Oleh: Andi Fahry Makkasau
ETTAPEDIA.ORG – Apa arti sebuah nama? Kalimat tersebut adalah sesuatu yang tidak penting menurut Shakespeare, seorang Sastrawan ternama dari Inggris. Meski begitu, nama terkadang menjadi salah satu gambaran tentang sesuatu yang kita agung-agungkan, misalnya nama diri. “Sennunnu Sennuangeng”, nama adalah sesuatu yang daripadanya diletakkan harapan atau cita-citanya. Begitu pula nama bagi suatu daerah. Agar kita memiliki kebanggaan yang tinggi bagi daerah kelahiran dan tempat tinggal sehingga harus paham maknanya. Rasa-rasanya setiap nama akan mengandung makna yang menjadi karakter identitas bagi pemilik nama tersebut.
Demikian pula bagi daerah Maros, tentu penamaannya memiliki latar belakang sehingga disebut dengan nama MAROS yang hakekatnya adalah perubahan bunyi dari kata MARUSU, yang oleh lidah Melayu atau Belanda disebut Maros. Jika kita menyelidiki asal usul kata dan penamaan Maros, maka ada beberapa versi yang dapat dijadikan dasar dan masing-masing versi memiliki pendapat serta argumentasi yang berbeda-beda sehingga kita sulit menentukan versi mana diantaranya yang paling tepat.
Terkait versi mana yang paling benar adalah tidak penting untuk diperdebatkan tetapi yang terpenting semua versi tersebut adalah acuan yang amat berharga dalam memperkaya khasanah budaya dan Sejarah Maros. Berdasarkan cerita peninggalan para leluhur yang tertuang dalam masing-masing versi tersebut dapat kita kemukakan asal kata Marusu dalam beberapa versi antara lain :
Versi pertama, dicatat bahwa kata “Marusu” berasal dari kata “Rusung” (Bahasa Makassar) dan atau “Marusung” (Bahasa Bugis). Makna dari kedua kata itu adalah sama yaitu suatu keadaan yang menunjukkan sistem prikehidupan yang sederhana baik individu maupun sebagai sebuah kelompok masyarakat.
Jika kata tersebut berubah menjadi kata ulang “A’rusung-rusung” atau “Ma’rusung-rusung” maka akan bermakna hal yang menunjukkan pada seseorang atau kelompok masyarakat yang mempunyai keahlian dan kelebihan dalam membawakan diri dan pribadi baik itu menyangkut kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan masyarakat guna memperjuangkan sesuatu tanpa mengenal pengorbanan serta pantang mundur atau menyerah sebelum maksud dan ide-idenya tercapai.
Makna ini juga menggambarkan sebagai sikap kekeluargaan dan tepaselira yang sangat tinggi dalam mempertahankan harga diri dan kehormatan keluarga. Dari gambaran ini dapat kita lihat pada suatu kisah yang tercatat dalam Lontaraq Gowa dan Lontaraq Marusu, yaitu Ketika Raja Gowa X bernama I Monriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung melakukan peperangan dengan Tallo yang saat itu diperintah oleh I Mangngayoang Berang Karaeng Pasi.
Maros yang mempunyai ikatan perjanjian persahabatan dengan Gowa yang dilakukan oleh Karaeng Loe ri Pakere (Raja Maros I) dengan Karaeng Tumapa’risi kallongna (Raja Gowa IX), memilih berperang di pihak Tallo menghadapi Pasukan Kerajaan Gowa di daerah Tamamangung yang bernaung di bawah Panji Cakkuridia yaitu Lasykar Data, Pattallasang, Bontomanai dan Paccellekang.
Keterlibatan Maros dalam Perang Gowa-Tallo tersebut lebih disebabkan oleh jiwa dan semangat kekeluargaan yang tebal dalam diri Raja Maros yang ketika itu diperintah oleh I Mappasomba Daeng Nguraga Karaeng Patanna Langkana Tumenanga ri Buluduaya (Raja Maros IV), sebab kita ketahui bahwa istri Raja Tallo ketika itu bernama I Pasilemba bersaudara kandung dengan Raja Maros sehingga hubungan kekeluargaan yang begitu dekat “menyeret” Maros membantu Tallo dalam perang tersebut.
Peranan Raja Maros dalam peperangan ini pun sangat besar karena berhasil memulihkan kembali hubungan antara Gowa dan Tallo sebagai Kerajaan kembar (zuzterstaten) dan dalam posisi yang sangat berjasa itulah sehingga Raja Maros senantiasa ditetapkan dalam posisi penting dalam struktur pemerintahan Kerajaan Gowa yaitu sebagai Tumailalang (Menteri Dalam Negeri), sebagaimana Raja Tallo senantiasa menjadi Pabbicara Butta/Bali Gau’ Sombayya (Perdana Menteri) Kerajaan Gowa. Ketentuan ini berlaku sampai ditanda-tanganinya Cappaya ri Bungaya (Perjanjian Bungaya) dalam Tahun 1667/1669.
Versi Kedua, kata “Marusu” berasal dari asal kata “A’maru”, “A’pa’maru” atau “Maru-e” artinya “dimadu” , “memadu beberapa orang istri” atau “madu/istri lain”. Kalau diteliti secara akurat mengapa sampai terjadi kata tersebut sebagai asal kata penamaan Marusu yang selanjutnya terjadi perubahan bunyi dari kata “a’maru” dan “appa’maru” atau “maru-e” kita akan sampai pada kisah-kisah yang dicatat oleh sejarah yang terkait dengan kata tersebut, yaitu catatan tentang puteri Marusu yang dimadu oleh Raja lain.
Kalau kita membuka Lontaraq Bilang Raja Gowa dan Tallo atau Lontaraq Tallo sendiri maka akan kita baca suatu catatan bahwa ketika Kerajaan Tallo diperintah oleh Raja yang bernama I Mangngayoang Berang Karaeng Pasi yang juga bergelar Gallarang LoEya dan gelar anumerta Karaeng Tunipasuru memiliki beberapa orang istri.
Disamping Permaisurinya Beliau juga masih memadu beberapa istri salah satu diantaranya ialah I PASILEMBA puteri KaraeEng LoE ri Marusu (Raja Maros III) yang melahirkan Dinasti Penguasa Raja-raja Gowa dan Tallo dekade selanjutnya. Putra-putri yang lahir dari perkawinan itu ialah:
1. I Mappataka’tana Daeng Padulung, Raja Tallo
2. I Yenang Daeng Palengu
3. Karaeng Barampatola (istri dari I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Tunibatta Raja Gowa XI)
4. I DaEng Maddaeng
5. KaraEnga ri Langkanaya
6. KaraEnga ri Sinjai
7. I DaEng ri Tidung
8. KaraEnga ri Bontokappong
9. KaraEnga ri Mangarabombang
10. KaraEnga ri Ujung Tanah
Selanjutnya dalam Lontara Silsilah Raja-raja Bone dan Silsilah Raja-raja Maros dapat diketahui bahwa Raja Bone XVI, La Patau Matanna Tikka MalaE Sanra Nyili’na WalinonoE Sultan Alimuddin Idris Matinroe ri Naga Uleng yang telah memiliki dua orang istri dari Kerajaan Besar yaitu We Ummung Datu Citta Arung Larompong puteri dari I Setiaraja Daeng Massuro Karaeng Lambengi Sultan Muhyiduddin Pajung (Raja) Luwu XVII Matinroe ri Tompotikka dan I Mariama Karaeng Patukangang puteri dari I Mappadulung Daeng Mattimu Karaeng Sanrobone Sultan Abdul Jalil, Somba (Raja) Gowa XIX Matinroe ri Lakiung masih memperistrikan lagi beberapa puteri raja lain yaitu antara lain dengan I Maimuna Dala Marusu, puteri Karaeng Angsakayai Binangaya ri Marusu (Raja Maros VII). Dan dari mulut kedua istri utama La Patau itulah sering menyebut I Maemuna Dala Marusu dengan sebutan “Marue”-ku (madu = istri lain suami) yang kemudian dilekatkan dengan daerah asal I Maemuna Dala Marusu.
Selain kedua catatan di atas, juga dalam catatan cerita Sejarah Marusu’ diketahui bahwa La Mamma Daeng Marewa Karaeng Marusu Matinroe ri Samangki di samping Permaisuri-nya yang bernama Opu Karaeng Saming Opu Bontobangung Selayar. Beliau masih memiliki istri lain (memadu : a’ppamaru) sebanyak 40 orang meski nama dari istri-istri tersebut tidak semua tercatat dalam Lontaraq.
Versi ketiga, Pendapat yang menyatakan bahwa kata “Marusu” berasal dari kata “Ma’roso”. Versi ini disampaikan oleh Almarhum Haji Abdullah KaraEng Gajang, putra Gallarang Sudiang, Muhammad Yusuf Daeng Pasau, langsung kepada penulis dalam sebuah diskusi di rumah beliau di Mandai. Versi ini berlandaskan cerita rakyat bahwa konon bahwa di tengah daerah ini dahulu ada sebuah kedai yang pemiliknya bernama “Ma’roso”. Kedai ini menjadi tempat persinggahan para kafilah yang melalui daerah ini baik ke dan dari Bone dan Gowa.
Apabila rombongan ini bertemu di tengah perjalanan sering timbul saling sapa dan tanya tentang dimana mereka melepaskan kepenatan yang dijawab di “Ma’roso” yaitu menyebut nama pemilik kedai tersebut. Berawal dari nama pemilik kedai berkembang menjadi nama daerah dimana kedai tersebut berada, yaitu Marusu sebagai berubahan dari kata Ma’roso.
Yang mana versi yang benar di antara 3 versi yang sempat penulis temukan, Wallahu’alam bish-shawab. (*)
Maros, Subuh 31 Juli 2019
Tulisan A. Fachry Makkasau lainnya tentang Fragmen Sejarah Maros bisa dilihat di link berikut:
Putra Daerah Maros: Siapa Dia? Yang Mana Dia?
Raja Maros IV Berjasa Menyatukan Kembali Kerajaan Gowa-Tallo
Genealogis Toddo Limayya ri Marusu’ dengan Bangsawan Jawa dan Melayu
Legenda Tobarani dari Tanralili: Karaeng Tallua ri Marusu
Dari Gilingkanayya menjadi Biringkanayya
Maros Abad XIX: Integrasi, Struktur Kekuasaan dan Perlawanan Rakyat
Sekilas tentang Langkanayya, Balla Lompoa ri Marusu’
Gallarang Appaka, dari Gowa-Tallo ke Maros
Pitu Bila-bila, Awal Sejarah Lebbo TengngaE





















