Oleh: M. Farid W Makkulau *)
Related Post: Bissu DewataE in Pangkep
ETTAPEDIA.ORG – Bissu sudah lama dikenal dalam perjalanan sejarah dan budaya masyarakat Sulawesi Selatan sebagai komunitas yang unik, bahkan di masa kerajaan Bugis Makassar masih berlangsung, peran Bissu sangat penting sebagai penasehat spiritual Raja.
Kehadiran Bissu tentu saja tak bisa dilepaskan dari cerita La Galigo dimana Sawerigading sebagai tokoh utamanya. Dalam kitab epik mitik tersebut, terkuaklah penceritaan yang tak biasa tentang Bissu dan Perannya, tentang Tugas dan pengabdiannya, Tentang ilmu dan kesaktiannya, dan tentang upacara-upacara yang mesti dilaksanakannya, yang hingga kini masih dipertahankan.
Memotret kehidupan Bissu dan perjalanan eksistensinya dari zaman La Galigo diceritakan secara turun temurun hingga di masa kekini, tak bisa melihatnya dari satu sisi. Memotret Bissu haruslah utuh, perlu melihatnya dari banyak sisi, termasuk dari sisi seni tradisi yang ditampilkannya, Sere Bissu Maggiri.
Dalam dunia seni kontemporer, pertunjukan sere bissu maggiri bisa diformulasikan dalam bentuk Sendratari, dimana banyak unsur seni yang terlibat dan dikolaborasikan. Inilah yang bakal coba ditampilkan oleh Komunitas Bissu DewataE bersama pegiat seni lainnya di Pangkep.
Nah, berikut ini naskah sendratari yang coba penulis bantu sebagai pengiring Sendratari “Dewi Sang Bissu” yang akan ditampilkan sebagai bagian dari pertunjukan “Sulsel Menari”.
Naskah Sendratari “Dewi Sang Bissu”
Dari Gerakan-gerakan gemulai nan tertata apik mengurai sejarah
Inilah Persembahan Tari Komunitas Bissu DewataE
Yang Mengulang Penceritaan Sawerigading, Tokoh Utama Kitab Epik Mitik La Galigo
Saat Masih Berada di Boting Langi’.
Ketika itu, sebagaimana diungkap dalam La Galigo
Anak dari Puatta, Sawerigading menderita sakit selama beberapa bulan
Tidak pernah makan dan minum
Tubuhnya kian melemah karena hanya bisa berbaring layaknya mayat
Berbagai pinati dan dukun didatangkan dari seantero negeri
Menguji kemampuannya mengobati Anaknya Puatta Sawerigading
Namun tak mampu juga mengobatinya
Hingga datang To Panrita yang terkenal kecerdasannya melangit
Layaknya Paranormal, To Panrita Boting Langi’ ini Menyampaikan
Bahwa anaknya Puatta, Putri Raja We Tenri Dio sakit bukan sembarang sakit
Tapi terkena “Malasa Bissu” karena Ruhnya ada di Boring Langi
Sehingga Sang Raja, Puatta mengutus anaknya I La Galigo, Kakak dari sang putri pergi ke Tana Luwu
Inilah Kisah yang Bukan sembarang Kisah
Tapi Kisah Keluarga Tomanurung yang Menjadi Cikal Bakal Para Pewaris Kekuasaan di Tanah Bugis Makassar
Kepergian ke Tana Luwu, Untuk Menjemput Parewa Bissu dan Bissu Pattudang
Agar Berkenang Meluangkan Waktu datang ke Tompotikka
Datanglah Rombongan Bissu dengan Segala Keanggunannya
Memulainya dengan Pemanggilan Ruh Sang Putri
Diikuti Dayang-dayang, Bermohon Doa ke Dewata PatotoE…
Lengkap dengan Segala Perlengkapan Upacara dan Sajian Persembahan
Inilah Cara Bissu Mengharap Belah Kasih DewataE
Diselingi Tari Bissu Maggiri sampai Prosesi Irebba
Mencoba Menghubungkan Dua Dunia dalam Dimensi yang Berbeda
Demi Kesembuhan Sang Adik yang dilanda Sakit berkepanjangan
Setelah Segala Kemampuan Dikerahkan, We Tenri Dio Dipassili
Dikafani dan dimasukkan dalam Walasuji Tempat Ruhnya Dipanggil Kembali
Bangkitlah Anaknya Puatta Sawerigading, Bukan hanya sembuh dari Penyakitnya
Tapi Bangkit dengan Kesaktian Baru, Tubuhnya Kebal terhadap Senjata Tajam. Inilah Dewi Sang Bissu
Inilah Bissu yang Tetap Setia Mengurai Tradisi
Dalam Balutan Sejarah yang Kian Terlupakan
Mencari Pemaknaan Hidup Sendiri dari Kisah Sawerigading
Sebagaimana Tertulis dalam Kitab Epik Mitik La Galigo.
***
Semoga pertunjukan Sendratari “Dewi Sang Bissu” ini bakal sukses, sebagai bagian dari mengambil semangat mengembalikan seni tradisi dan kontemporer pada ruang, waktu dan tempat yang tepat. Semoga even “Sulsel Menari” menjadi pemicunya.
Salamaki Tapada Salama’.
(* M. Farid W Makkulau, Pegiat Budaya/Ketua I Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Kabupaten Pangkep.






















[…] Naskah Sendratari “Dewi Sang Bissu” […]