27 C
Makassar
Oktober 6, 2026, 11:07 pm

Naskah Sendratari “Perjuangan Andi Maruddani Karaengta Bonto-bonto Melawan Belanda”

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

ETTAPEDIA.ORG – Naskah Sendratari ini sengaja ditulis khusus untuk rencana ditampilkan pada malam ramah tamah perayaan Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-79 yang akan dipentaskan oleh Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Kabupaten Pangkep.

Berikut ini Naskah Sendratari “Perjuangan Andi Maruddani Karaengta Bonto-bonto Melawan Belanda”

Ee hee … heee …. //Luttu matengnga bitara

Teppa risaliweng langi //Sissi maka ampunoengngi 

Cippaga bellang matae //Luttukko teppada luttu 

Labakkang dalam Tahun 1815, I Maruddani dilahirkan. Tobarani yang telah lama dinantikan kehadirannya. Masyarakat Labakkang menyambut kelahiran Anak Karaeng Labakkang XIV ini dengan penuh suka cita. Masyarakat riang gembira mempersembahkan tari pakurru sumange’.

Inilah kelahiran putra I Baso La  Ida Daeng Tiro Karaengta Kaluarrang dari hasil perkawinan dengan We Sanapipa Petta Ati, putri dari La Makkulau Arung Mampu, yang merupakan keturunan dari La Patau Matanna Tikka Matinroe’ ri Nagauleng Raja Bone ke-16.

Di masa kanak-kanak, I Maruddani dibawa ibunya ke Bone, untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Dengan harapan kelak, dapat membantu sang kakak, I Calla Daeng Muntu Karaengta Ujung Karaeng Labakkang menjalankan roda pemerintahan.

Inilah La Maruddani, sekembalinya dari Bone, digelari Karaengta Bonto-bonto. Jiwa pembelaannya terhadap rakyat tercermin dari sifat dan karakternya yang pemberani, bernyali tinggi dan keras hati. La Maruddani tak terima Belanda mengontrol kuasa kekaraengan di Labakkang, memonopoli perdagangan, dan menetapkan pajak tinggi yang menyengsarakan rakyat.

Adegan Perang 1

La Maruddani bangkit melakukan pemberontakan dan menggalang kekuatan rakyat.  dan … terjadilah perang melawan pasukan Belanda di Kampung Jawayya untuk pertama kalinya.  Pasukan La  Maruddani merangsek dan berhasil berhasil memukul mundur Pasukan Belanda.

Jeda – Rakyat beraktivitas

Adegan Perang 2

Tak terima kekalahan, Belanda melancarkan ekspedisi militer 2 Torokapayya untuk mengepung La Maruddani, namun upaya Belanda ini gagal total. Pasukan La Maruddani telah lebih dahulu menyingkir ke tempat yang lebih tinggi di daerah Bulo-bulo, wilayah Lamuru, di seberang Sungai Balang Baru.

Daerah-daerah perlawanan sekaligus pelarian La Maruddani di Maros menjadi target operasi militer Belanda: Camba-camba, Mallawa, Salu-salu, Turikale, Bantimurung, Pegunungan Maddo Lamuru, Pegunungan Manombong.

Jeda – Rakyat beraktivitas

Adegan Perang 3

Tanggal 26 Oktober 1873, pasukan La Maruddani Karaengta Bonto-bonto bekerjasama dengan pasukan La Sameggu Daeng Kalebbu menyerang detasemen Belanda di Warangparang, Padangpare.

September 1875, perlawanan La Maruddani Karaengta Bonto-bonto pecah di Bulu Cindea’. Belanda lari kocar kacir dan menderita banyak kerugian materil dan nyawa serdadunya.

9 tahun lamanya, La Maruddani gigih melawan Belanda sampai akhir hayatnya. La Maruddani wafat pada Tanggal 15 Desember 1887, dan tetap dikenang sebagai pejuang yang tak pernah kompromi dengan Belanda.

Ungkapan La Maruddani yang terkenal sebelum wafatnya:

Punna Sallang ri Aheraka Assigappa Balandayya, ri Aherapa Sallang Naku Bunduki seng Balandayya

Merdeka

Sekali Merdeka Tetap Merdeka!!!

 

 

Closing Statement:

Demikianlah Persembahan Sendratari “Perjuangan La Maruddani Karaengta Bonto-bonto Melawan Belanda”, dari Kami Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan Kabupaten Pangkep mengucapkan Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ke-79, “Nusantara Baru, Indonesia Maju”.

Terima kasih kepada Bidang kebudayaan Diknas Pangkep dan Lembaga Adat Labakkang yang mendukung Persembahan Sendratari ini.

Semoga Kisah Perjuangan La Maruddani Karaengta Bonto-bonto ini kelak dapat menjadi salah satu bahan pengusulan beliau sebagai Pahlawan Nasional dari Pangkep.

Salamaki Tapada’ Salama’.

 

(****)

Sumber:

  • Wikipedia, klik DISINI
  • M. Farid W Makkulau, “Sejarah dan Kebudayaan Pangkep” (Pemkab Pangkep, 2007)

 

Tentang Penulis: 

(* Muhammad Farid Wajdi, adalah juga M. Farid W Makkulau, Ketua I Dewan Kesenian dan Pemajuan (DKPK) Kebudayaan Pangkep, kerap menggunakan nama pena Etta Adil dalam banyak tulisan terpublikasi tentang Sastra dan Budaya Daerah.

(** Ungkapan La Maruddani ketika ditanya tentang Perlawanannya terhadap Belanda.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga