27 C
Makassar
Oktober 6, 2026, 11:58 pm

“Manusia Bugis” Christian Pelras Mengungkap Multi-dimensi To Ugi

Oleh: M. Farid W Makkulau *)

Related Post: Menanam Kultur Berbuah Jati Diri

ETTAPEDIA.ORG – Salah satu buku yang mengulas “To Ugi” yang dibangun atas penelitian lapangan intensif dan panjang adalah “Manusia Bugis” karya Christian Pelras. Buku ini ditulis dengan gaya akademik namun tetap naratif—menggabungkan data empiris dengan cerita budaya, menjadikannya cocok sebagai buku pengantar sekaligus referensi seri pertama tentang Manusia Bugis dari perspektif dan penelitian orang luar Bugis.

Identitas Buku:

  • Judul: Manusia Bugis (terjemahan The Bugis)
  • Penulis: Christian Pelras, antropolog Prancis yang telah melakukan penelitian selama lebih dari 40 tahun tentang masyarakat Bugis. 

  • Penerjemah: Abdul Rahman Abu, Hasriady, Nurhady Sirimoorok
  • Penerbit: Ininnawa (bekerjasama dengan EFEO), cetakan kedua Desember 2021, hasil revisi dan pembaruan dari terjemahan sebelumnya oleh Penerbit Nalar tahun 2006.

Buku ini terdiri dari 11 bab yang menyajikan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Bugis secara komprehensif, mulai periode prasejarah hingga masa modern. Di antaranya menyangkut Asal-usul dan sejarah awal, dengan menggunakan sumber arkeologis, lontara, epos I La Galigo, serta kronik lokal dan asing. 

Pelras juga mencoba mengungkap Peradaban dan kerajaan Bugis, menjelaskan kebangkitan dan dinamika kerajaan seperti Luwu, Bone, Wajo, dan Gowa serta peran politik dan ekonomi mereka. Nilai sosial khas Bugis seperti siri’ (kehormatan) dan pacce (solidaritas), beserta sistem kekerabatan, stratifikasi sosial, dan gender. 

Dalam buku “Manusia Bugis”, Pelras juga mengungkap tentang Agama dan ritual orang Bugis, kombinasi Islam dan kepercayaan lokal, hingga peran bissu sebagai figur spiritual inklusif gender. Hal lainnya tentang Ekonomi dan budaya material, praktik pertanian, perdagangan laut, pembuatan badik, kerajinan logam, hingga pertumbuhan saudagar Bugis modern seperti Jusuf Kalla serta Perubahan dari kolonialisme ke dunia modern: dampak VOC, integrasi Belanda, Jepang, kemerdekaan, hingga modernisasi ekonomi dan pendidikan. 

Kelebihan buku “Manusia Bugis” ini, salah satunnya karya Pelras sebagai Antropolog, memberi otoritas keilmuan yang langka tentang masyarakat Bugis, dengan penambahan bibliografi, daftar istilah, dan bab khusus sastra lisan Bugis untuk memperkaya referensi. Pendekatan buku ini menyajikan sejarah dan budaya Bugis secara menyeluruh, multidimensi, dan masuk akal, mulai dari struktur sosial hingga identitas gender dan spiritualitas lokal, termasuk konteks migrasi dan adaptasi masyarakat Bugis ke luar Sulawesi.

Pelras juga cukup concern menunjukkan jati diri Orang Bugis dalam era globalisasi dan diaspora perantauan (massompe’). Nilai-nilai seperti siri’ dan pacce ditafsirkan sebagai fondasi moral dan sosial yang membentuk karakter komunitas. Meski begitu, Penekanan yang kuat pada aspek budaya Bugis bisa membuat karya ini terasa “Bugis‑sentris” dan kurang menyentuh kritik politik mendalam terhadap struktur kekuasaan atau konflik internal, mungkin karena pertimbangan praktis riset lapangan oleh Pelras sendiri.

Berikut adalah kutipan favorit dari buku Manusia Bugis karya Christian Pelras (edisi terjemahan, Ininnawa, 2021), “Bagi Orang Bugis, Hidup tanpa Siri’, bukanlah hidup yang layak dijalani”. Kutipan ini merangkum inti dari etika sosial dan martabat hidup orang Bugis, yaitu konsep siri’ — harga diri atau rasa malu yang dijunjung tinggi. Bagi masyarakat Bugis, siri’ adalah fondasi moral yang menentukan tindakan, relasi sosial, bahkan keputusan politik. Kehilangan siri’ sama artinya dengan kehilangan kehormatan, bahkan lebih buruk dari kematian.

Terlalu komprehensif bisa memberi kesan buku “Manusia Bugis” ini adalah “titik akhir” kajian masyarakat Bugis—sehingga beberapa pembaca menyarankan agar dibaca dengan skeptisisme dan semangat kritis agar tidak berhenti di satu sudut pandang saja. Buku ini sangat cocok untuk Mahasiswa dan akademisi antropologi, sejarah, antropologi budaya, dan sosial humaniora.

Christian Pelras menekankan bahwa siri’ adalah penjaga tatanan sosial, membentuk perilaku masyarakat Bugis dalam hubungan keluarga, pernikahan, konflik, hingga perang. Bahkan dalam pengadilan adat atau negosiasi diplomatik kerajaan, siri’ dijadikan landasan etis dan simbol kehormatan kolektif.

Manusia Bugis adalah karya monumental yang berhasil membuka pintu untuk memahami masyarakat Bugis secara holistik — mulai dari sejarah kuno hingga periode modern. Kelebihan utamanya adalah kedalaman riset Pelras yang berpadu dengan penyajian naratif yang kuat. Meski begitu, peresensi sendiri menyarankan agar pembaca sekalian tetap kritis dan membuka ruang untuk penelitian lanjutan, karena kompleksitas sosial Bugis tidak bisa sepenuhnya dirangkum dalam satu buku.

Demikian catatan peresensi kali ini, semoga bermanfaat adanya. Salamakki Tapada Salama’. (*)

(* M. Farid W Makkulau, peresensi buku/Peneliti Sejarah Budaya Sulawesi Selatan.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga