Oleh: M. Farid W Makkulau
ETTAPEDIA.ORG – Sulawesi Selatan selain memiliki pesona alam dan khazanah budaya yang beragam, juga masyarakatnya menyimpan cerita mistis dan penuh misteri. Salah satunya ialah cerita tentang makhluk jadi-jadian yang seringkali disebut ‘Parakang’.
Apakah yang sebenarnya dimaksud ‘Parakang’ itu? Benarkah ‘Parakang’ itu benar-benar ada? Adakah yang pernah melihatnya? Ataukah hanya cerita misteri yang terus dituturkan sekadar untuk menakut-nakuti anak kecil supaya cepat tidur pada malam hari?
Cerita mistis dan penuh misteri tentang ‘Parakang’ ini juga pernah penulis dengar saat masih kanak. Di era Tahun 70-an sampai Tahun 80-an, cerita tentang Parakang ini masih ada, dan terutama sekali masih dipercayai ada di kampung-kampung yang ketinggalan masuk listrik.
Parakang diyakini ada dan wujudnya diceritakan sebagai seorang yang bisa mengubah wujudnya menjadi apa saja, bisa–katanya—menjadi hewan, tumbuhan, benda atau apa saja. Mereka yang menjadi Parakang, dipercayai adalah mereka yang belajar ilmu hitam, tapi tidak selesai mempelajarinya atau gagal.
Penceritaan tentang wujud Parakang ini terbilang aneh dan penulis sendiri tak pernah berhadapan muka dengan orang yang benar-benar mengaku bahwa ia pernah melihat Parakang. Sekali lagi hanya penceritaan, turun temurun, dari mulut ke mulut, dan cenderung hanya untuk menakut-nakuti agar tidak keluar pada malam hari.
Dari cerita yang berkembang itu, disebut-sebut bahwa hasil jelmaan Parakang berbeda dari wujud asli yang ditirunya. Misalnya saja, jika mengubah diri menjadi anjing, maka Anjing ‘Parakang’ dianggap adalah yang tidak mempunyai ekor atau kaki di bagian belakang lebih tinggi.
Salah satu cerita yang pernah penulis terima saat masih kanak, dan cukup membuat bulu kuduk merinding adalah cerita tentang Parakang yang mengubah wujud menjadi Pohon Pisang. Diceritakan bahwa Pisang Parakang ditandai dari wujudnya yang hanya memiliki dua daun, tidak berpucuk dan daunnya tidak lebih dari tiga helai.
Jika disebut sebagai ‘Hantu’, maka cerita tentang Parakang di Sulawesi Selatan cukup ditakuti. Yang banyak dikenang cerita tentang Parakang adalah kegemarannya mengisap usus anak-anak dan ibu yang sedang melahirkan. Itulah sebabnya seringkali disebut “Parakang Paiso Pallo” (Makassar: Parakang pengisap usus)
Masih tentang cerita Parakang di era Tahun 70-an sampai Tahun 80-an, menyebutkan bahwa Ciri-ciri orang yang sudah diganggu Parakang antara lain menderita sakit perut, keluar darah pada saat buang air yang bisa berujung pada kematian.
Dari cerita ini, banyak kemudian orangtua di setiap rumah menjaga dengan baik dan sangat waspada menjaga ibu hamil, keluarganya yang sedang sakit, anjuran membawa peniti agar tidak diganggu Parakang, serta larangan agar tidak boleh sembarangan mencuci darah haid.
Dari cerita tentang Parakang ini, ternyata begitu seriusnya Orangtua di Kampung memberikan perhatian dan bahkan mencoba mencari tahu cara mengatasinya. Adalah yang kemudian mengatakan bahwa Parakang bisa diusir dengan cara dipukul sekali saja. Jika memukulnya lebih dari sekali maka ia akan melawan.
Tak lama setelah memukul Parakang biasanya ada berita seseorang di Kampung yang meninggal dengan berbagai alasan, atau tiba-tiba cacat. Cacat tersebut dikarenakan seseorang telah memukul Parakang. Bisa jadi orang yang meninggal atau cacat secara tiba-tiba itu, dianggapnya sebagai Parakang itu.
Masih percaya cerita mistis penuh misteri di era Tahun 70-an sampai Tahun 80-an tentang Parakang itu? Sekalipun sineas Makassar sudah ada yang memfilmkannya, penulis masih menganggapnya bahwa Parakang itu tidak ada. Ia hanya ada dalam pikiran atau cara Orang Makassar untuk menakut-nakuti anaknya atau seseorang agar tidak pulang larut malam.
Atau, anda percaya? Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)
(* M. Farid W Makkulau, Pemerhati Budaya





















