Oleh: M. Farid W Makkulau
ETTAPEDIA.ORG – SELAMA ini Tambara (nama pohon: Tambara) dikenal masyarakat Tondongkura Kecamatan Tondong Tallasa Kabupaten Pangkep hanya sebagai obat sakit perut, namun sebenarnya penemuan herbal ini diawali dari kebangkitan seseorang dari kematiannya.
Tak banyak orang Pangkep yang mengetahui hal ini sampai kemudian penulis ikut merumahkan Tambara ini, sebuah legenda pengobatan tradisional yang masih lestari hingga kini di Tondongkura.
Tambara’na Tondongkura, suatu legenda pengobatan tradisional yang mendapatkan konfirmasi dalam kenyataan pada masa kini. Kisah penemuan herbal ini, penulis ketahui beberapa tahun lalu saat diantar oleh H. Puang Tompo (70 Tahun), mantan Kepala Desa Tondongkura (1966-1974) bersama dengan Syamsuddin Daeng Manai, seorang mantan Kepala Dusun Maccini Baji (57 Tahun), Masykur Daeng Makkuling, seorang aparat Desa Tondongkura (30 Tahun) serta seorang warga lainnya bernama Mansyur (27 Tahun) menelusuri jejak Sejarah Kekaraengan Tondongkura dalam Hutan dan Pegunungan Tondongkura.

Sebenarnya tujuan utama saya adalah mengunjungi situs makam kekaraengan (Raja) Tondongkura serta kampung tua Tondongkura yang berada diatas hutan pegunungan sekira tingginya 200 meter. Namun narasi tutur yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat terkait kemukjizatan Tambara’na Tondongkura benar-benar telah mengusik pikiran penulis untuk ikut menelusurinya.
Tambara’rana Tondongkura berwujud sebuah pohon yang akar dan kulitnya biasa digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit, khususnya sebagai penawar sakit perut dan racun.

Dahulu, di suatu masa yang tidak diketahui tahunnya. Cerita tentang Tambara’na Tondongkura ini bermula dan dari cerita inilah berkembang pengetahuan masyarakat akan kemanfaatan Tambara untuk pengobatan.
Tokoh masyarakat Tondongkura, H. Puang Tompo menuturkan beberapa legenda tersebut yang diterimanya dari cerita turun temurun. “Dahulu, pernah suatu di suatu masa yang sudah lama sekali, ada seorang yang meninggal dan akan dikuburkan disini, di Kampung tua Tondongkura ini,” ungkapnya
“Pada saat jasadnya sudah akan dimasukkan ke liang lahat, ada getah pohon yang menetes di mulutnya. Tak lama setelahnya, jasadnya bangkit dan hidup kembali. Setelah ditelusuri getah dan akar pohon tersebut, diketahuilah pohon itu adalah pohon rica-rica atau lita-lita yang dalam bahasa lokal setempat lebih sering disebut “Aju Tambara” (Pohon Tambara)”, tambahnya.

Keterkenalan Tambara’na Tondongkura ini untuk mengobati sakit dan sebagai penawar racun ini dikenang oleh masyarakat setempat dalam sebuah kelong (syair).
Kadde kuassengko racun
Buntala pabengo-bengo
Mangngalle tonja
Tambara’ ri Tondongkura
Syair diatas semakin menunjukkan betapa kulit pohon tambara’ dan keampuhannya dalam mengobati dan menawarkan racun sudah menjadi pengetahuan umum masyarakat, bukan hanya bagi masyarakat Tondongkura tetapi juga bagi masyarakat kampung sekitarnya. Ada pula yang menyebutnya dengan istilah lain, yaitu “Tambara Kaleleng”.
Untuk mengenang Pohon Tambara sebagai ciri khas Tondongkura, maka akar pohon rica-rica/lita-lita (tambara’) ini menjadi salah satu simbol atau unsur penyemangat yang melekat pada lambang (panji) Kecamatan Tondong Tallasa.
* * *
Perjalanan mendaki hutan dan pegunungan Tondongkura meskipun berat tapi tidak terasa capeknya, karena penulis beberapa kali singgah dan diskusi di situs bersejarah. Sebut saja misalnya, keberadaan “Batu Buleng” yang menjadi salah satu penanda asal muasal nama Tondongkura.
Saat kita duduk di depan Batu Buleng, kita bisa melihat sepertiga luas wilayah Desa Tondongkura yang menurut narasi tutur masyarakat setempat awalnya terendam banjir. Hanya Batu Buleng itu saja yang nampak layaknya punggung kura-kura. Tidak jauh dari lokasi Batu Buleng itu, kita segera memasuki kawasan hutan adat dan bekas kampung tua Tondongkura.


Tak jauh dari bekas kampung tua Tondongkura yang telah lama ditinggalkan itulah terletak situs makam keluarga Raja (Karaeng) Tondongkura. Usai melakukan pencatatan dan perekaman atas situs tersebut, kami berlima melanjutkan perjalanan menuju kawasan Hutan “Pammaroang”, yang dahulu dikenal sebagai tempat pertahanan Raja dan rakyat Tondongkura kalau terjadi perang.
Menurut cerita masyarakat setempat, kalau punya maksud jahat maka mustahil bisa keluar dari kawasan hutan keramat tersebut. Kawasan Hutan “Pammaroang” ini memang sangat strategis sebagai tempat pertahanan mengingat letaknya yang sukar dijangkau dan sangat tinggi, sekira 500 meter tingginya dari sungai yang mengitarinya dibawahnya.
Di kawasan hutan “Pammaroang” ini, sebenarnya penulis mencari pohon “Asalang”. Konon “Asalang” dahulu dipakai untuk kekebalan pada saat perang, tapi penulis tidak menemukannya. Yang banyak ditemukan (dalam bahasa lokal setempat) hanya pohon (Aju) Cenrana, tirasa, jampu-jampu, kalo-kaloro, bunu’, bembe-bembe, bicoro, tanang, dokara, karunrung, kulingpapa, tonasa, dan yang lainnya.

Sebelum sampai di kawasan Hutan Pammaroang, terlebih dahulu dilewati kawasan pekuburan kuna yang disebut “Pakkekeang”. Kawasan ini adalah situs kuburan kuna jauh sebelum kedatangan Islam di Tondongkura yang dicirikan dengan arah hadap makam yang tidak beraturan.
Sekitar Tahun 1960-an, menurut H. Puang Tompo dan Syamsuddin Daeng Manai, kawasan ini disebut “Pakkekeang” karena ramai diekskavasi secara ilegal oleh para pemburu harta karung dan fragmen keramik kuna. Hal ini tentunya disebabkan karena dahulu jika ada orang yang meninggal maka mayatnya dikuburkan bersama barangnya. Penulis masih dapat melihat sendiri bekas atau jejak penggalian tersebut.


Beberapa fragmen keramik yang tercecer sisa ekskavasi dalam kuburan kuno (foto: mfaridwm)
Dalam kawasan pekuburan kuna “Pakkekeang” inilah, kami mendapati satu pohon rica-rica/lita-lita yang biasa digunakan untuk pengobatan. Menurut H. Puang Tompo (70 Tahun), Pohon Rica-rica/Lita-lita yang aslinya adalah gaib. Dikatakan gaib karena kalau hari ini misalnya kita dapat melihatnya maka esoknya kalau kita datang lagi ditempat yang sama maka pohon rica-rica/lita-lita tersebut tidak diketemukan lagi.
“Banyak masyarakat yang mengakui dan pernah membuktikannya sendiri. Tambara yang asli itu adanya cuma di Tondongkura, cirinya semua ranting dan daun-daunnya menghadap kebawah”, jelas H. Puang Tompo.
Untuk menjadikan Tambara sebagai obat atau penawar racun, maka disyaratkan harus diupacarakan (dicera’). “Perlakuan pada saat diupacarakan pun harus diperhatikan, diantaranya bahan akar dan kulit pohon rica-rica/lita-lita itu yang mau dibuat obat. Tambara tersebut tidak boleh diserahkan dari tangan ke tangan, tetapi disyaratkan harus menyentuh tanah terlebih dahulu”, tambahnya.
Fungsi lain yang tidak kalah melegendanya dari keberadaan Pohon Tambara ini adalah syarat cera’ lappung ayam sabungan yang terkenal dengan sebutan “Lappung Paccera Tambara’na Tondongkura”. Ayam sabungan yang mau dicera’ tambara tersebut haruslah ayam “Lappung” yang berwarna merah kehitam-hitaman. Ayam tersebut juga haruslah ayam yang lahir dan besar dalam kawasan hutan Tondongkura.
Keterkenalan “Lappung Paccera Tambara’na Tondongkura” ini diakui oleh seluruh masyarakat Tondongkura sehingga tak satupun orang Tondongkura yang mau menyabung ayamnya melawan ayam lappung yang sudah dicera’ (dialirkan darahnya/diupacarakan) dengan tambara.
* * *
Pada masa dimana wilayah Tondongkura dikuasai secara de facto oleh pasukan DI / TII pimpinan Kahar Muzakkar, pernah suatu waktu seorang anggota pasukan DI/TII (tidak diketahui namanya oleh sumber penulis, H. Puang Tompo) yang orang Mandar (beretnis Mandar, kini masuk wilayah Sulawesi Barat) singgah di Gattareng, Barru. “Dimana kampung yang bernama Tondongkura?” tanyanya di Gattareng.
Oleh Orang Gattareng, maka ditunjukkanlah arah menuju Kampung Tondongkura dan langsung menemui Imam Sub Tondongkura (Imam Sub adalah sebutan kepala kampung di masa pemerintahan DI/TII Kahar Muzakkar) yang waktu itu dijabat oleh Punnai Daeng Makkelo.

Dihadapan Imam Sub Punnai Dg Makkelo (masa pemerintahan 1953-1954) diungkapkannya narasi tutur yang diterimanya secara turun temurun dari kakek dan buyutnya sampai akhirnya dia mengatakan, “Inilah kampung yang saya cari-cari. Inilah kampung yang mengalahkan leluhur saya (maksudnya, Bangsawan/Raja Mandar) sewaktu diuji kemampuannya dihadapan Sombayya ri Gowa (Raja Gowa) karena Karaeng Tondongkura memiliki Tambara”, ungkapnya.
Dengan dasar cerita yang dibawanya itu, sang tentara DI/TII inipun meminta Tambara’na Tondongkura. Cerita yang dibawa tentara DI/TII asal Mandar ini ternyata kemudian mendapatkan konfirmasi narasi tutur yang berkembang di Tondongkura, yaitu tentang Uji kemampuan senjata seorang bangsawan Mandar dan Karaeng Tondongkura di hadapan Raja Gowa.
Hanya saja cerita ini tidak mengungkap pada masa Raja Gowa keberapa cerita ini lahir. Begitupun Karaeng Tondongkura dan Bangsawan Mandar yang dimaksud.

Dikisahkan oleh H. Puang Tompo bahwa atas perintah Raja Gowa, seorang Bangsawan Mandar diuji kemampuannya melawan Karaeng Tondongkura. Ketika itu Raja Gowa bertindak sebagai penguasa atasan. Sang Bangsawan Mandar itu kemudian mengeluarkan sumpitnya dan hanya satu kali tiup saja seekor kuda yang dijadikan sasaran langsung mati.
Raja Gowa kemudian memanggil Karaeng Tondongkura untuk menandingi keahlian Mandar tersebut. “Iye, Sombangku”, ujarnya (Makassar: Iya paduka raja) sambil dengan cekatan menumbuk akar dan kulit tambara’ lalu mengoleskannya ke tubuh kuda pada titik yang terkena sumpit tersebut. Seketika itu kuda karaeng (kuda raja) itupun hidup kembali. Narasi tutur ini menyimpulkan dua kekuatan yang siap berdiri di depan Raja Gowa, yaitu kekuatan Mandar yang mematikan dan kekuatan Tondongkura yang menghidupkan.
Disebutkan dalam kisah lain, Karaeng Tondongkura memiliki kedudukan istimewa dihadapan Raja Gowa layaknya “anak emas” kalau bertandang ke istana Gowa. Itu pula sebabnya Karaeng Tondongkura diperbolehkan lewat tangga belakang kalau datang menyerahkan “kasuwiang” (persembahan) berupa Alosi (air pinang) dan Tambara’ ke istana Gowa, sementara Bate Ana’ Karaeng Gowa (bangsawan/raja bawahan lainnya) harus lewat tangga dan pintu depan.
Pengistimewaan itu pula yang menyebabkan Karaeng Tondongkura diberikan satu kawasan tempat tinggal dekat istana sebagai tempat istirahat seusai mengantarkan kasuwiang (persembahan) kepada Raja Gowa. Kawasan itu sampai sekarang masih kita dapati di Makassar sekaligus menjadi sebab musabab adanya Jalan Tondongkura di Makassar, tepatnya pada salah satu ruang jalan dari Jalan Veteran Selatan.
* * *
Untuk mendapatkan Tambara dari pohon Rica-rica/Lita-lita menurut H. Puang Tompo harus dicera’ (diupacarakan) terlebih dahulu, baik untuk pengobatan maupun untuk ayam Lappung (ayam sabungan).
Menurut Masykur Daeng Makkuling, waktu untuk mencera’ hanyalah sekali setahun, yaitu tiap tanggal 10 Dzulhijjah. Hal ini tentu mengingatkan kita pada ritual “Accera Kalompoang” (Pencucian benda pusaka Kerajaan) tiap tanggal 10 Dzulhijjah di Balla Lompoa (Istana Gowa).
“Saya sudah tiga kali 10 Dzulhijjah tidak cera’ tambara, meski begitu hampir semua rumah di Tondongkura ini memiliki Tambara’. Kita bagi, sedikit demi sedikit, untuk mengobati sakit perut dan penawar racun”, ujarnya seraya menyerahkan sedikit tambara’-nya kepada penulis sebagai “Oleh-oleh” pulang.

Akhirnya, penulispun kini memiliki Tambara dan tidak hanya mendengarnya sebagai legenda. “Dikunyah sedikit saja, kalau sudah terasa pahit berarti tambara-nya sudah bekerja”, ujar Masykur Daeng Makkuling.
Oleh H. Puang Tompo, Tokoh masyarakat yang juga Ketua Lembaga Adat “Anrong Appaka” Tondongkura ini, penulis dipesankan agar kepemilikan Tambara tidak membuat kita terjerumus kepada kemusyrikan. Tambara’ menurutnya hanya alat atau usaha untuk mengobati, segala sesuatunya tetap berpulang kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)
(* M. Farid W Makkulau, Pimpinan Redaksi Ettapedia/Peneliti Sejarah dan Budaya Daerah di Sulawesi Selatan





















