27 C
Makassar
Oktober 6, 2026, 11:02 pm

Prinsip Assiwajang dalam Kepemilikan Unit Usaha Kuliner Sop Saudara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Inilah Sejarah Sop Saudara itu

ETTAPEDIA.ORG – Fenomena kepemilikan unit usaha dalam masyarakat Bugis-Makassar, khususnya pada model bisnis kuliner seperti Sop Saudara Pangkep, merupakan studi kasus menarik tentang bagaimana nilai-nilai kultural bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi.

Sistem ini tidak hanya bicara tentang mencari keuntungan, tetapi juga tentang menjaga martabat (Siri’), kebersamaan (Assiwajang), dan keberlanjutan klan.

1. Filosofi “Saudara” dalam Unit Usaha

Nama “Sop Saudara” sendiri bukan sekadar label pemasaran. Pencipta asli Sop Saudara adalah H. Dollahi, seorang putra kelahiran Sanrangan, Pangkajene, Pangkep. Awal Mula (1950-an), sebelum mandiri, H. Dollahi bekerja sebagai pelayan di warung sop daging milik H. Subair (seorang penjual sop daging terkenal di Makassar asal Pangkep).

Setelah merasa cukup ilmu, pada tahun 1957 H. Dollahi memutuskan membuka warungnya sendiri di kawasan Pasar Senggol, Karebosi, Makassar. Nama “Sop Saudara” diilhami dari nama “Coto Paraikatte” (Paraikatte berarti sesama/saudara). Beliau ingin siapa pun yang makan di warungnya merasa seperti saudara. Namun, berkembang pula akronim populer di masyarakat yaitu: “Saya Orang Pangkep (SOP), Saudara”.

Saat ini, warung Sop Saudara yang dianggap paling otentik dan merupakan garis langsung dari H. Dollahi adalah Warung Sop Saudara 65 yang terletak di Jalan Andalas, Makassar. Pengelolaannya kini dilanjutkan oleh anak-cucu beliau sebagai pewaris resep asli.

Dalam budaya Bugis-Makassar, keluarga (Siajing/Silesureng) adalah unit ekonomi terkecil yang paling dipercaya. Membuka unit usaha dengan melibatkan kerabat dianggap sebagai cara untuk Menjaga Rahasia Resep dan Distribusi Kesejahteraan.  Resep adalah aset paling berharga yang hanya diwariskan dalam lingkaran darah, sementara membuka cabang baru sering kali berarti memberi kesempatan bagi keponakan, sepupu, atau adik untuk mandiri secara ekonomi tanpa harus keluar dari ekosistem bisnis keluarga.

2. Model Ekspansi: Sistem “Magang” dan Percabangan

Perkembangan Warung Sop Saudara Pangkep yang menjamur di berbagai daerah (khususnya di Makassar dan sekitarnya) mengikuti pola organis-kekeluargaan.

Pertama, Tahap Inisiasi. Kerabat dari kampung halaman (Pangkep) didatangkan untuk bekerja di warung utama. Mereka belajar segala hal, mulai dari memilih daging, teknik memasak kaldu, hingga pelayanan.

Kedua, Tahap Pendewasaan. Setelah bertahun-tahun dan dianggap mumpuni, kerabat tersebut “dilepas” untuk membuka cabang sendiri.

Ketiga, Sistem Lisensi Informal. Berbeda dengan franchise Barat yang kaku dengan royalti, sistem ini lebih bersifat kekeluargaan. Penggunaan nama “Sop Saudara Pangkep” diizinkan selama mereka tetap menjaga kualitas dan identitas rasa yang sama. Inilah mengapa banyak warung Sop Saudara memiliki nama tambahan seperti “Sop Saudara Cabang Irian” atau nama jalan lainnya, namun tetap merujuk pada akar yang sama.

3. Aspek Sosiologis: Siri’ dan Solidaritas

Ada dua nilai utama yang mendasari mengapa model ini bertahan, yaitu: (1) Nilai Siri’, Harga Diri. Mengelola usaha keluarga adalah beban moral. Jika warung tersebut gagal atau rasa makanannya memburuk, bukan hanya individu yang malu, tapi nama besar keluarga besar di Pangkep ikut tercoreng. Hal ini menjadi kontrol kualitas alami. (2) Passiolo (Modal Sosial). Dalam masyarakat Bugis-Makassar, modal tidak melulu soal uang. Dukungan tenaga dari kerabat dan jaringan sesama perantau asal Pangkep menyediakan ekosistem pasar yang loyal sejak hari pertama warung dibuka.

4. Kelebihan dan Tantangan Modernisasi

Model usaha berbasis keluarga ini memiliki sisi dua mata pisau:

Aspek Kekuatan Tantangan
Loyalitas Sangat tinggi; anggota keluarga cenderung bekerja lebih keras demi keberlangsungan nama keluarga. Potensi konflik internal jika terjadi pembagian keuntungan yang dianggap tidak adil secara subjektif.
Kualitas Kontrol resep tetap terjaga di lingkaran terpercaya. Standarisasi rasa antar cabang terkadang bervariasi karena kurangnya SOP tertulis yang ketat.
Skalabilitas Ekspansi cepat melalui jaringan kerabat di berbagai lokasi. Sulit menerima investor luar karena adanya kekhawatiran campur tangan pihak “asing” dalam tradisi keluarga.

Kini, Perkembangan Sop Saudara Pangkep adalah bukti bahwa kapitalisme berbasis kekeluargaan (kinship-based capitalism) sangat efektif dalam konteks lokal. Usaha ini berhasil mengawinkan antara kebutuhan ekonomi modern dengan struktur sosial tradisional Bugis-Makassar yang kuat.(*)

(* Muhammad Farid Wajdi, Penikmat Sop Saudara/Pemerhati Sosial Budaya

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga