27 C
Makassar
Oktober 7, 2026, 12:41 am

“Magguru” dan “Massikola” dalam Elong Pangaja

Oleh: M. Farid W Makkulau

ETTAPEDIA.ORG – Mencoba mengingat-ingat dan menulis ulang “Elong Pangngaja” yang pernah penulis dengar, ternyata ada dua kata yang sepintas kelihatan semakna, tapi oleh Orang Bugis dahulu sudah membedakannya. Ternyata leluhur kita, Orang Bugis dahulu, sudah membedakan antara “ma’guru” dan “ma’sikola”. Berikut bunyi “Elong Ugi” tersebut.

Para Guru. (foto: ist/palontaraq)
Para Guru. (foto: ist/palontaraq)

Elong Pangaja

 

E, Sining anak mulampekkek e’

Pada laoki magguru

Ajak muonro mammatu – matu

Awelaiyakkitu matu

 

Pada laokik massikola

Ajak muonro siya-siya

Pada laoki massikola

Ajak muonro siya – siya

 

Rianakna mitu tauwe’

Namalomo lao magguru

Narekko battowanik maegani

Anu mallawa rialena

 

Iyana tau rugi tongeng

Tau teyae’ magguru

Iyana tau rugi tongeng

Tau teyae’ magguru.

 

Terjemahan bebas:

 

Hei, kalian semua generasi belakang

Pergi semualah mencari guru

Janganlah engkau bermalas-malasan

Nanti engkau menyesal kemudian. 

 

Pergi semualah mencari guru

Janganlah engkau melakukan hal yang sia-sia

Pergi semualah bersekolah

Janganlah engkau melakukan hal yang tak berguna

 

Akan diperlihatkanlah engkau kelak

Segala kemudahan bagi yang berpengetahuan

Jika kelak diperlukan orang banyak

Dirinya yang ditampilkan ke depan.

 

Sungguh merugilah, rugi yang sebenarnya

Orang yang tak pernah berguru

Sungguh merugilah, rugi yang sebenarnya

Orang yang tak berpengetahuan.

Para Guru dikelilingi murid/santrinya. (foto: ist/palontaraq)
Para Guru dikelilingi murid/santrinya. (foto: ist/palontaraq)

Demikianlah bunyi Elong Ugi yang pernah penulis dengar, yang sebenarnya merupakan “Elong Pangaja”, suatu pesan pengajaran, kebaikan atau nasehat bagi anak. Jika dilihat dari konteks pesannya, Orangtua Bugis dahulunya ingin menegaskan bahwa belajar atau berpengetahuan itu suatu keharusan dan bisa dimana saja.

Ungkapan “magguru” atau ma’guru (keharusan berpengetahuan/belajar dari guru tertentu), jelas lebih tua dari massikola (keharusan bersekolah, berguru secara formal). Itulah sebabnya, seringkali kata “guru” (tempat belajar) seringkali dipadankan dengan kata anre, “anreguru” yang tidak terjadi pada kata sikola.

Para Guru dikelilingi murid/santrinya. (foto: ist/palontaraq)
Para Guru dikelilingi murid/santrinya. (foto: ist/palontaraq)

Kata “magguru” lebih pada pendidikan informal dan non formal sebagaimana leluhur Bugis Makassar dahulu menjalaninya, dengan segala ketaatan dan adab-adabnya kepada “anreguru” (pemberi pengajaran) yang sangat dihormati, dipanggil “anre gurutta”. Sedang kata “massikola” lebih pada pendidikan formal, ketika suatu pendidikan berguru itu sudah dilembagakan.

Magguru mungkin lebih sfesifik alias tidak terstuktur, lebih ditekankan kepada kekuatan/kharisma seorang guru (anreguru) yang biasa diberikan kepada “panrita”, cendekiawan setempat, diakui secara sosial. Sedangkan “massikola” bermakna berstruktur, lebih ditekankan kepada lembaga atau satuan pendidikan, terjadwal, berkelompok, serta diakui oleh kerajaan/negara.

Demikian yang dapat penulis jelaskan. Tabe’, salamaki tapada salama’. 

 

(* M. Farid W Makkulau, Pemerhati Budaya dan Sastra Daerah Sulawesi Selatan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga