Oleh: M. Farid W Makkulau
ETTAPEDIA.ORG – PADA Setiap perayaan hari jadi suatu kabupaten di Sulawesi Selatan (Sulsel), selalu saja “Aru” atau prosesi “Angngaru” ditempatkan sebagai bagian tak terpisahkan dari upacara penyambutan tamu, entah itu Gubernur, Bupati atau Siapa saja yang dipertuan, dikenal sebagai tokoh dan diakui ketokohannya, pemimpin organisasi, atau siapa saja yang dikenal memiliki massa, yang mengendalikan atau memerintah orang banyak.
Aru’ atau Angngaru’ yang dimaksud disini adalah upacara pengucapan ikrar atau sumpah dimana seseorang melompat dengan keris atau badiknya dan mengucapkan sumpah setia kepada pemimpinnya. Pada masa kerajaan, Aru biasa dipersembahkan kepada raja, atau dari pemimpin pasukan kepada panglimanya, dari bangsawan kepada rajanya. Aru atau angngaru biasa juga dipersembahkan dihadapan pemimpin tamu atau raja (karaeng) yang datang sebagai raja atau pemimpin sahabat atau pemimpin/raja yang lebih tinggi kedudukannya.
Orang yang melakukan Aru disebut Angngaru’ (dibaca: ang-nga-ru’) berarti bersumpah, berikrar, menyatakan kesetiaan. Berbeda dengan kata “Angngarru” (dibaca: angnga-rru) yang berarti menangis atau meratap. Seorang yang angngaru’ haruslah berpakaian adat, mengucapkannya harus lantang, tegas dan sambil menghunus keris atau badik (bugis : kawali).

Aru’ atau angngaru’ digolongkan sebagai salah satu jenis basa kabuyu-buyu (sastra tutur) serta sudah dikenal etnis Bugis dan Makassar sejak jaman kerajaan. Bahkan berdirinya suatu kerajaan umumnya diawali dengan pernyataan ikrar/sumpah antara rakyat yang diwakili para pemimpin kaum (Toddoka/Anrong/Anang) dengan calon pemimpin atau rajanya, dalam hal ini Tomanurung, sebagai penguasa awal dinasti.

Aru’ atau angngaru’ dilakukan untuk berbagai kepentingan: Pengangkatan raja atau pemimpin, pergantian raja, pernyataan setia sebelum berangkat perang atau ikrar harapan akan sesuatu.
Contoh-contoh Aru’/Angngaru’:
Contoh 1: Aru’/Angngaru’
Karaengku ! Kipamopporammak jaidudu karaeng !
ri dallekang lakbirina, ri empoang matinggina ;
ri sakri karatuanna, satuli-tuli kanangku karaeng ;
panngainna laherekku, pappattojenna batengku ;
beranjak kunipatekbak, pangkuluk kunisoeang ;
Ikatte anging karaeng, na ikambe lekok kayu ;
Ikatte jeknek karaeng, na ikambe batang mammanyuk ;
Ikatte jarung karaeng, na ikambe bannang panjaik.
Irikko anging, na marunang lekok kayu ;
Solongkok jeknek, namammanyuk batang kayu ;
tekleko jarung, namminawang bannang panjaik;
makkanamaki mae, na ikambe manggaukang.
Mannyakbuk mamakik mae, na ikamba mappajarik ;
punna sallang takammaya, aruku ri dallekanta ;
pangka jerakku, tinraki bate onjokku ;
pinra arengku, piassalak jari-jariku.
Pauangi ri anak riboko, pasangi ri anak tanjari ;
tumakkanaya, na taenna napparukpa ;
sikammaji anne aruku ri dallekanta karaeng ;
dasi na dasi nanitarima paknganroku ;
Karena Allah Ta’ala ! Amin,
Artinya :
Karaengku ! (Sebutan untuk Raja / Pemimpin)
Maafkan hamba di depan kemulian tuan, yang tinggi dan agung
Inilah yang sebenarnya ucapanku, Karaeng ;
Apa yang diinginkan lahiriahku, yang diyakini hatiku.
Parang yang kupakai menebas, Senjata yang kupakai mengayung.
Engkaulah angin dan kami adalah dedaunan kayu,
Engkaulah air, dan kami batang yang hanyut
Engkaulah jarum, dan kami benang yang dipakai menjahit.
Bergeraklah angin dan kami akan mengikutimu.
Mengalirlah air, dan kami akan mengikutimu
Masukkanlah jarum, dan kami akan mengikutimu.
Memerintahlah Karaeng, dan kami akan mengerjakannya
Menyebutlah Karaeng, biarkan kami yang menentukannya.
Jika kelak dikemudian hari, jika kusalahi ikrarku dihadapan Tuan
Bongkar kuburanku, jangan lihat bekas kakiku
Ubah namaku, pisahkan jari – jariku
Sampaikan di generasi belakang, pesankan pada anak menjadi hina
Yang berjanji, yang tidak menepati
Demikianlah ikrarku di hadapan Tuan
Semoga Tuan menerimanya
Karena Allah Ta’ala! Amin.
Lihat pula: Raja dan Sistem Pemerintahan Kerajaan Bone
Contoh 2: Aru’/Angngaru’ (Aru Baso Pagilingi – Ponggawa Bone)

Taroi siya mattonrong Kompania Balandae
Apa’ masiri weggangnga taroangngi pau temmate’
Wata’ku ripadakku sulangali – padakku le’ba risompa
Tellu memengngi ponratu kutoddok kuteya larak
Ata memengnga ri Bone
Kurilantiksi ponggawa mangkauk ritengnga padang
Tajajiyangnga riperinyamenna Bone
Iya arena labela betta massolasolae
Temme’nnajai sungekku mattekka ri pammassareng
Inappa memengngi bela paranru’ rukka mawekke’
Allingereng mangkakku – batara tungkekna bone
Namasallena ri maje sumange banapatikku
Wajo wajo mani lolang ri wanuwa lino
Kuwinreng tommiro bela tonangeng passingarakku
Kuwana maccappu bello – riwalawala bessie
Ri appasareng kannae
Artinya :
Biarkanlah Belanda menyerang
Sebab aku malu meninggalkan kesan yang buruk
Terhadap sesamaku laki-laki – sesamaku pemberani
Ada tiga hal yang kupegang teguh sehingga tidak akan goyah
Saya adalah warga asli di Bone
Kemudian diangkat lagi sebagai Panglima Perang
Saya dilahirkan dalam suka dan dukanya Bone
Sayalah pemberani yang bebas
Tidak menyayangi jiwaku menyeberang ke alam baqa
Setelah baginda mengumumkan perang
Ayahanda sekaligus rajaku – penguasa tunggal di Bone
Semangatku sudah berada di akhirat
Hanyalah bayang-bayangku yang nanpak di dunia
Memang saya hanya meminjam tubuh kasar ini
Saya akan memperlihatkan kelincahan di atas panggung
Di medan perang.
Lihat pula: Tantangan Penulisan Sejarah Daerah Sulawesi Selatan
Contoh 3: Aru/Angngaru – Ikrar Harapan (Diucapkan saat PORDA XIV Sulsel di Pangkep)

Cini – cini sai, tabe kipammopporang mama’ karaeng
Hadere majjajareng
Ri baruga passareanta
Ri sese kalabbirangta
Empowa kupakatinggi
Bapak Bupati Pangkajene dan Kepulauan
Ikambemi anne karaeng
Pattola palallona
Minassana sabutung
Lassuka ri Ujung Pamarung
Sitinriang bombang manggulung
Kutakkang biseku
Kusorong lepa – lepaku
Kubantung sombalakku
Na ku ginciri gulingku
Kualleanna Tallanga na Towaliya.
Maminasa tamalanre
Mangnganro tamatappu
Lasikkikang biritta
Butta passolongang ceratta
Pangkajene dan Kepulauan
Majjajareng tamajule
Ri PORDA XIV Sulawesi Sallatang
Ajjari Sulo Tapa’rang
Ri Boritta Indonesia
Akkana mamaki mae karaeng
Naikambe mappajjari
Anjojo mamaki mae karaeng
Nai Kambe manggaukang
Sikammajinne Aruku ri dallekanta
Dasi na dasi
Natarima pangnganroku
Nalanri Allataala
Amienn.
Artinya:
Ikrar Penuh Harapan
Tataplah kami, mohon maaf wahai paduka
Hadir penuh perbawa
Di baruga adat lembaga
Pucuk segala harapan
Dalam kedudukan terhormat
Bapak Bupati Pangkajene dan Kepulauan
Kami, wahai paduka
Adalah generasi pemangku
Wibawa memancar dari Pulau Sabutung
Yang lahir di Ujung Pamarung
Dalam ayunan ombak dan gelombang
Kupasak dayungku
Kudorong bidukku
Kalau layar sudah terkembang
Kalau kemudi sudah terpasang
Pantang aku urung berlayar
Kualleangi Tallangi na Towalia.
Berupaya dan bekerja keras
Mengangkat harkat dan martabat
Tanah tumpah darahku
Pangkajene dan Kepulauan
Menyukseskan dan memenangkan
PORDA XIV Sulawesi Selatan
Menjadi dian tak kunjung padam
Di Pelataran Negeriku Indonesia
Bertitahlah wahai paduka
Kami siap melaksanakannya
Menunjuklah wahai paduka
Kami siap melakukannya
Demikian ikrarku paduka
Semoga segala pinta dan harapanku
Dikabulkan Yang Maha Kuasa
Amieenn.
Demikianlah Aru’ atau Angngaru’ (Mangngaru’) sebagai salah satu Sastra Lokal Bugis Makassar, yang dalam konteks kekinian seringkali dipraktekkan oleh Pemerintah Kabupaten dalam lingkup wilayah Sulawesi Selatan dalam menyambut tamu daerah. (*)





















