Oleh: M. Farid W Makkulau *)
ETTAPEDIA.ORG – Sulawesi Selatan bukan sekadar bentang alam yang mempertemukan bukit-bukit karst dengan kegarangan ombak Selat Makassar. Ia adalah sebuah ruang diskursus kebudayaan yang unik, di mana sistem nilai lokal yang kokoh bertemu dengan arus besar Islamisasi pada abad ke-17. Jejak peradaban Islam di tanah Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja tidak dimulai dari sebuah kekosongan budaya, melainkan sebuah persinggungan antara Siri’ na Pesse (harga diri dan empati) dengan nilai-nilai tauhid.
Artikel ini bertujuan untuk membedah bagaimana Islam bertransformasi dari sekadar agama pendatang menjadi roh bagi peradaban masyarakat Sulawesi Selatan, serta bagaimana struktur sosial politik kerajaan-kerajaan besar seperti Gowa-Tallo dan Bone merespons perubahan kosmik ini.
Poros Maritim dan Angin Perubahan
Sebelum Islam secara resmi menjadi agama kerajaan pada tahun 1605, Sulawesi Selatan telah menjadi kosmopolitanisme kecil di Nusantara Timur. Pelabuhan Somba Opu menjadi magnet bagi para pedagang Melayu, Arab, dan Gujarat. Namun, Islamisasi di sini tidak hanya digerakkan oleh niaga, melainkan melalui jalur diplomasi intelektual yang dibawa oleh “Tiga Dato” dari Minangkabau: Dato ri Bandang, Dato ri Pattimang, dan Dato ri Tiro.
Penerimaan Islam oleh Raja Gowa XIV, Sultan Alauddin, menandai fase “Islam resmi” (Official Islam). Sejak saat itu, struktur kekuasaan tidak lagi hanya berpijak pada legitimasi Tumanurung (tokoh mitologis yang turun dari langit), tetapi juga pada legalitas syariat.
Integrasi Syariat dalam Tubuh Pangngaderreng
Salah satu keunikan peradaban Islam di Sulawesi Selatan adalah kemampuannya berintegrasi dengan Pangngaderreng (sistem norma adat). Masyarakat Bugis-Makassar tidak membuang adat mereka, melainkan melakukan “Islamisasi Adat”. Struktur adat yang tadinya terdiri dari empat pilar: Ade’ (norma), Bicara (hukum), Rapang (perumpamaan/ yurisprudensi), dan Wari’ (tata susunan silsilah), kemudian ditambah dengan pilar kelima, yaitu Syara’ (Syariat Islam).
Integrasi ini menciptakan harmoni yang disebut sebagai Siri’ na Agama. Jika seseorang melanggar hukum Tuhan, maka ia juga dianggap mencoreng martabat adatnya (Siri’). Di sinilah Islam tidak hanya menjadi ritual formalitas, tetapi menjadi fondasi moralitas sosial.
Masjid dan Simbolisme Kosmik
Peradaban sebuah bangsa selalu meninggalkan jejak pada batu dan kayu. Masjid Katangka di Gowa, yang dibangun pada awal abad ke-17, menjadi saksi bisu transisi estetika ini. Arsitekturnya mencerminkan perpaduan antara atap tumpang khas Nusantara dengan detail ukiran yang menyiratkan pengaruh lokal.
Pembangunan masjid-masjid di Sulawesi Selatan juga mengikuti konsep Sulapa Appa (Empat Sisi), yang merepresentasikan keseimbangan unsur alam (tanah, air, api, angin) yang kemudian dimaknai secara Islami sebagai keseimbangan hubungan antara manusia dengan pencipta (Hablum Minallah) dan manusia dengan sesama (Hablum Minannas).
Intelektualitas dan Tradisi Tulis Lontaraq
Jejak peradaban Islam yang paling mendalam justru tertanam pada tradisi intelektualnya. Transformasi dari aksara Lontara menuju penggunaan aksara Serang (Arab-Melayu versi lokal) memungkinkan transmisi ilmu pengetahuan agama berlangsung masif. Tokoh kaliber dunia seperti Syekh Yusuf Al-Makassari Al-Bantani menjadi bukti puncak intelektualitas Islam dari tanah ini.
Karya-karya Syekh Yusuf, seperti Az-Zubdatul Asrar, menunjukkan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan saat itu telah mencapai level pemahaman tasawuf yang sangat tinggi. Islam di sini bukan lagi sekadar fikih dasar, tetapi sudah merambah pada pencarian esensi ketuhanan yang selaras dengan nilai kearifan lokal tentang pencarian jati diri (Assitinajang).
Perubahan Struktur dan Egalitarianisme
Masuknya Islam membawa angin segar bagi kesetaraan sosial. Meskipun sistem kasta atau strata sosial (Ana’ Karaeng hingga Ata) tetap ada secara kultural, Islam memperkenalkan konsep bahwa “semua manusia sama di hadapan Allah kecuali ketakwaannya”. Hal ini perlahan-lahan mengubah cara raja-raja memerintah. Kekuasaan tidak lagi absolut, melainkan harus tunduk pada Sara’ (syariat) yang dijaga oleh para Parewa Syara’ (perangkat agama).
Tantangan dan Relevansi di Era Kontemporer
Saat ini, jejak peradaban tersebut menghadapi tantangan modernitas. Tradisi Ma’udu’ (Maulid) di Cikoang atau tradisi Sayyang Pattu’du di Mandar yang kaya akan akulturasi sering kali berbenturan dengan arus pemurnian agama yang kaku. Namun, sebagai sebuah peradaban, Islam di Sulawesi Selatan memiliki daya lentur yang luar biasa. Ia adalah “Islam yang berakar”, yang menghargai leluhur tanpa menduakan Tuhan.
Kesimpulan
Jejak peradaban Islam di Sulawesi Selatan adalah narasi tentang pertemuan dua arus besar: nilai lokal yang teguh dan nilai universal yang membebaskan. Ia tidak hanya tercermin pada menara masjid atau nisan-nisan kuno di kompleks makam raja-raja Gowa dan Bone, tetapi hidup dalam denyut nadi masyarakatnya yang tetap menjunjung tinggi kehormatan (Siri’), kerja keras, dan kepasrahan kepada Dewata Seuwae yang kini mereka kenal sebagai Allah SWT.
Memahami jejak ini adalah memahami identitas kita sendiri—sebuah identitas yang terbentuk dari keberanian para pelaut ulama yang membawa obor tauhid melintasi samudra, untuk kemudian menyalakannya di hati masyarakat jazirah.
(* M. Farid W Makkulau, Peneliti Sejarah Budaya Sulawesi Selatan.
Referensi:
Abu Hamid. (1994). Syekh Yusuf Makassar: Seorang Sufi, Prajurit dan Penulis. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Andaya, Leonard Y. (1981). The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century. The Hague: Martinus Nijhoff.
Azra, Azyumardi. (2004). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana. Membahas posisi Sulawesi dalam jaringan intelektual Islam global.
Mattulada. (1985). Latoa: Satu Lukisan Analitis Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Jakarta: Berita Idayu Press. Menjelaskan tentang integrasi adat dan syariat.
Pelras, Christian. (2006). The Bugis. Jakarta: Nalar (Terjemahan). Sebuah studi komprehensif mengenai sejarah dan sosiologi masyarakat Bugis.
Patunru, Abd. Razak. (1969). Sejarah Gowa. Makassar: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan.





















