27 C
Makassar
Oktober 6, 2026, 11:57 pm

Penamaan Jenis Parit dalam Bahasa Bugis

Oleh: M. Farid W Makkulau

ETTAPEDIA.ORG – Masyarakat Bugis sangat detail dalam memberikan nama tempat, daerah, kawasan tertentu, kampung, dan bahkan terhadap penamaan kondisi dan situasi yang terjadi, dengan segala kearifan lokal yang mengikutinya. Hal ini menjadi bukti bahwa di masa lampau, masyarakat Bugis pernah mencapai suatu tataran peradaban yang cemerlang, dan tetap bisa memaknainya dalam konteks kekinian.

Misalnya, penamaan jenis parit dalam Bahasa Bugis. Di benak orang Bugis, tentu akan memperjelas parit yang bagaimana yang dimaksudkan, sesuai dengan kondisi dan peruntukannya. Ada yang menyebutnya Selongeng, Benrang, Salori, Cemme, atau ada pula yang akan menyebut Sefé-sefé dan Teppo.

Pengairan di Persawahan jenis ini disebut Sefe-sefe, aliran air persawahan diantara dua pematang sawah.  (foto: ist/palontaraq)
Pengairan di Persawahan jenis ini disebut Sefe-sefe, aliran air persawahan diantara dua pematang sawah. (foto: ist/palontaraq)

Baiklah penulis akan membahas tentang Jenis Parit dalam Khazanah Bahasa Bugis disini. Penamaan yang diberikan tentu mengacu kepada kondisi dan fungsi parit itu sendiri, bukan merupakan kesepakatan ahli tata bahasa Bugis, tetapi secara sosial dapat dibenarkan.

1. Benrang

Merupakan jenis parit dengan ukuran kecil, dibuat dengan kedalaman 20-50 cm. Benrang berfungsi sebagai area jatuhnya limpahan air di sekitar rumah warga, maupun untuk aliran air hujan dan aliran air dari samping agar tidak masuk ditanah kolong rumah. Benrang biasa juga dibuat di area perkebunan atau ladang yang ujung bertemu dengan parit besar (selongeng)

2. Selongeng

Merupakan parit dengan ukuran lebih besar, lebar dan dalam. Fungsinya sebagai muara dari berbagai jenis parit kecil lainnya. Selongeng biasanya berada disisi jalan atau justru membelah jalanan besar menuju sungai, danau atau bendungan.

3. Salori

Merupakan jenis parit yang banyak ditemukan di area persawahan, pekarangan rumah, kebun atau ladang. Parit jenis ini tidak bersifat permanen atau dibuat sementara saat dibutuhkan untuk sekadar memberi jalan air kecil untuk genangan air pada area tertentu.

Dengan adanya salori, air yang menggenang akan berpindah dan menyebar merata di area persawahan, pekarangan rumah, kebun atau ladang tersebut. Bisa pula sengaja dibuat agar genangan air tersebut segera menuju benrang.

4. Sefé-Sefé

Merupakan jenis parit yang hanya dapat ditemui disawah, yaitu terdapat diantara dua pematang sawah. Tempat air sawah atau aliran air irigasi mengalir sebelum dibelokkan masuk ke dalam hamparan sawah itu sendiri. Dinding parit biasanya ditumbuhi rumput atau gulma liar. Disinilah biasanya para petani sawah membersihkan kaki sebelum pulang ke rumah atau pada saat mau makan di bola dare (rumah kebun atau rumah sawah).

5. Teppo

Merupakan jenis parit di area persawahan sebagai jalan air yang bersumber dari sungai, danau, bendungan yang sengaja dialirkan untuk kepentingan irigasi persawahan. Ukuran Teppo lebih besar, lebar, dalam, dan selalu terisi air, baik air mengalir atau menggenang.

Teppo dapat ditutup sementara waktu berdasarkan kebutuhan pengairan atau disesuaikan (diatur) aliran airnya. Biasanya dengan menggunakan pintu penutup air dengan teknologi turbin sederhana yang disiapkan dan dibangun oleh Dinas PU Pengairan.

Salo-salo, yang ini disebut Salo Tallang. Di musim kemarau, disebut salo mettie. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Salo-salo, yang ini disebut Salo Tallang. Di musim kemarau, disebut salo mettie. (foto: mfaridwm/palontaraq)

6. Salo-Salo

Merupakan jenis parit yang tak lazim. Hal ini karena peruntukannya yang unik. Bentuknya berupa cekungan pada tanah yang terbentuk secara alami (proses alam) sebagai jalur aliran air dari lereng pegunungan atau perbukitan, seolah dari mata air (wai tuwo) meski saat itu tidak turun hujan.

Pada saat musim hujan, luapan air biasanya bercampur lumpur yang terbawa arus dari area perbukitan. Saat musim kemarau, aliran parit ini akan kembali kering meski tetap ada airnya. Biasanya masyarakat menyebutnya dengan istilah “salo mettie”.

Beberapa jenis parit diatas malahan menjadi tempat bermain dan mandi bagi anak-anak Bugis sewaktu ikut membantu orangtuanya bekerja di sawah atau di kebun.

Dalam wilayah masyarakat Bugis yang masih mengandalkan pertanian dan perkebunan sebagai penopang ekonomi keluarga, tentunya jenis-jenis parit diatas masih ada dan masih dikenal, sebagai dikenalnya Cemme, sebagai pembuangan air, tempat mandi dan mencuci dari setiap rumah-rumah panggung masyarakat Bugis.  (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga