Oleh: M. Farid W Makkulau
ETTAPEDIA.ORG – Apa itu Latto-latto? Apakah Latto-latto itu permainan tradisional Bugis Makassar sebagaimana penulis akrabi di era Tahun 80-an dan sekarang viral kembali? Apakah benar itu kata “latto-latto” itu sendiri adalah kosakata Bahasa Bugis atau Makassar, ataukah sebaliknya, berasal dari bahasa yang bermuasal dari bahasa orang yang mempopulerkan permainan tersebut?
Di Kampung penulis, daerah Pangkep, salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, permainan khas yang berbentuk dua bola kecil (seukuran genggaman tangan anak kecil) dibenturkan dan menimbulkan suara “krtok-krtotok” disebut juga “katto-katto”. Permainan Latto-latto atau katto-katto ini sebenarnya cukup sederhana, hanya perlu kecermatan dalam menaik-turunkan benturan bola kecil tersebut.
Apa makna Latto-latto sesungguhnya? Entahlah, bisa jadi juga itu bentuk kurang kerjaan atau kegabutan tersendiri karena tidak menemukan permainan lain sebagai pengisi waktu. Untuk menjadi apa dan maknanya apa, tidak ada orang yang seserius itu memikirkannya? Dan tentu tidak ada pula yang pernah menelusuri siapa yang pertama kali mempopulerkannya?
Apakah benar orang Bugis Makassar yang pertama kali mempopulerkan Latto-latto tersebut? Siapa pula yang punya peran “mengambil untung” dari usaha memproduksi massal bahan permainan latto-latto tersebut? Entahlah?
Lantas, Mengapa pula penulis sampai pada pertanyaan: Latto-latto itu Bahasa Makassar atau Bahasa Arab? Ya, karena Latto dalam Bahasa Arab jika ditelusuri asal usul katanya, maka akan sampai pada pengertian: saling berbenturan atau saling memukul, dan itulah konteks maknawi permainan Latto-latto yang sebenarnya.
Dalam Bahasa Arab, kata: لَطَّ يَلِطُّ لَطًّا … الخ, Latto, Yalittu, latton, Fahuwa Laattun. Wadzaka Maltutun; Litto; Litti, iltit; La Talitto La talitti; La taltit; Malattun Malattun Milaatun, artinya: Memukul (Kamus Al-Munawir; Kamus Bahasa Arab-Indonesia; 1269).
Kalau Latto kanan: memukul, dan Latto kiri: memukul, maka Latto-latto dapat dimaknai: saling memukul (saling berbenturan). Nah hayo, Cocoklogi nih? Ya, bisa saja ini cocoklogi dari aspek bahasa. Karena Latto kanan dan Latto kiri digantung atau diikat oleh tali yang mengikat pada masing-masing Latto.
Sedangkan kata pertalian itu dari kata ( علاقة ) sedangkan jama’nya ( معاليق : ikatan yang mengikat sehingga yang terikat itu menjadi tergantung mengikuti keinginan yang mengikat. (Kamus al-Munawwir: 964)
Sedangkan terkait “ikatan” ( معاليق ), terdapat suatu kisah, sebagaimana disebutkan berikut ini:
ان ابليس بدا له وعليه معاليق فقال له ما هذا قال الشهوات التي اصيد بها بني آدم
Artinya:
Bahwa Iblis menampakkan diri pada Nabi Yahya a.s. dan Nabi Yahya a.s. melihat Iblis membawa banyak ikatan ( معاليق ), kemudian Nabi Yahya a.s. bertanya pada Iblis: Apa yang kamu bawa ini, wahai Iblis?
Iblis menajwab, “Ini adalah Syahwat, dengan alat ini aku memburu anak cucu Adam.” (Kifayatun atqiyahu: 8)
Syahwat apa yang pertama kali diikatkan oleh Iblis pada manusia? Yaitu malas mencari Ilmu. Ibnu Al-Zauji berkata :
ان اول تلبيس ابليس على الناس صدهم عن العلم لان العلم نور فاذا اطفأ مصابيحهم خبطهم فى الظلم كيف يشاء
Artinya:
Yang pertama serangan tipu daya Iblis pada manusia adalah menutupi manusia dari Ilmu. Sebab ilmu itu cahaya yang menerangi hati. Ketika Iblis memadamkan lampu yang menerangi hati manusia maka Iblis pun akan dengan mudah sesuka hatinya membenturkan manusia dalam kegelapan.
Syaikh Ibnu Al-Zauji menggunakan kata ( خبطهم ) yang artinya: membenturkan atau memukulkan dengan keras (Kamus Al-Munawwir: 320).
Karena hati yang gelap itu mudah dibenturkan, sebagaimana diungkap Syaikh Ibnu Al-Jauzi yang mengatakan bahwa:
فاول ما يفعل الشيطان فالربض اكثار الدخان فتسود حيطان الحصن وتصدأ المرأة
Artinya:
Yang pertama Syetan kerjakan untuk menutupi cermin dalam hati adalah memperbanyak asap yang menutupi cermin hati tersebut.
Intinya, sebagaimana terungkap dalam pesan diatas adalah jangan mau diikat (terjerat) oleh keadaan (karena kurangnya pemahaman dan ilmu) untuk kemudian mudah dibentur-benturkan (dibentrokkan) satu sama lain, layaknya Latto-latto dalam konteks maknawi permainan tersebut.
Disebut Latto-latto karena ada dua latto, Latto kanan (sebut saja pihak pertama) penuh dengan kemarahan, dan latto kiri (sebut saja pihak kedua) juga penuh dengan kemarahan, maka pemainnya (kita sebut saja pihak ketiga) akan semakin mudah mempengaruhi dan membenturkan keduanya.
Seperti itulah gambaran orang yang dimainkan layaknya “Latto-latto”, mudah dibenturkan karena ketiadaan ilmu dan pemahaman. Artinya, hanya orang bodoh yang mudah dibenturkan (dibuat berkelahi sesamanya). Tulisan ini pada akhirnya tidak dimaksudkan untuk saling membenturkan pengertian secara bahasa “latto-latto”, tapi lebih kepada mengajak tertawa dan berpikir saja bahwa: “Kok masih ada orang di dunia ini senang dibentur-benturkan layaknya Latto-latto?”
Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)





















