27 C
Makassar
Oktober 6, 2026, 11:05 pm

Bija Pammanakang: Pangkep sebagai Rumah Besar Ingatan, Darah, dan Persaudaraan

Oleh: Khalifatul Wahida *)

ETTAPEDIA.ORG – Ada daerah yang dibanggakan karena gunungnya. Ada yang dikenang karena kerajaan besarnya, perahu-perahunya, rumah adatnya, atau Upacara-upacara yang telah berabad-abad dipertahankan. Namun, Pangkep tidak cukup diceritakan hanya melalui satu lambang. Pangkep adalah pertemuan banyak dunia: pegunungan yang menyimpan gua dan jejak purba, hamparan daratan tempat padi tumbuh dan tradisi agraris dirawat, pesisir tempat sungai bersalaman dengan laut, serta gugusan pulau yang membentuk kehidupan bahari hingga jauh ke Selat Makassar.

Di tanah seperti inilah kebudayaan tidak mungkin tumbuh sebagai sesuatu yang tunggal. Kebudayaan Pangkep adalah kebudayaan perjumpaan. Ia lahir dari pertemuan Bugis dan Makassar, dari hubungan daratan dan kepulauan, dari ingatan tentang Kerajaan Siang dan kekaraengan-kekaraengan lama, dari doa petani dalam tradisi mappalili, dari bahasa tua yang masih diucapkan komunitas Bissu, dari tangan nelayan yang membaca arah angin, serta dari keluarga-keluarga yang tetap berusaha mengenali satu sama lain meskipun dipisahkan gunung, kota, pulau, bahkan zaman.

Karena itu, apabila hendak mencari satu kata yang dapat membawa kita masuk ke jantung kebudayaan Pangkep, kata tersebut bukan hanya “kerajaan”, “laut”, “adat”, ataupun “sejarah”. Salah satu pintu masuk terpentingnya adalah ungkapan sederhana, tetapi mengandung dunia yang sangat luas: Bija Pammanakang.

Bukan Sekadar Hubungan Darah

Dalam terminologi kebudayaan Makassar, bija pammanakang merujuk pada kelompok kerabat yang terbentuk melalui kelahiran atau hubungan darah. Sistem kekerabatannya bersifat bilateral: seseorang terhubung dengan keluarga dari pihak ayah sekaligus pihak ibu. Karena itu, keluarga tidak dipahami sebagai garis sempit yang hanya turun dari satu pihak, tetapi sebagai jaringan pertalian yang luas, bercabang, dan saling bersentuhan.

Namun, menerjemahkan bija pammanakang hanya sebagai “keluarga sedarah” terasa terlalu kecil. Di dalam kehidupan masyarakat, bija pammanakang bukan sekadar jawaban atas pertanyaan: “Siapa nenekmu?” atau “Dari keluarga mana asalmu?” Ia juga menjawab pertanyaan yang lebih dalam: kepada siapa kita merasa bertanggung jawab?

Menjadi bija berarti membawa kewajiban moral. Ketika ada keluarga yang menikah, yang lain datang membantu. Ketika ada yang meninggal, sanak keluarga berkumpul tanpa menunggu undangan resmi. Ketika ada yang sakit, kabar berpindah dari satu rumah ke rumah lain. Ketika seorang anak berhasil, keberhasilannya tidak hanya menjadi milik ayah dan ibunya, tetapi menjadi kebanggaan seluruh rumpun keluarga. Sebaliknya, ketika seseorang berbuat sesuatu yang mencederai martabat, keluarga ikut merasakan beratnya.

Di sinilah bija pammanakang menyentuh wilayah rasa. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak lahir sebagai makhluk yang berdiri sendirian. Di belakang nama seseorang terdapat nama ayah, ibu, kakek, nenek, kampung, sejarah, dan martabat keluarga. Manusia adalah kelanjutan dari orang-orang yang mendahuluinya sekaligus titipan bagi generasi yang akan datang.

Tetapi justru di sinilah kebudayaan itu perlu digugat. Apakah kita masih mengenali bija pammanakang kita? Apakah anak-anak Pangkep hari ini masih mengetahui dari kampung mana neneknya berasal? Apakah mereka mengenal saudara sepupu ayah dan ibunya? Apakah silsilah keluarga masih diceritakan di ruang tengah rumah, atau telah hilang bersama orang-orang tua yang wafat tanpa sempat diwawancarai? Apakah kita hanya menyebut diri sebagai keluarga ketika ada pesta perkawinan, pembagian warisan, pemilihan politik, atau kepentingan tertentu?

Jika bija pammanakang hanya dihidupkan ketika kita membutuhkan dukungan, ia telah kehilangan kemuliaannya. Jika hubungan keluarga hanya digunakan untuk memperoleh jabatan, memudahkan urusan, atau membentuk kelompok eksklusif, maka bija telah dipersempit menjadi alat kepentingan. Padahal, kebesaran konsep ini terletak pada kesediaan untuk saling menjaga, bukan saling memanfaatkan.

Pangkep dan Kebudayaan yang Berlapis

Harus diakui, istilah bija pammanakang bukan hanya milik Pangkep. Ia dikenal luas dalam lingkungan kebudayaan Makassar, bahkan memiliki padanan dan praktik serupa dalam masyarakat Bugis serta kelompok-kelompok lain di Sulawesi Selatan. Karena itu, hal yang membedakan Pangkep bukanlah kepemilikan eksklusif atas istilah tersebut, melainkan cara Pangkep memberi ruang hidup yang khas terhadapnya.

Pangkep memiliki bentang wilayah dari dataran rendah sampai pegunungan, sekaligus kawasan pesisir dan kepulauan. Bentang geografis ini membuat masyarakat Pangkep hidup dalam pengalaman ruang yang beragam.

Di wilayah daratan, hubungan kekerabatan bertemu dengan kehidupan pertanian, pasar, sungai, dan bekas pusat-pusat kekaraengan. Di pegunungan, keluarga terhubung melalui kampung-kampung, jalur lembah, kebun, serta pengetahuan mengenai alam. Di wilayah pesisir dan pulau, bija pammanakang mampu melampaui laut: saudara tidak selalu tinggal bersebelahan, tetapi dapat dipisahkan perjalanan berjam-jam dengan perahu.

Laut dalam pengalaman masyarakat kepulauan Pangkep bukanlah pemutus persaudaraan. Laut adalah jalan yang menghubungkan keluarga. Seseorang boleh menetap di pulau yang jauh, merantau ke Makassar, Kalimantan, Jawa, Malaysia, atau tempat lainnya, tetapi dalam ingatan keluarga ia tetap memiliki tempat untuk pulang. Namanya masih disebut saat keluarga berkumpul. Kabar tentang dirinya tetap ditanyakan. Anak-anaknya tetap diperkenalkan sebagai bagian dari suatu rumpun.

Itulah salah satu kekhasan Pangkep: bija pammanakang hidup dalam bentang geografis yang luas dan berlapis. Ia bukan sekadar kekerabatan dalam satu kampung, tetapi jaringan persaudaraan yang menyeberangi sawah, sungai, pegunungan, pesisir, dan pulau-pulau.

Kabupaten lain di Sulawesi Selatan tentu memiliki kekayaan kekerabatan yang sama kuatnya. Masing-masing mempunyai sejarah dan aksentuasi kebudayaannya sendiri. Akan tetapi, Pangkep tampil berbeda karena identitasnya tidak disusun oleh satu lanskap dan satu pusat kebudayaan. Pangkep adalah sebuah simpul. Ia berdiri di antara dunia Bugis dan Makassar, antara tradisi agraris dan bahari, antara kekaraengan di daratan dan jaringan masyarakat pulau.

Dengan demikian, menjadi orang Pangkep berarti terbiasa hidup dalam kebudayaan yang berlapis. Seseorang dapat berbicara dengan aksentuasi Bugis, Makassar, atau bentuk percampuran lokal; hidup sebagai petani, nelayan, pedagang, pekerja tambak, pelaut, atau perantau; tetapi semuanya dapat dipertemukan dalam kesadaran bahwa mereka masih memiliki hubungan dengan sebuah rumah besar bernama Pangkep.

Membaca Pangkep Bersama M. Farid W. Makkulau

Dalam konteks inilah tulisan-tulisan M. Farid W. Makkulau menjadi penting. Ia tidak sekadar mencatat kebudayaan Pangkep sebagai daftar upacara, nama raja, atau benda pusaka. Melalui karya-karya seperti Sejarah dan Kebudayaan Pangkep, Sejarah Kekaraengan di Pangkep, dan tulisan tentang komunitas Bissu, ia berusaha mempertemukan sejarah tertulis, sumber tutur, ingatan masyarakat, tokoh adat, serta jejak-jejak lokal yang kerap terabaikan. Daftar karya yang pernah diterbitkannya memperlihatkan perhatian panjang terhadap sejarah daerah, kekaraengan, upacara adat, siri’, dan komunitas Bissu.

Ketika menulis tentang Kerajaan Siang, M. Farid W Makkulau tidak hanya mengulang kebesaran masa lalu. Ia justru menunjukkan betapa banyak pertanyaan sejarah Pangkep yang belum dijawab: letak pusat kerajaan, pelabuhan, tapak arkeologi, narasi tutur, kehidupan sosial, sampai warisan kebudayaan yang ditinggalkan. Ia bahkan menyebut bahwa sejarah Siang pernah “tenggelam dan ditenggelamkan”, sehingga upaya mengungkapnya kembali membutuhkan penelitian yang serius.

Ungkapan tersebut seharusnya menggugat kesadaran kita. Jangan-jangan bukan hanya sejarah Kerajaan Siang yang tenggelam. Jangan-jangan silsilah keluarga kita juga sedang tenggelam. Nama-nama kampung lama menghilang. Cerita tentang nenek moyang tidak lagi diwariskan. Bahasa lokal perlahan dianggap kurang bergengsi. Anak-anak lebih mengenal tokoh dari layar telepon daripada tokoh yang dahulu menjaga kampungnya.

M. Farid W. Makkulau juga memperlihatkan pentingnya komunitas Bissu di Segeri sebagai penyimpan pengetahuan dan bahasa Bugis lama. Dalam catatannya mengenai Puang Matoa Saidi, ia menggambarkan bahasa yang digunakan tokoh Bissu tersebut sebagai bahasa yang sarat kearifan lokal, filosofi hidup, dan pengetahuan budaya langka. Bissu dipandang sebagai salah satu benang yang menyambungkan tradisi Bugis kuno dengan kehidupan masa kini.

Apa hubungannya dengan bija pammanakang? Hubungannya terletak pada kesadaran bahwa warisan budaya selalu membutuhkan pewaris. Benda pusaka tidak dapat merawat dirinya sendiri. Bahasa tidak dapat berbicara tanpa penutur. Cerita tidak dapat berjalan menuju masa depan tanpa orang yang bersedia mendengarnya. Tradisi tidak dapat hidup hanya dengan mengandalkan satu-dua tokoh tua.

Kebudayaan membutuhkan keluarga dalam pengertian seluas-luasnya. Dengan demikian, bija pammanakang tidak hanya berarti keturunan biologis. Ia dapat dikembangkan menjadi persaudaraan kebudayaan: kesediaan merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap warisan bersama.

Orang Pangkep harus berani mengatakan bahwa Bissu adalah bagian dari khazanah sejarahnya, Kerajaan Siang adalah bagian dari ingatannya, kekaraengan-kekaraengan lama adalah bagian dari perjalanan politiknya, tradisi mappalili adalah bagian dari pengetahuan agrarisnya, sedangkan masyarakat kepulauan adalah bagian tak terpisahkan dari identitas daerahnya. Tidak boleh ada kebudayaan Pangkep yang dianggap sebagai anak jauh di dalam rumahnya sendiri.

Kebudayaan Bukan Barang Mati

Salah satu gagasan penting M. Farid W. Makkulau adalah bahwa budaya tidak cukup hanya “dilestarikan”. Ada budaya yang dirawat, ada yang dilestarikan, dan ada pula yang dikembangkan. Dalam pandangannya, suatu tradisi dapat mempertahankan nilai pokoknya sambil menghilangkan atau memodifikasi unsur yang tidak lagi sesuai. Ia menyebut mappalili sebagai ekspresi budaya yang terus berkembang: sesuatu dapat ada pada masa lampau lalu tidak digunakan lagi, atau sesuatu yang dahulu belum ada dapat dihadirkan pada masa kini.

Pandangan ini penting agar kita tidak mengubah bija pammanakang menjadi fosil sosial. Merawat kekerabatan bukan berarti memaksakan semua kebiasaan lama. Bukan pula berarti membenarkan nepotisme atas nama keluarga. Justru nilai bija pammanakang harus dikembangkan agar menjawab masalah zaman sekarang.

Pada masa lalu, keluarga berkumpul di rumah panggung dan saling mendengar cerita. Hari ini, keluarga dapat membuat arsip digital, merekam penuturan orang tua, menyusun pohon silsilah, mendokumentasikan foto lama, dan menyimpan nama-nama leluhur. Dahulu keluarga membantu dengan tenaga ketika membangun rumah atau mengadakan hajatan. Hari ini semangat itu dapat diwujudkan melalui dukungan pendidikan, beasiswa keluarga, bantuan kesehatan, pendampingan usaha, serta perlindungan bagi anggota keluarga yang rentan.

Dahulu kehormatan keluarga dijaga dengan memastikan seseorang tidak mempermalukan rumpunnya. Kini kehormatan itu harus diperluas: keluarga seharusnya malu apabila ada anak yang putus sekolah, orang tua yang terlantar, perempuan yang mengalami kekerasan tetapi dibungkam, atau anggota keluarga miskin yang tidak pernah dibantu meskipun kerabat lainnya hidup berkecukupan.

Inilah gugatan sesungguhnya kepada bija pammanakang: apakah ia masih menjadi kekuatan etik, atau tinggal menjadi sebutan? Keluarga besar tidak diukur dari banyaknya orang yang memenuhi gedung perkawinan. Keluarga besar diukur dari seberapa cepat ia hadir ketika salah satu anggotanya jatuh. Martabat keluarga tidak diukur dari panjangnya gelar kebangsawanan, tetapi dari kemampuannya melahirkan manusia yang jujur, berpendidikan, bekerja keras, dan memuliakan sesama.

Kebanggaan yang Memiliki Tanggung Jawab

Bangga menjadi orang Pangkep tidak cukup dengan mengunggah foto pulau, gunung, makanan khas, rumah adat, atau pertunjukan budaya. Kebanggaan yang hanya selesai sebagai gambar akan segera berlalu bersama pergerakan layar.

Kebanggaan harus berubah menjadi tanggung jawab. Ya, Kita patut bangga karena Pangkep memiliki lapisan sejarah yang dalam: ingatan tentang Kerajaan Siang sebagai kerajaan maritim, jaringan kekaraengan, tradisi Bissu di Segeri, mappalili di wilayah agraris, serta kehidupan masyarakat pulau yang membentuk cakrawala bahari.

Tulisan M. Farid W Makkulau mengingatkan bahwa warisan tersebut belum seluruhnya selesai diteliti dan diceritakan. Bahkan pembentukan Pangkajene dan Kepulauan sendiri memiliki hubungan dengan sejarah, kedekatan etnis, dan ikatan emosional masyarakat daratan serta kepulauan.

Namun kebanggaan itu harus membuat kita gelisah. Mengapa masih ada anak Pangkep yang tidak mengenal Kerajaan Siang? Mengapa sejarah lokal sering hanya menjadi pelengkap dalam pembelajaran? Mengapa tokoh kebudayaan lebih dikenal di luar daerah daripada di kampungnya sendiri? Mengapa tradisi baru dianggap penting ketika masuk kalender festival? Mengapa masyarakat pulau terkadang dibicarakan hanya sebagai angka pembangunan, bukan sebagai pemilik pengetahuan bahari?

Jangan sampai kita menjadi generasi yang memiliki warisan besar, tetapi hanya mampu menyebut namanya. Pangkep berbeda bukan karena kebudayaannya lebih tinggi daripada kabupaten lain. Pangkep berbeda karena ia memperlihatkan kemampuan sebuah masyarakat untuk hidup di antara banyak identitas tanpa harus kehilangan rumah bersama. Di dalamnya ada Bugis dan Makassar, gunung dan laut, petani dan pelaut, sejarah kerajaan dan dinamika masyarakat modern. Semua perbedaan tersebut tidak harus diseragamkan. Ia cukup dipertemukan dalam rasa saling memiliki.

Di situlah bija pammanakang menemukan makna terbesarnya. Ia bukan pagar yang memisahkan keluarga kita dari keluarga lain. Ia adalah pintu yang mengajarkan cara memperlakukan orang lain sebagai saudara. Ia bukan alasan untuk merasa lebih tinggi karena keturunan. Ia adalah pengingat agar kita tidak mempermalukan mereka yang telah mewariskan nama kepada kita. Ia bukan sekadar catatan tentang siapa melahirkan siapa, tetapi amanat mengenai nilai apa yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Pada akhirnya, Pangkep adalah sebuah rumah besar. Tiang-tiangnya berdiri di daratan, pegunungan, pesisir, dan pulau-pulau. Atapnya adalah ingatan bersama. Dindingnya dibangun dari bahasa, adat, sejarah, dan pengalaman hidup. Di dalam rumah itu, nama-nama leluhur masih menunggu untuk disebut kembali; kisah-kisah lama menunggu untuk dituliskan; dan anak-anak Pangkep menunggu untuk diyakinkan bahwa mereka berasal dari tanah yang tidak biasa.

Kepada merekalah kita harus berkata, “Engkau bukan lahir dari ruang kosong. Di belakangmu ada laut yang dilayari para pendahulu, sawah yang dijaga dengan pengetahuan musim, kerajaan yang pernah membangun hubungan dengan dunia luar, Bissu yang menyimpan bahasa tua, serta keluarga-keluarga yang bertahan karena saling menopang. Engkau adalah bagian dari bija pammanakang”.

“Karena itu, kenalilah asalmu tanpa merendahkan asal orang lain. Rawatlah keluargamu tanpa menutup pintu bagi sesama. Banggakan budayamu tanpa menjadikannya barang mati. Tuliskan apa yang belum sempat dituliskan. Dengarkan orang tua sebelum suara mereka tinggal kenangan. Jaga Pangkep bukan hanya sebagai wilayah pemerintahan, melainkan sebagai rumah ingatan”.

Sebab sebuah daerah tidak kehilangan kebudayaannya ketika rumah adatnya roboh. Ia benar-benar kehilangan kebudayaannya ketika generasi mudanya tidak lagi merasa mempunyai hubungan dengan masa lalu, tidak lagi mengenali bija pammanakang-nya, dan tidak lagi merasa malu ketika warisan leluhurnya hilang di depan mata. (*)

 

(* Khalifatul Wahida, Peserta Bimtek Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal Dispurarsip 2026/Santriwati SMAS Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga