Oleh: Etta Adil *)
Related Post: Mengenal Taman Arkeologi Leang-Leang Maros
ETTAPEDIA.ORG – Taman Arkeologi Leang-leang Maros bukanlah tempat biasa, di situs ini tergambar mengesankan eksotisme Leang-leang yang menyimpan lukisan purba manusia prasejarah ribuan tahun lalu. Disinilah penulis membawa para santriwati menikmati jejak purba manusia Sulawesi.
Di Leang-leang, pada akhirnya menjadi pilihan tepat tempat mengekspresikan jiwa seni yang tumbuh para santriwati yang dibawa menari “tari mappadendang”. Disini, mereka tampil malebbi dan memukau, mencoba mengungkap makna tari mappadendang dan menghubungkannya dengan keindahan jejak peninggalan prasejarah yang kini menjadi warisan dunia tersebut, sebagai geopark, dan sebagai warisan dunia (world heritage).
Di Leang-leang ini pula, penulis mencoba menuliskan satu puisi untuk merekam perjalanan mengakrabi jejak peninggalan purba dan memaknai Mappadendang lewat puisi, “Mappadendang di Leang-leang”. Inilah puisinya:
Mappadendang di Leang-leang
Di kaki karst yang menjulang sunyi,
angin purba masih berbisik lirih
dari dinding-dinding batu
di Taman Arkeologi Leang-Leang—
tempat telapak tangan manusia prasejarah
abadi menembus ribuan tahun.
Lukisan merah itu
bukan sekadar warna pada batu,
melainkan napas zaman
yang pernah menyalakan api kehidupan
di rahim bumi Sulawesi.
Di lorong gua yang lembap dan teduh,
waktu seperti berhenti berjalan.
Karst berdiri bagai penjaga ingatan,
menyimpan kisah pemburu purba,
doa-doa awal manusia,
dan jejak seni pertama peradaban.
Lalu pagi pun datang
membawa langkah para santriwati
berbalut anggun dan sopan—
malebbi dalam sikap,
malebbi dalam gerak,
malebbi dalam cahaya wajahnya.
Mereka menari.
Lesung ditabuh bertalu-talu, dalam rekaman musik
yang menggema ke dinding gua,
menyatu dengan suara burung,
dengan desir angin karst,
dengan gema ribuan tahun silam.
Itulah Tari Mappadendang,
tarian syukur masyarakat Bugis-Makassar
atas panen yang melimpah,
simbol persatuan, kerja bersama,
dan kegembiraan yang tumbuh dari tanah.
Kibasan kipas para penari anggun menata gerak
menghasilkan irama yang hidup—
seolah membangunkan kembali
jiwa seni nenek moyang
yang pernah melukis dinding batu
dengan tangan sederhana
namun dengan jiwa yang agung.
Santriwati itu menari
bukan hanya dengan tubuh,
melainkan dengan sejarah
yang mengalir di darah moyang mereka.
Gerak mereka menghubungkan masa:
antara manusia purba dan generasi kini,
antara lukisan cadas dan irama musik lesung,
antara warisan leluhur
dan masa depan kebudayaan.
Di hadapan gua purba itu,
Mappadendang menjelma doa:
bahwa tradisi tak boleh hilang,
bahwa seni adalah bahasa kemanusiaan
yang mampu hidup melampaui zaman.
Kini Leang-Leang bukan sekadar situs,
ia adalah jendela dunia—
bagian dari bentang karst
Geopark Maros-Pangkep
yang dijaga sebagai warisan bumi.
Dan ketika tarian itu usai,
gema tabuhan masih tinggal
di sela-sela batu purba.
Seakan manusia prasejarah di dinding gua itu
ikut menyaksikan
anak-anak zaman baru
menjaga nyala seni
agar tetap hidup
hingga ribuan tahun berikutnya.
(*)
Leang-Leang, Maros, 26 April 2026
(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Pemerhati Sosial Budaya




















