27 C
Makassar
Oktober 7, 2026, 12:41 am

Mitos Kelelawar Soppeng

Oleh: H. A. Ahmad Saransi

ETTAPEDIA.ORG – Kelelawar-kelelawar itu bergantungan dengan tenangnya dan cericit-cericitnya bersahutan dengan damainya. Ketika senja menguning kemerah-merahan di Langit Soppeng merekapun beterbangan dengan riang gembira menghiasi langit angkasa, dan mereka hidup berdampingan penuh damai dengan Penduduk Soppeng.

Sementara saudara-saudaranya di daerah lain hidupnya terancam. Misalnya saja di daerah Subang Jawa Barat, disana sudah keluar Surat Edaran tertanggal 16 Maret 2020 yang salah satu butirnya meminta masyarakat membasmi kelelawar di lingkungan mereka karena dianggap pembawa virus corona. Sesungguhnya tidak tepat bila kita melihat kelelawar sebagai biang keladi atas keadaan yang berlangsung saat ini.

Bila hasil penelitian para ahli menyimpulkan bahwa kelelawar bisa membawa virus yang berpotensi sebagai agen biologis penyakit yang berbahaya bagi manusia, itu tak berarti kita harus membasminya. Kita dituntut untuk melakukan tindakan mitigatif yang bijak sehingga bisa hidup berdampingan penuh damai dengan mereka. Untuk mencapai hal tersebut perlu pendekatan social sains, yaitu mitos.

Menurut Levi-Strauss, Mitos adalah suatu warisan bentuk cerita tertentu dari tradisi lisan yang mengisahkan dewa-dewi, manusia pertama, binatang, dan lain sebagainya. Berdasarkan suatu skema logis yang terkandung di dalam mitos itu dan yang memungkinkan kita mengintegrasikan semua masalah yang perlu diselesaikan dalam suatu konstruksi sistematis.

Sedangkan fungsi mitos dalam kehidupan masyarakat, diantaranya, sebagai sarana pendidikan yang paling efektif untuk mengukuhkan dan menanamkan nilai budaya, norma sosial dan keyakinan tertentu. Masyarakat Soppeng dalam menjelaskan fenomena lingkungan yang dihadapinya mereka telah membangun mitos tentang kehidupan Masyarakat Soppeng dgn kelelawar.

Kelelawar di Langit Soppeng. (foto: dok. Ahmad Saransi)
Kelelawar bergelantungan di Pohon, dalam Kota Soppeng. (foto: dok. Ahmad Saransi)

Lewat mitos itulah langkah mitigasi dibangun dengan mengedukasi masyarakat bahwa bila kelelawar itu diganggu hingga minggat dari tempatnya maka itu pertanda akan terjadi bencana di tanah Soppeng. Begitupun sisa Buah-buahan yang dimakan kelelawar dipantangkan untuk dimakan. Sedangkan bagi penyadap tuak/nira diedukasi pula untuk menutup dengan ijuk tempat tuak yang sementara disadapnya. Hal ini bertujuan agar binatang pengganggu (kelelawar, tikus, dan lain-lain) tidak meminummya.

Mengakhiri tulisan ini, patut kita catat bahwa dengan mitos kelelawar itu Pemerintah Kabupaten Soppeng telah membuat Peraturan Daerah (Perda) tentang Perlindungan Kelelawar. Dengan demikian masyarakat Soppeng jauh sebelumnya telah mememukan upaya sistematis, terstruktur untuk memutus mata rantai mengonsumsi kelelawar dan tentunya dengan virus corona.

 

H. Ahmad Saransi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga