Oleh: Etta Adil *)
ETTAPEDIA.ORG – Pada malam ramah tamah perayaan Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-78, yang diselenggarakan pada Hari Jumat malam, Tanggal 18 Agustus 2023, salah satu pengisi acara adalah pertunjukan sendratari “Perjuangan Kemerdekaan di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan” yang dipentaskan oleh Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Kabupaten Pangkep.
Profil Pertunjukan Sendratari:
Nama Pertunjukan: Sendratari “Perjuangan Kemerdekaan di Pangkep”
Sutradara: Ibrahim A. Daus, S.Pd., M.Pd dan Asri Taliu, SE.
Naskah Cerita: Etta Adil
Penata Tari/Koreografer: Andi Rezky Sjahrir Amir, S.Pd dan Suryadi Ansyar, S.Kom
Penata Musik: Andi Wafei Jusuf Habibi, S.Pd., Andi Aldi Saputra dan Andi Ryaas Rasyidin, S.IP.
Para Penari: Anggota Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Kab. Pangkep.
Berikut ini Naskah Sendratari “Perjuangan Kemerdekaan di Pangkep”
(1) Adegan Penyiksaan
Aaarrrgghhhhhh …… Aaaarrghhhhh ……
Pasca Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Belanda tak terima Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamasikan tidak diakui oleh Belanda. Karena itu, Belanda masuk kembali ke Indonesia dengan membonceng ke pasukan sekutu. Belanda ingin kembali menjajah Indonesia. Keluar masuk kampung menyiksa rakyat Indonesia.
Kedatangan Belanda kembali masuk ke Indonesia membuat banyak rakyat disiksa, dibunuh, dan dibakar rumahnya. Belanda menggiring rakyat ke liang kematian, menyeret rakyat tanpa kenal ampun.
(2) Penyampaian Berita Kemerdekaan (Diiringi Tari Kreasi Kamaradekang/Tari Perempuan)
Wattunnaminne nibarasa Balandayya, i Lau takkala lebbami niproklamasikan kemerdekaanna Indonesia, Takkala lebbami napau Soekarno Hatta ri Jakarta. Pawwangi rakjaka kana’ assereki: Tangkisi berangnu, Tompangi badiknu, Paentengi gajangnu, Tebbaki bulonu pajjari bulo cidu, manna apa kulle nipake ambongkai Balandayya assulu ri pa’rasanganta.
(3) Penyampaian Berita Perlawanan kepada Belanda (diiringi Tari Pa’lampa Barambangna Pangkajene)
Nia’mi Balandayya ri Kalibone, kere ngasengmi mae Pa’lapa Barambangna Pangkajene, Pawwangi Karaenga ri Labakkang, paentengi sirika, kioki assulu Tala’ Unyina Labakkang, Kio ngaseng assulu Koro-korona Balocci, Pawwangi Karaeng Bungoro, Ma’rang, Segeri sagang Karaengta Mandacingi ri Mandalle.
Karaeng Pangkajene Andi Burhanuddin muncul, setelah membacakan Proklamasi Kemerdekaan di Pangkep, lalu mengirimkan pesan singkat kepada rakyat, kepada andi mappe dan kepada seluruh karaeng agar bangkit melawan Belanda.
Pesan singkat Karaengta Pangkajene, Andi Burhanuddin telah tersebar dan disebarluaskan di seluruh bekas wilayah Regentscappen Onderafdeeling Pangkajene untuk semua rakyat bangkit melawan Belanda yang ingin masuk kembali menjajah dengan membonceng Pasukan Sekutu.

(4) Andi Mappe dan Perlawanan terhadap Belanda
Sementara itu, Andi Bangkung Mappesona, Pemuda pejuang muncul di tengah keramaian masyarakat. Dengan memakai sepeda onthelnya, sosok perkasanya mempesona para gadis kampung. Situru bangkungnya dengan waraninya, selaras ketampanannya dengan getteng dan lempu’nya.
Tak lama, ditengah keasyikan bercengkerama dengan rakyat, Andi Mappe menerima perintah karaengta agar segera menyusun strategi perlawanan terhadap Belanda.
Andi Mappe yang merupakan Kapten Kelasykaran Harimau Indonesia ini segera melakukan perlawanan gerilya, keluar masuk hutan dan kampung, menyerang Belanda secara mendadak di satu kampung, kemudian menghilang masuk hutan dan muncul kembali menyerang Belanda di kampung lain.
Namun, karena kelihaian mata-mata Belanda, pasukan Andi Mappe terus dikejar dari kampung Paku-paku, Bantimurung-Balocci, Patanyameng Maros, masuk Tondong Bua hingga ke Padang LeangE, Daerah Pegunungan Tondong. Pasukan Andi Mappe terus melawan dan bertahan dengan senjata seadanya.
Dan di Padang LeangE, Biring Bulu Daerah Pegunungan Tondong, Pasukan Andi Mappe dikepung selama 3 hari 3 malam. Dikepung 3 hari 3 malam, akhirnya Andi Mappe menemui ajalnya.
Di ujung ajalnya dikenal dalam sejarah, Andi Mappe sempat menegaskan tekadnya, “Ulebbirangngi burue ala najajae Balandae, Teasisena Mitai BalandaE”
Lebih baik saya ini mati berkalang tanah daripada dijajah oleh Belanda. Saya tidak akan pernah rela melihat Belanda disini).
Tanggal 25 Maret 1947, dikenang dalam catatan sejarah, Andi Mappe, pejuang kemerdekaan itu menghembuskan nafas terakhirnya dan serdadu anjing Belanda itu memenggal kepalanya.
Aaarrrgghhhhhh …… Aaaarrghhhhh …… (Mati Lampu)
(5) Hiruk Perang Rakyat Bersatu Melawan Belanda
Kematian Andi Mappe membuat perlawanan rakyat bangkit, sementara Belanda membabi buta menyerang rakyat
Kematian Andi Mappe membuat amarah rakyat membuncah. Serentak rakyat Bersatu melakukan perlawanan. Pasukan Belanda menyerang membabi buta. Setiap rakyat yang ditemuinya ditembak dan dibunuh. Beberapa kampung dibakar. Para pemuda pejuang tak tinggal diam, perlawanan dilakukan dengan senjata seadanya. Banyak korban di pihak rakyat, namun tak sedikit pula korban berjatuhan di pihak Belanda.
Para pemuda pejuang tetap bertahan meski luka tembak mengoyak badannya. Terseok-seok mendekati bendera merah putih, sementara yang lainnya tetap bertahan, tetap bertahan dan melawan.
Belanda pada akhirnya lari kocar kacir dan menderita banyak kerugian materil dan nyawa serdadunya.
Merdeka
Sekali Merdeka Tetap Merdeka!!!
“Adakaji Tojeng Benteng Tatimpung Pattongko Tatiroang” **)
Demikianlah Naskah Sendratari “Perjuangan Kemerdekaan di Pangkep” yang telah dipentaskan dalam malam ramah tamah Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-78 di Tribun Pangkajene, Lapangan Citramas Pangkep. (*)

Tentang Penulis:
(* Etta Adil, adalah nama pena dari Muhammad Farid Wajdi, S.H.I., M.M., Ketua 1 Dewan Kesenian dan Pemajuan (DKPK) Kebudayaan Pangkep.
(** Motto Kecamatan Pangkajene, ibukota Kabupaten Pangkep.























[…] Naskah Sendratari “Perjuangan Kemerdekaan di Pangkep” […]