27 C
Makassar
Oktober 7, 2026, 12:46 am

Asal Usul Perubahan Nama Makassar dan Ujungpandang

Oleh: M. Farid W Makkulau

Lihat pula: Menelusuri Sejarah Makassar di Fort Rotterdam

ETTAPEDIA.ORG – Kata “Makassar” seringkali disalahpahami ketika berupaya dijelaskan sebagai suatu nama suku, kerajaan, daerah, dan bahasa. Sejak kapan nama “Makassar” ini bermula, bagaimana sejarahnya dan asal usul penamaannya? Tentang Kerajaan Makassar, sampai dimanakah batas-batas wilayah kekuasaannya? Sebagai daerah, dalam kajian etnolinguistik, daerah mana sajakah yang dikategorikan sebagai ‘Daerah Makassar’, begitupula dengan bahasa lokal yang digunakan masyarakat pendukungnya.

Asal Usul Nama Makassar

Dalam Muljana (2005: 63), disebutkan bahwa Nama Makassar (Macacar) tertulis dalam pupuh 14/3 kitab Nagarakretagama karya Mpu Prapanca pada Abad XIV, sebagai salah satu daerah taklukkan Majapahit. Sampai sekarang, apakah Makassar benar-benar pernah menjadi daerah taklukan Majapahit masih menjadi perdebatan di ruang-ruang Kelas Sejarah. Apakah Macacar yang disebutkan dalam Nagarakartagama hanya sebuah perkataan, ataukah sebagai suatu nama daerah?

Kitab Nagarakartagama dimaksud adalah karangan Mpu Prapanca, sekitar Tahun 1364, pada jaman Gajah Mada sebagai Mahapatih Kerajaan Majapahit. Mattulada (1982: 8) menyebut Makassar sebagai salah satu daerah taklukan Majapahit, sebagaimana kutipan berikut:

muwah tanah i Bantayan pramuka Bantayan len Luwuk
tentang Udamakatrayadhi nikanang sanusaspupul
Ikangsakasanusanusa Macacar Butun Banggawi
Kuni Craliyao mwangi (ng) Selaya Sumba Soto Muar,
…………

Maksudnya ialah seluruh Sulawesi menjadi daerah ke VI Kerajaan Majapahit, yaitu Bantayan (Bantaeng), Luwuk (Luwu), Udamakatraya (Talaud), Macacar (Makassar), Butun (Buton), Banggawai (Banggai), Kunir (Pulau Kunyit), Selaya (Selayar), Sumba, dan Solot (Solor). (Yamin, Muhammad, 1945:56 dalam Mattulada, 1982:8).

Tulisan "Makassar" di Anjungan Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Tulisan “Makassar” di Anjungan Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Dalam Atlas Sejarah, halaman Nusantara, Tanah Air Bangsa Indonesia menurut Mpu Prapanca (1365), Nama-nama Negeri yang disebut dalam Peta Sulawesi tidak ditemukan Makassar. Yang disebut hanyalah Bantayan (Bantaeng) dan Selaya (Selayar) di jazirah selatan Pulau Sulawesi. (Yamin, Muhammad, 1956:12-13)

Pada halaman lain dari Buku Peta itu, yang melukiskan tenggelamnya Sriwijaya, Singosari (1222-1293), hanya disebut Bantayan di jazirah selatan Pulau Sulawesi, sebagai daerah Singasari dibawah Kertanegara (1254-1292). (Yamin, Muhammad, 1956: 11). Sumber-sumber lain yang menyebut Makassar adalah dalam Abad XIII dan XIV, semuanya atau hampir tidak ada, kecuali mengutip dari Nagarakertagama – Mpu Prapanca itu.

Keterangan diatas sebagaimana pula termuat dalam Buku Drs S.Wojowasito, Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid II, Kalimosodo, Jakarta-Yogyakarta 1957, halaman 61 dan Abdurrachman Palallo, dalam tulisannya Varia Makassar dalam Buku “Kenang-kenangan Makassar 60 Tahun, Makassar 1966, halaman 44.

Nama Makassar baru dikenal luas setelah Raja Gowa IX, Karaeng Tumaparisika Kallonna (1510-1546) sebagai Raja yang memodernisasi sistem kerajaan dan perluasannya setelah penyatuan Gowa-Tallo. (Poelinggomang, 2002, hlm. 22-23). Raja Gowa IX ini pula yang memindahkan pusat pemerintahan kerajaan dari pedalaman ke tepi pantai, mendirikan benteng di muara Sungai Jeneberang, serta mengangkat seorang syahbandar untuk mengatur perdagangan.

Pada Abad XVI dimasa pemerintahan Raja Gowa, Sultan Alauddin, Makassar telah mencapai puncak kejayaannya. Makassar menjadi pusat perdagangan yang dominan di Nusantara bagian Timur, sekaligus menjadi salah satu kota terbesar di Asia Tenggara. Kerajaan Makassar menerapkan kebijakan perdagangan bebas yang ketat dan menolak upaya VOC (Kompeni Belanda) untuk memperoleh hak monopoli perdagangan. Makassar menjadi pusat penting bagi Orang-orang Melayu, Eropah dan Arab yang bekerja dalam perdagangan rempah-rempah di Kepulauan Maluku.

Jadi, penamaan Makassar nanti meluas setelah proses politik, yaitu disatukannya Kerajaan kembar, Gowa-Tallo oleh Raja Gowa IX Karaeng Tumapakrisika Kallonna. Sejak saat itu, Karaeng Gowa menjadi Raja Makassar, sedang Karaeng Tallo menjadi perdana menterinya (Tumakbicara butta) Kerajaan Makassar.

Makassar sebagai nama etnik (suku) dan bahasa lokal tentu lebih dahulu dikenal sebelum terbentuknya Kerajaan Makassar (Penyatuan Gowa-Talloq), namun di masa pemerintahan Raja Gowa IX ini pulalah, dilakukan penyederhanaan aksara (lontaraq) Makassar oleh Daeng Pamatte, syahbandar Kerajaan Gowa atas perintah Karaeng Tumapakrisika Kallonna, untuk memperlancar korespondensi antar kerajaan.

Kota Makassar pada malam hari. (foto: ist/palontaraq)
Kota Makassar pada malam hari. (foto: ist/palontaraq)

Kenapa disebut Makassar sebagai nama bagi Kerajaan kembar Gowa-Talloq?  Bermula Raja Gowa IV, Karaeng Tunatangka Lopi, membagi wilayah kerajaan Gowa menjadi dua agar tidak terjadi perang saudara diantara penerusnya. Satu kerajaan tetap disebut Kerajaan Gowa, diteruskan kepada putra Raja Gowa IV, yaitu Batara Gowa, dengan wilayah terdiri atas Gallarang: Pacellekang, Pattallasang, Bontomanai timur, Bontomanai barat, Tombolo, dan Mangasa. Satu kerajaan lainnya didirikan dengan nama Kerajaan Tallo, diteruskan kepada putra Raja Gowa IV yang bernama Karaeng LoE ri-Sero, sekaligus sebagai Raja Tallo I, dengan wilayah terdiri atas Gallarang: Gallarang Saumata, Panampu, MoncongloE, dan ParangloE.

Di masa kekuasaan Raja Gowa IX, Karaeng Tumapakrisika Kallonna dan Raja Tallo Karaeng I Mangngayoang, Gowa-Tallo disatukan dengan penyebutan sebagai Kerajaan Makassar. Dalam tradisi dua kerajaan kembar ini, Karaeng Tallo selalu menjadi Mangkubumi (Perdana Menteri) dari Kerajaan Gowa. Sejak penyatuan itu, disebutlah bahwa pada hakekatnya Kerajaan Gowa-Tallo atau Kerajaan Makassar, mempunyai pemerintahan dan rakyat yang satu.

Di masa pemerintahan Raja Gowa XV (disebut juga Kesultanan Makassar), Sultan Alauddin, Kerajaan Makassar telah mencapai puncak kejayaan sebagai imperium besar di nusantara bagian timur, wilayah kekuasaannya sampai di Philipina bagian selatan dan Australia bagian utara.

Lihat pula: Pusat Kekuasaan Kerajaan Makassar: ‘Pocci Butta’

Tulisan Makassar dan Masjid Amirul Mukminin di Anjungan Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Tulisan Makassar dan Masjid Amirul Mukminin di Anjungan Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Salah satu potret Kota Makassar pada malam hari. (foto: ist/palontaraq)
Salah satu potret Kota Makassar pada malam hari. (foto: ist/palontaraq)
Monumen Mandala ditengah Potret Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)
Monumen Mandala ditengah Potret Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Makassar sebagai Serambi Madinah

Kerajaan Makassar di puncak kejayaannya sangat ekspansif melakukan penaklukan (musu’ sellenge’) ke berbagai daerah dan mendakwahkan Islam. Agama Islam menjadi agama resmi Kerajaan Makassar sejak kedatangan Dato Tallua’ (Dato ri Bandang, Dato ri Tiro, dan Dato Patimang), Da’i dan Penyebar Agama Islam dari Sumatera Barat.

Meski Islam menjadi agama resmi kerajaan, namun penganut agama lain dalam wilayah Kerajaan Makassar tetap mempunyai hak dan kebebasan yang sama untuk beribadah sesuai agamanya. Sejarawan Inggris, C.R Boxer, dalam bukunya “Fransisco Vieira de Gueiredo a Portuguese Merchant-Adventurer in South East Asia 1627-1667” menyatakan kekagumannya, sejak Islam menjadi agama resmi Kerajaan, Makassar justru mengalami kemajuan pesat.

Salah satu Universitas terkenal di Makassar, Universitas Negeri Makassar (UNM). (foto: mfaridwm/palontaraq)
Salah satu Universitas terkenal di Makassar, Universitas Negeri Makassar (UNM) di bilangan Jalan A.P.Pettarani. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Salah satu potret Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)
Salah satu potret Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Kota Makassar di Abad XVI-XVII telah menjadi ‘Kota Dunia’, salah satu pusat perdagangan dunia. Semua pedagang non muslim dari berbagai bangsa dan negara mendapatkan kebebasan dan perlindungan. Pelabuhan Makassar yang dahulunya sudah terkenal sejak Abad XIV, tetapi belum mencapai kemajuan yang berarti, dan nanti penduduk Kerajaan Makassar menganut Agama Islam, pelabuhan ini mencapai kemajuan puncak. Pelabuhan Makassar, Sombaopu menjadi pelabuhan paling terkenal di benua timur/Asia.

Sastrawan besar Indonesia, Buya Hamka menyebut bahwa Kesultanan Makassar telah mempraktekkan pluralisme dengan sangat luar biasa, hormat kepada bangsa-bangsa lain yang berniaga di Makassar, dan memberikan kebebasan memeluk dan beribadah menurut agamanya masing-masing. Tak salah jika kemudian Buya Hamka menyebut Makassar sebagai Kota “Serambi Madinah” sebagaimana Aceh pantas disebut Kota “Serambi Mekkah”.

Lihat pula:  Explore the History of Makassar in Fort Rotterdam

Tulisan Makassar dan Masjid Amirul Mukminin di Anjungan Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Tulisan Makassar dan Masjid Amirul Mukminin di Anjungan Pantai Losari, Kota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

“Akkasaraki Nabbiya” ri Butta Makassar

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Karaeng Tallo VI, Karaeng Matoaya bermimpi melihat seberkas cahaya yang muncul dari Tallo, lalu kemilaunya menyinari seluruh wilayah Butta Gowa, dan terus menyebar ke negeri-negeri sekitarnya sampai kerajaan yang jauh.

Berselang tiga hari setelah mimpi Karaeng Tallo itu, merapatlah sebuah perahu kecil di bibir Pantai Tallo yang layarnya terbuat dari sorban berkibar kencang. Lalu turunlah sesosok lelaki dan melakukan gerakan-gerakan aneh, yang dikemudian hari diketahui bahwa itu lelaki itu Shalat. Kedatangan sosok tak dikenal yang merapat di Pantai Tallo itu sontak menjadi buah bibir penduduk Tallo, dan akhirnya berita itu sampai juga ke telinga Baginda Karaeng Matoaya.

Karaeng Matoaya bersama para pengawalnya baru saja akan menuju pantai. Namun ada sesosok lelaki asing itu sudah muncul ‘menghadang’ di gerbang istana. Berjubah putih dengan sorban berwarna hijau. Wajahnya teduh. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya. Lelaki itu menjabat tangan Baginda Karaeng Matoaya yang tengah kaku lantaran takjub. Digenggamnya tangan itu lalu menulis kalimat di telapak tangan Baginda “Perlihatkan tulisan ini pada lelaki yang sebentar lagi datang merapat di pantai,” ujar lelaki itu lalu menghilang begitu saja.

Baginda terperanjat. Beberapa kali mengusap matanya untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Dilihatnya telapak tangannya tulisan itu ternyata jelas adanya. Baginda Karaeng Matoaya lalu bergegas ke pantai. Betul saja, seorang lelaki tampak tengah menambat perahu, dan menyambut kedatangan beliau.

Singkat cerita, Baginda menceritakan pengalamannya tadi dan menunjukkan tulisan di telapak tangannya pada lelaki itu. “Berbahagialah Baginda. Tulisan ini adalah dua kalimat syahadat,” kata lelaki itu. “Adapun lelaki yang menuliskannya adalah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassallam sendiri. Baginda Nabi SAW telah menampakkan diri di Negeri Baginda,” ujar lelaki itu yang dikemudian hari dikenal dengan nama Abdul Kadir Khatib Tunggal Dato ri Bandang bersama Dato Patimang dan Dato ri Tiro.

Masjid Amirul Mukminin dan Patung dada Sultan Hasanuddin. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Masjid Amirul Mukminin dan Patung dada Sultan Hasanuddin. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Peristiwa ini dipercaya sebagai jejak sejarah Asal-usul Nama “Makassar”, diambilkan dari perkataan “Akkasaraki Nabbiya”, artinya Nabi telah menampakkan diri. Karaeng Tallo I Mallingkaan Daeng Manyonri Karaeng Matoaya akhirnya masuk Islam dengan gelar Sultan Abdullah Awaluddin Awawul Islam Karaeng Tallo Tumenanga ri Agamana. Beliau adalah Raja pertama yang memeluk agama Islam di dataran Sulawesi Selatan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga