Menelusuri Jejak Sejarah Kerajaan Lombasang

Oleh: M. Farid W Makkulau

ETTAPEDIA.ORG – Pernah dengar Kerajaan Lombasang? Di daerah mana itu? Jika mengingat nama yang seidentik dengan nama “Lombasang”, bukankah ini semakna dengan nama kecil seorang raja terkenal, I Mallombasi?

Lombasang adalah nama tua dari Labakkang, yakni sebuah konfederasi beberapa entitas kekuasaan politik: Malise, Lombasang, Leange (Bombong Tallua), tepatnya di Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan saat ini. Kerajaan Lombasang adalah tetangga Kerajaan Siang di sebelah utara. Unit-unit pemukiman utama Lombasang diduga berada di tepi Sungai Soreang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Labakkang.

Rumah Adat Labakkang. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Rumah Adat Labakkang. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pusat kerajaan Lombasang diduga mengalami perpindahan dua kali dalam kurun waktu lima abad sejak sekurang-kurangnya Abad XVI. Diduga dua pusat kerajaan yang berkembang secara suksesif, yaitu Lembang dan kemudian dipindahkan ke Kamponga. Lembang, sekarang menjadi salah satu permukiman padat, berada di sekitar jalan utama poros Pangkajene – Pare-Pare, tepatnya di sebelah timur Sungai Soreang.

Situs Lembang dipercaya sebagai tempat turunnya tokoh pengasas dinasti:  Tumanurung, gelarnya somba, “Sombayya ri Lombasang”. Pusat kerajaannya mungkin ada di Palambeang, sebelah hulu Sungai Malise, tepi sungai Soreang yang terpotong jalan Negara.

Dari hasil ekskapasi arkeologis yang pernah dilakukan Balai Arkeologi Makassar dan UNHAS (Kerajaan Siang Kuna, 2001), disebutkan bahwa Pemeriksaan permukaan situs telah mengidentifikasi konsentrasi fragmen keramik.

Penduduk setempat mengonfirmasikan bahwa mereka seringkali menemukan berbagai wadah keramik utuhan ketika menggali (ekskapasi). Pada muka tanah ditemukan pula deposit cangkang kerang laut.

Di bukit karst yang berada di sebelah timurnya terdapat gua yang oleh masyarakat dipercaya sebagai lokasi kubur Somba Labakkang. Indikator lain terdapat di tepi jalan raya: sebuah makam keramat dimana dikuburkan salah seorang penguasa bernama: La Upa, gelarnya Daeng Matimun MatinroE ri Zikkiri’na.

Bentuk makam telah dibangun permanent, menyediakan tempat layak bagi para peziarah. Yang otentik ialah bahwa diatas jirat makam berdiri sebuah nisan yang diklasifikasi sebagai nisan tipe Aceh yang populer pada Abad XVI-XVII.

Tipe nisan Aceh merupakan indikator penting menentukan benda kubur tersebut sebagai barang impor ketika Islam mulai dianut penguasa dan masyarakat Labakkang (Lombasang ketika itu).

Perlu dicatat khusus adanya Situs Pallambeang, masuk Desa Mangallekana, Kecamatan Labakkang. Petunjuk arkeologis adalah makam keramat dengan orientasi timur-barat bercampur dengan makam yang berorientasi utara-selatan. Makam diberi nama Tampung Bissu.

Didalam kompleks makam banyak pecahan tembikar di permukaan tanah. Penduduk setempat menerangkan bahwa penggalian mereka dulu sering menemukan guci yang berisi abu.

Temuan ini, jika benar, akan memberi kita gagasan untuk mempertanyakan apakah bukan tidak mungkin Pallambeang adalah pusat upacara penting Kerajaan Labakkang sebelum masuknya Islam?

Pusat kedua, berada di Kamponga, sebuah tempat dimana Ibukota Labakkang dari periode colonial Belanda. Pemindahan ibukota agaknya dilakukan untuk mengatasi semakin jauhnya garis pantai, dan kamponga sekarang hanya beberapa kilometer saja dari pesisir.

Pada ibukota terakhir ini symbol-simbol kerajaan tersimpan dan dipelihara dalam sebuah bangunan yang disebut Ballalompoa. Sekarang, Ballalompoa berada didalam kompleks rumah jabatan camat Labakkang.

Kekuasaan politik pusat Labakkang ini memang tidak lagi berfungsi, tetapi kekuatan mistik religius berbagai arajang atau kalompoang—gong, kendang, bende, pedang dan lainnya—yang dipelihara pinati masih kelihatan.

Pinati adalah sebuah jabatan spiritual yang tetap resistan, mampu memberi kekuatan spiritual dan sekaligus kultural bagi masyarakat adat labakkang, khususnya dalam aspek sosial ekonomi. Pinati dilembagakan dalam bentuk upacara ritual pertanian padi : mappalili.

Pelabuhan Kuna Malise

Malise dikenal sebagai salah satu unit kekuasaan politik yang membentuk entitas politik Lombasang atau Labakkang. Meskipun demikian, belum jelas betul bagaimana awalnya kedudukan Malise sebelum terbentuknya konfederasi yang mungkin baru terbentuk pada periode paska pemerintahan Karaeng Tumapakrisika Kallonna, Raja Gowa yang juga menundukkan Kerajaan Siang.

Dalam tradisi tutur diceritakan bahwa malise adalah lumbung padinya Kerajaan Labakkang. Jika ini benar, berarti bahwa Malise mencakup areal persawahan yang luas dan produktif. Kenyataan menunjukkan bahwa sampai sekarang teritori Malise identik dengan sawah dataran rendah yang luas. Tapi ini barangkali lebih menunjukkan bahwa Malise adalah sebuah sentra ekonomi padi yang dikendalikan oleh seorang kepala lokal, “Karaeng Malise”, yang telah memberi kontribusi penting bagi eksistensi kekuasaan Labakkang dalam bentuk natura.

Dengan begitu kekuasaan politik Malise lebih ditekankan kepada otoritas internal yang memungkinkannya menjadi wilayah semi-otonom. Pusat Malise ditemukan berada di tepi sungai Soreang, sebelah hilir Lembang. Di Desa Malise sekarang, pengaruh karaeng masih kuat dalam masyarakat. Jejak kekunaannya tampak pada konsentrasi fragmen wadah tembikar yang cukup padat diatas permukaan tanah di sekitar kompleks makam Malise.

Beberapa makam menunjukkan kekunaan dari abad XVII dan XVIII. Jadi pusat politik Malise sangat mungkin mengacu pada periode Islam, sekurang-kurangnya bermula dari pendirian institusi-institusi kekaraengan mewarisi tradisi kebangsawanan Gowa.

Pertanyaannya adalah dimanakah Malise dari periode sebelum Islam seperti tertera pada peta-peta Portugis abad XVI yang menulisnya Malique atau Malisi? Dr J Noorduyn berpendapat bahwa kedua toponim Portugis itu adalah Malise sekarang. Dalam peta portugis, Malise ditempatkan di tepi pantai, dekat muara, memberi tahu kita sebuah pelabuhan dari Kerajaan Lombasang. Pelabuhan kerajaan Lombasang yang terakhir ini justru tidak dikenal dalam sumber Portugis.

Sekarang Malise terletak sekitar 5 kilometer dari garis pantai. Perubahan topografis itu memberi petunjuk majunya garis pantai. Jika Malise sebagai pelabuhan yang dikunjungi Portugis (kalau tidak sekedar mencatatnya saja dalam peta berdasarkan informasi sesama pelaut), maka seharusnya pusat politik ada disebelah hulunya, yakni Lembang, ibukota pertama.

Maka eksistensi pelabuhan Malise mestinya dikenal dari sekitar abad XIV sampai menjelang masuknya Islam ke Labakkang. Sesudah ibukota dipindahkan ke kamponga, sebelah hilir Malise, mau tidak mau pelabuhan itu mulai klehilangan fungsinya.

Pengendapan yang terus menerus, juga menyebabkan wilayah Malise menjadi dataran rednah yang luas, sejalan dengan semakin banyaknya cabang-cabang sungai menuju muara. Dan kondisi itu lebih memungkinkannya menjadi areal pertanian yang produktif sampai hari ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga