27 C
Makassar
Oktober 7, 2026, 12:08 am

Daftar Raja Bone: Arung MangkauE ri Bone

Oleh: M. Farid W Makkulau

ETTAPEDIA.ORG – Pusat Kerajaan Bone terletak di Sulawesi Selatan bagian barat daya, menguasai areal sekitar 2600 km2. Terbentuknya  dimulai dengan kedatangan Tomanurung ri Matajang MatasilompoE yang mempersatukan 7 komunitas yang dipimpin oleh Matoa.

Manurung ri Matajang menikah dengan Manurung ri Toro melahirkan La Ummasa Petta Panre Bessie sebagai Arumpone kedua. Saudara perempuannya menikah dengan La Pattikkeng Arung Palakka yang melahirkan La Saliyu Karampelua sebagai Arumpone ketiga. Di masanya, kerajaan Bone semakin luas berkat keberaniannya.

Perluasan kerajaan Bone ke utara bertemu dengan Kerajaan Luwu yang berkedudukan di Cenrana, muara sungai WalennaE. Terjadi perang antara Arumpone La Tenrisukki dengan Datu Luwu Dewaraja yang berakhir dengan kemenangan Bone dan Perjanjian Damai Polo MalelaE ri Unynyi.

Dinamika politik militer diera itu kemudian ditanggapi dengan usulan penasehat kerajaan yaitu Kajao Laliddong pada Arumpone La Tenrirawe BongkangngE yaitu dengan membangun koalisi dengan tetangganya yaitu Wajo dan Soppeng. Koalisi itu dikenal dengan Perjanjian TellumpoccoE.

Ratu Bone, We Tenri Patuppu adalah pemimpin Bone pertama yang masuk Islam. Namun Islam diterima secara resmi dimasa Arumpone La Tenripale Matinroe ri Tallo Arumpone keduabelas. Sebelumnya yaitu La Tenrirua telah menerima Islam namun ditolak oleh hadat Bone yang disebut Ade Pitue sehingga dia hijrah ke Bantaeng dan meninggal disana.

Ketika Islam diterima secara resmi, maka susunan hadat Bone berubah. Ditambahkan jabatan Parewa Sara (Pejabat Syariat) yaitu Petta KaliE (Qadhi). Namun, posisi Bissu kerajaan tetap dipertahankan.

Potret Sultan Hasanuddin, Arung Palakka dan Cornelis Speelman dipajang berdampingan dalam Museum Kota Makassar, ketiganya tokoh dalam Perang Makassar. (foto: ist/palontaraq)
Potret Sultan Hasanuddin, Arung Palakka dan Cornelis Speelman dipajang berdampingan dalam Museum Kota Makassar, ketiganya tokoh dalam Perang Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Bone berada pada puncak kejayaannya setelah Perang Makassar, 1667-1669. Bone menjadi kerajaan paling dominan di jazirah selatan Sulawesi.  Bone menjadi penguasa utama bersama Belanda, mengendalikan kekuasaan politik di Sulawesi Selatan dan sekitarnya pada Tahun 1666.

Perang Makassar mengantarkan La Tenritatta Arung Palakka Sultan Saadudin sebagai penguasa tertinggi. Kemudian diwarisi oleh kemenakannya yaitu La Patau Matanna Tikka dan Batari Toja.  La Patau Matanna Tikka kemudian menjadi leluhur utama aristokrat di Sulawesi Selatan.

Berikut ini Daftar Raja-raja Bone (Arung MangkauE ri Bone)

1. Mata SilompoE To ManurungE ri Matajang (1373-1380).

Lihat:  Riwayat Raja Bone (1):  Manurunge’ ri Matajang

2. La Ummase, putera dari To Manurungnge Rimatajang, dan digelar Petta Panre Bessie (1380-1448).

3. La Saliwu Petta Karampeluwa, kemenakan dari I a Ummase, digelar Pasodowakkae (1448-1518).

4. We Tenrigau Daeng Marowa Arung Majang (1512-1533). Ratu Perempuan Kerajaan Bone ini digelar Makkaleppie, atau Bissu ri Laleng Bili’, atau Petta ri Lawelareng.

Ratu Bone ini kawin dengan La Tenribali Arung Kaju. Menurut kepercayaan rakyat, baginda tidak wafat tetapi menghilang secara gaib dan digelar Mallajangnge ri Cina.

5. La Tenrisukki, putera dari We Benrigau (1538-1541).

6. La Woloi Bote’e, putera dari La Tenrisukki (1541-1570).

7. La Tenrirawe Bongkangnge, putera dari La Woloi Bote’e, digelar MatinroE ri Gucinna (1570-1586).

8. La Ica, saudara dari La Tenrirawe Bongkangnge, digelar MatinroE ri Addenenna (1586-1604). Beliau seorang raja yang jahat sehingga dibunuh oleh pamannya.

9. La Pattawe Arung Kaju (1604-1609). Beliau cucu dari Benrigau Daeng Marowa Arung Majang Mallajangnge ri Cina Raja Bone ke 4. Ayah La Patau Raja Bone ke 9 ini bernama La Pannaungi ToAppawawoi, juga bersaudara dari La Tenrisukki Raja Bone ke 5, Jadi La Pattaweng adalah kemenakan dari La Tenrisukki raja Bone ke 5. La attaweng tidak mempunyai anak.

10. We Tenrituppu, cucu dari La Wolio Bote’e Raja Bore ke 6, digelar MatinroE ri Sidenreng (1609-1619).

11. La Tenriruwa Sultan Adam, digelar MatinroE ri Bantaeng. Beliau Raja Bone yang pertama memeluk agama Islam. Memerintah tahun 1609-1611.

12. La Tenripale To Akkepeyang, putera dari La Ica MatinroE ri Addenenna Raja Bone ke 8. Baginda memerintah dari tahun 1611-1631. Baginda kawin dengan Kunange puteri Raja Bone ke 10 We Tenrituppu MatinroE ri Sidenreng, dan digelar MatinroE ri Tallo.

13. La Maddaremmeng, cucu dari Raja Bone ke 8 dan kemenakan Raja Bone ke 12. Pada zaman pemerintahan Baginda, kerajaan Gowa menyerang dan menaklukkan Kerajaan Bone. Baginda digelar ~-1atinroE ri Bukaka (1667-1672).

14. La Tenriaji To Senrima, adik dari La Maddarennmeng Raja Bone ke 13. Baginda memberontak terhadap kerajaan Gowa dan dilanjutkan dalam peperangan. Sekali waktu, tentara Kerajaan Gowa menyerbu Kerajaan Bone dan pasukan-pasukan Bone di bawah pimpinan La Tenriaji To Senrima dapat dihancurkan.

La Tenriaji To Senrima bersama banyak bangsawan Bone dan Soppeng termasuk orang tua dan keluarga dari La Tenritata To Appatunru Arung Palakka Petta Malampe’e Gemme’na ditawan dan diangkut ke Gowa. La Tenriaji To Senrima raja Bone ke 14 diasingkan ke Siang (Pangkajene Kepulauan) dan digelar MatinroE ri Siang (16461650).

15. La Tenritata To Appatunru Arung Palakka Petta Malampe’e Gemme’na Sultan Saaduddin Mangkau ri Bone To Risompae ri Gowa Malebbae Songko’na Arungna Mandurae MatinroE ri Bontoala, raja Bone ke- 15 (1667-1696), tetapi baru dikukuhkan menjadi Raja Bone tanggal 3 Nopember 1672.

Arung Palakka. (foto: ist/palontaraq)
Arung Palakka. (foto: ist/palontaraq)

16. La Patau Sultan Alimuddin Idris. Baginda adalah kemenakan dari Arung Palakka La Tenritata, dan putera dari We Mappolobambang bersama Pakkokoe putera dari La Maddaremmeng raja Bone ke 13, digelar MatinroE ri Nagauleng.

La Patau adalah cucu La Maddaremmeng Raja Bone ke 13. La Patau dikawinkan oleh Arung Palakka La Tenritata pertama dengan puteri Raja Luwu dan kedua dengan puteri Raja Gowa. Dari kedua perkawinan ini, La Patau memiliki putra-putri yang kemudian berkuasa di kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Selatan.

17. Batari Toja Sitti Zainab Sultana Zukijasuddin Arung Timurung Datu di Citta, Mangkau di Bone, ini adalah putri La Patau digelar MatinroE ri Nagauleng dari permaisuri yang dari Luwu. Batari Toja ini juga menjadi Pajung Luwu dan Datu Soppeng, dan dua kali memerintah, yaitu dari 1714 – 1715 dan dari Tahun 1724 – 1748. Waktu wafat digelar MatinroE ri Tippulu’na.

18. La Padangsejati To Appaware Arung Palakka, adalah putra La Patau MatinroE ri Nagauleng dari permaisurinya dari Gowa. Jadi baginda adalah saudara se-ayah lain ibu dari Batari Toja Mangkau Bone ke 17. Baginda juga menjadi Datu di Soppeng, dan setelah wafat digelar MatinroE ri Beula.

19. La Pareppa To Sappewalie, adalah putera La Patau MatinroE ri Nagauleng, se-ayah se-ibu dengan La Padasajati, Arumpone  ke 18, berkuasa pada Tahun 1720-1724. Sebelum menjadi Mangkau di Bone telah menjadi Somba di Gowa. Setelah wafat digelar MatinroE ri Somba Opu.

20. La Paongi Appawawoi Arung Mampu. Baginda adalah saudara se-ayah seibu dengan La Padasajati, Mangkau Bone ke 18 dan La Pareppa To Sappewalie Mangkau di Bone ke 19. Setelah wafat Baginda digelar MatinroE ri Bisei.

21. Bataritojang Sitti Zainab Sultana Zukijasuddin Arung Timurung. Baginda dua kali menjadi Mangkau di Bone, yaitu Mangkau ke 17 dan ke 21. Setelah wafat digelar MatinroE ri Tippulue.

22. La Temma SongE (La Mappasossong) Jaliluddin Abdul Razak Datu Baringeng. Baginda sauara se-ayah se-ibu dengan La Padasajati, La Pareppa To Sappewalie, dan La Panaongi To Appawawoi Arung Mampu, masing-masing menjadi Mangkau di Bone ke 18, ke 19 dan ke 20. Setelah wafat digelar MatinroE ri Mallimongeng.

23. La Tenrituppu Sultan Achmad Saleh Syamsuddin. Baginda adalah cucu dari La Tomassonge MatinroE ri Baringeng, dan memerintah dari tahun 1775-1812. Setelah wafat digelar MatinroE ri Rompegading.

24. To Appatunru Sultan Muhammad Ismail Muhtajuddin. Baginda adalah putera dari La Tenrituppu Achmad Saleh, dan menjadi Mangkau di Bone dari tahun 1812 -1823. Setelah wafat digelar MatinroE ri Lalengbata.

25. We Manneng Aru Data Sultana Saleha Rabiyatuddin. Baginda adalah saudari dari To Appatunru Arung Palakkka Matinmoe ri Lelangbata, dan Baginda Mangkau di Bone dari tahun 1825-1835.

Sewaktu Baginda Mangkau di Bone terjadi perang Bone yang pertama, dan Baginda tidak bersuami. Setelah wafat digelar MatinroE ri Kessi – Pangkajene.

26. Mappasiling Arung Panyili Sultan Adam Najamuddin. Beliau bersaudara dengan Mangkau di Bone ke 24 To Appatunru Arung Palakka dan Mangkau Bone ke 25 We Manneng Aru Data (Tahun 1835-1845). Setelah wafat digelar MatinroE ri Salassa’na.

27. La Parenrengi Sultan Achmad Saleh Muhiddin Arung Pugi. Baginda adalah kemenakan dari Mappasiling Achmad Saleh Arung Panyili Mangkau Bone ke 26 (1845-1857), dan cucu dari Mangkau di Bone ke 23 La Tenrituppu Achmad Saleh MatinroE di Rompegading.

Baginda kawin dengan saudara sepupunya yang bernama Besse Kajuara. Baginda wafat pada tanggal 16 Februari 1958 dan digelar MatinroE ri Ajangbetteng.

Lihat: Riwayat Raja Bone (27): La Parenrengi Arung Ugi

28. We Tenriawaru Pancaitana Besse Kajuara, Mangkau Bone dan Datu Suppa Sultana Ummulhadi (1857-1860). Baginda adalah cucu Mangkau Bone ke 23 La Tenrituppu Achmad Saleh MatinroE di Rompegading (Raja Bone ke 23, 1775-18? 2), dan menggantikan suaminya Mangkau Bone ke 27 La Parenrengi Sultan Achmad Saleh Arung Pugi MatinroE ri Ajangbenteng (18451857). Pada masa baginda Mangkau di Bone, terjadi perang Bone ke-11 dan perang Bone ke-3.

Pada Waktu Belanda menyerang Pada tanggal 6 Desember 1860 Benteng Alam Passompe, Baginda terpaksa meninggalkannya karena pengkhianatan Achmad Singkerrurukka. Nama lengkap beliau setelah wafat, Pancaiiana Besse Kajuara Tenriawaru Pelaiengngi Passempe MatinroE ri Majennang.

Lihat: Riwayat Raja Bone (28): We Tenriawaru’ Pancai’tana Besse Kajuara

29. Singkerru Rukka Arung Palakka Sultan Achmad Idris. Baginda adalah cucu Mangkau di Bone ke 24 To Appatunru Arung Malakka MatinroE di Lalengbata. Baginda memangku takhta Bone dari Tahun 1860 – 1871). Setclah wafat digelar MatinroE ri Topaccing.

Lihat: Riwayat Raja Bone (29): Singkerru Rukka Arung Palakka

30. We Fatimah Banri Gau’ Arung Timurung. Baginda adalah putri dari Singkerru Rukka Arung Palakka Sultan Achmad Idris MatinroE ri Topaccing.  We Fatimah Banri Gau’ menjadi Arumpone dari Tahun 1871-1895 dan setelah wafat digelari MatinroE ri Bolampare’na.

Lihat: Riwayat Raja Bone (30): We Fatimah Banri Gau’

31. La Pawawoi Karaeng Segeri. Baginda adalah saudara seayah dengan Arumpone ke 30 Fatimah Banri (Banrigau) Arung Timurung MatinroE di Bolampare’na, dan Baginda adalah putra Arumpone ke 29 Singkerru Rukka Arung Palakka Sultan Achmad Idris MatinroE ri To Paccing.

Pada tahun 1895 di usia 60 tahun, La Pawawoi Karaeng Segeri menjadi Mangkau di Bone, dan pada tahun 1905 Belanda menyerang Kerajaan Bone yang disebut Perang Bone ke 4. Ketika itu Baginda ditangkap dan dibuang, pertama ke Bandung dan kemudian dipindahkan ke Batavia. Setelah wafat digelar MatinroE ri Betawi.  Beliau dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Lihat: Riwayat Raja Bone (31): La Pawawoi Karaeng Segeri

32. Mappanyukki Sultan Ibrahim. Baginda adalah putera ke 2 dari Sombaya di Gowa ke-34 Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Huzain Tumenanga ri Bundu’na. Mappanyukki adalah Mangkau di Bone ke 32 dari tanggal 2 April 1931-19 Juni 1946. Sesudah wafat pada tanggal 18 April 1967, digelar MatinroE ri Jongae. Baginda dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar.

33. Andi Pabbenteng Daeng Palawa. Diangkat oleh NICA menjadi raja Bone pada 19 Juni1946, dan turun tahta scsudah pengambilalihan kekuasaan cli wilayah Indonesia Timur dari kekuasaan Belanda oleh operasi militerAPRIS ‘Gerakan Pertiwi’ pada tanggal 26 Mei 1950.

 

 

(* M. Farid W Makkulau, Peminat dan Penikmat Studi Sejarah Sulawesi Selatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga