tetap menjadi primadona.

Beberapa hikmah yang dapat dipetik adalah Kesabaran, Ketahanan, dan Identitas. Kesabaran dalam menyiapkan Kanre Ma’pa, sekaligus mengajarkan kita untuk mempersiapkan diri secara maksimal (fisik dan mental) sebelum menghadapi tantangan (puasa). Menjaga Kanre Ma’pa di meja sahur adalah cara kita merawat ingatan kolektif sebagai bangsa bahari yang tangguh.

Kanre Ma’pa bukan sekadar gumpalan nasi. Ia adalah manifestasi dari doa seorang ibu, kekuatan seorang pejuang, dan kearifan seorang budayawan. Dengan mengedepankan nilai Sipakalabbiri, makan sahur dengan Kanre Ma’pa bertransformasi dari sekadar rutinitas menjadi upaya budaya yang mempererat tali persaudaraan, melestarikan tradisi ini sebagai simbol bahwa peradaban Islam di Sulawesi Selatan dibangun di atas fondasi kasih sayang dan saling memuliakan. (*)

Bahan Bacaan:

Abidin, Andi Zainal. (1999). Capita Selecta Kebudayaan Sulawesi Selatan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. (Membahas tentang filosofi Siri’ dan tatanan sosial masyarakat).

Mattulada. (1985). Latoa: Satu Lukisan Analitis Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Jakarta: Berita Idayu. (Menjelaskan nilai-nilai kepemimpinan dan integritas yang sering disimbolkan dalam makanan).

Pelras, Christian. (2006). Manusia Bugis. Jakarta: Nalar. (Catatan etnografis mengenai kebiasaan makan dan teknologi pangan tradisional).

Rahim, Rahman. (1985). Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis. Ujung Pandang: Hasanuddin University Press. (Fokus pada konsep Sipakalabbiri dan Sipakainge).

Wajdi, Muhammad Farid. (2025). Catatan Budaya Palontaraq: Kuliner dan Identitas Pangkep. (Observasi lokal mengenai tradisi sahur di wilayah Pangkajene dan Kepulauan).

Naskah Lontara’ Pabbura/Pakkannang. (Koleksi Digital). Mengenai adab makan dan jenis-jenis pangan yang menguatkan tubuh.

 

(* M. Farid W Makkulau, Pemerhati Budaya/Ketua I Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Kabupaten Pangkep, Sulsel.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga