27 C
Makassar
Oktober 6, 2026, 11:57 pm

“Manusia Bissu” Mengulas Komunitas Transgender Spiritual dalam Masyarakat Bugis

Oleh: Ramadhan Makkulau 

Related Post: “Manusia Bugis” Christian Pelras Mengungkap Multi-dimensi To Ugi

ETTAPEDIA.ORG – Siapa yang tak kenal “Bissu” atau “Manusia Bissu” dalam Masyarakat Bugis? Buku Manusia Bissu adalah kajian ringkas namun sarat makna tentang komunitas tradisional yang unik di Bugis. Penulisnya berhasil memberi ruang pada cerita Bissu untuk didengar, dihargai, dan dipahami, terutama bagi masyarakat modern yang mungkin belum kenal kedekatan spiritual dan simbolis mereka.

Identitas Buku

  • Judul: Manusia Bissu

  • Penulis: M. Farid W. Makkulau (wartawan Pangkep, lahir Desember 1975)

  • Penerbit: Pustaka Refleksi, Makassar, 2008
  • Jumlah Halaman: xi + 100 halaman

Buku ini mengupas komunitas Bissu di Pangkep, Sulawesi Selatan — kelompok transgender spiritual (calabai atau waria) yang dulunya memiliki peran sakral dalam tradisi Bugis: menjadi pendeta, penasehat kerajaan, serta perantara manusia–Dewata Seuwae

Menurut penulisnya, menjadi Bissu bukan hanya soal gender melainkan kombinasi keturunan, panggilan spiritual (biasanya mimpi), dan masa magang — semuanya harus terpenuhi. Dahulu Komunitas Bissu diberi tanah kerajaan, sekarang banyak yang bekerja sebagai penata rias tradisional atau pelaksana upacara adat, tetap menjaga ritual seperti Mattemu Taung atau membaca Sureq I La Galigo.

Penulisan buku “Manusia Bissu” ini lebih mengedepankan Pendekatan antropologi yang kuat, yaitu perpaduaan etnografi lapangan dengan kajian budaya Bugis-Bissu. Buku memberi kisah hidup nyata Bissu senior seperti Puang Matoa Saidi dan Puang Lolo Upe yang memiliki pengalaman panggung internasional, serta gambaran bagaimana kelompok minoritas gender spiritual tetap bertahan dan bernegosiasi dalam masyarakat Muslim modern.  

Kutipan Favorit dari “Manusia Bissu” adalah bahwa “Bissu bukan waria. Mereka adalah manusia suci, tempat pertemuan antara laki-laki dan perempuan, antara dunia manusia dan dunia dewata.” Kutipan ini menggambarkan esensi identitas Bissu sebagai entitas liminal — tidak sekadar transgender atau waria, melainkan makhluk spiritual yang melampaui batas sosial dan biologis.

Penulis ingin meluruskan pandangan keliru masyarakat modern yang menyamakan Bissu dengan waria biasa, padahal peran dan status mereka jauh lebih sakral dalam konteks budaya Bugis. Terlihat jelas bahwa Manusia Bissu adalah suara lokal yang memperkaya kajian gender dan spiritualitas di Nusantara.

Jika dibandingkan “Manusia Bissu” dengan buku lain, semisal “Before Homosexuality in the Arab–Islamic World” — Khaled El-Rouayheb. Dalam buku ini, El-Rouayheb menjelaskan bagaimana konsep gender dan seksualitas dalam dunia Islam pra-modern sangat berbeda dengan konstruksi barat modern. Ia menolak penyamaan konsep seperti “gay” dengan konsep gender lokal dalam sejarah Islam. Sama seperti El-Rouayheb yang membongkar prasangka modern terhadap gender nonbiner di dunia Islam klasik, M. Farid W Makkulau juga mengajak pembaca untuk melihat Bissu dalam kerangka budaya Bugis, bukan kacamata gender modern barat.

Buku lainnya, “Queer Indonesia: Framing Sexualities in the Moslem World” — Tom Beoellstorff, mendokumentasikan kehidupan komunitas LGBT di Indonesia, khususnya waria, dan menjelaskan bagaimana identitas mereka dinegosiasikan dalam konteks Islam dan masyarakat Indonesia. Boellstorff menggambarkan waria dalam konteks urban, kontemporer, dan sosial-politik. Sebaliknya, M. Farid W Makkulau menyoroti waria yang justru dilestarikan dalam kerangka adat, spiritualitas, dan kerajaan, seperti Bissu. Ini menunjukkan bahwa dalam tradisi lokal, waria justru bisa memiliki otoritas dan kehormatan, bukan sekadar marginalisasi.

Buku lainnya tentu menarik diperbincangkan, yaitu “The Bugis” — Christian Pelras. Sebagai karya antropologi klasik tentang masyarakat Bugis, buku ini menjelaskan struktur sosial, adat, dan sistem kepercayaan termasuk keberadaan bissu. Pelras menyajikan analisis akademik dari luar, sedangkan M. Farid W Makkulau menulis dari dalam — sebagai orang Bugis sendiri. Perspektif penulis buku “Manusia Bissu” ini lebih intim, naratif, dan berangkat dari pengalaman lapangan langsung, sehingga pembaca bisa merasakan “suara asli” komunitas.

Dengan gaya penulisan bersifat deskriptif, lugas, dan informatif, penulis nampaknya menghindari jargon akademik berat, justru lebih fokus menyampaikan hasil wawancara, observasi, dan narasi kehidupan Bissu dalam bahasa yang mudah dipahami. Sehingga cocok bagi pembaca umum maupun mereka yang tertarik pada antropologi budaya lokal.

Buku “Manusia Bissu” ini sangat layak dibaca oleh peneliti budaya, antropologi, gender studies, dan etnografi Indonesia. Pun pantas dibaca bagi pembaca yang tertarik mempelajari tradisi Bugis dan keberagaman gender dalam konteks lokal. Buku ini pula bisa mengobati rasa penasaran masyarakat awam tentang makna identitas dan spiritualitas di luar norma kebanyakan.

Semoga bermanfaat adanya. Salamakki Tapada Salama’. (*)

(* Ramadhan Makkulau, Pemerhati Budaya/Redaktur Pelaksana Ettapedia dan Media Palontaraq Group.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga