Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Pangkep dan Maros dalam Catatan Sejarah Kekaraengan
ETTAPEDIA.ORG – Menelusuri sejarah dan kebudayaan Maros adalah sebuah perjalanan melintasi waktu. Dalam peta sejarah Sulawesi Selatan, Kabupaten Maros sering kali dipandang sebagai “gerbang” bagi Makassar. Namun, bagi penulis sendiri, Maros adalah sebuah entitas politik dan budaya yang mandiri dengan akar sejarah yang sangat tua.
Satu hal unik yang sering penulis tekankan adalah makna di balik julukan Butta Salewangang. Secara etimologis, ia menjelaskan bahwa Salewangang merujuk pada kondisi masyarakat yang hidup dalam ketenangan, kedamaian, kemakmuran, dan keadilan. Dari penelusuran sejarahnya, Maros sendiri memiliki beberapa versi sejarah. Ada yang menyebutnya berasal dari kata Marusu (sebuah kerajaan kuno), namun penulis lebih sering mengaitkannya dengan karakter masyarakatnya yang teguh pada prinsip.
Hal paling spesifik dan mendalam dari berbagai ulasan penulis tentang Maros adalah tentang sistem pemerintahan Kekaraengan Maros. Bahwa Maros pada masa lalu bukanlah sebuah kerajaan tunggal yang otoriter, melainkan sebuah bentuk federasi yang demokratis pada zamannya. Hal ini bisa dipahami dari eksistensi Toddo Limayya (Lima Tiang Utama), yaitu persekutuan lima kekaraengan besar yang menjadi pilar utama Maros, yaitu Kekaraengan Marusu (sebagai pemegang pucuk pimpinan/Raja), Kekaraengan Simbang, Kekaraengan Tanralili, Kekaraengan Bontoa, dan Kekaraengan Turikale.
Pembagian kekuasaan ini menunjukkan kecerdasan politik leluhur Maros. Masing-masing kekaraengan memiliki otonomi, namun bersatu dalam urusan pertahanan dan kepentingan bersama. Ia sering menuliskan detail mengenai silsilah para pemegang kekuasaan ini, yang membantu masyarakat modern melacak garis keturunan dan jasa para pahlawan lokal.
Memotret Sejarah Maros akan membawa kita pada dinamika politik Hubungan Maros, Gowa, dan Bone. Posisi geopolitik Maros yang berada di antara dua raksasa, Gowa dan Bone menjelaskan bahwa Maros sering menjadi “ajang diplomasi” sekaligus medan laga. Keunikan Maros yang pernah berada dalam pengaruh Kerajaan Gowa namun tetap mempertahankan identitas kekaraengannya.
Lihat pula: Mengenal Museum Daerah Maros dan Koleksinya
Salah satu poin menarik yang sering penulis angkat adalah bagaimana kekaraengan di Maros, seperti Tanralili, dikenal memiliki pasukan perang yang sangat berani dan ditakuti, menggambarkan karakter orang Tanralili sebagai sosok yang tallo (keras/berani), sebuah identitas yang masih sering dibahas dalam obrolan budaya di Sulawesi Selatan.
Hal menarik lainnya ketika kita berfokus pada sejarah Islamisasi di Maros. Bahwa proses masuknya Islam di Maros terjadi secara damai melalui pendekatan budaya, khususnya pada Kekaraengan Turikale. Turikale bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga pusat literasi dan syiar Islam. Peran para ulama dan bangsawan Turikale dalam membangun masjid-masjid bersejarah dan mengembangkan pendidikan agama adalah hal unik yang menarik dicatat, disana akan ditemukan sosok pemimpin yang disebut “Ulama-Bangsawan”.

Lihat pula: 15 Spot Wisata Alam dan Sejarah di Maros
Fakta sejarah Maros tidak melulu tentang sejarah kerajaan. Faktanya adalah Maros adalah “perpustakaan dunia” dalam hal arkeologi. Catatan Geopark Maros yang bersambung dengan Karst dalam wilayah Pangkep menghubungkan antara temuan arkeologis di gua-gua (Leang) dengan mitologi lokal. Lukisan tangan purba di Leang-Leang adalah bukti bahwa tanah Maros telah diberkati sejak puluhan ribu tahun silam. Hal ini adalah dasar dari jati diri orang Maros: sebuah bangsa yang memiliki sejarah panjang, bahkan jauh sebelum kerajaan-kerajaan besar di nusantara berdiri.
Hal spesifik lain yang sering muncul dalam ulasan penulis adalah penggunaan bahasa dan dialek. Meskipun secara umum menggunakan bahasa Makassar, Maros memiliki nuansa dialektika yang khas, terutama dalam penamaan gelar dan tata krama (Assitalliang). Begitu pula dalam sisi antropologi dan kuliner Maros.
Roti Maros misalnya yang ramai dalam satu dekade terakhir bukan hanya sebagai makanan, tetapi sebagai simbol keramahtamahan. Pesona kuliner ini menjadi identitas bagi siapa saja yang melintasi jalur trans-Sulawesi. Meski begitu, tetap terjaga kuliner tradisional dalam ritual adat kekaraengan, yang menunjukkan strata sosial dan penghormatan kepada tamu.
***
Lihat pula: Keindahan dan Nilai Sejarah Budaya Kawasan Karst Maros-Pangkep
Sejarah Maros adalah tentang Siri’ na Paccé. Kita tidak sekadar bernostalgia, melainkan untuk memberikan panduan moral bagi generasi masa depan. Penulis percaya bahwa dengan mengenal sejarah Kekaraengan di Maros, pemuda Maros tidak akan kehilangan arah di tengah arus globalisasi.
Kita semua mengenal Maros sebagai daerah yang memiliki kemandirian politik melalui sistem “Toddo Limayya”, kekayaan spiritual melalui integrasi Islam-Budaya di Turikale, dan keberanian luar biasa dari ksatria Tanralili. Maros adalah perpaduan antara kemegahan tebing karst yang purba dengan kelembutan hati masyarakat yang memegang teguh filosofi Salewangang. (*)
(* M. Farid W Makkulau, Peneliti Sejarah Budaya Sulawesi Selatan.





















