Laporan: M. Farid W Makkulau
ETTAPEDIA.ORG – Siapa yang tak kenal Museum Balla Lompoa dan kebesaran nama Kerajaan Makassar yang disandang dan ditautkan dengan keberadaan museum yang terletak di tengah-tengah Kelurahan Sungguminasa, Kabupaten Gowa ini.
Secara bahasa, Balla Lompoa (b.makassar) berarti rumah besar, istana atau rumah kebesaran. Museum ini didirikan pada tanggal 11 Desember 1973, dibangun di atas areal seluas 7663 m2 tahun 1936 sejak masa pemerintahan Raja Gowa ke-XXXI, I Mangngi-mangngi Daeng Matutu, kemudian direhabilitasi dari Tahun 1978-1980 sebagaimana adanya sekarang ini.

Luas bangunan Museum Balla Lompoa seluas 1144 m2 ini diresmikan dalam Tahun 1981 oleh Prof Dr Haryati Soebadio yang ketika itu menjabat Dirjen Kebudayaan Depdikbud RI. Keseluruhan bangunan Museum terbuat dari bahan kayu jati bercorak arsitektur tradisional Makassar. Ada juga terdapat teknik modern di beberapa bagian tertentu, misalnya di persambungan kayu menggunakan baut, bahkan bagian dapurnya menggunakan bahan batu bata.
Sebagai sebuah museum, Balla Lompoa menyimpan beragam jenis koleksi, seperti koleksi sejarah, etnografi, numismatik, dan heraldik. Koleksi histori terdiri dari seperangkat alat-alat kerajaan seperti: Salokoa mahkota yang terbuat dari bahan emas murni, beratnya 1766 gram.
Pusaka Kerajaan, mahkota raja yang disebut Salokoa tersebut adalah wujud kebesaran Raja Gowa yang dipakai pada upacara pelantikan atau penobatan Raja. Ada pula Ponto janga-jangaya, yaitu gelang tangan dari bahan emas berbentuk naga yang melingkar dengan dua kepala yang mulutnya terbuka. Gelang ini merupakan tanda kebesaran Raja Gowa yang digunakan pada upacara pelantikan/penobatan Raja Gowa. Ada pula Kotara, yaitu rantai emas panjang seberat 270 gram. Merupakan tanda kebesaran Raja yang bernama I Tani Samang (yang tidak ada namanya).

Museum Balla Lompoa utamanya digunakan sebagai tempat penyimpanan Benda-benda kerajaan Gowa. Pemerintah Kabupaten Gowa juga menggunakan museum Balla Lompoa sebagai tempat pelaksanaan upacara-upacara adat yang menjadi agenda tahunan “Accera kalompoang”, yaitu Upacara adat pencucian benda-benda pusaka kerajaan yang dilaksanakan setiap bulan Zulhijah atau pada hari raya Idul Adha dan telah berlangsung sejak masa pemerintahan Raja Gowa ke-14, yaitu Sultan Alauddin.
Masyarakat meyakini bahwa perubahan berat benda pusaka setelah dicuci akan menentukan nasib Kerajaan Makassar di masa lalu dan di masa kini. Bertambahnya berat benda pusaka dianggap sebagai pertanda baik, sedangkan berkurangnya berat benda pusaka dianggap sebagai pertanda buruk. Umumnya Masyarakat Makassar juga menganggap musem Balla Lompoa sebagai tempat keramat dan mempunyai kekuatan magis.

Kunjungan ke museum Balla Lompoa bagi masyarakat setempat bertujuan untuk meminta berkah kepada Tuhan melalui benda-benda pusaka Kerajaan Gowa. Ini ditandai dengan adanya sebuah kamar khusus yang digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka, yang umum disebut Kalompoang.
Di dalam kamar tersebut dilengkapi dengan sesajian seperti seperangkat alat makan, lilin merah, foto Syekh Yusuf dan Sultan Hasanuddin, dan pisang raja sebagai persembahan yang digunakan untuk melaksanakan ritual. Di dekat sesajian terdapat ranjang kecil dengan kelambu berwarna merah dan kasur beralas kain berwarna kuning. Pada ranjang kecil itu terdapat kotak kayu yang digunakan sebagai tempat penyimpanan benda-benda kerajaan peninggalan Tumanurung.

Bagi pendatang di Kota Makassar, untuk mencapai Museum Balla Lompoa dapat ditempuh kurang lebih 1 jam perjalanan dari Bandar Udara Sultan Hasanuddin. Museum Balla Lompoa berada di Jalan Sultan Hasanuddin No. 44 SungguMinasa Kecamatan Sombaopu, Kabupaten Gowa. Provinsi Sulawesi Selatan.
Waktu kunjungan yang disediakan pihak museum dimulai hari Senin sampai dengan Kamis pukul 08.00 sampai sore hari. Hari Jumat dibuka pukul 08:00 – 11.00 WITA sedangkan hari Sabtu pukul 08.00 – 12.00 WITA. sedangkan untuk tiket Masuk Museum tidak ditentukan bayaran hanya Rp.2000 per pengunjung.

Museum Balla Lompoa juga dilengkapi dengan fasilitas seperti Ruang Administrasi, Gudang, Ruang Konservasi , Ruang Auditorium, Ruang Pameran Tetap, Ruang Admnistrasi, Ruang Konservasi dan Preparasi, yang hanya diperuntukkan bagi pengelola dan keluarga kerajaan.
Karena keunikan bangunan, tempat dan lokasinya yang bersejarah, banyak kemudian pelajar dan mahasiswa yang menjadikan lokasi Museum Balla Lompoa ini sebagai lokasi pengambilan video menari, drama atau kegiatan seni budaya lainnya. (*)





















