27 C
Makassar
Oktober 6, 2026, 11:06 pm

Menemu-kenali Bahasa Orang Pulau Pangkep

Oleh: M. Farid W Makkulau

ETTAPEDIA.ORG – Fenomena kebahasaan masyarakat pulau (Makassar: To Pulo) di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, menarik untuk ditelusuri dan dikaji sebagai salah satu upaya memahami lebih mendalam sejarah pulau, profil, karakter dan kecenderungan masyarakat pada masing-masing pulau.

Di gugusan pulau dalam wilayah Kecamatan Liukang Tupabbiring, berpenduduk sekitar 14.498 jiwa yang tersebar di 42 pulau, masyarakatnya menuturkan dua bahasa daerah, yakni Bahasa Makassar dan Bahasa Bugis yang digunakan sebagai lingua franca (bahasa pengantar) dalam interaksi sosial.

Masyarakat Liukang Tupabbiring mempunyai hubungan kekerabatan dari etnik Bugis – Makassar dengan masyarakat kecamatan daratan yang terdekat dari pulau itu, seperti Kecamatan Pangkajene, Bungoro, Labakkang, Segeri, Ma’rang dan Mandalle.

Spesifikasi Nama-nama pulau dalam gugusan Kepulauan ‘Spermonde’ yang masuk lingkup Kecamatan Liukang Tupabbiring ini, terbagi atas dua wilayah, yaitu wilayah utara dan selatan. Di bagian utara, memakai nama depan ‘Sa’. Misalnya Pulau Salemo, Pulau Sanane, Pulau Samatellu dan lain sebagainya.

Pangkep memiliki ratusan pulau yang tersebar di Laut Sulawesi. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Pangkep memiliki ratusan pulau yang tersebar di Laut Sulawesi. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pemakaian kata depan ‘Sa’ menandakan bahwa Pulau-pulau tersebut memiliki hubungan kekerabatan secara sosial dan secara politik kekuasaan dengan Kerajaan Tanete (Barru), dan boleh jadi dengan Kerajaan Bugis lainnya sehingga Bahasa Daerah dan adat istiadat yang digunakan adalah Bahasa Bugis.

Sedangkan Pulau-pulau ‘Spermonde’ yang berada di wilayah selatan merupakan bekas Kerajaan Gowa-Talloq (Kerajaan Makassar). sehingga, adat istiadat, tradisi dan bahasa yang digunakan adalah Tradisi Makassar. (HA Gaffar Patappe, 2002 dalam Muhammad Farid Wajdi, 2004).

Pola penamaan pulau juga tidak terstruktur. Hanya tidak memakai suku kata berawalan ‘Sa’. Tapi, ada juga pengecualian, seperti : Pulau Sarappo (Pulau Sarappo Lompo dan Pulau Sarappo Caddi) dan Pulau Sanane yang berada di wilayah selatan. Begitu pula Pulau Polewali di bagian utara yang tak memakai kata depan ‘Sa’.

Potret Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Potret Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Potret Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Potret Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Potret Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Potret Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Potret Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Potret Pesisir Pulau dan Kapal Orang Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Tentang pemakaian kata depan ‘Sa’, ada juga yang memberinya penegasan bahwa hal itu memberi tanda sebagai ‘Pulau’.  Maksudnya ‘Sa’ adalah pulau yang kemudian menunjukkan ciri pulau itu. Sebab ‘Sa’ juga banyak ditemukan di Pulau-pulau di Liukang Kalmas dan Liukang Tangaya.

Kata depan ‘Sa’ itu juga boleh jadi dipengaruhi Bahasa BajoE. Misalnya, Sarappo yang berarti di pulau banyak puah pinang (rappo), pada masa silam. Demikian pula halnya dengan pulau ‘Sanane’ karena di pulau itu banyak buah ‘nane’ (HA Gaffar Patappe, 2002 dalam Muhammad Farid Wajdi, 2004).

Ironisnya, Pulau-pulau yang namanya berawalan ‘Sa’ itu tidak ada orang atau etnis BajoE yang tinggal, jika disebutkan Penamaan Pulau – pulau tersebut karena pengaruh Bahasa BajoE, malahan orang BajoE lebih banyak menempati Pulau-pulau di Liukang Tangaya?

Penulis di Pesisir Pulau Salemo. (foto: ist/palontaraq)
Penulis di Pesisir Pulau Salemo. (foto: ist/palontaraq)
Potret Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Kondisi rumah Orang Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Potret Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Kondisi rumah Orang Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pulau-pulau Liukang Tupabbiring yakni antara lain Balang Lompo, Balang Caddi, Sarappo Lompo, Sarappo Caddi (atau Sarappo Keke), Podang-podang Lompo, Podang-Podang Caddi, Gondong Bali, Kapoposan, Badik, Pajenekang, Langkadea, Karanrang, Pala, Sanane, Salebbo, Salemo, Sabutung, Kulambing, Saugi, Satando, Sakuala, Sabangko, Sapuli, Saranti, Pandangang, Bonto Sua. (Muhammad Farid Wajdi, 2002).

Yang pasti, kita tahu bahwa Orang-orang pulau di Pangkep, khususnya masyarakat yang mendiami Pulau-pulau dalam lingkup Kecamatan Kepulauan Liukang Tupabbiring sebagian besar menuturkan Bahasa Bugis dan Bahasa Makassar sekaligus.

Hal tersebut karena pada dasarnya Orang-orang pulau tersebut punya hubungan kekerabatan yang kental dengan masyarakat daratan. Asal usulnya berasal dari masyarakat yang mendiami sebagian besar wilayah Sulawesi.

Di Kepulauan Liukang Kalmas dan Liukang Tangaya, ada yang menuturkan Bahasa Makassar dan Bugis dalam kehidupan sosial mereka, Tapi lebih banyak yang menggunakan Bahasa Mandar, serta sedikit Bahasa BajoE. Begitu pula tata cara hidup berupa adat istiadat, memakai budaya Mandar yang jika di daratan menempati Kabupaten Polmas, Majene dan Mamuju.

Perairan Pulau Kulambing. (foto: ist/palontaraq)
Perairan Pulau Kulambing. (foto: ist/palontaraq)
Potret Pulau Salemo. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Potret Pulau Salemo. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Potret Pulau Karanrang. (foto: ist/palontaraq)
Penulis di Pintu gerbang Pulau Karanrang. (foto: ist/palontaraq)
Dermaga Pulau Salemo. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Dermaga Pulau Salemo. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Di wilayah Kecamatan Liukang Kalmas dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 11.215 jiwa yang tersebar di 14 pulau menggunakan Bahasa Mandar.

Mengapa demikian? Pada akhirnya, kita akan sampai pada asumsi atau dugaan bahwa Pelaut-pelaut Mandarlah yang pertama kali menemukan, menempati atau mendiami sebaran Pulau di Liukang Kalmas tersebut.

Adapun Pulau-pulau Liukang Kalmas antara lain, Kalu-kalukuang, Pammatauan, Massalima, Saliriang, Sabaru, Pamalikang, Marasende, Doang-doangan Caddi, Doang-doangan Lompo, Banko-bangkoang, Butung-butungan, Dewakang Lompo, Dewakang Caddi dan Bangka Uluang.

Pulau-pulau Liukang Tangaya antara lain, Pulau Sabaru, Tilamu, Baloang-baloang (Lompo dan Caddi), Sumanga, Longkoisang, Pelokang, Metalang, Sabalana, Makkarangana, Lilikang, Sapuka, Tinggalungan, Pulau Kembang Lemari, Aloang, Tampaang, Kuwassang, Sapinggang, Sailus (Lompo dan Caddi), Pulau Marabatuang, Satanger, dan Pulau Kapoposan Bali.

Potret Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Potret Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Potret Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Potret Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Potret Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Potret Pulau di Pangkep. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Begitu pula di Kecamatan Liukang Tangaya, yang terdiri dari 57 Pulau dengan jumlah penduduk sekitar 13.865 jiwa, gugusan pulau di bagian barat menggunakan Bahasa Mandar dan dibagian timur menggunakan Bahasa Makassar dan sebagian Bahasa BajoE.

Di daratan Sulawesi Selatan, etnis Mandar umumnya mendiami daerah Kabupaten Polmas, Majene dan Mamuju. Sedangkan etnis Bajo umumnya mendiami Daerah Selayar dan beberapa pulau di Sulawesi Tenggara. (Muhammad Farid Wajdi, 2004).

Ketiga gugusan pulau tersebut, Spermonde (Liukang Tupbabiring), Kalu-kalukuang group (Liukang Kalmas) dan postelion dan paternoster (Liukang Tangaya) masuk dalam wilayah Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan padahal secara geografis lebih dekat ke Nusa Tenggara dan Bali.

Perairan Pulau Kulambing. (foto: ist/palontaraq)
Kondisi Perairan dan Kapal Orang Pulau di Pangkep. (foto: ist/palontaraq)
Perairan Pulau Kulambing. (foto: ist/palontaraq)
Perairan Pulau Salemo di Pangkep (foto: ist/palontaraq)

Alasannya apa? Boleh jadi Pemerintah Hindia Belanda memasukkannya dalam wilayah Onderafdeeling Pulau-pulau, dalam Tahun 1901 karena faktor sejarah, kedekatan etnis, hubungan emosional (hubungan kekerabatan) dan bahasa masyarakat kepulauan tersebut yang merupakan penutur bahasa lokal Bugis, Makassar, Mandar dan Bajo.

Karena alasan inilah, sehingga deretan pulau indah dan menawan tersebut masuk wilayah administratif Kabupaten Pangkep (Propinsi Sulawesi-Selatan) menggabung atau digabungkan dengan wilayah Regentschappen Onderafdeeling Pangkajene, yang membawahi Pangkajene, Bungoro, Balocci, Labakkang, Ma’rang, Segeri, dan Mandalle, sehingga di kemudian hari penyebutannya menjadi: Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).  (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga