27 C
Makassar
Oktober 7, 2026, 12:38 am

Mengenal Sejarah Kerajaan Balusu (Soppeng ri Aja)

Oleh: M. Farid W Makkulau *)

Related Post: Menelisik Sejarah Kelahiran Pemerintah Kabupaten Barru

ETTAPEDIA.ORG – Kerajaan Balusu atau lazim pula disebut sebagai Kerajaan Soppeng ri Aja merupakan salah satu kerajaan yang pernah ada di Sulawesi Selatan. Kerajaan ini adalah salah satu dari empat kerajaan yang pernah berdiri dan kini membetuk Kabupaten Barru (Tanete, Barru, Nepo/Mallusetasi, dan Balusu/Soppeng Riaja).

Pada awalnya wilayah Balusu sebelum menjadi kerajaan tersendiri merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Nepo. Namun ketika Tomanurung di Balusu yang berasal dari Soppeng muncul, barulah wilayah Balusu memisahkan diri dari Nepo membentuk kerajaan sendiri. (Lihat: Asba, Rasyid. 2010. Kerajaan Nepo, Sebuah Kearifan Lokal Dalam Sistem Politik Tradisional Bugis di Kabupaten Barru. Yogyakarta: Penerbit Ombak).

Asal usul nama kerajaan Balusu sendiri berasal dari nama sejenis bekicot yang banyak terdapat di perairan laut Balusu. Jika Kerajaan Nepo banyak mengikut pada Kerajaan Suppa, maka Balusu mengikut pada Kerajaan Soppeng. Itulah sebabnya mengapa Kerajaan Balusu disebut juga sebagai Kerajaan Soppeng Riaja. (Kallupa, Bahru, dkk. 1985. Laporan Pengumpulan Data Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Kabupaten Barru. Ujung Pandang: Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan TA. 1984/1985). 

Meskipun Kerajaan Balusu (Soppeng Riaja) telah memisahkan diri dari Nepo, namun tetap saja kedua kerajaan itu dianggap sebagai dua kerajaan yang tak terpisahkan. Ini terjadi karena beberapa raja yang berkuasa di Nepo juga menjabat sebagai raja di Soppeng Riaja, seperti I Patimangratu. Itulah sebabnya ada ungkapan yang mengatakan, “Nepo dan Soppeng Riaja, kerajaan dengan satu raja dua rakyat. (Lihat: Asba, Rasyid. 2010. Kerajaan Nepo, Sebuah Kearifan Lokal dalam Sistem Politik Tradisional Bugis di Kabupaten Barru. Yogyakarta: Penerbit Ombak). 

Di Kerajaan Soppeng Riaja, terdapat lagi beberapa kerajaan kecil yang menjadi kerajaan bawahan atau lili, di antaranya Kerajaan Siddo, Kiru-Kiru, dan Ajjakkang. Raja dari kerajaan ini pada mulanya adalah raja-raja turunan dari kerajaan Soppeng. (Lihat: Kallupa, Bahru, dkk. 1985. Laporan Pengumpulan Data Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Kabupaten Barru. Ujungpandang: Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan TA. 1984/1985). 

Hal mana disebutkan pula dalam Laporan Pengumpulan Data Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Kabupaten Barru (tahun 1985) yang diselenggarakan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan dijelaskan bahwa di Kecamatan Soppeng Riaja, (Kabupaten Barru saat ini), sebelum Belanda berkuasa di Sulawesi Selatan, terdapat beberapa kerajaan lili (vasal; kerajaan kecil) yang otonom diantaranya Balusu, Siddo, Kiru-Kiru, dan Ajjakkang. Raja dari kerajaan ini pada mulanya adalah raja-raja turunan dari Kerajaan Soppeng.

Pada permulaan Belanda berkuasa di Sulawesi Selatan, sekitar tahun 1905, setelah perlawanan rakyat dari beberapa kerajaan dikalahkan, kerajaan lili tersebut kemudian dilebur menjadi Zelfbestuur dengan nama Soppeng Riaja oleh Belanda. (Lihat: Poelinggomang, Edward L., dan A. Suriadi Mappangara (ed), dkk., 2004. Sejarah Sulawesi Selatan Jilid II. Makassar: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Sulawesi Selatan, dan Abduh, Muhammad,. dkk. 1981. Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sulawesi Selatan. Ujungpandang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional). 

Diantara kerajaan lili yang digabung itu, hanya kerajaan Balusu yang sering mengalami peperangan, baik dengan sesama kerajaan seperti kerajaan Mandar dan Tanete, maupun peperangannya membantu Kerajaan Soppeng, dan terakhir melawan serta menentang masuknya penjajah Belanda.

***

Pada awalnya kerajaan Balusu ini merupakan lili dari kerajaan Ajatappareng yang rajanya silih berganti dan merupakan turunan dari kerajaan Bone, Soppeng, Wajo, dan Gowa. Asal usul nama kerajaan Balusu sendiri berasal dari nama sejenis bekicot yang banyak terdapat di perairan laut Balusu.

Pada awal abad ke XVII atau sekitar tahun 1619 setelah agama Islam mulai masuk di kerajaan Balusu dan sekitarnya, kerajaan Balusu kemudian memisahkan diri dari kerajaan Ajatappareng.

Pada abad ke XIX, ketika kerajaan Soppeng berperang melawan Kerajaan Sidenreng. Dalam peperangan itu, pasukan Soppeng berhasil dipukul mundur sampai ke wilayah Maccile oleh pasukan Sidenreng. Disaat itu lah pasukan Balusu di bawah pimpinan Andi Muhammad Baso Balusus datang membantu pasukan Soppeng.

Pada pertempuran di Maccile itu akhirnya pasukan Soppeng dapat memenangkan peperangan atas bantuan pasukan Balusu. Oleh karena atas bantuan pasukan Balusu itu, raja Soppeng ke XXXV yang saat itu dijabat oleh Andi Zainab memberikan penghargaan kepada Andi Muhammad Baso dan mengangkatnya menjadi Sulle Datue atau yang bertugas sementara menjalankan pemerintahan apabila sang raja berhalangan. Selain jabatan Sulle Datue, ia juga diangkat menjadi pemimpin pasukan kerajaan Soppeng.

Petta Sulle Datue kemudian mendirikan tiga buah Istana. Yang pertama mendirikan istana di Lapasu dengan nama Saoraja Mattanru (sekarang istana ini sudah tidak ada). Yang kedua mendirikan istana di Buludua dengan nama Saoraja Lapinceng (sampai sekarang istana ini masih berdiri di Balusus). Dan terakhir mendirikan istana yang bernama Saoraja Lamacang, juga berada di Buludua (istana ini juga sudah tidak ada lagi).

Pada tahun 1905, Belanda kemudian menyerang Soppeng. Atas serangan itu, secara tidak langsung kerajaan Balusu terlibat sebagai sekutu terdekat Kerajaan Soppeng. Namun hanya dalam beberapa hari saja kerajaan Soppeng dapat dikuasai oleh Belanda. Melihat situasi itu, Petta Sulle Datue mengadakan pertemuan dengan kerajaan lili lainnya seperti Siddo, Kiru-Kiru, dan Ajjakkang, dan bersepakat akan melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Belanda kemudian memulai serangan terhadap Balusu menggunakan perahu, mereka mendarat di pinggir laut antara Takkalasi dan Bawa Saloe. Pasukan Balusu dan sekutunya menghadang pasukan Belanda. Petta Sulle Datue melakukan perlawanan menggunakan senjata Bolong Ringgi dan sebilah keris Lamba Belo.

Pertempuran terjadi dua hari dua malam, dan pasukan Belanda dapat dipukul mundur. Hanya tersisa sepuluh orang saja dari pihak Belanda yang berhasil melarikan diri dengan perahunya. Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak. Mayat pasukan Belanda dipisahkan dan dikuburkan di Lapasu, sementara yang tidak sempat dikuburkan mayatnya dibuang saja ke Sungai Lampoko.

Berselang satu bulan kemudian, Belanda melakukan serangan kedua kalinya dengan pasukan yang lebih besar melalui laut dan darat, namun tetap mendapat perlawanan dari rakyat Balusu. Beberapa raja dari kerajaan lili lainnya satu per satu mulai menyerah kepada Belanda, selain juga pengkhianatan Jennang Mangiri, salah seorang anggota kerajaan Soppeng membuka jalan kepada Belanda untuk menyerang Balusu di bagian Timur dari arah Soppeng.

Melihat keadaannya semakin terdesak, diserang dari arah Barat dan Timur, Petta Sulle Datue bersama sisa pasukannya terpaksa mundur masuk ke pegunungan. Gudang persenjataan kerajaan Balusu yang berada di Larokko kemudian dibakar Belanda yang mengakibatkan kekalahan total Kerajaan Balusu.

Saoraja Lamattanru, salah satu istana kerajaan Balusu diambil alih Belanda dan dijadikan sebagai basis komando wilayah Zelfbestuur Soppeng Riaja. Petta Sulle Datue kemudian kembali ke Balusu dan menyerahkan diri kepada Belanda, ia kemudian diangkat kembali menjadi Raja di Balusu namun seluruh alat perang dan benda pusakanya disita oleh Belanda. Hanya keris Lamba Belo saja yang tidak disita oleh Belanda karena sebelumnya Petta Sulle Datue telah menggantinya dengan keris yang serupa. Petta Sulle Datue kemudian wafat pada tahun 1910 sebagai Raja Balusu yang terakhir.

Berdasarkan Undang-undang No. 29 tahun 1959 tentang pembentukan Daerah Tingkat II di Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara, ditetapkanlah wilayah Zelfbestuur Soppeng Riaja, Mallusetasi, Tanete, dan Barru sebagai Daerah Tingkat II Barru yang terdiri dari lima kecamatan, yaitu: Kecamatan Mallusetasi, Soppeng Riaja, Barru, serta Zelfbestuur Tanete dipecah menjadi dua kecamatan, yaitu Kecamatan Tanete Riaja dan Tanete Rilau. Dengan Penghapusan Zelfbestuur Soppeng Riaja, kemudian dilebur menjadi Kabupaten Barru  berarti mengakhiri masa Kerajaan Balusu atau Soppeng Riaja. (Lihat: Rasyid, Darwas. 1990. Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Daerah TK. II Kabupaten Barru. Ujung Pandang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang). 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga