27 C
Makassar
Oktober 6, 2026, 11:58 pm

Ajatappareng: Riwayatmu Dulu

Oleh: La Oddang Tosessungriu

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ajatappareng dimaknai dari segi bahasa bugis berarti sebelah barat danau. Kemudian sekiranya dimaknai sebagai suatu kawasan (wilayah) persekutuan, maka dikenallah sebagai “LimaE ri Ajatappareng” (Lima Disebelah Barat Danau). Suatu aliansi regional yang mewujudkan suatu kekuatan politik yang disegani pada abad 15 di Sulawesi Selatan. Para kerajaan yang bersekutu itu adalah : Sidenreng, Sawitto, Suppa, Rappang dan Alitta.

Kelima kerajaan tersebut terletak disebelah barat Tappareng KarajaE (Danau Besar). Danau besar yang dimaksud sesungguhnya adalah suatu danau yang tergabung dari 3 wilayah kerajaan, yakni: Danau Tempe (Wajo), Danau Batu-Batu (Soppeng) dan Danau Sidenreng sendiri.

Danau ini merupakan suatu genangan air yang menjadi muara dari hulu sungai di wilayah pegunungan Massenrengpulu (Maiwa, Enrekang, Duri, Kassa’ dan Batulappa) di sebelah utara dan pegunungan Nepo disebelah barat serta pegunungan Soppeng di sebelah selatan. Maka pada sebelah barat danau besar inilah terhampar kawasan Ajatappareng hingga pesisir selat Makassar, teluk Parepare hingga sebagian menuju ke teluk Mandar.

Penduduk kawasan Ajatappareng pada umumnya merupakan masyarakat yang berbahasa bugis. Mata pencahariannya adalah petani, pekebun, nelayan danau, nelayan pantai, tukang kayu, pandai besi, pandai emas dan lainnya. Adapun masyarakat lainnya yang berbahasa selain Bugis adalah pada penduduk Kerajaan Sawitto sebelah utara, yakni : LEtta yang berbahasa Pattinjo atau kerap disebut pula sebagai bahasa LEtta sendiri.

Kemudian pada 2 wilayah Kerajaan Sidenreng yang terletak di Tanah Mandar, yakni : Tonyamang dan Binuang adalah masyarakat berbahasa Mandar. Sementara pada perbatasan Kerajaan Sidenreng sebelah utara, yakni BEtao dan Barukku didapati masyarakat berbahasa setempat yang merupakan percampuran Bahasa Bugis dan EnrEkang.

Ajatappareng sebagai suatu kawasan yang kemudian mengkristal menjadi suatu wilayah persekutuan LimaE ri Ajatappareng pada awal Abad 16, bagaimanapun adalah suatu kawasan strategis yang amat diperhitungkan oleh setiap kekuatan politik disekitarnya hingga 4 abad berikutnya.

Selain sebagai lumbung beras yang mensuplai kebutuhan pangan kerajaan-kerajaan sekitarnya hingga mengekspornya ke pulau Kalimantan, juga merupakan titik sentral yang mempertemukan aliansi-aliansi kerajaan serupa seperti halnya TellumpoccoE (Bone, Wajo dan Soppeng)dan MassEnrEmpulu (Maiwa, Duri, EndEkang, Kassa’ dan Batulappa).

Kedua aliansi kerajaan tersebut senantiasa memiliki ketergantungan pada pelabuhan Parepare sebagai pintu gerbang utama yang memperhubungkannya dengan kerajaan-kerajaan luar pulau Sulawesi. Sementara itu, Kota Pelabuhan Parepare sesungguhnya adalah titik sentral yang menjadi Kota Bersama dibawah kedaulatan persekutuan kerajaan LimaE ri Ajatappareng.

Sejak dideklarasikan pada awal Abad XVI, persekutuan LimaE ri Ajatappareng yang aktif menjalani percaturan politik menurut waktu dan ruang kesejarahannya, kawasan ini mengalami perubahan peta kawasan pada masa pemerintahan Gubernemen Hindia Belanda dalam kurun permulaan Abad 20. Namun sebelumnya, kawasan ini pernah pula mengalami kejayaannya dalam kurun waktu paruh ke-4 Abad XVII.

Maka roda waktu terus bergulir meninggalkan jejak yang dalam pada permukaan sejarah kawasan yang adalah salahsatu komponen bangsa ini. Melalui waktu dan kesempatan yang baik ini, maka jejak sejarah yang perlahan dan pasti telah tertutupi debu dan lumpur zaman tersebut digali kembali melalui diskusi publik ini.

II. PEMBAHASAN

a. Terbentuknya LimaE ri Ajatappareng

Sebelum terbentuk sebagai wilayah persekutuan, kelima kerajaan yang terletak disebelah barat Tappareng KarajaE sesungguhnya telah ada dan rajanya memiliki hubungan kekerabatan satu sama lainnya. Pada lembaran 42 Lontaraq Akkarungeng Luwu, perihal simpul kekerabatan raja-raja tersebut diuraikan sebagai berikut:

“Ripauwi makkedaE // Lisunna dEnrE ri Luwu WE Tappacina // Jajiyanni ana’ orowanE duwa // SEuwwa riyaseng TowappanangE // Nayi paccucuwangngE yina makkarung ri Kawu-Kawu // Yina lisu lao ri Mancapai mabbawinE // Wijannana mpukke’i akkarungengngE ri Ajatappareng “.

(Dituturkan kemudian // Sekembalinya WE Tappacina ke Luwu // Melahirkanlah dua anak lelaki // Seorang diantaranya dinamai TowappanangE // Adapun yang bungsu, inilah yang dinobatkan menjadi Raja di Kawu-Kawu // Inilah yang kembali ke Mancapai untuk beristeri // Turunannyalah yang membuka Negeri di Ajatappareng).

Bahwa sesungguhnya We Tappacina yang disebutkan diatas adalah permaisuri Anakaji Pajung Luwu IV yang hidup dalam kisaran akhir Abad XIII. Keterangan ini dikuatkan pula oleh kronik terbentuknya Kerajaan Belawa, dimana disebutkan bahwa La WEwangriu Arung Belawa I sesungguhnya adalah putera ke-6 atau adik bungsu dari ke-5 Raja yang kelak mempersekutukan kerajaannya sebagai LimaE ri Ajatappareng.

Tinjauan lain terdapat pula pada Lontaraq Akkarungeng Sidenreng yang mengemukakan perihal ketokohan seorang eksplorer sejati, yakni : La BungEnge’ ManurungngE ri Bacukiki. Pada kurun masa yang sama dengan kemunculan Manurung di Soppeng dan Bone dalam paruh pertama Abad XIV, pada sebuah pemukiman pesisir teluk Parepare bernama Bacukiki, terbit pula seorang To Manurung.

Tokoh yang digambarkan muncul secara luar biasa bersama perangkat perlengkapannya yang terbuat dari emas berkilauan beserta dengan ketujuh Istananya pada tempat lain bernama “Cempa”. Manusia dewa tersebut dinamai : ManurungngE ri Bacukiki. Sosok yang berbeda dengan To Manurung di Tana Bone dan Soppeng atau pada kronik To Manurung lainnya, bahwa beliau diketahui langsung memiliki “nama”, yakni : La BungEnge’ (La BangengE), namun tetap saja tidak diketahui dari mana asal usulnya.

Demikian pula dengan alur kisah selanjutnya, To Manurung yang satu ini tidak menetap di kawasan dimana ia manurung (diturunkan ?). Beliaupun tidak disambut dengan ikrar kesetiaan oleh para tetua negeri dimana ia diketahui telah muncul (Bacukiki). Puetta ManurungngE bahkan kemudian melakukan perjalanan ke utara hingga bertemu dan menikahi Tomanurung Perempuan bernama : WE Teppulinge’ ManurungngE ri La Waramparang (Suppa).

ManurungngE ri Bacukiki adalah seorang eksplorer, sekaligus seorang visioner. Beliau tidaklah serta merta menjadi Raja ditempat dimana ia manurung dan juga pada negeri dimana ia mempersunting Tokoh Manurung setempat. Beliau melakukan pengembaraan seputar kawasan LimaE ri Ajattappareng untuk mencari kawasan potensial bagi kehidupan anak turunannya dan pengikut-pengikutnya.

Hingga perjalanannya tiba pada suatu negeri yang ia namai Sawitto dimana beliau menjadi Addatuang Sawitto I. Pada generasi berikutnya yakni dari pernikahannya dengan We Teppulinge’, terlahirlah La Teddunglompo Datu Suppa I yang merangkap Addatuang Sawitto II.

La Teddunglompo dinikahkan dengan We Patoli Arung CEmpa, melahirkan:

1. We Poncing Arung Arung Parangki;

2. We Massi;

3. La Bula Arung Bojo;

4. La Bongo Arung NEpo;

5. La Tuwa Arung Palanro;

6. We Sumang Arung Bacukiki;

7. La PutEbulu LEmbanna Mallali’E Addatuang Sawitto (Datu Suppa).

Putra ke-7 inilah yang dinikahkan dengan MatinroE Kannana ri Sidenreng, melahirkan : La PalEtEang To RisompaE Addatuang Sawitto. Hingga kemudian La PalEtEang dinikahkan dengan puteri Arung Lowa, melahirkan La Cella’mata Addatuang Sawitto. La Cella’mata dinikahkan dengan sepupu sekalinya, yaitu : We LampEwEluwa’ Datu Suppa (puteri MakkarawiE Datu Suppa), melahirkan : We Cella’ Arung Alitta I.

Adapun halnya kemudian adik La Teddunglompo yang bernama We Pawawoi To Panaungi Arung Bacukiki dinikahkan dengan SukkumpulawengngE Addaowang Sidenreng I. Pernikahan tersebut melahirkan La Batara Addaowang Sidenreng II. ManurungngE ri Bacukiki berhasil mewujudkan visinya dengan mendudukkan anak-anaknya sebagai Raja dan Ratu pada Negeri-negeri yang kemudian beraliansi dalam suatu persekutuan LimaE ri Ajattappareng.

Kawasan Persekutuan LimaE ri Ajatappareng sebagai suatu kenangan peninggalan sejarah mestilah memiliki kronology dan periode yang melatarbelakangi terbentuknya aliansi regional tersebut. Stephen Charles Druce (2005) mengemukakan pada thesisnya: “The analysis of the genealogis and oral tradition in chapter four suggest that it was in the early sixteenth century that Sawitto became allied with the four other Ajatappareng kingdoms” (The Lands West Of The Lakes : The History of Ajatappareng, South Sulawesi, AD 1200 – 1600, 2005 ; 296).

Analisa yang dikemukakan oleh Druce tersebut didasari dari penemuan situs dan artefak diseputar wilayah Suppa, Alitta dan Sawitto yang dikuatkan dengan keterangan masyarakat setempat dalam penelitiannya tersebut. Sejalan dengan pendapat tersebut, penulis menemukan beberapa keterangan dalam Lontara, antara lain disebutkan pada Lontara Sukkuna Wajo dan Lontara Atoreng Toriolo (inhoud lontara’ No. 130), dimana periode waktu berdirinya yakni pada awal abad 16.

Berbeda halnya dengan analisa Druce yang mendasari temuannya pada peninggalan arkeology, penulis mendasari analisa ini dari kronik kerajaan-kerajaan yang masuk dalam persekutuan tersebut. Bahwa terbentuknya suatu wilayah persekutuan kerajaan senantiasa kronologinya berawal dari situasi dan kondisi berat yang dialami kerajaan-kerajaan tersebut.

Sebagaimana halnya dengan penindasan yang dialami oleh Kerajaan Wajo oleh Kerajaan Gowa dalam kurun waktu penghujung abad 16, sehingga menggugah solidaritas Kerajaan Bone dan Soppeng. Kedua kerajaan bertetangga tersebut turun tangan membantu Kerajaan Wajo lalu membentuk suatu persekutuan TellumpoccoE (Tiga Penuh) dalam suatu piagam perjanjian bernama LamumpatuE ri Timurung (penanaman batu di Timurung) pada tahun 1582.

Pada penghujung abad sebelum terbentuknya persekutuan TellumpoccoE di kawasan timur dan selatan Tappareng KarajaE (Danau Besar) tersebut, terjadi peperangan besar antara kerajaan Sidenreng dengan Kerajaan Luwu. Peristiwa itu diabadikan Lontara Wajo sebagai “Rirumpa’na SidEnrEng” (Penyerbuan Di Sidenreng).

Kemurkaan Datu/Pajung Luwu XVI yang bernama La Dewaraja To Sengereng Dangkelalik Petta MatinroE ri Bajo pada La Pateddungi Addaowang Sidenreng mencetuskan peperangan diantara kedua negeri besar yang berpengaruh itu. Peristiwa yang mengubah peta politik Sulawesi Selatan sejak itu melibatkan kerajaan-kerajaan sekitarnya. Kerajaan Luwu bersekutu dengan Kerajaan Wajo dibawah kuasa rajanya yang terkenal, yakni La Tadampare’ Puang Rimaggalatung Arung Matoa Wajo IV.

Adapun halnya dengan kerajaan Sidenreng sebagai pihak “bertahan” mendapat dukungan dari 4 kerajaan tetangganya, yaitu : Belawa, Rappang, Bulu Cenrana dan Otting. Maka untuk beberapa waktu mampu bertahan dari gempuran pasukan Luwu yang sebenarnya lebih besar. Namun pada akhirnya, perang besar tersebut berujung pada kekalahan dipihak Sidenreng beserta sekutunya.

Maka akibat dari kekalahan tersebut, Sidenreng dibawah taklukan Luwu dan keempat kerajaan sekutunya dilebur menjadi kerajaan bawahan Tana Wajo. Sebagai kerajaan yang kalah perang, Sidenreng mengalami masa keterpurukan selama beberapa waktu. Istana Addaowang Sidenreng yang bernama Sao LocciE dibakar dengan semena-mena oleh pihak Luwu.

Harta benda kerajaan Sidenreng dirampas dan yang paling utama adalah martabatnya yang terinjak-injak. Namun pendudukan pasukan Luwu dan Wajo pasca Ri Rumpa’na Sidenreng tersebut tidak berlangsung lama. Lontaraq Sukkuna Wajo (LSW) memberitakan bahwa pendudukan tersebut tidak berlangsung lama disebabkan selisih paham antara Arung Matoa Wajo La Tadampare’ dengan Datu Luwu La Dewaraja.

Selain itu, Datu Luwu beserta pasukannya bertolak menuju Kerajaan Bone untuk merebut kembali wilayah Cenrana. Alasan berbeda diuraikan pada Lontara Attoriolong Sidenreng, bahwa Addaowang Sidenreng yang dibantu oleh AnrEguru Arukkurung berhasil mengkonsolidasi lasykar Sidenreng yang tercerai berai lalu melancarkan serangan balasan pada pasukan Luwu dan Wajo.

Hal yang kemudian dimenangkan oleh pihak Sidenreng. Terlepas dari benar atau tidaknya salahsatu sumber yang berbeda tersebut, namun hikmah penyerbuan aliansi Luwu dan Wajo ke Sidenreng menggugah solidaritas ke-4 kerajaan kerabatnya yang lain untuk bersatu. Keempat yang lain itu adalah : Sawitto, Suppa, Rappang dan Alitta. Maka tampillah seorang tokoh cendekiawan yang merupakan penasehat utama Addaowang Sidenreng, yaitu: La Pagala NEnE Mallomo To PammulaiyyE DEcEng ri SidEnrEng.

La Pagala pada masa itu sesungguhnya adalah seorang cendekiawan muda. Uniknya, beliau adalah murid cendekiawan Luwu, yakni To Ciung To Tongeng MaccaE ri Luwu yang adalah penasehat utama Datu Luwu. Tokoh muda inilah yang berkat pandangan-pandangan ketatanegaraannya yang brilliant sehingga menginspirasi ke-5 Raja berkerabat untuk bersatu dalam satu kawasan politik bernama: LimaE ri Ajatappareng.

Pada Lontaraq Pau-Paunna Nene’ Allomo, diuraikan wejangan beliau kepada segenap raja Se-Ajatappareng yang baru dibentuk, sebagai berikut :

“Tania assiturusetta massilollong ri Yajatappareng enrengngE ri yajang Pammana

MallusE salo’E TanEtE ri wawo bulu matteddo Sikalla

Mangkau’ mawatang

MakkEulaweng sipurukeng

Sisumpun akkeda”

Artinya:

Bukanlah persetujuan kita bersama yang ikut serta di Ajatappareng dan disebelah barat Pammana

MallusE salo’E dan TanEtE ri Wawo serta Bulu Matteddo Sikalla

Untuk saling bertindak sewenang-wenang

Atau saling mengecoh dengan mengeruk keuntungan untuk negeri masing-masing

Serta saling berdebat.

Kemudian wejangan tersebut dikuatkan dengan ikrar:

“Tessitajengeng lilu // Rebba sipaoto’i // Malilu sipakainge’ // Mali siparappe’ // Siatutuiyangngi’ wanua /

/ Tessisappareng bola akkeanungngi // Temmattajengngi bicaraE ri Tanana sEajingna // Engkamui nalangengngi bola tudangna ri LangkanaE /

/ Napobicarai bicaranna ElE arawEng // Nakkuwa poada-adai assiturusetta massEajing // Palaloangngi bicara ri laletta /

/ Iyyana rapang tettabbuwangngi bicaraE // TennaElota tennatopa bicaratta // Pettu ri pappettui // Ritawa’ pettutoi”

Artinya:

Tidak saling menunggu kekhilafan // Jika jatuh saling membangunkan // Khilaf saling mengingatkan // Hanyut saling meraih // Saling menjaga negeri kita /

/ Tidak saling mencarikan rumah tempat berbuat kejahatan // Tidak saling mencampuri urusan keluarga masing-masing // Lebih baik diberikan tempat tinggalnya di Istana /

/ Untuk saling menerapkan hukum aturan masing-masing dari pagi hingga sore // Serta disana pulalah dipertemukan pendapat secara kekeluargaan // Saling mengeluarkan pendapat menurut pemikiran masing-masing /

/ Maka itulah pedoman yang tidak menjatuhkan peraturan // Bukan kehendak kita // Bukan pula peraturan kita yang telah diputuskan itu // Keputusan yang telah dibagi bersama)

b. Ajattappareng Pada Masa Syiar Agama

Sebelum mengenal agama Samawi, masyarakat Ajatappareng meyakini Kepercayaan Attoriolong (leluhur) dengan memuja Roh-roh gaib yang menitis pada benda maupun mahluk hidup. Maka kepercayaan ini dapat digolongkan sebagai animisme. Hingga pada tahun 1544, seorang saudagar dan misionaris berkebangsaaan Portugis bernama Antoino de Payva telah tiba di Kerajaan Suppa.

Beliau berteman baik dengan raja-raja Ajatappareng, khususnya Datu Suppa, Arung Bacukiki, Arung Alitta dan Addatuang Sawitto. Para raja itu tertarik untuk masuk agama Katolik. Maka pada tahun 1545, atas rekomendasi De Payva, didatangkanlah seorang pastor bernama P. Vincente Viegas dari Malaka untuk membaptis Raja-Raja itu. Selanjutnya raja-raja tersebut dibaptis dan berganti nama.

La MakkaraiE Datu Suppa diberi nama baptis Don Joao. Istrinya diberi nama Dona Archangela. Adapun Arung Alitta yang merupakan saudara ipar Datu Suppa diberi nama Don Emanuel. Namun perkembangan agama ini tidak berlangsung lancar sebagaimana diharapkan De Payva.

Sebuah insiden terjadi antara keluarga Arung Bacukiki dengan kapten kapal Portugis yang berlabuh di muara sungai Salo KarajaE. Kapten tersebut menculik salah seorang puteri Arung Bacukiki lalu dibawanya menuju Portugis. Peristiwa tersebut kemudian menimbulkan sikap antipati para kerabat raja-raja Se-Ajatappareng pada bangsa Eropa yang pada imbasnya berpengaruh besar terhadap perkembangan agama Katolik di kawasan ini.

Pada awal abad XVII, yakni sekitar tahun 1600 M Sulawesi Selatan dikunjungi oleh ulama-ulama besar yang merupakan muballiq-mubaliq pengemban syiar risalah Islam dari Minangkabau (Sumatera Barat). Mereka terdiri dari 3 orang, yakni :

1. Abdul Makmur Khatib Tunggal yang bergelar Datok ri Bandang;

2. Sulaiman Datok Sulung yang digelari Datok Patimang;

3. Abdul Jawad Maulah Khatib Bungsu bergelar Datok Tiro.

Atas rekomendasi Raja Gowa dan Mangkubuminya, ketiga muballig tersebut memulai syiarnya ke Kerajaan Luwu. Hingga kemudian La Patiware Sangaji Daeng Parambong Datu (Pajung) Luwu bersama rakyatnya mengucapkan Dua Kalimah syahadat tnggal 15 Ramadhan 1013 Hijriah (1603 M).

Baginda selaku Raja Islam diberi tambahan gelar, yakni: Sultan Muhammad Mudhoruddin (Muthoharuddin ?) serta ditambah lagi sebagai Petta MatinroE ri Ware’na Pattimang setelah wafatnya. Setelah sukses menegakkan syiarnya di Luwu, maka dalam waktu tidak terlalu lama Sombayya Gowa bernama I Mangngarangi Daeng Mangrabia Somba ri Gowa XVI (gelar: Sultan Alauddin).

Sementara, KaraEng Tallo I Malingkaan Daeng Manyonri juga diberi gelar Islam Sultan Abdullah Awwalul Islam, bersama segenap kerabat istana Gowa-Tallo turut mengucapkan Syahadat pada hari Jum’at, 9 Jumadil Awal 1015 Hijriah (22 September 1605 M). Maka terpenuhilah langkah-langkah strategi sebagaimana direncanakan sebelumnya. Gowa sebagai kerajaan paling kuat, dijadikan sebagai pusat penyebaran syiar Islam ke kawasan Kerajaan TellumpoccoE (Bone, Wajo dan Soppeng) dan Ajatappareng dibawah pimpinan Sultan Alauddin Somba Gowa sendiri.

Tidak seperti halnya dengan jalannya misi ke Luwu dan Gowa, maka penyebaran Islam pada ketiga Negeri Bugis terbesar tersebut mendapatkan tantangan berat. Dapat dimaklumi bahwa penyebab penolakan tersebut, adalah karena urusan syiar Islam ini melibatkan Sombayya Gowa sendiri secara langsung. Dengan demikian, ketiga kerajaan tersebut beranggapan bahwa menerima Islam berarti takluk terhadap kekuasaan Gowa yang pada waktu itu kerapkali mengadakan invasi.

Lain halnya dengan Kerajaan Bone, La Tenri Ruwa Arung Palakka Mangkau ri Bone XI dapat melihat kebenaran Islam sebagai agama yang benar serta mengucapkan Kalimah Syahadat dengan penuh keikhlasan dengan gelar Sultan Adam. Namun rakyat Bone melalui Ade’ PituE menolak dengan memberi opsi pada Mangkau’E, “tEgae tapilE, Akkarungetta iyarE’ga Teppe’ta?” (Artinya: Yang mana anda pilih, Tahta atau Agama?)

Maka dengan tanpa keraguan sedikitpun baginda memilih agamanya, lalu bersama dengan kerabat dekatnya mereka meninggalkan Tana Bone menuju BantaEng dan menetap di negeri itu sampai wafat nya sehingga digelari : Petta MatinroE ri BantaEng.

Adapun halnya dengan La Sangkuru Patau MulajajiE Arung Matoa Wajo, BEoE Datu Soppeng serta La Tenri Pale’ Mangkau ri Bone XII (pengganti La Tenri Ruwa) bersiap-siap menyambut serbuan bala tentara kerajaan Gowa sebagai akibat penolakan mereka terhadap ajakan Somba Gowa.

Maka penyerbuan itu benar-benar dilaksanakan oleh kerajaan Gowa. Peperangan ini disebut dalam Lontara, sebagai: Musu Sellenge’. Sebagai langkah awal, pasukan Gowa terlebih dahulu menyerbu kerajaan-kerajaan kecil disekitar ketiga kerajaan persekutuan itu.

Namun banyak dari kerajaan-kerajaan itu menerima Islam dengan damai, sehingga tidak terjadi peperangan. Bahkan lebih jauh lagi mereka bergabung pada ekspedisi yang dipimpin langsung Raja Gowa sehingga pasukan itu terhimpun menjadi pasukan yang amat besar. Pasukan ekspedisi itu akhirnya tiba di Sawitto. Addatuang Sawitto ke-IX bernama I Tenri PassullE Daeng BulaEng menerima baik Sombayya Gowa dan secara tulus ikhlas menerima Agama Islam pada tahun 1017 Hijriah (1607 M).

Di daerah Sawitto, Sultan Alauddin mengatur strategi ekspedisi lebih lanjut ke negeri lainnya. Akhirnya pasukan aliansi Gowa bertemu dengan pasukan TellumpoccoE di Kampung Pakkennya.  Terjadilah pertempuran besar yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa pada kedua belah pihak.  Setelah bertempur selama beberapa hari, pasukan Gowa mulai terdesak.

Pasukan TellumpoccoE menyerang semakin gencar, sehingga orang-orang Gowa beserta sekutunya berusaha meloloskan diri sambil membawa Sombayya untuk tiba dengan selamat di Gowa. Tiga bulan setelah penyerbuan yang gagal itu, Sultan Alauddin menyusun kekuatan kembali. Baginda mendaratkan pasukannya di AkkotEngeng (wilayah Wajo) dan mendapatkan sambutan baik.

Arung AkkotEngeng menerima Islam dan memihak Sombayya Gowa, menyusul Arung Akkajeng, Arung PadaElo, Arung KEra dan Arung Sakkoli. Sejak itulah sehingga kerabat ke-5 Kerajaan bawahan Wajo tersebut menggelari bangsawannya sebagai : Petta KaraEngngE sebagai penghargaan atas budi baiknya terhadap sombayya Gowa.

Mengetahui kejadian tersebut, Arung Matoa Wajo mengirim utusan untuk menegur negeri-negeri bawahannya yang dipandang melakukan penghianatan sambil mengingatkan ikrar yang sejak dulu dibina sejak Arung Matoa La Tadampare’ Puang ri Maggalatung. Namun mereka menjawab, : ” dEwata sEuwwaEna passarangngi’, nasaba’ engka akkacoEreng mannessa tongeng, napputEa Wajo maccoEri…” (Tuhan Yang Maha Tunggal jua Yang memisahkan, karena ada risalah yang mutlak kebenarannya, namun orang-orang Wajo tak mau mengikutinya…) .

Semalam setelah utusan Wajo tiba dari Sakkoli, pasukan gabungan TellumpoccoE menyerbu pasukan Gowa di AkkotEngeng. Terjadilah pertempuran sengit, namun kembali pasukan Gowa terpukul telak. Sultan Alauddin nyaris tertangkap andai tidak mendapat bantuan dari La Wawoi Arung Gilireng bersama pasukannya, meloloskan baginda beserta sebagian pasukannya yang masih hidup kembali ke Gowa.

I Manggurangi Daeng Mangrabia Sultan Alauddin adalah sosok seorang Raja yang amat keras hati dan pantang menyerah terhadap apapun yang menghambat segala yang telah direncanakannya. Enam bulan berlalu setelah kekalahannya di Wajo, baginda kembali menyusun penyerangan dan mendaratkan pasukannya di daerah Para’-Para’ (Parepare).

Pendaratan itu diketahui oleh TellumpoccoE dan segera mencegatnya di lereng Bulu SituppuE (daerah sekitar Amparita). Maka terjadilah pertempuran yang dahsyat mengakibatkan gugurnya pimpinan pasukan Soppeng, diantaranya adalah : La Tijawa Arung Bila. Pasukan TellumpoccoE terpukul mundur sampai di Lalempulu (wilayah Sidenreng).

Melihat pasukan lawannya mundur meninggalkan medang perang, maka Sultan Alauddin segera membangun pertahanan di daerah itu sambil mengkolidasi kembali pasukannya. Tersebutlah tiga raja bersaudara, yakni : La Patiroi Addatuang Sidenreng, La MakkeppEang To Aggiling Arung Belawa Timoreng dan La Wawoi Arung Gilireng.

Mengetahui bahwa Sultan Alauddin Somba Gowa sedang membuat basis pertahanan di Amparita, maka mereka berkumpul di Allakuang (Allekkuang) yang merupakan Kotaraja Sidenreng pada masa itu. Perlu dikemukakan bahwa ketika Sultan Alauddin berada di AkkotEngeng pada masa penyerangan yang lalu, La Wawoi Arung Gilireng merupakan salah seorang raja yang tertarik dengan ajaran Islam yang dibawa Sombayya.

Hal yang menyebabkan baginda tidak dapat berdiam diri ketika mengetahui Sombayya sedang terkepung oleh pasukan TellumpoccoE. Baginda memimpin lasykar Gilireng segera menerjungkan diri dikancah pertempuran untuk menyelamatkan Sultan Alauddin. Walaupun itu berarti merupakan sebuah penghianatan atas ikrar penyatuan Gilireng sebagai Lili (taklukan) Wajo dimasa La Tadampare’ Puang ri Maggalatung.

Akhirnya Sultan Alauddin berkunjung ke Saoraja Allakuang, disambut dengan penuh hormat oleh raja-raja yang menunggu baginda, yakni: Addatuang Sidenreng (selaku tuan rumah). Arung Belawa, Arung Gilireng, Arung Rappeng, Arung Maiwa, Arung Bulu Cenrana dan Arung Utting. Pada saat itulah ketiga raja bersaudara dan raja-raja lainnya mengucapkan Dua Kalimahsyahadat bertepatan pada tahun 1018 Hijriah (1608 M).

Atas usul La Patiroi Addatuang Sidenreng, maka Sombayya membangun benteng pertahanan di Rappeng. Berselang beberapa lama setelah itu, Pasukan TellumpoccoE menyerang dengan kekuatan pasukan gabungan yang membanjir melanda Benteng pertahanan di Rappeng. Namun aliansi pasukan Islam dibawah pimpinan Sultan Alauddin lebih siap dengan strategi pertahanan yang lebih terkoordinasi. Maka pasukan penyerang dapat dipukul mundur kembali ke negerinya masing-masing.

Dua bulan setelah peristiwa itu, pasukan Gowa beserta segenap sekutunya menyerbu pusat pertahanan pasukan Soppeng di Tanete (Marioriawa). Kali ini, Pasukan Soppeng tidak mendapat bantuan dari Pasukan Wajo dan Bone karena mereka sibuk mengatur basis pertahanannya masing-masing. Akhirnya tidak bisa tidak, kekuatan Pasukan TellumpoccoE kini telah pecah. Maka dalam waktu kurang lebih 1 bulan, negeri-negeri bawahan Soppeng satu demi satu ditaklukkan.

Hingga pada suatu pertempuran habis-habisan yang menelan banyak korban jiwa pada kedua belah pihak, Negeri Soppeng harus menyatakan kalah perang pada Gowa dan sekutunya. Datu Soppeng BEoE menerima agama Islam dan mengucapkan kalimah syahadat pada tanggal 15 Syawal 1019 Hijriah (1609 M).

Setelah kerajaan Soppeng jatuh, maka satu bulan kemudian Tana Wajo pun diserang pasukan Gowa dengan kekuatan yang lebih besar daripada penyerbuan Soppeng. Hal itu disebabkan karena kali ini Pasukan Soppeng dipaksa untuk menyertai aliansi Gowa. Melalui pertempuran sengit dibawah pimpinan Arung Matoa sendiri, maka pertahanan Wajo bobol.

Akhirnya La Sangkuru Patau MulajajiE bersama segenap rakyat Tana Wajo menyatakan takluk dan mengucapkan kalimahsyahadat pada tanggal 15 Syafar 1019 Hijriah (6 Mei 1610 M) dengan tambahan tambahan gelar Islam Sultan Abdul Rahman serta Petta MatinroE ri Allepperenna ketika wafatnya.

Demikianlah, setelah kedua sekutunya telah dikalahkan, maka giliran Tana Bone diserang oleh aliansi Gowa beserta segenap pasukan kerajaan yang dikalahkannya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, akhirnya Tana Bone sebagai pertahanan terakhir TellumpoccoE terpaksa menyatakan takluk. La TenripalE’ Mangkau’ ri Bone beserta rakyatnya mengikrarkan Kalimahsyahadat pada tanggal 20 Ramadhan 1020 Hijriah (22 Nopember 1611 M).

c. Ajatappareng Pada Masa Penjajahan

Setelah Perang Makassar (1669) dinyatakan usai dan berujung pada Perjanjian Bungaya, maka masa tersebut dikatakan sebagai “Era Arung Palakka”. La Tenritatta Daeng Serang Petta MalampE’E Gemme’na mendeklarasikan suatu babak baru yang dikenal kemudian sebagai Tana Sempugi. Wilayah Tana Sempugi adalah meliputi Sulawesi Selatan, Barat dan Tengah.

Hingga kemudian orang Belanda menggelarinya sebagai : Koning der Buginezen (Raja Bugis) dan oleh orang Bugis menggelarinya sebagai : Petta TorisompaE Datu Tungke’na Tana Sempugi. Namun walaupun demikian, sesungguhnya terdapatlah tiga kekuatan politik yang saling bersaing pada penghujung abad 17 hingga memasuki abad 18. Prof. Mattulada (1998 ; 225) mengemukakan 3 kekuatan tersebut, sebagai berikut:

1. VoC Belanda, dibawah pimpinan Admiral Speelman;

2. Sekutu Bone – Soppeng, dibawah pimpinan Arung Palakka;

3. Sekutu Gowa – Wajo yang merasa tidak terikat perjanjian Bungaya.

Adapun halnya dengan LimaE ri Ajatappareng yang sesungguhnya terpecah diantara 2 pilihan untuk berpihak pada Arung Palakka dan Sultan Hasanuddin, pada akhirnya larut pada kekuatan kedua, yakni: Bone dan Soppeng.

Integrasi tersebut berkat peran La Soni KaraEng MassEpE dan La Todani Arung Bakke’ yang kemudian sempat menjadi Addatuang Sidenreng pada eranya masing-masing. Keduanya adalah panglima utama yang menyertai Arung Palakka sejak awal perjuangannya.

Kemelut tahta ArumponE pada bulan September 1672 pada akhirnya melibatkan La Soni KaraEng MassEpE Addatuang Sidenreng. Kedekatannya dengan La PakkokoE Arung Timurung yang menggalang suatu kekuatan pemberontakan atas kekuasaan Arung Palakka sebagai ArumponE XIV dipandang sebagai suatu dukungan.

Beliau dicap sebagai pemberontak sehingga Arung Palakka mengerahkan pasukan berkekuatan 20.000 personel dibawah pimpinan La Todani Arung Bakke’ menyerbu Massepe. Wilayah Ajatappareng luluh lantak akibat penyerbuan itu, namun Addatuang Sidenreng La Soni KaraEng MassEpE sekeluarga dapat meloloskan diri ke wilayah MassEnrEmpulu.

Dari wilayah pegunungan itulah beliau dan rombongannya menuju ke wilayah Toraja melalui Tana Duri. Hingga pada suatu ketika, ketika perjalanannya melewati suatu hutan belantara di wilayah pegunungan itu, KaraEng MassEpE dan saudara-saudaranya disergap pasukan Arung Palakka. Pada tempat itulah beliau gugur dan kepalanya ditebas untuk dihadapkan pada Arung Palakka.

Sebagai pengganti Addatuang Sidenreng La Soni KaraEng MassEpE, ditunjuklah La Todani Arung Bakke’. Beliau adalah sosok pemimpin yang kharismatik dan berkepribadian kuat. Sejak menjadi Addatuang Sidenreng yang baru, beliau pula dikukuhkan sebagai Arung Rappang, Datu Suppa, Addatuang Sawitto dan Arung Alitta. Kekuasaan dan ketenarannya semakin bersinar sehingga kemudian beliau pula dikukuhkan sebagai Arung LEtta.

Olehnya itulah sehingga beliau disebut sebagai “Arung Ajatappareng” atau kerap disingkat sebagai “Arung Tappareng”. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pendirian Ajatappareng dipimpin oleh seorang Raja Tunggal yang mempersatukan kawasan sebelah barat Danau KarajaE sebagai suatu Kerajaan Besar.

d. Ajatappareng Memasuki Masa Pax Nederlandica

Memasuki abad 20, suhu politik di Sulawesi Selatan memanas seolah-olah berada dalam tungku bara api yang tertutup sekam. Bahwa jika sebelumnya keberadaan Bangsa Belanda di Sulawesi Selatan adalah atas nama suatu kompeni (perusahaan) yang bernama VoC, yakni suatu serikat dagang swasta yang terpusat di Nederland, maka kini diambil alih oleh pemerintah Kerajaan Belanda sendiri.

Hingga kemudian, penguasaan itu kini bersipat colonial sebagaimana yang mereka sebut sebagai Gubernemen Hindia Belanda (Gouvernements Gebieden). Begitupula dengan status kerajaan-kerajaan yang tadinya berupa mitra VoC, kini dipaksakan sebagai wilayah taklukan.

Pemerintahan Kolonial Belanda memulai menanamkan segenap daya imperialismenya pada segenap kerajaan diseluruh Nusantara dengan visi yang berbeda dari sebelumnya, sebagaimana yang mereka sebut sebagai Pax Nederlandica.

Bahwa perlunya situasi aman dan damai pada seluruh negeri-negeri kawasan Nusantara dalam naungan Kerajaan Nederland adalah prioritas utama untuk menjamin lancarnya penanaman modal untuk hasil berkesinambungan.  Maka secara otomatis pula, motivasi perlawanan para patriot Sulawesi Selatan berganti haluan pula.

Jika sebelumnya aksi perlawanan dalam kurun Abad 19 adalah bertujuan menolak bercokolnya kembali kekuasaan Belanda di Sulawesi Selatan pada pasca kekuasaan Inggris, kini berganti pada penolakan secara total terhadap kehendak Belanda yang terang-terangan ingin menguasai sepenuhnya sebagai bagian dari Kerajaan Nederland.

Pada tahun 1900, La Pawawoi KaraEng SEgEri ArumponE XXXI memulai perselisihannya dengan Belanda. Pertentangan itu kemudian mencapai puncaknya dan meletuskan perang frontal yang dimulai pada tanggal 20 Juli 1905 dan berakhir pada 14 Desember 1906.

Perlawanan sengit yang merengut jiwa para putra putri terbaik Tana Bone, diantaranya Baso Abdul Hamid Pagilingi Petta PonggawaE yang gugur demi membela harkat dan martabat bangsanya dengan melindungi keselamatan ayahandanya, yakni: La Pawawoi KaraEng SEgEri ArumponE XXXI.

Demi melihat putranya tercinta gugur, ArumponE La Pawawoi menawarkan gencatan senjata dan selanjutnya ditawan serta diasingkan ke Bandung. Perlawanan di Tana Bone rupanya menyulut perlawanan di kawasan LimaE ri Ajatappareng yang bermula pada penyerangan Belanda ke JampuE.

Kemudian perjuangan itu akhirnya menyatu dengan perlawanan Kerajaan Gowa ketika Somba Gowa I Makkulawu Sultan Husain KaraEng LEmbang Parang memimpin langsung lasykar Gowa memaklumkan perang dengan Belanda pada tanggal 20 Oktober 1905.

Sri Baginda Raja Gowa bersama saudaranya (I Mangngimangi KaraEngta Bontonompo) dan kedua puteranya (I Mappanyukki Datu Suppa dan I Panguriseng Arung Alitta) meninggalkan Istananya di Jongaya menuju kawasan Ajatappareng.

Pada perjalanan inilah yang kemudian berkesinambungan turun temurun melahirkan tokoh-tokoh pahlawan berikutnya, sebagaimana disebut I ParEnrEngi Daeng PabEso KaraEng TinggimaE Arung Malolo Ajatappareng, La Sinrang Bakka Lolona Sawitto, Andi Makkasau La Wawo Datu Suppa Toa, Andi Abdullah Bau MassEpE Datu Suppa Lolo dan lainnya.

Kemenangan Belanda dalam operasi Pax Nederlandica di Sulawesi Selatan pada akhirnya mengubah peta LimaE ri Ajatappareng. Terbentuklah wilayah “Ajatappareng Baru” menjadi suatu wilayah Afdeling dari 7 Afdeling di wilayah Sulawesi Selatan – Tenggara. Afdeeling Parepare yang beribukota di Parepare mewilayahi : Regent Parepare, Regent Sidenreng Rappang, Regent Pinrang (Sawitto, Suppa, Alitta, Bungi, LEtta dan Batu Lappa), Regent Barru (Tanete, Barru, Mallusetasi) dan Enrekang (Enrekang, Maiwa, Kassa’ dan Duri).

Sesungguhnya wilayah Ajatappareng dalam Afdeling Parepare lebih meluas namun tidak lagi memiliki kekuatan dan kekuasaan pemerintahan sebagaimana sebelumnya. Namun yang terutama sekali, bahwa akar sejarah negeri-negeri yang terpaksa dilebur tersebut disekat dan dikebiri. Hal yang menjadi suatu kenyataan ironis pada masa kemerdekaan dalam bingkai NKRI saat ini, warisan afdeling bentukan Belanda itulah yang lestari hingga kini.

III. SIMPULAN, SARAN DAN PENUTUP

Terbentuknya LimaE ri Ajatappareng sesungguhnya dilatarbelakangi oleh solidaritas atas kesamaan nasib yang sesungguhnya didasari pula oleh perhubungan genealogis pada raja-raja kelima negeri. Mengurai kembali sejarah LimaE ri Ajatappareng kiranya dapat digali semakin dalam pada suatu kegiatan seminar sehingga tulisan ini tiada lain dimaksudkan sebagai pengantar.

DAFTAR BACAAN

Andaya Leonard Y, 2005. Warisan Arung Palakka ; Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17, Ininnawa, Makassar.

Amir Sessu, Drs. A., 1985. Lontara Akkarungeng Bone, Transkrip, Kandepdikbud Kabupaten Bone.

Mattulada, H. A., Prof. Dr.,1988. Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan, Hasanuddin University Press, Makassar.

Panguriseng, A, 1977, Lontara Pangurusengna La Wahide’ Pabbicara Tana TengngaE Belawa, Tidak Dipublikasikan, Belawa.

Palippui, H. Drs, 1992. Ada Sulsana Ugi MasagalaE, Yayasan Kebudayaan Mini Latenribali, Wajo.

Ridha, A., 2007. Lontara Abbatireng Ana’ ArungngE ri Bone, Tidak Dipulikasikan, Soppeng.

Lontara Pau-Paunna Nene Allomo ri Sidenreng (koleksi penulis), Tidak dipublikasikan.

Lontara Atoreng Toriolo (inhoud No. 130), Tidak Dipublikasikan.

Lontara Akkarungeng Luwu (koleksi Istana Kedatuan Luwu), Tidak Dipublikasikan.

Lontara Sukkuna Wajo, Tidak Dipublikasikan.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga