27 C
Makassar
Oktober 7, 2026, 12:04 am

Menakar Martabat

Oleh: La Oddang Tosessungriu

ETTAPEDIA.ORG – Dalam banyak kesempatan, Opu TPT Datu Luwu XL menitahkan petuahnya, “Jadilah bangsawan.”  Bahwa sesungguhnya dalam kehidupan yang fana ini, bangsawan adalah satu takaran martabat yang dimuliakan, hal mana ia tak lain adalah tabiat dan perilaku (ade’ pangampE na pangkaukeng) belaka.

Maka petuah junjunganku ini pulalah yang hendak saya haturkan sebagai penyambung sapa dan kasih kepada keluarga dan sahabatku pada hari jumat ini. Bahwa sekiranya kebangsawanan didasari semata pada kemurnian darah/nazab keturunan, niscaya Fir’sun adalh bangsawan termulia yang pernah hidup di dunia ini.

Al Qur’anul Karim perihal kaisar Mesir ini, bahwa ia satu-satunya raja yang mendaulat dirinya sebagai tuhan. Namun sejarah menunjukkan pada hari, jazad manusia pongah itu kini menjadi salah satu koleksi museum yang dipertunjukkan ke tourist.

Wajar jazad kering itu mengernyit ngeri, menampakkan betapa ia dicekam ketakutan yang maha hebat tatkala berhadapan sakaratul maut. Darahnya yang disohorkan murni berdarah dewata itu dilarutkan oleh lautan merah dan jazadnya yang kering ditolak bumi pertiwi, yakni asal muasal Adam ‘alaihissalam.

Olehnya itu, kebangsawanan sebagai tabiat dan perilaku, sesungguhnya jua adalah bias kelapangan jiwa dan kemurahan hati manusia. Ia adalah rahmat bagi sekalian alam sebagaimana itu terpatri pada diri Rasulullah SAW. Bahwa kelapangan jiwa adalah buah dari keikhlasan yang ditasbihkan kesabaran, yakni sebaik-baiknya ahlaq. Adapun halnya kesabaran, yakni bias dari berserah diri kepada Allah SWT yang berwujud ikhlas.

Maka tumbuhlah ia bagai sebatas pohon mangga besar yang akarnya terhunjam dalam di bumi dengan batang besar yang tinggi menjulang. Setiap cabangnya dipenuhi ranting yang rimbun oleh dedaunan dan buah. Namun disebabkan oleh buahnya yang manis itu, hingga ia kerap dilempari dan dijolok bambu panjang. Seperti itulah halnya martabat hamba Allah yang berikhtiar dengan niat karena Allah semata, dalam perjalanan hidupnya senantiasa diuji dengan cercaan dan penistaan.

Namun apakah lemparan batu dan jolokan bambu itu dapat menumbangkan pohon mangga yang besar itu? Tentu saja tidak! Akarnya yang terpancang kuat menghunjam bumi itu senantiasa kuat menopang batangnya, bahkan dari terpaan badai. Apalah lagi dari sekedar lemparan batu kecil.

Demikianlah halnya dengan kelapangan jiwa seorang hamba Allah yang yang senantiasa mampu ” mengekang diri” dan “mengalah”, sehingga tak seorangpun yang mampu mengekang dan mengalahkannya. Ia tidak ragu memancangkan akarnya kedalam tanah dengan penuh kerendahan hati, hingga tiada seorangpun yang mampu merendahkannya.

Sebagai seorang hamba Allah, seberapakah takaran martabat kita sesungguhnya? Kiranya tiada takaran lain dari sebagaimana kita memperlakukan sesama manusia (hablun minannas). Jika kita terlalu mudah memisahkan orang lain dengan sikap kasar ataupun kata-kata keji, niscaya derajat martabat kita yang sesungguhnya adalah nista pula.

Sekiranya kita selalu makan memandang rendah orang lain, maka itupun menampakkan kerendahan martabat kita yang sebenarnya. Demikian pula jika kita terlalu cinta pada uang dan kedudukan sehingga gampang gelap mata mencerca serta menghina harkat orang lain dengan tanpa memilih tempat dan kondisi, maka martabat kita tak lebih dari beberapa lembar uang ratusan ribu belaka.

Sesungguhnya kelapangan jiwa yang mencitrakan kebangsawanan senantiasa disertai kemurahan hati. Ia tidak berat memuliakan orang lain karena sel dalam tubuhnya adalah kemuliaan sikap dan perilaku. Tak seorangpun yang berada didekatnya merasa hina, berkat pancaran cahaya ikhlas yang menerpa orang disekelilingnya. Ia mampu menularkan kemuliaannya pada orang sekitarnya dengan ahlaq, bukan dengan kata-kata kasar dan ketinggian hati.

Maka sosok seperti inilah yang disebut bangsawan oleh sesamanya manusia, meskipun tanpa mengumbar silsilah keturunannya di publik. Ia disegani, meski suaranya lembut dan ramah pada siapapun. Lebih dari itu, ia dicintai dan dirindukan selalu, meski ia miskin harta benda. Kata-katanya adalah fatwa, meski ia diketahui bukanlah orang terpintar. Ia dikagumi dan dihormati, meskipun ia diketahui bukanlah seorang pejabat negara. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

Tulisan lainnya (silakan diklik):

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga