27 C
Makassar
Oktober 7, 2026, 12:41 am

Eksotisme Budaya Megalitik di Kete’ Kesu Toraja

Oleh:  M. Farid W Makkulau

PALONTARAQ.ID – TANA (Tanah) Toraja sama terkenalnya dengan Bali dimata wisatawan mancanegara, hanya saja Pulau Bali lebih mudah dikunjungi, berlimpah fasilitas dan promosi, ditambah lagi banyak destinasi didalamnya yang menjanjikan kesenangan dan hiburan.

Berbeda halnya dengan Tana Toraja yang untuk mencapainya saja harus menempuh perjalanan darat melelahkan selama 8-9 jam dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin. Tana Toraja sama sekali tidak memiliki obyek wisata pantai, yang ada adalah hamparan persawahan dengan rumah adat tongkonan, selebihnya adalah pesona mistis makam dan upacara pemakaman.

Tana Toraja memiliki spesifikasi destinasi obyek dan atraksi wisata yang unik. Umumnya destinasi wisata Toraja mengarahkan pendatang untuk mengenal “Budaya Kematian” Orang Toraja di kawasan pekubunan kuna serta upacara pemakaman “Rambu Solok” yang bersumber dari kepercayaan Aluk Todolok. Penulis lebih senang menyebutnya dengan istilah “death tourism”. Orang Toraja menganggap bahwa mayat atau orang mati itu adalah milik bersama yang harus diupacarakan untuk mengantar rohnya pindah ke dunia lain.

* * *

Salah satu kawasan pekuburan kuna yang terkenal di Toraja adalah Kete’ Kesu. Desa wisata yang telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya ini terletak di Kampung Bonoran Kelurahan Tikunna Kecamatan Sanggalangi Toraja Utara atau sekitar 5 km dari pusat Kota Rantepao atau 14 km dari sebelah utara Kota Makale.

Wisatawan lokal pengunjung kete kesu. (foto: ettaadil)
Wisatawan lokal pengunjung kete kesu. (foto: ettaadil)
Tongkonan dengan susunan tanduk kerbau sebagai penanda status sosial.
Tongkonan dengan susunan tanduk kerbau sebagai penanda status sosial. (foto: mfaridwm)

Saat memasuki kawasan Kete’ Kesu yang kita jumpai pertama kali adalah deretan penjual souvenir, mulai dari gantungan kunci, nampang, tatakan gelas, kalung, gelang, patung hiasan dinding dan lukiran bermotif ukiran khas Toraja yang dijajakan penduduk setempat.

Eksotisme kawasan kete’ kesu mulai terasa saat kita menginjakkan kaki dalam kompleks Tongkonan, Rumah Adat khas Toraja yang berbaris rapi berhadapan dengan lumbung padi (alang). Bentuk Tongkonan sangat khas dan mudah dikenali sebagai rumah tradisional yang memiliki atap yang besar dan tinggi menjulang, berbentuk seperti tanduk kerbau atau perahu.
Kawasan kete kesu adalah salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi bagi yang mengetahui sejarah dan budaya Toraja.
Kawasan kete kesu adalah salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi bagi yang ingin mengetahui sejarah dan budaya Toraja. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Atap Tongkonan terbuat dari bambu belah yang disusun bertumpuk mengadopsi konsep lego. Ukiran khas Toraja menghiasi dinding Tongkonan menyatu dengan peletakan susunan tanduk kerbau yang menjadi penanda status sosial pemilik rumah.

Kawasan Kete Kesu boleh dibilang potret lengkap kehidupan Masyarakat Tana Toraja yang masih menjunjung tinggi adat istiadat dan warisan leluhur mereka. Karena itu, tak salah jika Kawasan Kete’ Kesu dijadikan destinasi pertama wisatawan yang berkunjung ke Tana Toraja. Rumah Adat Tongkonan asli berada dalam kawasan kete’ kesu ini, yaitu Tongkonan ini memiliki pintu yang dibuka ke atas dan diduga berumur sekitar 300-an tahun.

Rumah Adat Tongkonan yang berbaris rapi berhadapan dengan lumbung padi dalam kawasan permukiman Kete Kesu.
Rumah Adat Tongkonan yang berbaris rapi berhadapan dengan lumbung padi dalam kawasan permukiman Kete Kesu. (foto: mfaridwm)

Dalam kompleks permukiman adat tersebut, terdapat 6 Tongkonan dan 12 lumbung padi, ditambah tanah seremonial yang dihiasi 20 menhir.  Salah satu Tongkonan berfungsi sebagai museum yang berisi koleksi benda adat kuno Toraja, mulai dari ukiran, senjata tajam, keramik, patung, kain dari Cina, dan bendera merah putih yang konon disebutkan merupakan bendera pertama yang dikibarkan di Toraja.

Menurut Adrianus, informan penulis, Keluarga pemilik keenam Tongkonan dalam kawasan Kete’ Kesu tersebutlah yang memiliki kewenangan menggelar Pesta Adat Rambu Solok atau Pesta Kematian, yaitu Tongkonan Bamba, Tongkonan To’ Sendana, Tongkonan Kesu’, Tongkonan Tonga, Tongkonan Rura’ Lompo, dan Tongkonan Borong.

Tempat pemakaman kolektif dalam gua di pegunungan Kete Kesu.
Tempat pemakaman kolektif dalam gua di pegunungan Kete Kesu. (foto: mfaridwm)

Umumnya Upacara Rambu Solok (Pemakaman) dan Rambu Tuka (Upacara memasuki Rumah adat baru) diadakan sekitar Bulan Juli hingga akhir Desember. Selain turis mancanegara, ratusan wisatawan domestik yang kebetulan berada di  Tana Toraja untuk menghadiri puncak Perayaan Lovely December setiap akhir tahun, juga turut menyaksikan pesta adat tertinggi masyarakat Toraja tersebut.

Tau-tau dalam pemakaman kolektif di gua yang ditutup jeruji besi.
Tau-tau dalam pemakaman kolektif di gua yang ditutup jeruji besi. (foto:mfaridwm)

Sekitar 50 meter di belakang kompleks Tongkonan, pengunjung akan menyaksikan kompleks pekuburan kuna yang merupakan sisa kebudayaan megalitik yang paling lengkap di Tana Toraja. Eksotisme peninggalan purbakala berupa kuburan batu yang diperkirakan berusia 500 tahun lebih bisa membuat bulu kuduk merinding.

Di dalam kubur batu yang menyerupai sampan atau perahu tersebut, tersimpan sisa-sisa tengkorak dan tulang belulang manusia, ada yang berserakan di sepanjang jalan menuju tangga pegunungan batu kapur, ada pula yang diletakkan menggantung di tebing atau dalam gua. Pada bagian depan gunung batu tersebut, terdapat beberapa kuburan megah bangsawan Toraja.

Penulis dan sebaran tengkorak dalam kawasan kete kesu
Penulis dan sebaran tengkorak/tulang belulang dalam kawasan kete kesu. (foto: mimiamelia/palontaraq)

Ada pula tempat pemakaman kolektif dalam gua ditutup dengan jeruji besi untuk mencegah pencurian patung jenazah adat, lazim disebut tau-tau dalam budaya Toraja. Beberapa jenazah dengan kerangka, tulang belulang dan tengkorak terlihat jelas dari luar bersama dengan harta yang dikuburkan didalamnya. Terdapat banyak pula serakan peti mati tradisional yang disebut erong, ada yang berbentuk perahu, kerbau dan babi dengan pahatan atau ukiran menarik.

Ada dua jenis kuburan dalam kompleks ini, yaitu kuburan di bukit batu dan kuburan yang berupa bangunan. Kuburan di bukit batu ini sudah sangat tua. Tumpukan “erong” (peti mati) sudah banyak yang lapuk, dan tulang-tulang berserakan di alam terbuka menyatu bersama sampah-sampah pengunjung. Peti mati (erong) berisi jenazah berjumlah lebih dari tiga, biasanya adalah patane, makam keluarga.

Sebaran tengkok dan tulang belulang manusia dalam kawasan kete kesu.
Sebaran tengkok dan tulang belulang manusia dalam kawasan kete kesu. (foto: ist/palontaraq)

Mendatangi kawasan Kete’ Kesu saat berwisata ke Tana Toraja tidaklah rugi, apalagi Kawasan Kete Kesu merupakan kompleks cagar budaya yang menawarkan view alam yang indah, budaya yang eksotis, dan sejarah yang mencengangkan. Pada bagian sebelahnya terdapat bukit batu kapur yang pada dindingnya terdapat beberapa lubang berbentuk bujursangkar yang ditutup dengan papan kayu yang diukir.

Kawasan batu pemakaman ini diselimuti pohon bambu yang menjulang dan setiap pengunjung harus menaiki tangga yang mengantarkan pada pemandangan erong-erong yang tergeletak diantara tangga dan dinding batu. Erong-erong ini adalah peti mati adat Tana Toraja yang memiliki ciri khas bentuk yang unik berdasarkan jenis kelamin orang mati. Ada yang ujungnya berbentuk kepala babi jika sang jenazah adalah perempuan dan berbentuk perahu jika sang jenazah adalah laki-laki. Kesemua erong dihadapkan ke arah utara.

Penulis di depan patung "tau-tau", kawasan kete kesu
Penulis di depan patung “tau-tau”, kawasan kete kesu (2013). (foto: ist/palontaraq)
Perubahan penempatan Tau-tau (2016)
Perubahan penempatan Tau-tau (2016). (foto: ist/palontaraq)

Pada beberapa sudut dinding batu juga banyak diketemukan tau-tau (patung) si mayat dalam satu rumpun keluarga yang dimakamkan disitu. Pembuatan Tau-tau (patung jenazah) biasanya hanya keluarga bangsawan yang memiliki kesanggupan.

Untuk satu patung kebangsawanan ini keluarga jenazah harus mengorbankan minimal 24 kerbau belang dan puluhan ekor babi. Persembahan kerbau haruslah kerbau pilihan dan memiliki belang terbaik, Orang Toraja menyebutnya Tedong Bonga. Harga satu ekor kerbau belang bisa mencapai 400-500 juta.

Eksotisme budaya megalitik yang terdapat dalam kawasan Kete’ Kesu adalah bukti sejarah dan budaya Kabupaten Tana Toraja telah terbangun sejak masa ratusan tahun silam. Sayangnya, meski kawasan ini menjadikan obyek wisata andalan di Tana Toraja, tak satupun tourist guide atau penduduk setempat yang bisa memberikan penjelasan memuaskan tentang perjalanan sejarah dan budaya ini.

Dua Pengunjung Kete Kesu. Kawasan wisata ini menawarkan banyak spot foto yang menarik.
Dua Pengunjung Kete Kesu. Kawasan wisata ini menawarkan banyak spot foto yang menarik. (foto: ist/palontaraq)

Ratusan wisatawan domestik maupun mancanegara dibiarkan sendiri mencari jawab atas pertanyaan yang tertimbun dibenaknya, termasuk pertanyaan apakah pekuburan kuna diatas gunung batu atau ditebing terjal masih akan terus dilanjutkan? Sampai kapan kepercayaan Aluk Todolo ini ‘menghabiskan’ harta orang Toraja dalam mengantar perjalanan saudara dan kerabatnya berpindah ke dunia lain. (*)

(* Tulisan ini pernah dimuat di Media Palontaraq, 12 Februari 2017

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga