Laporan: Muhammad Farid Wajdi *)
ETTAPEDIA.ORG, PANGKEP – Kabupaten Pangkep merupakan salah satu kabupaten dalam lingkup wilayah Sulawesi Selatan yang masih menyisakan banyak pertanyaan terkait Sejarah dan Kebudayaan Daerahnya, tak terkecuali termasuk diantaranya sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Kabupaten Pangkep, sebagai suatu wilayah yang memiliki sejarah panjang dan kaya akan dinamika sosial keagamaan.
Beberapa waktu lalu, Kamis, (22/5/2025), Tim Peneliti dari Universitan Hasanuddin (UNHAS) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang tergabung dalam riset “ Penelusuran Toponimi Kuno Pesisir Sulawesi Selatan” kembali menemukan kuburan kuna bertype nisan Aceh dalam wilayah Kabupaten Pangkep.
Sebagaimana diketahui umumnya sejarawan, bahwa Nisan Aceh merupakan nisan istimewa nusantara dan keberadaannya cukup langka di Sulawesi Selatan. Nisan Aceh di Pangkep ditemukan di Lembang yang digunakan pada makam Somba Labakkang, I La Upa Bagenda Ali Matinroe ri Sikkiri’na.
Jika fakta sejarah ini dihubungkan dengan Lontaraq La’bakkang, maka kemungkinan periode hidup I La Upa Bagenda Ali Matinroe ri Sikkiri’na hidup pertengahan Abad ke-18. Ketua Tim Peneliti Toponimi Kuno Pesisir Kabupaten Pangkep, Prof Muhlis Hadrawi mengungkapkan bahwa keberadaan Nisan Aceh di Sulawesi Selatan merupakan salah satu khazanah cagar budaya. Sebelumnya, Makam Somba La Upa ini sudah diidentifikasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), namun belum diusulkan sebagai Cagar Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Pangkep.
“Perlu diketahui bahan penggunaan nisan Aceh ini sangat langka di Sulawesi Selatan. Hanya orang-orang bangsawan tinggi dan kerajaan besar yang memilikinya. Seperti Kerajaan Gowa ada Sultan Alauddin, Sultan Hasanuddin, dan La Pareppa To Soppewali. Kemudian di Bone Ibunda La Patau Matanna Tikka yakni Mappolo Bombang dan ayahnya La Pakokoe juga menggunakan Nisan Aceh,” ungkap Mukhlis Hadrawi.
Selain di Bone, timnya juga menemukan nisan Aceh di kompleks makam Raja Tallo. Raja Tallo dan permaisurinya juga memakai Nisan Aceh, Jeneponto, Maros Belang-belang begitupun yang ada di Pangkep hanya Somba Labakkang yang memilikinya. “Yang jelasnya ini nisan sangat langka, sangat mahal dan hanya dimiliki oleh orang-orang bangsawan yang tinggi saja dan yang memiliki pengaruh yang sangat kuat,” tambah Mukhlis Hadrawi.
Sementara itu, Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Makmur menambahkan, jika makam Somba Labakkang adalah nisan tipe C yang hanya digunakan para bangsawan tinggi pada saat awal-awal memeluk agama Islam. “Bukan hanya tipe C, tipe A, tipe K tapi ini memiliki nilai penting, misal dalam posisi politik dan ini sangat penting di masa lampau karena terbukti menggunakan nisan Aceh langka ini, ” ungkap Makmur.
Arkeolog UNHAS, Dr Hasanuddin, yang juga Peneliti BRIN ini mengungkapkan bahwa Apa yang ditemukan tim sebagai bukti arkeologi cagar budaya di Pangkep merupakan bukti arkeologi penggunaan nisan Aceh terhadap makam Somba Labakkang, Hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut tentang hubungan Aceh dan Sulawesi Selatan di masa lampau mengingat Tipe Nisan C seperti ini sudah ada pada abad ke 17. (*)





















