Oleh: Ashari Thamrin
ETTAPEDIA.ORG – Nama-Nama Raja Luwu yang yang terdapat dalam Silsilah Melayu dan Bugis pada masa Galigo menurut Buku Andi Djemma Datu Luwu
1. SITI MALANGKE (Datue ri Malangke’?) ratu di tanah Bugis Silayang,
2. DATU PALINGI’I (Datu Palinge’ ?) : buku Galigo : Mutia Unru’ Datu Palinge ri Senrijawa, permaisuri La Patiganna Aji’ Sangkuru Wira,
Patoto’-e).
3. PATUTUI’ (Galigo : Patotoe, suami Mutia Unru’ Datu Palinge’, jadi bukan anaknya Datu Palinge, nama asli La Patiganna).
4. BETARA GURU (Galigo : La Toge’langi bergelar Batara Guru, Raja Pertama Luwu’).
5. BETARA LATTO’ ( Galigo : La Tiuleng, bergelar Batara Lattu’, Raja Luwu II).
6. TATA (Galigo: La Tenritatta’, Pajung Masagalae ri Luwu’, Raja Luwu III dan terakhir pada periode Galigo).
7. SAUNG RI WARA’ LATTALAKA (Saung ri ware’?) naskah GALIGO: SIMPURUSIANG, anak We Tenri Abeng, saudara kembar Sawerigading, dan Remmang ri Langi’: Raja pertama periode Lontara’ Sejarah)
8. SIAJANGE KURINNA (Lontara’ : ANAKAJI yang kawin dengan We Tappacina, anak Datue ri MACCAPAI (MAJAPAHIT) : Datu Luwu II).
Somba Opu pertama
SAWERIGADING (Galigo: La Maddukelleng To Appanyompa bergelar Sawerigading, Opunna Ware’ -tidak pernah menjadi Raja Luwu’. Ia adalah suami We Cudai Daeng Ri Sompa, Datunna Tana Ugi’ (Ratu Bugis II).
LA GALIGO (Galigo: La Galigo To Padammani, Datunna Tana Ugi’ III pun tidak pernah menjadi Raja Luwu’).
Meski tidak tercatat sebagai Raja di Luwu, nama Sawerigading justru tercatat sebagai Raja di Kerajaan Gowa. Menurut Forum Award Clasical Studies Britannica Internet Guide Award. Sawerigading tercatat sebagai Raja ke-3 Kerajaan Gowa.
Catatan ini dapat menjadi indikator kuat bahwa yang menjadi Somba Opu pertama adalah Sawerigading. Somba Opu dapat bermakna: Raja di Kerajaan Gowa namun tidak pernah memerintah (jadi Raja) di Kerajaan Luwu. Berikut Silsilah Raja Gowa menurut sumber tersebut.
Dinasti Pertama (First Dynasty):
# Batara Guru I
# Batara Lettu
# Saweri Gading………………………………..fl. c. 1000 ?
# Letta Pareppa
# Simpuru Siyang
# Anekaji
# Punyangkuli
# La Malolo
Dinasti Kedua (Second Dynasty) :
# Ratu Sapu Marantaiya………………………….fl. c. 1100 ?
# Karaeng Katangka I
# Ka-Karaeng-an Bate Salapang :
1. Karaeng Garassi
2. Karaeng Katengang
3. Karaeng Parigi
4. Karaeng Siang………………………………..fl. c. 1200 ?
5. Karaeng Sidangraye
6. Karaeng Lebangan
7. Karaeng Panaikang
8. Karaeng Madulo
9. Karaeng Jampaga
Sumber: http://my.raex.com/~obsidian/seasiaisl.html
Jejak We Tenriabeng
Dari Buku Ritumpanna Walenrengnge, yang mengutip sumber silsilah dari Fredericy, diketahui bahwa ketika kekosongan kekuasaan Kerajaan Luwu pasca Batara Lattu, menyusul kepergian Sawerigading meninggalkan Luwu dan kemudian penolakan Lagaligo menjadi Raja Luwu, maka tampuk kekuasaan Kerajaan Luwu diserahkan kepada We Tenriabeng, saudari kembar Sawerigading.
Pasca We Tenriabeng, Letta Pareppa (Anak kandung We Tenriabeng, buah perkawinannya dengan Remmang ri Langi alias Tamboro Langi) tampil pula menjadi pemegang tampuk kekuasaan di Kerajaan Luwu. Letta Pareppa kemudian menikah dengan Simpurutoja, saudara seibu sebapak La Galigo, alias seorang putri hasil perkawinan Sawerigading dan We Cudai. Dari hasil perkawinan ini melahirkan Simpurusiyang, yang kemudian menikah dengan Pati Anjala, Putra kandung dari Lagaligo.
Sumber tertulis di atas menyebutkan bahwa La Tenri Tatta, anak kandung Lagaligo, pernah juga menjadi Datu Luwu, dan bahkan sumber data lain meyakininya menjadi Payung Luwu pertama. Datu di Luwu belum tentu seorang Payung. Tapi Payung Luwu sudah jelas seorang Datu di Luwu. Ada ekstra kompetisi yang harus dipenuhi seorang Datu jika ingin menjadi Payung.
Bagaimana mensinkronkan data berbeda ini? Tenriabeng di Sulawesi Tenggara bernama Tandiabe. Lagaligo di Sulawesi Tenggara menyebutkan hal tersebut. Beliau ini pindah ke Tenggara dan menjadi Raja di sana, usai melakukan prosesi penyerahan kekuasaan dari Letta Pareppa ke La tenri Tatta. Letta Pareppa sendiri migrasi ke Gowa dan menjadi Raja Gowa ke-4 menggantikan Sawerigading. Jika benar Remmang ri Langi adalah Hulontalangi (Raja pertama Gorontalo) maka daerah kekuasan sosok ini memanjang dari Gorontalo hingga ke Bima.
Di Bima ada dikenal sebuah Gunung bernama Gunung Tamboro yang dapat diduga diambil dari nama Tamboro Langi alias Remmang ri Langi alias Hulontalangi. Istri Hulontalangi bergelar Tilo Pudelo. Hasil wawancara dengan seorang Kepala Desa di Bone Bolango Propinsi Gorontalo, tak ada makna untuk Tilo Pudelo. Yang ada maknanya adalah Pilo Pudelo, yang berarti “orang yang ditempati menitipkan sesuatu”. Boleh jadi makna dari Tilo Pudelo adalah “orang yang dititipkan”? (*)




















