27 C
Makassar
Oktober 7, 2026, 12:38 am

Mengakrabi Sejarah Dato’ Sulaiman dan Berziarah ke Makamnya di Pattimang Malangke Luwu Utara

Oleh: M. Farid W Makkulau *)

ETTAPEDIA.ORG – Destinasi wisata religi cukup banyak pilihannya dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Hampir seluruh kabupaten di Sulsel memiliki obyek wisata religi, yang pada umumnya juga merupakan destinasi wisata sejarah daerah itu.

Pilihan penulis kali ini jatuh pada Luwu Utara, disana ada Makam Dato’ Sulaiman Patimang di Malangke. Tentu satu perjalanan yang melelahkan jika harus menghitung jarak dari Kota Makassar ke Masamba, ibukota Luwu Utara sejauh 444,03 km atau 275.30 mil (10-11 jam perjalanan darat), kemudian melanjutkannya sekitar 40 km menuju Desa Pattimang Kecamatan Malangke.

Ya, Dengan jalur darat, waktu tempuh dari kota Makassar ke Luwu Utara yang mencapai 10 hingga 11 jam perjalanan, itu berarti hampir sama dengan jarak tempuh Jakarta-Surabaya. Tentu jika sudah memantapkan hati untuk mengulik sejarah dakwah Dato’ Sulaiman sekaligus berziarah ke makamnya, haruslah menetapkan 2-3 tambahan tujuan, agar efektif dan perjalanan multi-guna. Ya, perlu perencanaan untuk eksplorasi sejarah sekaligus berekreasi.

Kompleks makam Dato’ Sulaiman Khatib Sulung ataui disebut juga Dato’ Pattimang, karena makamnya berada di Desa Pattimang Kecamatan Malangke, suatu wilayah terpencil yang cukup jauh dari Kota, yaitu sekitar 40 km dari Masamba. Siapa sebenarnya Dato’ Sulaiman Khatib Sulung ataui disebut juga Dato’ Pattimang ini yang hingga kini makamnya disakralkan dan banyak diziarahi?

Penulis saat berziarah ke Makam Dato' Sulaiman di Pattimang, Malangke, Luwu Utara. (foto: istimewa/*)
Penulis saat berziarah ke Makam Dato’ Sulaiman di Pattimang, Malangke, Luwu Utara. (foto: istimewa/*)

Di Akhir Abad 16 dan awal Abad 17, dikenal dalam Catatan Sejarah, bahwa Butta Sulawesi dimana berdiri banyak kerajaan Bugis Makassar, kedatangan tiga sosok ulama, pendakwah dan penyebar Islam dari Tanah Minangkabau. Pada masa itu, kharisma tiga kerajaan besar lagi memuncaki kekuasaan di jazirah timur dan barat Sulawesi, yaitu Kerajaan Luwu, Kerajaan Bone dan Kerajaan Makassar (Gowa-Tallo).

Meski masih menjadi perdebatan dalam kajian dan penelitian sejarah terkait masa persisnya kedatangan Islam di Bumi Sulawesi, namun peran Dato Tallua (tiga Dato’) dari Tanah Minangkabau Sumatera Barat ini tetap penting untuk diurai dan diperingati proses islamisasi dan dakwah yang dilakukannya. Ketiga Ulama itu adalah Abdul Makmur Khatib Tunggal (yang dikemudian hari diberi nama Dato’ Ri Bandang), Dato’ Sulaeman Khatib Sulung (yang dikemudian hari diberi nama Dato’ Ri Pattimang) dan Abdul Jawad Khatib Bungsu (yang dikemudian hari diberi nama Dato’ Ri Tiro)

Prof Mattulada dalam bukunya, “Sejarah Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan”  menyebutkan bahwa seorang ulama dari Minangkabau Tengah, Sumatera Barat, bernama Abdul Kadir Khatib Tunggal tiba di Pelabuhan Tallo pada tahun 1605 dengan menumpang sebuah kapal perahu. Setibanya di pantai, ia kemudian melakukan shalat yang mengherankan rakyat setempat. Kedatangannya bermaksud untuk menghadap raja.

Raja Tallo yang menguasai wilayah tersebut pun mendengar berita itu dan kemudian langsung bergegas ke pantai untuk menemui orang yang dianggap berbuat ‘tak wajar’ tersebut. Di tengah perjalanan ke pantai, di pintu gerbang halaman istana Tallo, raja bertemu dengan seorang tua yang menanyakan tentang tujuan perjalanan raja. Orang tua itu kemudian menulis sesuatu di atas kuku ibu jari Raja Tallo dan mengirim salam pada orang yang berbuat aneh di pantai itu.

Ketika Raja bertemu dengan orang ‘aneh’ di pantai itu, yang tiada lain Abdul Kadir Khatib Tunggal, kemudian disampaikanlah salam orangtua tadi. Ternyata, tulisan yang ada di atas kuku ibu jari Raja Tallo adalah tulisan yang berlafazkan “Surah Al-Fatihah”. Khatib Tunggal menyatakan bahwa orang tua yang menjumpai raja adalah penjelmaan Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya dari kisah itulah, kemudian orang Makassar menamakan penjelmaan Nabi Muhammad sebagai “Makassar”.

Masih dalam bukunya yang sama, Prof Mattulada juga mengurai Proses Islamisasi di Sulawesi Selatan. Dijelaskannya periode pertama perkembangan agama Islam di Sulawesi Selatan yang ditandai dengan konversi keislaman para raja di daerah pesisir atau kota pelabuhan. Kemudian, disusul peran sentralnya sebagai pelindung dalam pengembangan pusat penyiaran Islam di wilayahnya masing-masing.

Akselerasi proses permulaan islamisasi di Sulawesi Selatan sangat ditunjang dengan sistem pendekatan dan metode dakwah yang dilakukan oleh tiga mubalig dari Minangkabau, yaitu Datuk ri Tiro, Datuk Patimang, dan Datuk ri Bandang. Mereka menggunakan pendekatan akomodatif, adaptasi struktural dan kultural, yaitu melalui jalur struktur birokrasi lewat raja, adat istiadat, serta tradisi masyarakat lokal. Hal ini memberikan penegasan bahwa Islamisasi di Sulawesi Selatan adalah melalui pintu istana (raja).

Pada sejumlah literatur disebutkan, Dato’ Ri Bandang, Dato’ ri Tiro, dan Dato’ Patimang menyebarkan Islam di daerah yang berbeda di Sulawesi Selatan berdasarkan keahlian mereka masing-masing. Datu ri Bandang tetap tinggal di Makassar (Gowa-Tallo), Dato’ ri Tiro ke Bulukumba, sedang Dato’ Pattimang ke Luwu.

Dato’ Pattimang sendiri memiliki nama asli Muhammad Zainuddin atau Abdul Qadir, bergelar Khatib Sulung atau Khatib Sambas, berasal dari Koto Tengah, Sumatra Barat. Beliau muballigh yang pernah belajar ilmu agama di Kesultanan Aceh seperti kerabatnya yang lain dan ditugaskan oleh Sultan Aceh untuk menyebarkan Islam ke daerah Sulawesi.

Wilayah Dakwah Dato’ Patimang adalah jazirah timur Sulawesi Selatan, yang umum masyarakatnya adalah Bugis dan ‘mengagungkan’ banyak ilmu kesaktian, beberapa diantaranya tergolong ‘ilmu hitam’ yang menjurus ke arah kemusyrikan.

Kedatangan Dato’ Pattimang ke Wilayah Luwu dan sekitarnya inilah yang menjadi perjalanan dakwah proses islamisasi yang dilakukannya, termasuk dengan mengetuk pintu istana Luwu, dimana Opu La Pattiware menjadi Datu Luwu pertama yang memeluk Islam. Makam Datu Luwu XV ini berdekatan dengan Makam Dato’ Sulaeman di Pattimang, Malangke.

Tradisi Ziarah

Ziarah pada makam Dato’ Sulaiman pertama kali dilaksanakan pada saat Kedatuan Luwu dipimpin oleh Raja Luwu ke XVI, La Pati Pasung Sultan Abdullah yang menggantikan ayahnya Datu Luwu ke XV La Pattiware yang merupakan Raja Luwu pertama yang menerima ajaran Islam yang saat itu dibawa dan disebarkan oleh Dato’ Sulaiman.

Setelah Dato’ Sulaiman dan Datu Luwu La Pattiware wafat. La Pati Pasung menggelar Tudang Sipulung yang menghasilkan kesepakatan untuk mengadakan “Ziarah Samampa”  (Ziarah Massal), yaitu masyarakan Luwu berziarah ke makam Dato’ Sulaiman dan La Pattiware’ sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kepada Datu Luwu yang pertama menerima ajaran Islam.

Tudang Sipulung itu juga memutuskan membentuk “Pammatoa” yang bertugas dalam pelaksanaan ziarah makam, disebut juga “Mattoa Pattimang” dengan tujuan untuk memperbaiki tatanan adat masyarakat Luwu. Hal ini karena sebelum Islam masuk ke Kerajaan Luwu telah ada berbagai kepercayaan di masyarakat Bugis Luwu, yang bertentangan dengan ajaran Islam dan karenanya perlu diislamisasi.

Deskripsi Makam Dato’ Sulaiman

Makam Dato’ Sulaiman yang sering dikunjungi para peziarah ini memiliki bentuk bangunan yang istimewa, sebagai wujud dan identitas budaya masyarakat setempat, sekaligus sebagai sumber informasi yang dapat dilihat melalui simbol-simbol pada ornament makam.

Bangun makam Datuk Sulaiman sendiri memiliki fungsi sebgai tempat memuliakan leluhur yang telah wafat. Di dalam kompleks pemakaman Dato’ Sulaiman juga terdapat beberapa makam keturunan/keluarga Kerajaan Luwu. Juga tak jauh dari Makam Dato’ Sulaiman, terpisah terdapat makam La Pattiware, Datu Luwu pertama yang memeluk Islam.

Makam Dato Sulaiman (tampak samping. (foto: mfaridwm/*)
Makam Dato Sulaiman (tampak samping. (foto: mfaridwm/*)

Tiang makam Dato’ Sulaiman berjumlah 6 yang disejajarkan kiri dan kanan yang dibangun melalui tradisi sanro bola yang juga dilakukan pada rumah adat Luwu yang identik dengan banyak tiang. Sanro bola itu sendri dimaksudkan agar rumah yang didirikan selalu tentram, selaras, dan harmonis. Masyarakat juga memaknai bahwa 6 tiang disisi kanan dan kiri adalah prajurit yang selalu mendampingi dan mengiringi Datuk Sulaiman semasa hidupnya.

Atap makam Datuk Sulaiman dibangun dengan khas adat Luwu yakni memiliki tingkatan yang menggambarkan kasta masyarakat, yang memiliki makna kedudukan atau derajat kebangsawanan. Atap makam Datuk Sulaiman memiliki 7 tingkatan atap yang memiliki arti tingkat kasta semasa hidupnya, digolongkan setara kerabat kerajaan sebagai bentuk penghormatan Datu Luwu kepada Dato’ Sulaiman.

Bangunan atap makam Dato' Sulaiman. (foto: mfaridwm/*)
Bangunan atap makam Dato’ Sulaiman. (foto: mfaridwm/*)

Diluar dari semua penghormatan yang telah diberikan raja kepada Dato’ Sulaiman, yang menarik adalah bentuk nisan makam Datuk Sulaiman yang hanyalah sebuah batu kali biasa, hal ini memiliki makna sebuah kesederhanan.

* * *

Demikianlah sedikit catatan penulis tentang Dato’ Sulaiman, sebagai upaya mendekati dan mengakrabi Sejarah Ulama yang telah berjasa mendakwahkan Islam, khususnya di Tanah Sulawesi Selatan.

Mengakrabi Sejarah Para Ulama’ tak cukup dengan hanya membaca kisah proses islamisasi yang dilakukannya, tetapi lebih jauh dari itu, adalah dengan menziarahi makamnya, mendo’akannya, mengambil hikmah dan pelajaran dari perjalanan dakwahnya, dan tentu saja, semoga kita semuanya dikuatkan untuk mengikuti perjuangan Islam yang telah beliau rintis.

Semoga catatan ini bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

 

(* M. Farid W Makkulau, Pemerhati Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan, tinggal di Pangkep.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga