Oleh: M. Farid W Makkulau *)
ETTAPEDIA.ORG – Bahasa Bugis merupakan salah satu rumpun Bahasa Daerah yang masyarakat penuturnya terbesar pertama di Provinsi Sulawesi Selatan. Beberapa daerah di luar Sulawesi Selatan juga dapat diketemukan masyarakat yang berpenutur Bahasa Bugis, yang keberadaannya jika ditelusuri karena sebab kesejarahan di masa kerajaan, masa kolonialisme, perantauan, usaha perdagangan, kawin mawin, dan sebab lainnya.
Bahasa Bugis adalah salah satu bahasa dari rumpun Bahasa Austronesia yang digunakan Etnis Bugis. Di Sulawesi Selatan, wilayah penutur Bahasa Bugis meliputi Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, Pare-pare, Sidrap, Pinrang, Bone, Wajo, Sinjai, dan Bulukumba. Bahasa Bugis juga dipertuturkan di sebagian wilayah di Kabupaten Enrekang, Majene dan Kota Makassar.
Bagi Masyarakat asli Bugis, Bahasa Bugis disebut Basa Ugi sedang Orang Bugis sendiri disebut To Ugi. Istilah Ugi (Bugis) diambil dari nama La Sattumpugi, raja pertama Cina (Cina Pammana) yang sendirinya merupakan kerajaan kuno di tanah Bugis. Kata To Ugi sendiri dapat diartikan sebagai “pengikut daripada La Sattumpugi”. (SumberL T.. Ambo, T. Joeharnani. “The Bugis-Makassarese: From Agrarian Farmers to Adventurous Seafarers”. Aboriginal, Australia, Marege’, Bugis-Makassar, Transformation. Universitas Hassanuddin.Â
Catatan tertulis paling awal dari Bahasa Bugis adalah keberadaan Sureq Galigo, sebuah kitab epik mitik, wiracarita, yang mengungkap dasar kepercayaan dan kebudayaan Orang Bugis. Kitab La Galigo ini menggunakan bahasa Bugis tinggi, disebut “Basa Torilangi”. Misalnya, Bahasa Bugis umum menyebut kata Menre’ atau Manai untuk kata yang berarti “ke atas/naik”, sedang Basa Torilangi menyebutnya dengan kata “Manerru”.
Untuk kalangan istana, Bahasa Bugis juga mempunyai aturan khusus. Jika orang biasa yang meninggal digunakan kata “Lele ri Pammasena” atau “mate”. Sedangkan jika Raja atau kerabatnya yang meninggal digunakan kata “Mallinrung”. Dalam perkembangannya, masyarakat kemudian melakukan pembedaan antara Bahasa Bugis halus (sopan dan beretika) dengan Bahasa Bugis kasar.
Sumber tertulis lain adalah Lontaraq, sebutan yang mengacu pada naskah tradisional dan catatan sejarah, yang mana paling awal berasal dari sekitar Abad ke-17. Kini, jika ditelisik lebih dalam, ragam dialek yang muncul dan masih bertahan dari Bahasa Bugis ini maka ditemukan sebanyak 27 dialek, sebagaimana telah dipetakan oleh Kemdikbud RI (Sumbernya: DISINI), yaitu:
- Dialek Bone,
- Dialek Pangkep,
- Dialek Bugis di Kota Makassar,
- Dialek Pare-Pare,
- Dialek Wajo,
- Dialek Sidenreng Rappang,
- Dialek Soppeng,
- Dialek Sinjai,
- Dialek Pinrang,
- Dialek Malimpung,
- Dialek Dentong,
- Dialek Pattinjo,
- Dialek Kaluppang,
- Dialek Maiwa,
- Dialek Maroangin,
- Dialek Wani,
- Dialek Bugis Kayowa,
- Dialek Buol Pamoyagon (Bugis Pomayagon),
- Dialek Buol Bokat (Bugis Bokat),
- Dialek Jambi,
- Dialek Kalimantan Selatan,
- Dialek Lampung,
- Dialek Sulawesi Tenggara,
- Dialek Bali,
- Dialek Sulawesi Tengah,
- Dialek Riau, dan
- Dialek Kalimantan Timur.
Dialek Bugis yang dimaksudkan disini adalah variasi penggunaan Bahasa Bugis (Cara Pengucapan) berdasarkan wilayah geografis, yang mana Ciri-cirinya dapat diamati pada tuturan sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat pemakainya dari segi fonologi dan morfologi.
Dialek sebagaimana dimaksudkan, bisa juga dipahami sebagai perbedaan dalam kesatuan dan kesatuan dalam perbedaan, dimana seperangkat bentuk ujaran setempat yang berbeda-beda yang memiliki ciri-ciri umum dan masing-masing lebih mirip sesamanya dibandingkan dengan bentuk ujaran lain dari bahasa yang sama.
Dialek Bone misalnya dituturkan di Kelurahan Otting, Kecamatan Tellu Siattinge; Desa Welado, Kecamatan Ajangale; Desa Waempubu, Kecamatan Amali; Desa Mattanetebua, Kecamatan Palakka; Desa Ulu Balang, Kecamatan Salomekko; Desa Pattimpa, Kecamatan Ponre; Desa Gaya Baru, Kecamatan Tellulimpoe; Desa Gona, Kecamatan  Kajuara, Kabupaten Bone.
Untuk Bahasa Bugis Dialek Pangkep dituturkan di Kelurahan Samalewa, Kecamatan Bungoro; Desa Kanaungan, Kecamatan Labakkang; Kelurahan Bonto Matene, Kecamatan Segeri; dan Desa Pitue, Kecamatan Marang, serta kecamatan lainnya dalam lingkup wilayah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).
Dialek Makassar (Dialek Bahasa Bugis yang dituturkan di Kota Makassar) dituturkan di Kelurahan Wajo Baru, Kecamatan Bontoala, Kabupaten Kota Makassar. Dialek Pare-Pare dituturkan di Kelurahan Wattang Bacukiki, Kecamatan Bacukiki; Kelurahan Lapadde, Kecamatan Ujung; dan Kelurahan Watang Soreang, Kecamatan Soreang, Kabupaten Kota Pare Pare.
Dialek Bugis Wajo dituturkan di Desa Ongkoe, Kecamatan Belawa; Desa Liu, Kecamatan Sabangparu; Desa Poleonro, Kecamatan Gilireng; Kelurahan Pattirosompe, Kecamatan Tempe; Desa Lapauke, Kecamatan Pammana; dan Desa Tosora, Kecataman Majauleng, Kabupaten Wajo.Dialek Sidenreng Rappang dituturkan di Desa Bulo, Kecamatan Panca Rijang; Desa Betao, Kecamatan Pitu Riawa; dan Desa Buae, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang.
Dialek Sopeng dituturkan di Kelurahan Botto, Kecamatan Lalabata; Desa Leworeng, Kecamatan DonriDonri; Kelurahan Limpomajang, Kecamatan Marioriawa; Desa Congko, Kecamatan Marioriwawo; Desa Citta, Kecamatan Citta; dan Desa Kebo, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng. Dialek Sinjai dituturkan di Desa Manurung, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur; serta Desa Panaikang, Kecamatan Sinjai Timur dan Desa Kanrung, Kecamatan Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai.
Dialek Pinrang dituturkan di Desa Mattirotasi, Kecamatan Mattiro Sompe; Desa Padakkalawa, Kecamatan Mattiro Bulu; Desa Maccoralaie, Kecamatan Watang Sawitto; Kelurahan Watang Suppa, Kecamatan Suppa; Kelurahan Lansirang, Kecamatan Lansirang; Desa Malongi-longi, Kecamatan Lansirang; Desa Tiroang, Kecamatan Tiroang; Desa Leppanggang, Kecamatan Patampanua; dan Desa Paria, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang. Dialek Malimpung dituturkan di Desa Malimpung, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang.
Dialek Dentong dituturkan di Desa Laiya, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros. Â Dialek Pattinjo dituturkan di Desa Malimpung, Kecamatan Patampanua dan di Desa Rajang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang. Dialek Kaluppang dituturkan di Desa Kaballangan, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang. Dialek Maiwa tersebar di Desa Bungin, Kecamatan Bungin dan di Desa Patondon Salu, Kecamatan Maiwa, Kabupaten Enrekang. Dialek Maroangin tersebar di Desa Tuncung/Kaluppang, Kecamatan Maiwa, Kabupaten Enrekang.
Dialek Wani dituturkan di Desa Wani Satu, Wani Dua, dan Wani Tiga, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Dialek Bugis Kayowa dituturkan di Desa Kayowa, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Dialek Buol Pamoyagon (Bugis Pomayagon) dituturkan di Desa Pomayagon, Kecamatan Momunu, Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah. Dialek Buol Bokat (Bugis Bokat) dituturkan di Desa Bokat, Kecamatan Bokat dan di Kelurahan Leok I, Kecamatan Biau, Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah. Persentase perbedaan antardialek tersebut berkisar antara 51%—80%;
Bahasa Bugis juga tersebar di beberapa daerah lain, seperti di Kepulauan Seribu (Jakarta), Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Bali, Lampung, Riau, dan NTB. Selain itu, penutur bahasa Bugis juga dapat ditemukan di Kabupaten Kolaka, Kabupaten Kolaka Utara, dan Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara. Pada daerah sebaran tersebut, bahasa Bugis berdampingan dengan bahasa Tolaki (di Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara) dan bahasa Morunene (di Kabupaten Bombana) yang merupakan bahasa penduduk asli.
Bahasa Bugis yang digunakan di daerah lain di luar Sulawesi Selatan, semuanya menunjukkan adanya perbedaan dialek atau merupakan variasi dialektal. Bahasa Bugis di Sulawesi Selatan dengan isolek Bugis yang ada di Kepulauan Seribu Jakarta (Desa Sabira dan Desa Kelapa Dua) memiliki persentase antara 43%–45%; isolek Bugis yang ada di Jambi (Kampung Laut) memiliki persentase 52%; isolek Bugis yang ada di Kalimantan Selatan (Desa Juku Eja) memiliki persentase79%; isolek Bugis yang ada di Kalimantan Timur (Tanjung Palas) memiliki persentase  69%; isolek Bugis di Sulawesi Tenggara (Desa Lapao-pao) memiliki persentase 59%; isolek Bugis yang ada di Sulawesi Tengah (Desa Wani Satu, Wani Dua, dan Wani Tiga) 62%; isolek Bugis yang ada di Bali (Desa Serangan) memiliki persentase54%; isolek Bugis yang ada di Lampung (Desa Kota Karang) memiliki persentase79%; isolek Bugis yang ada di Riau Pulau kecil (di Kabupaten Indragiri Hilir) memiliki persentase69%; dan isolek Bugis yang ada di Riau Sungai Sebesi (Kabupaten Indragiri Hilir) memiliki persentase 79% dan isolek Bugis di NTB (Teluk Santong) 49%.
Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Bugis merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 85%–91% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di Sulawesi Selatan, misalnya dibandingkan dengan bahasa Makassar. (Sumber: Bahasa dan Peta Bahasa Kemdikbud RI, DISINI)
Demikian, semoga bermanfaat adanya. (*)
(* M. Farid W Makkulau, Pemerhati Budaya dan Sastra Daerah Sulawesi Selatan.





















