Oleh: M. Farid W Makkulau *)
Related Post: Menulis Naskah Sendratari “Tomanurunga ri Siang”
ETTAPEDIA.ORG – Sendratari merupakan seni pertunjukan yang memadukan banyak keahlian para pementasnya dan di kekinian, semakin banyak diminati masyarakat. Sendratari adalah perpaduan antara seni, drama, dan tari yang dipentaskan secara bersamaan di atas panggung atau di hadapan orang banyak.
Dalam sendratari terdapat unsur drama dan tari. Jadi sendratari bisa disebut juga sebagai seni drama atau cerita yang disajikan dalam bentuk tarian tanpa adanya dialog, biasanya diiringi oleh musik, tradisional dan kontemporer atau perpaduan beberapa genre musik.
Meski sendratari belum terlalu pesat perkembangannya di Sulawesi Selatan, namun beberapa tahun terakhir ini, banyak komunitas seniman dan budayawan mulai melirik Sendratari sebagai seni pertunjukan untuk mengenalkan sejarah dan budaya setempat.
Penulis sendiri–sejak terlibat dalam Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Pangkep–aktif menulis naskah cerita dalam konteks sejarah dan budaya lokal untuk kemudian diangkat dan diimplementasikan dalam perpaduan gerak tari. Dalam penciptaan sendratari tersebut melibatkan banyak talenta, dari penulis naskah (seniman, budayawan atau sejarawan), sutradara, penata gerak (koreografer)/penata tari, penata suara, penata musik, para penari, tim properti tari, desainer/penata panggung, dan lain sebagainya.
Awalnya, sendratari dibuat untuk kebutuhan hari jadi suatu kabupaten atau festival budaya di peringatan hari pendidikan nasional atau pertunjukan untuk kebutuhan malam ramah tamah 17 agustusan. Dari narasi yang dikonsep penulis naskah, kemudian diformulasi dalam gerak tari yang padu dan saling terikat dengan tema cerita yang akan dipentaskan, dengan segala kelengkapan dan pernak perniknya. Gerakan-gerakan tari baru diciptakan menyesuaikan cerita, latar dan penonton.
Sendratari berkembang seiring banyaknya minat masyarakat yang mengaguminya. Masyarakat menyukai sendratari karena mereka dapat menikmati cerita-cerita yang dibawakan dengan visualisasi gerakan tarian dan diiringi musik. Apakah sendratari dapat dibuat tanpa menggunakan lakon? Dalam kondisi umum, para penari sepenuhnya menggunakan bahasa tubuhnya untuk menggambarkan tokoh atau alur cerita.
Lihat pula: Sendratari Perjuangan Kemerdekaan di Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan
Sendratari pun dapat ditampilkan tanpa sutradara, tapi akan jauh lebih seru jika peran itu tetap ada dan keberadaannya bisa saling melengkapi dengan fungsi narator (pembaca naskah cerita). Penonton akan lebih mudah memahami maksud dari pertunjukan sendratari dan dapat mengikuti serunya cerita dalam seni pertunjukan tersebut.
Sendratari akan terasa lebih mudah dinikmati jika bahasa ungkapan gerak menyentuh penonton. Untuk itu diperlukan seorang sutradara dan narator dalam pertunjukan sendratari. Kualitas sendratari tidak lagi tergantung pada tariannya, melainkan pada keseluruhan unsur yang saling melengkapi dan saling menunjang dalam pertunjukan sendratari.
Perkembangan terakhir sendratari adalah menggunakan set dekorasi, dengan berbagai trik-trik yang kreatif. Daya tarik sendratari juga ditunjang pada permainan properti, set dekorasi, dan penggunaan unsur spectacle lainnya. Pada saat ini, sudah banyak sendratari yang menggunakan layar lebar, figur bintang, penggunaan asap, nyala api, termasuk kembang api, letusan senjata layaknya dalam sebuah peperangan, dan lain sebagainya.
Di masa kini, untuk membuat sendratari semakin diminati, maka sendratari harus dikelola secara profesional, oleh talenta dan figur yang saling mengisi serta tidak lagi fokus pada setiap penggambaran suasana secara imajinatif dengan gerak tari, tapi harus selalu mengikuti perkembangan dan kemajuan teknologi agar tidak sepi dari penonton.
Pementasan sendratari melibatkan banyak unsur, diantaranya Teks (cerita) yang dominan yang dapat mengguncang perasaan kedekatan akan sejarah dan tema budaya yang ditampilkan. Naskah Cerita dalam konteks Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan akan menjadi lebih seru diangkat jika ada perpaduan talenta antara budayawan atau sejarawan dengan seniman tari, seperti halnya “Sendratari Tomanurunga ri Siang” yang dipentaskan dalam perayaan Hari Jadi Pangkep ke-63 lalu.
Selain itu, Cerita-cerita rakyat atau cerita kepahlawanan dalam Masa Revolusi Fisik juga asyik dan seru untuk diangkat dalam sebuah sendratari. Sulawesi Selatan kaya akan beragam cerita ini, begitupun dengan berlimpahnya narasi tutur dan catatan lontaraq sejak masa kerajaan masih berlangsung.
Mengirim pesan kepada generasi muda akan lebih berkesan jika disampaikan dalam bentuk sendratari. Hal ini tentu karena sendratari adalah perpaduan antara seni, drama, dan tari. Lewat sendratari inilah, pesan budaya dan pesona kesejarahan di masa lampau akan sampai kepada penonton, begitu pula dengan hiburannya.
Dengan iringan musik tradisional atau dikombinasikan dengan musik kontemporer, para penari dapat menari sesuai dengan alur cerita yang dibacakan oleh narator, baik itu tari yang mencerminkan rasa gembira, sedih, ataupun marah. Dan hal ini akan menjadi lebih seru lagi jika sutradara dengan gimmik atau lipsingnya sesekali menyela bagian-bagian tertentu dari pertunjukan dan pada situasi tertentu, mengambil nyanyian (kelong) dari masa lalu untuk memberikan tanda penggambaran atau mempertegas cerita yang dipertunjukkan.
Demikian sedikit penjelasan tentang Sendratari. Semoga ke depannya lebih banyak lagi Sendratari yang tercipta dengan tema dan konteks budaya lokal, atau yang terkait sejarah kerajaan dan kepahlawanan yang ditampilkan. Salamaki’ tapada Salama’. (*)
(* M. Farid W Makkulau, Pemerhati Sejarah dan Budaya Sulsel/Penulis Naskah Sendratari, Ketua I Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan Pangkep.






















[…] Sendratari dalam Konteks Sejarah Budaya Sulsel […]