27 C
Makassar
Oktober 6, 2026, 11:58 pm

Mengenal Mushaf Koleksi Museum La Galigo

Oleh: Zarkasi

Related Post: Nurhayati Rahman: Membawa pulang La Galigo ke Negeri Asalnya

ETTAPEDIA.ORG – Mushaf (1) ini merupakan koleksi museum La Galigo Makassar Sulawesi Selatan. Di antara koleksi mushaf lainnya, mushaf ini merupakan mushaf dengan kondisi fisiknya paling baik. Cover dan kertasnya masih bagus, demikian juga tulisan teksnya masih cukup jelas, ditulis di atas kertas Eropa dengan cap kertas Crescent (NP ND)  Mobey Coll. Ukurannya 33 x 24 cm. Tebal mushaf 631 halaman, sekitar 7 cm.

Mushaf (1) Museum La Galigo. (foto: ist/*)
Mushaf (1) Museum La Galigo. (foto: ist/*)

Warna tinta yang digunakan untuk menulis teks ayat, hitam dan merah, sedangkan untuk iluminasi menggunakan warna merah, kuning, hijau, biru dan hitam. Jumlah baris pada halaman biasa, 15 baris. Sistem penulisan menggunakan sistem pojok, yakni setiap akhir halaman diakhiri dengan ayat, dan kata alihan (catchword) terdapat pada akhir halaman sebelah kanan.

Teks ayat pada mushaf ini ditulis menggunakan gaya khat naskhi. Naskah tidak diberi nomor halaman dan nomor ayat, hanya saja antarayat dipisahkan dan diberi tanda lingkaran berwarna kuning. Beberapa halaman depan kosong tanpa tulisan sebanyak 7 halaman kecuali halaman kedua terdapat tulisan lontara.

Demikian juga halaman akhir sebanyak 7 halaman kosong kecuali lembar kedua dari akhir terdapat teks ayat surah al-Mulk ayat 13-23 dan permulaan ayat 24. Mushaf ini memiliki kolofon dalam bahasa Arab yang maksudnya kurang lebih sebagai berikut:

Sungguh telah tamat dan sempurna Al-Qur’an yang Mulia ini pada hari Kamis tanggal 28 Sya‘bn tahun 1289 dari hijrah Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan mengucap alhamdulillah dan berkat pertolongan, taufiq, karunia, dan kenikmatan-Nya, berharap semoga Allah ta‘ala menerimanya dan berharap akan syafa’at Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallama untuk kita semua kelak di hadapan Allah ta‘ala, dan untuk seluruh umat muslimin, muslimat, mu’minin, mu’minat baik yang masih hidup dan yang telah wafat. Amin amin. Dan penulisnya adalah haji sufyan aṡ–Ṡauri imam al-Buni bin ‘Abdillah seorang al-Qadhi (hakim) Bone. Semoga Allah mengampuni kita, kedua orang tua kita, guru-guru kita, saudara-saudara kita seiman, pendahulu kita, penerus kita, saudara-saudara kita yang mencintai kita, dan kaum mu’minin, mu’minat baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Dan pemiliknya adalah Tuli’ai Syabandar Bone yang bertempat tinggal di negri Tellulelan, semoga Allah mengampuninya amin wal-Hamdulillāhi rabbil ‘alamīn.

Dari kolofon tersebut dapat diketahui bahwa penulisan mushaf diselesaikan tahun 1289 H (1872 M), paruh akhir abad ke-19, yang berarti usia mushaf ini sudah berumur 139 tahun. Setiap kepala surah dibingkai dengan garis yang serupa dengan bingkai teks.

Pada bingkai tersebut dijelaskan nama surah, makiyyah atau madaniyyah, dan jumlah ayat yang ditulis dengan tinta merah. Di antara hal yang menarik pada mushaf ini adalah penulisan lafadz وليتلطف (pertengahan mushaf) yang ditulis menggunakan tinta merah.

Setiap awal juz ditulis menggunakan tinta merah. Demikian halnya dengan hiasan pinggir. Bingkai teks pada mushaf ini mengambil bentuk tiga garis lurus berwarna hitam dan merah, dan di antara dua garis berwarna hitam diberi warna kuning.

Sedangkan bingkai berhias, sebagaimana mushaf-mushaf di Asia Tenggara, terletak di tiga tempat, di pembukaan, di akhir dan di tengah mushaf Al-Qur’an. Pada mushaf ini bingkai berhias tengah terletak di awal surah al-Isra’, sebagaimana umumnya mushaf-mushaf dari Pantai Timur.

Mushaf (2) Koleksi Museum La Galigo. (foto: ist/*)
Mushaf (2) Koleksi Museum La Galigo. (foto: ist/*)

Pada Mushaf (2) Koleksi Museum La Galigo ini, kondisi kertasnya terlihat kekuning-kuningan karena lembap, dan pada beberapa halaman awal dan akhir sudah rapuh dan sobek. Namun demikian tulisan teksnya masih cukup jelas. Naskah ini ditulis menggunakan kertas Eropa dengan cap kertas Pro Patria. Ukurannya 32 x 19,5 cm. Mushaf ini terdiri dari 492 halaman. Warna tinta hitam digunakan untuk menulis teks ayat, sementara iluminasi menggunakan tinta hitam dan merah. Jumlah baris pada halaman biasa 17 baris. Sementara qiraat yang dipakai pada mushaf ini adalah qiraat Nafi’ riwayat Qālūn.

Teks ayat dan doa khataman Al-Qur’an pada mushaf ini ditulis menggunakan khat naskhi. Manuskrip Al-Qur’an ini tidak memiliki nomor halaman dan nomor ayat, hanya saja antarayat dipisahkan dengan titik hitam dan diberi tanda lingkaran dengan garis tepi berwarna merah. Pada halaman belakang terdapat kertas putih yang menerangkan riwayat naskah sebagai berikut: Asal QURAAN :   Desa Balang Dati II Jeneponto / Dimiliki sejak tahun 1855 (1271) / oleh Almarhum Manggaweng Dg Sinabung / kemudian pindah kepada anaknya / Mallombasi Dg Tayang terakhir kepada / Cucunya Saniasa. Catatan tersebut ditulis dengan mesin ketik kecuali angka tahun ‘1271’ yang ditulis dengan tangan.

Setiap kepala surah dibingkai dengan garis merah. pada bingkai tersebut dijelaskan nama surah, makiyyah atau madaniyyah, dan jumlah ayat yang ditulis dengan tinta merah. Untuk awal juz tidak ditulis dengan tinta merah, tetapi warna hitam dan ditebalkan hurufnya dan terdapat hiasan pinggir yang menunjukkan juz tertentu.

Bingkai teks dalam mushaf ini mengambil bentuk tiga garis lurus berwarna hitam dan merah. Bingkai hias pada mushaf ini terdapat di pembukaan dan akhir mushaf, sedang pada pertengahan tidak ada bingkai berhias seperti umumnya mushaf-mushaf di Asia Tenggara. Hanya saja di pertengahan mushaf, pada lafaz وليتلطف ditulis menggunakan huruf tebal berwarna hitam.

Mushaf (3) Koleksi Museum La Galigo. (foto: ist/*)
Mushaf (3) Koleksi Museum La Galigo. (foto: ist/*)

Manuskrip Al-Qur’an Mushaf (3) koleksi Museum La Galigo, Makassar, ini masih cukup baik. Kertas yang digunakan masih bagus, hanya saja beberapa halamannya termakan tinta sehingga sedikit berlubang. Naskah ini ditulis di atas kertas Eropa dengan cap kertas Pro Patria.

Ukuran Mushaf (3) ini 33 x 20,5 cm. Jumlah halaman 613 halaman dengan tebal sekitar 7 cm. Warna tinta yang digunakan untuk menulis teks ayat adalah hitam. Sedangkan untuk hiasan dan iluminasi menggunakan warna hitam, merah dan kuning emas. Jumlah baris pada halaman biasa 15 baris. Penulisan pada mushaf ini menggunakan sistem pojok, yakni setiap akhir halaman diakhiri dengan penghabisan ayat.

Mushaf ini ditulis menggunakan khat bergaya naskhi. Naskah tidak diberi nomor halaman dan nomor ayat, hanya saja antarayat dipisahkan dan diberi tanda lingkaran berwarna kuning. Sebagaimana mushaf Al-Qur’an lainnya, mushaf ini pun dimulai dengan surah al-Fātihah dan diakhiri dengan surah an-Nās.

Setiap kepala surah dibingkai dengan garis yang serupa dengan bingkai teks. Dalam bingkai tersebut dijelaskan nama surah, makiyyah atau madaniyyah, dan jumlah ayat yang ditulis dengan tinta merah. Di bawahnya terdapat bingkai lagi yang menerangkan jumlah ayat, jumlah kata, jumlah huruf dan urutan turunnya yang ditulis dengan tinta hitam.

Untuk awal juz ditulis dengan tinta merah dan hiasan pinggir yang menunjukkan bilangan juz. Di antara kekhususan mushaf ini lafadz وليتلطف yang ditulis dengan tinta merah, terletak di pertengahan mushaf. Bingkai teks pada mushaf ini berupa tiga garis berwarna hitam dan satu garis luar berwarna merah. Sedangkan bingkai berhias terletak hanya ada di dua tempat, yakni di pembukaan dan di akhir mushaf Al-Qur’an.(Zar)

 

Sumber: Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an Kemenag RI: DISINI

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga