Oleh: La Oddang Tosessungriu
Related Post: Tentang “Akkape” dan “Akkio Sumanga”
ETTAPEDIA.ORG – Berbincang dengan para Cenrana Luwu, selalu menambah pengetahuan dan memperluas cakrawala pandangan terhadap khazanah kekayaan budaya di Sulawesi Selatan. Antara lain mereka adalah para adinda, yakni: Pong Amba Parannoang, Dr. Syamsu Hilal, Anto BarEt Daeng Mattoasi, Andi Sandy Pratama Opu To CElla’ dan Pieter. Hingga timbullah pertanyaan: Apakah benar kata atau istilah “kurru sumange’” (kurru sumanga dalam Bahasa Makassar) dalam persepsi masyarakat Luwu atau Masyarakat Bugis pada umumnya adalah berarti “Terima Kasih” ?
Masyarakat Luwu dan masyarakat penutur Bahasa Bugis pada umumnya tidak memiliki kata “terima kasih”, yakni suatu kata bermaknakan rasa syukur tatkala menerima suatu pemberian ataupun bantuan. Bahwa suatu pemberian dalam bentuk apapun kepada sesama mahluk dipandang sebagai suatu kebajikan yang semestinya dilakukan oleh setiap mahluk ciptaan Tuhan, hal mana itu disebut sebagai “sipakamasE” (saling mengasihi).
Olehnya itu setiap pemberian yang diterima oleh seseorang tidak dijawab “Terima kasih” sebagai rasa syukur pada pemberi itu, melainkan dijawab dengan suatu harapan dan do’a, yaitu : “Kuru Sumange’mu” (semoga kuat dan kekal daya semangatmu selalu).
Naskah I La Galigo antara lain paling banyak mencantumkan istilah ini dalam dialog antar tokoh didalamnya. Bahwa naskah peradaban Luwu yang melahirkan Suku Bugis ini mengurai roh atau jiwa manusia dalam ring demi ring menurut pusat terkecil hingga lingkaran yang melingkupinya, sebagai berikut:
1. Bannapati (nyala api yang mewujudkan roh);
2. Tinio (selaput yang melingkupi Bannapati);
3. Sumange’ (selaput yang melingkupi Tinio).
Kemudian peti wadah yang merangkum ketiga lapis ring itu adalah bernama: Jiwa. Maka kalimat yang kerap ditemui dalam percakapan I La Galigo, adalah “Kuru’jiwa Sumange’mu”. Kalimat do’a itu diucapkan dengan penyebutan yang sesuaikan kepada siapa dido’akannya, misalnya :
– Kuru’jiwa Sumange’ Torilangimu (semoga kuat dan kekal semangat orang langitmu), disampaikan kepada para turunan Dewata yang turun dari khayangan (Tomanurung),
– Kuru’jiwa Sumange’ Tosangiyangmu (semoga kuat dan kekal semangat orang langitmu), disampaikan kepada para turunan Dewata yang turun dari khayangan (Tomanurung),
– Kuru’jiwa Sumange’ Toperettiwimmu (semoga kuat dan kekal semangat orang pertiwimu), disampaikan kepada para turunan Dewata yang muncul dari Pertiwi (To Tompo),
– Kuru’jiwa Sumange’ Tosangajimmu (semoga kuat dan kekal semangat orang pertiwimu), disampaikan kepada para turunan Dewata yang muncul dari Pertiwi (To Tompo),
Bahwa “sumange’” tatkala dalam kekinian dipersingkat menjadi “sunge’” yang pemaknaannya lebih mendekati suatu jangka waktu menjalani kehidupan (umur).
Namun dalam ketika lainnya, “sunge’” lebih diperkaya pemaknaannya dengan memadankannya dengan kata “sEnge’” (dikenang baik), sehingga pengertiannya lebih menyerupai “mutu kehidupan yang bermakna”.
Sehubungan dengan pemaknaan “terima kasih”, orang Luwu dan Bugis tidak dapat menyamakan pengertiannya dalam hal ini. Orang-orang Luwu maupun Bugis yang dilahirkan dalam kisaran tahun 70-an merasa “aneh” ataupun grogi jika “diharuskan” mengucap “terima kasih” kepada ayah ataupun ibunya yang memberikannya sesuatu.
Bahwa ucapan pembalas kebaikan itu dirasakan terlalu formal, sementara diketahuinya bahwa ayah dan ibunya memberinya sesuatu karena memang sesungguhnya itu adalah suatu keharusan yang sepantasnya.
“Kurusumange’” pula tak dapat dipermaknakan sebagai “terima kasih” karena dalam banyak situasi kalimat itu diucapkan bukan hanya jika menerima suatu pemberian. Misalkan seorang anak balita yang belajar jalan lalu terjatuh dan kepalanya benjol terbentur pinggiran meja, spontan ibunya meraih dan memeluk serta menciumi kepala anaknya itu seraya berkata: “Kuuruu Sumange’na Ana’ku…”. Maka bagaimana mungkin seorang ibu mengucap “terima kasih” atas benjol anaknya ?.
Hingga penguat makna yang dapat dijadikan simpulan dalam uraian sederhana ini, adalah : kearifan lokal masyarakat Luwu dan Bugis senantiasa mendo’akan seseorang yang menyantuninya sebagai balasan rasa syukur dan terima kasihnya. Mendo’akan kepada Tuhan sebagai pengingat bahwa segala “kebaikan” asalnya dari hidayah dan inayah Allah semata.
Pemberian sebagai santunan terhadap sesama tak lain adalah taufiq dari Allah yang menggerakkan kebaikan hati hamba-Nya tersebut. Kemudian pemberian itu bukan semata benda (material), bahkan pujian atau sambutan baik berupa kalimat yang menyejukkan juga terhitung sebagai santunan pula.
Kurru Sumange’ adalah lantunan do’a dan harapan baik bagi orang-orang yang disayangi, hal mana keberadaannya disekitar kita ataupun dalam hidup kita dipandang sebagai berkah Allah. Kerabat dan sahabat adalah rahmat yang senantiasa disyukuri keberadaannya sehingga selalu “ipakuru’sumange’” adanya.
Wallahu ‘alam Bish-shawab. (*)





















