Oleh: M. Farid W Makkulau *)
Related Post: Langkah Awal Riset Akademik “Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Pangkep”
ETTAPEDIA.ORG – Apa yang terjadi pada Tanggal 18 Februari dalam Sejarah Sulawesi Selatan? Mengapa Tanggal ini penting untuk diulas? Ya, sebagai seorang peminat sejarah lokal dan budayawan Pangkep, kita tentu perlu memahami bahwa setiap jengkal tanah di Sulawesi Selatan menyimpan memori heroik yang sering kali bersimbah darah dan air mata. Nah, Tanggal 18 Februari bukanlah tanggal biasa; ia adalah titik nadir dari sekian banyak peristiwa penting dan monumental dari sebuah perjuangan eksistensial rakyat Sulawesi Selatan dalam mempertahankan martabatnya dari cengkeraman kolonialisme.
Sejarah Sulawesi Selatan adalah sejarah ketangguhan. Sejak jatuhnya Benteng Somba Opu pada abad ke-17, api perlawanan terhadap Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda tidak pernah benar-benar padam. Namun, pada awal abad ke-20 dan pertengahan abad ke-40, muncul dua fragmen besar yang mencapai titik krusialnya pada tanggal 18 Februari.
Tanggal ini menandai dua dimensi sejarah yang berbeda: pertama, upaya pasifikasi (penaklukan) Belanda terhadap kerajaan-kerajaan lokal di Sulawesi Selatan (seperti Bone, Gowa, dan Luwu) melalui ekspedisi militer, dan kedua, babak akhir dari aksi brutal pasukan khusus Belanda (DST) di bawah pimpinan Raymond Westerling yang dikenal sebagai Tragedi Korban 40.000 Jiwa.
Runtuhnya Pertahanan Kerajaan Luwu (1906)
Pada awal abad ke-20, Belanda melancarkan Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) untuk menundukkan wilayah-wilayah yang belum sepenuhnya dikuasai. Di Sulawesi Selatan, gerakan ini dikenal sebagai Ekspedisi Sulawesi Selatan 1905-1906.
Salah satu peristiwa paling monumental terjadi di wilayah Kerajaan Luwu. Setelah Bone jatuh pada tahun 1905, perlawanan bergeser ke utara. Pada bulan Februari 1906, tekanan militer Belanda terhadap Kedatuan Luwu mencapai puncaknya. Pada tanggal 18 Februari 1906, pasukan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) melakukan penetrasi mendalam ke pusat-pusat pertahanan rakyat Luwu. Perlawanan sengit terjadi di berbagai front, namun ketimpangan persenjataan membuat pasukan lokal harus mundur.
Peristiwa ini menandai berakhirnya kedaulatan politik tradisional di tanah Luwu. Datu Luwu saat itu dipaksa untuk mengakui kekuasaan Belanda secara de facto dan de jure. Bagi sejarah Sulawesi Selatan, 18 Februari 1906 adalah hari di mana struktur pemerintahan adat mulai “dikebiri” oleh sistem birokrasi kolonial, yang mengubah tatanan sosiologis masyarakat lokal hingga puluhan tahun mendatang.
Puncak Teror dan Akhir Operasi Westerling (1947)
Peristiwa yang paling membekas dalam sanubari rakyat Sulawesi Selatan pada tanggal 18 Februari adalah fase akhir dari aksi Depot Speciale Troepen (DST) pimpinan Kapten Raymond Pierre Westerling.
Setelah Proklamasi 1945, Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia dengan membonceng NICA. Sulawesi Selatan menjadi basis pertahanan Republik yang sangat tangguh karena keberadaan pemuda-pemuda pejuang dan dukungan para raja (raja-raja Sulawesi Selatan mendukung RI melalui Petisi Raja-Raja pada 15 Oktober 1945). Untuk mematahkan perlawanan ini, Belanda memberlakukan Noodtoestand (Keadaan Darurat) di Sulawesi Selatan sejak Desember 1946.
Operasi “pembersihan” yang dilakukan Westerling berlangsung cepat dan kejam. Dimulai dari Makassar, berlanjut ke Gowa, Takalar, Jeneponto, Polombangkeng, hingga merambah ke wilayah Bosowas (Bone, Soppeng, Wajo) dan Ajatappareng (termasuk Pangkep). Westerling menerapkan hukum tembak di tempat bagi siapa saja yang dianggap “ekstremis” atau pendukung Republik. Pada pertengahan Februari 1947, operasi ini mencapai puncaknya di wilayah pedalaman.
18 Februari 1947 – Berdasarkan catatan sejarah, tanggal ini merupakan salah satu hari terakhir pemberlakuan operasi besar-besaran sebelum status darurat mulai dievaluasi karena kecaman internasional. Di berbagai titik di Mandar dan sekitarnya, terjadi pengumpulan massa besar-besaran di mana para lelaki dipisahkan dari keluarga mereka, kemudian dieksekusi di hadapan anak istri mereka sendiri.
Peristiwa ini meninggalkan trauma mendalam yang dikenal sebagai “Korban 40.000 Jiwa”. Meskipun angka tersebut merupakan angka simbolis perjuangan (angka pastinya masih diperdebatkan oleh sejarawan Belanda dan Indonesia), esensinya tetap sama: sebuah genosida terhadap spirit kemerdekaan rakyat Sulawesi Selatan.
***
Jika kita menilik Sejarah Pangkep, maka kita akan tanggal 18 Februari juga memiliki resonansi lokal. Selama operasi militer Belanda 1946-1947, wilayah Pangkep (dahulu dikenal sebagai Onderafdeeling Pangkajene) menjadi jalur logistik sekaligus medan gerilya yang strategis.
Tokoh-tokoh lokal Pangkep terlibat aktif dalam organisasi kelasykaran seperti KRIS Muda dan pemuda-pemuda dari Labakkang serta Minasatene yang bergerilya di kaki-kaki pegunungan karst. Peristiwa 18 Februari di tingkat regional menjadi pengingat bagi rakyat Pangkep tentang pengorbanan para leluhur yang mempertahankan bekas wilayah “Siang” dan sekitarnya dari upaya re-kolonisasi.
Dalam Studi Sejarah, kita mempelajari peristiwa bukan untuk memupuk dendam, melainkan untuk memetik ibrah (pelajaran), diantaranya menyangkut Perlawanan rakyat Sulawesi Selatan pada Februari 1947 digerakkan oleh dua motor utama: semangat jihad (keagamaan) dan nilai Siri’ na Pacce (budaya). Tanggal 18 Februari membuktikan bahwa jika dua hal ini bersatu, kekuatan kolonial sehebat apa pun tidak akan bisa benar-benar memadamkan jiwa kemerdekaan.
Memotret peristiwa bersejarah ini akan melahirkan Refleksi Kemanusiaan tentunya, khususnya pada Peristiwa tragis Westerling mengajarkan kita tentang harga sebuah kemerdekaan dan pentingnya penegakan hak asasi manusia di masa depan. Tanggal 18 Februari di Sulawesi Selatan adalah perpaduan antara duka dan kehormatan. Dari runtuhnya kedaulatan Luwu pada 1906 hingga puncak nestapa Westerling pada 1947, semua menunjuk pada satu fakta: rakyat Sulawesi Selatan adalah bangsa penakluk rasa takut.
Jadi, Mari bercermin dari Sejarah, betapa tugas kita saat ini adalah memahami sejarah dengan benar dan mentransformasikannya dari memori duka menjadi energi positif. Luka masa lalu harus menjadi pupuk bagi tumbuhnya kecerdasan intelektual berkesadaran sejarah. Jika dahulu pahlawan kita berjuang dengan badik dan senapan, maka hari ini perjuangan itu dilanjutkan dengan pena, literasi digital, dan kedalaman pemahaman akan sejarah dan budaya daerah sendiri. (*)
Bahan Bacaan:
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Laporan Khusus Reorganisasi Sulawesi Selatan 1946-1947.
Harvey, Barbara Sillars. (1989). Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII. Jakarta: Grafiti Pers. (Memberikan latar belakang sosiopolitik Sulawesi Selatan pasca-revolusi).
Ijzereef, Willem. (1984). De Zuid-Celebes Affaire: Kapitein Westerling en de Standrechtelijke Executies. Groningen: Rijksuniversiteit. (Referensi utama mengenai rincian operasi Westerling).
Locher-Scholten, Elsbeth. (2004). Sumatran Sultanate and Colonial State: Jambi and the Rise of Dutch Imperialism. (Membahas pola ekspedisi militer Belanda yang serupa dengan Sulawesi 1905-1906).
Mattulada. (1982). Menelusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah. Makassar: Bhakti Baru. (Referensi kunci untuk sejarah lokal Makassar dan sekitarnya).
Notosusanto, Nugroho. (1977). Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Pattikayhatu, John. (1978). Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sulawesi Selatan. Jakarta: Depdikbud.
Said, Salim. (2002). Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian. (Menyentuh aspek militerisme di Indonesia).
Westerling, Raymond. (1952). Challenge to Terror. London: Cassell & Co. (Autobiografi Westerling yang harus dibaca secara kritis sebagai sumber primer dari pihak lawan).
Zainuddin, Rahman. (1995). Kebudayaan dan Politik di Sulawesi Selatan. Makassar.
(* M. Farid W Makkulau, Pimred Ettapedia dan Media Palontaraq Group/Penulis Buku “Sejarah dan Kebudayaan Pangkep.





















