Mengenal Datu Suppa: Andi Makkasau Parenrengi

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

ETTAPEDIA.ORG – Kalau kita berkunjung ke Kotamadya Pare-pare, sekitar 153 km di sebelah utara Kota Makassar, maka kita akan dengan mudah menemukan jalan dan stadion yang diberi nama Andi Makkasau, namun di kekinian banyak generasi Z dan Alpha yang tidak mengenalnya. Malahan Kota Pare-pare sendiri saat ini lebih diidentikkan sebagai “Kota Cinta” Habibie-Ainun.

Siapa sebenarnya Andi Makkasau dan mengapa disebut-sebut sebagai bagian tak terpisahkan dari Kota Parepare? Ya, nama lengkapnya sebenarnya adalah Andi Makassau Parenrengi, merupakan adalah tokoh yang berasal dari Parepare, pejuang Kemerdekaan Indonesia di daerah bekas wilayah Ajattapareng yang dahulunya merupakan satu kesatuan wilayah yang terdiri atas Parepare, Pinrang, Sidenreng Rappang, Barru dan sebagian Enrekang.

Andi Makkasau Parenrengi merupakan putra kedua La Parenrengi Daeng Pabeso Karaengta Tinggimae Arung Malolo Sidenreng Datu Suppa Toa. Kakeknya bernama Ishak Manggabarani, seorang tokoh yang menyandang jabatan Karaeng Mangeppe, Arung Matoa Wajo, Datu Pammana, Karaeng Pabbicara Gowa, Jenderal Bone, Tellu Lattena Sidenreng. (Lihat sumbernya di: Hasan, Sabriah (1977). Ronda, Andi Makmur; Makka (ed.). Andi Makkasau Menakar Harga 40.000 Jiwa. Makassar: Wadah Pencinta Pena. ISBN 978-979-184080-4.)

Andi Makkasau Parenrengi, Datu_Suppa (foto: ist/*)
Andi Makkasau Parenrengi, Datu_Suppa (foto: ist/*)

Pada Periode Sebelum Kemerdekaan Indonesia, tepatnya dalam Tahun 1926, Andi Makkasau dinobatkan sebagai Datu Suppa yang kemudian diberi gelar sebagai Datu Suppa Toa. (Lihat sumbernya di: “Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghargai Pahlawannya”. TNI Angkatan Darat. 29 Januari 2017. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-10-22). Penobatan Andi Makkasau Parenrengi merupakan langkah penyatuan rakyat Kerajaan Suppa, dalam upaya menentang kekuasaan pemerintah Hindia Belanda di Parepare dan sekitarnya.

Andi Makkasau Parenrengi aktif mempelopori perjuangan rakyat lewat Partai Sarikat Islam di Parepare yang ikut dibentuknya pada tahun 1927, Sumber Darah Rakyat (SUDARA) yang dibentuk tahun 1944, Penunjang Republik Indonesia (PRI) dan pada tanggal 28 Agustus 1945 dibentuk Pandu Nasional atau Pemuda Nasional Indonesia (PNI), bahkan beliau pernah mengundang tokoh nasional seperti Buya Hamka, AM Sangaji, H. Agus Salim, dan H.O.S Cokroaminoto ke Suppa, untuk memberikan pendidikan politik kepada rakyat Suppa (Pare-pare dan sekitarnya).

Sebulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tanggal 12 September 1945, bendera merah putih resmi dikibarkan di Lapangan Labukkang, Suppa. Andi Makkasau juga ikut membuat deklarasi Jongayya pada 15 Oktober 1945, yang menyatakan mendukung Indonesia merdeka. Ketika pasukan Sekutu dan NICA datang kembali, Andi Makkasau mempelopori penyelenggaraan Konferensi Parepare pada 1 Desember 1945 yang salah satu keputusannya mendukung Sam Ratulangi sebagai Gubernur Sulawesi dan menolak kembalinya Belanda di Indonesia.

Tak Sampai disitu, Andi Makkasau juga memimpin pasukan perlawanan terhadap pasukan Belanda yang dipimpin oleh Westerling dalam Periode 1946–1947. (Lihat sumbernya di: Matanasi, Petrik (31 Januari 2019). “Seri Kekejaman Westerling: Korban Westerling 40.000 Jiwa, Dari Mana Datangnya Angka Itu?” Tirto.id.

Serbuan Westerling ke Asuppo dihadang oleh pasukan Andi Makkasau. Namun, senjata yang terbatas dan personel yang kurang membuat laskar Andi Makkasau tidak bisa lama bertahan. Andi Makkasau tertangkap. Tapi, sekeluarnya dari penjara, ia kembali melawan. Westerling kembali dihadapinya dan ia kembali ditangkap, lalu ditahan dan di penjara di Sawitto Pinrang.

Dalam masa tahanannya, terjadi penyiksaan fisik dan kemudian dieksekusi.  Dalam peristiwa ini pada 26 Februari 1947, Andi Makkasau bersama 25 stafnya diculik oleh militer Belanda. Mereka mengalami penyiksaan di lapangan Afdeeling Parepare, kemudian Andi Makassau bersama 2 orang lainnya ditenggelamkan ke dalam lautan Suppa. (Lihat sumbernya di: Agussalim (2017). Pra Sejarah-Kemerdekaan di Sulawesi Selatan. Sleman: Deepublish Publisher. hlm. 225-227. ISBN 978-602-401-358-5.) 

Andi Makkasau Parenrengi wafat pada 28 Januari 1947 pada masa Revolusi Fisik pasca Kemerdekaan RI. Beliau diduga dieksekusi oleh Belanda dengan dibuang di tengah laut. Pada 30 Januari 1947 Andi Makkasau ditemukan oleh warga Marabombang dalam keadaan terikat terdampar di pesisir pantai dengan tangan terikat. (Lihat sumbernya di: Hasan, Sabriah (1977). Ronda, Andi Makmur; Makka (ed.). Andi Makkasau Menakar Harga 40.000 Jiwa. Makassar: Wadah Pencinta Pena. ISBN 978-979-184080-4.)

Andi Makkasau Parenrengi, Datu Suppa akan tetap dikenang sebagai Pahlawan Nasional dari Daerah Pare-pare dan sekitarnya. Keteguhannya dalam melawan Belanda tak hanya lahir dari kecintaan kepada rakyat, nasionalisme yang kuat, tetapi juga karena keberanian menegakkan kebenaran dan keadilan, bahwa siapapun dan dari bangsa manapun tidak boleh menjajah dan berbuat semena-mena terhadap bangsa lain.

Kini, nama Andi Makkasau Parenrengi akan tetap menjadi narasi sejarah yang hangat diperbincangkan dan dikenang, khususnya bagi warga Parepare dan sekitarnya. Atas jasa dan perjuangannya terhadap daerah, bangsa dan negaranya, beberapa tempat dan fasilitas umum di Kota Parepare dan sekitarnya mengabadikan namanya, diantaranya Jalan Andi Makkasau, salah satu jalan utama Kota Parepare (terletak di Kecamatan Soreang), dan Jalan Andi Makkasau Timur, salah satu jalan Kota Parepare di sebelah timur Jalan Andi Makkasau.

Nama Andi Makkasau juga diabadikan sebagai nama jalan di Watang Sawitto Kabupaten Pinrang, di Binanga Mamuju, di Pangkajene Sidenreng Rappang, di Mangkura Kota Makassar. Juga diabadikan pula sebagai nama Lapangan dan Stadion Andi Makkasau di Mallusetasi Parepare dan Pinrang. Nama Rumah Sakit Umum Daerah di Parepare juga memakai nama Andi Makkasau untuk mengenang perjuangan Datu Suppa ini, serta sebagai nama Batalyon Infanteri di Pinrang, yaitu Infanteri 721/Makkasau.

Demikianlah sedikit catatan mengenang sosok dan epik perjuangan Andi Makkasau Parenrengi, Datu Suppa. Semoga kita semua mewarisi keteguhan, keberanian dan sikap pantang menyerahnya dalam melawan penjajahan, dimanapun berada. Semoga catatan singkat ini bermanfaat adanya. Merdeka!! (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pemerhati Sejarah dan Budaya Sulsel.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga