Oleh: Abdur Rahman Hamid
ETTAPEDIA.ORG – Prof Dr Mattulada lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan pada Tanggal 15 November 1928. Nama kecilnya, Mattola Adeq (b. bugis: mattola berarti melanjutkan, meneruskan, atau mengemban, sedang adeq berarti adat) diberikan oleh ayah Andi Palellungi, seorang kepala adat di tanah kelahirannya, dengan harapan kelak menjadi pengemban adat sebagaimana latar kehidupan ayah dan kakeknya.
Setelah menamatkan pendidikan pada Schakel School (setingkat SD) di Bantaeng (1942), Mattulada hijrah ke Kota Makassar untuk melanjutkan studi pada SMP Nasional (tamat Tahun 1946), ditengah situasi keamanan dalam negeri yang tidak stabil. Karena situasi itulah, Mattulada bergabung dalam tentara pelajar (1945-1950) dengan pangkat terakhirnya adalah Letnan. Kendati demikian, ia tetap menyelesaikan pendidikan SMA-nya di Kota Makassar.
Pada Tahun 1950-1955, Mattulada diangkat menjadi Ajudan Inspektur dan bertugas di Dinas Pengawasan Keamanan Negara (DPKN). Dalam masa ini, ia menikah dengan Asia Ressang pada 15 Mei 1953. Empat tahun kemudian, 1957, ia menamatkan studi Akta Pendidikan Guru SLA. Dalam tahun ini pula berhasil memperoleh ijazah B-I bidang Ilmu Hukum. Berbekal tiket mengajarnya itu, Mattulada menjadi Guru pada SMA Negeri 1 Makassar (1956). Dan atas prestasinya itu, dipercaya menjadi Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Makassar, dan selanjutnya memimpin SMA Negeri 1 Makassar.

Motivasi belajar Mattulada sangat tinggi dan giat dalam upaya memajukan pendidikan tinggi di Kota Makassar. Seiring dengan diresmikannya pendirian Universitas Hasanuddin (UNHAS) oleh Wakil Presiden RI, Mohammad Hatta pada Tanggal 10 September 1956, Mattulada tercatat sebagai mahasiswa angkatan/alumni pertama Fakultas Sastra UNHAS (1964). Setelah tamat, Mattulada diangkat menjadi dosen di almamaternya. Dua tahun kemudian dipercaya sebagai Dekan Fakultas Sastra UNHAS (1966-1970). Di antara periode itu, Mattulada mengikuti Post Graduate Training di Rijks Universiteit Leiden (1970-1972). Setelah kembali, beliau diangkat lagi menjadi Dekan untuk kedua kalinya sampai Tahun 1976.
Pada Tahun 1975, dibawah bimbingan Prof Dr Koentjaraningrat, Bapak Antropologi Indonesia, Mattulada berhasil menyelesaikan pendidikan Doktornya di Bidang Antropologi Universitas Indonesia (UI) Jakarta, dengan Disertasi Latoa – Suatu Lukisan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Karya ini merupakan magnum opus Mattulada, dan dikukuhkan sebagai “Penghulu Adat Sulawesi Selatan”. Sesungguhnya, pada titik inilah sudah bersemai harapan orangtua kepadanya, sebagai pelanjut, penerus dan pengemban adat.

Perhatian besarnya terhadap masalah kebudayaan mengantarkannya menduduki posisi Direktur Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial di Makassar (1977-1978). Pada tahun yang sama menjadi Guru Besar Tamu pada The Center for South Asian Studies, Kyoto University, Jepang dan sempat pula menulis buku Pedang dan Sempoa dan Sejarah Kebudayaan dan Perasaan Kepribadian Orang Jepang. Setelah kembali ke Tanah Air, Mattulada diamanahkan menjabat Rektor Universitas Tadulako Palu, Sulawesi Tengah (1981-1990). Momen itu terbukti mendekatkannya pada oase budaya lokal, lewat buku yang ditulisnya To Kaili, Manusia dan Kebudayaan di Sulawesi Tengah.
Beberapa karya bukunya antara lain: Pre-Islamic South Sulawesi (1951), Kebudayaan Bugis Makassar (1974), Islam di Sulawesi Selatan (1976), Kepemimpinan dalam Masyarakat Makassar (1977), The Spread of The Buginese in South East Asia (1978), Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah (1982), Lingkungan Hidup Manusia (1994), Human Ecology (1994), Sketsa Pemikiran tentang Kebudayaan, Kemanusiaan dan Lingkungan Hidup (1997), Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (1998).

Anggota MPR RI (1987-1992) ini sejak Oktober 1990 kembali ke almamaternya dan diamanahi Ketua Senat Guru Besar UNHAS sampai Tahun 1994. Empat tahun kemudian, 1998, mendapat penghargaan bidang Pelopor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dari Presiden RI, B.J. Habibie, juga dianugerahi Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma (2000). Selain itu, karena latar belakangnya sebagai prajurit, mendapat sejumlah penghargaan, antara lain: Tanda Jasa Pahlawan (Bintang Gerilya) dari Presiden RI, Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan dari Menteri Pertahanan RI, Satya Lencana Operasi Militer III dari Menteri Pertahanan RI, dan Veteran Pejuang Kemerdekaan RI.
Mattulada adalah satu dari tiga budayawan Sulawesi Selatan (Prof Dr Andi Zainal Abidin Farid dan Drs H.D. Mangemba) yang menentang perubahan nama Makassar menjadi Ujungpandang pada Tahun 1971, lewat Petisi 17 Juli 1976. Prof Mattulada wafat pada 12 Oktober 2000, “Pendekar Budaya” Sulawesi Selatan ini telah menorehkan tinta peradaban bagi bangsa dan negara tercinta, secara ilmiah kepada khalayak dan amal ibadahnya kepada Sang Khalik. Selamat Jalan To Acca Panrita Sulesana, orang pandai, cendekiawan yang bijaksana.
(* Disarikan dari berbagai sumber oleh Abdur Rahman Hamid, Sumber: Latoa–Antropologi Politik Orang Bugis, h. 655-657, Penerbit Ombak, Yogyakarta: 2015.





















