Oleh: La Oddang Tosessungriu
ETTAPEDIA.ORG – Setelah berhari-hari membicarakan hal yang rumit-rumit, tak ada salahnya jika sekali waktu kita obrolkan hal yang lebih santai. Tetap dalam ranah budaya, namun dipandang dari sisi kesenangan (hobby), terhatur kepada saudara-saudaraku Pompessi Luwu, Karpet Kuning dan Sima’tana.
Terlepas dari perspektif metafisiknya, Kawali Luwu dimata seorang lelaki Bugis adalah ” kesayangan”. Olehnya itu terdapatlah syair elong 876 yang dilantungkan oleh gadis-gadis Bugis, sebagai berikut :
Iyapa ubali melle’mu,
REkkuwa mukapangnga’,
Tappi bangkung Luwu
(Nantilah kubalas cintamu,
Sekiranya engkau memandangku,
Sebagaimana halnya badik Luwu)
Diselip dipinggang siang malam sepanjang hidup, dilepas sejenak jika hendak buang hajat atau mandi, diselip lagi sewaktu berwudlu hingga menunaikan sholat. Bahkan ketika tidur-pun disimpan dibawah bantal kepalanya.

Kekasih yang mana tidak cemburu pada bilah kawali Luwu yang diperlakukan seperti itu? Ia bukanlah sekedar senjata menurut fungsinya, melainkan “teman sehidup semati” yang disayang dan tak diragukan kesetiaannya.
Tampilan luar (hulu dan wanua) yang sederhana, membungkus bilahnya yang “tidak sederhana”, itulah wujud “bangkung Luwu” yang didapati di Tana Luwu.
Nantilah didapati pada kotak pusaka di Tana Ugi’, barulah busananya terbungkus emas muda bertatahkan permata. Setidaknya seperti itulah realita pada masa lalu, ketika senjata tradisional belum merebak sebagai hobby yang dikarenakan dimana-mana seperti sekarang ini. Perlakuan berbeda dari segi busana, didalam dan diluar Tana Luwu ini tak terlepas dari cara pandang orang Luwu secara umum dan To Ugi diluar tapal batas.
Mutual (qualitas) yang dibungkus dengan kesederhanaan adalah sebaik-baiknya busana, agaknya demikian cara pandang orang Luwu. Pada sisi lain, sesuatu yang bermutu (berkualitas) diperlakukan dengan sebaik-baiknya, termasuk membungkusnya dengan sebaik-baiknya busana emas permata hingga ia “ribakeri” (dimuliakan) sebagai wujud kasih sayang.
Sesungguhnya kedua pandangan itu benar dan beralasan. Lalu apa yang menjadi keistimewaan bangkung/kawali Luwu selain teknologi baja gantungnya yang khas itu? Ia adalah karya cipta yang memadukan antara ramuan kualitas bahan, kerumitan seni tempa dan pemuliaan takdir yang melahirkan pamor serta ketandaan yang penuh philosofi harapan dan nasehat.
Antara lain adalah kawali Luwu “garEno siwali” yang terdiri 3 sambungan sebagaimana garEno pada biasanya, namun tehnik tempatnya lebih sulit. Bahwa pamor pada bilah Luwu secara umum terdiri dari 4, yakni : Ure’ LEwu (ure’ kalla), Ure’ Tettong (tulu’/puntir), Ure’ Kurrisi (puntir bersusun) dan Ure’ Batu (paria, balo pakkE, dato’-dato’, dan lain-lain).

Setiap pamor itu memiliki makna harapan (minasa) hingga jika pada suatu bilah kawali terdiri dari 3 gabungan pamor itu. menghasilkan uraian harapan yang panjang. Misalnya ure’ LEwu pada setiap lapisnya dimaknai jumlah bilah yang “mengalasi” (natadangi) ure’ tettong yang bermakna kedaulatan, lalu atasnya ditungkup (natongko’) ure’ LEwu, secara keseluruhan dimaknai kedaulatan yang aman dan sejahtera.
Selain pamor (ure’), ada ketandaan yang sengaja (ripEnru) dibuat, seperti garEno (sambang) dan rakkapeng (sejenis seppong). GarEno adalah sambungan yang berfungsi sebagaimana “gonjo” pada keris di Jawa. Bahwa sekiranya ada yang mampu me-mantera-i (paremma’) bilah pusaka itu, namun hanya salahsatu bagiannya yang dapat ditembus, sehingga masih ada 2 bagian lainnya yang harus ditembusnya.
Misalnya bagian pamor atas yang terkena mantra, masih ada mata (baja) dan oti’ (ujung pangkal) yang terpotong oleh garEno yang tetap menjadi “milik” To TappiEngngi (orang yang membawanya).
Bahwa memiliki pusaka pada hakekatnya memiliki bilah nasehat yang memadukan antara ikhtiar dan harapan. Pamor, ketandaan, Sisi’ (ulempuleng, batu lappa, ure’tuo, sippa sikadong, salo’bakka, sumpampuaja, pappeddEapinna, dll) dan Laca (model) semuanya ditempa dengan diawali permohonan doa kepada Sang Maha Pencipta.
Olehnya itu, tiada yang sempurna selain Sang Maha Pencipta sendiri, termasuk uraian ini yang tentunya memungkinkan ada khilaf didalamnya. Untuk itu dimohonkan petunjuk dan perbaikan agar membuahkan manfaat. Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)





















