Oleh: Muhammad Farid Wajdi **)
ETTAPEDIA.ORG – LOMBASANG adalah nama tua dari Labakkang, yakni sebuah konfederasi beberapa entitas kekuasaan politik : Malise, Lombasang, LeangE (Bombong Tallua). Kerajaan Lombasang adalah tetangga Siang di sebelah utara.
Sampai kini belum ada satupun hasil penelitian yang dapat mengungkap secara tegas dan meyakinkan hubungan Kerajaan Siang dengan Kerajaan Lombasang. Apakah Lombasang merupakan salah satu vasal Siang ataukah Lombasang merupakan kerajaan yang bersifat otonom sebelum berganti nama menjadi Labakkang (menjadi vasal Kerajaan Gowa).
- Latar Belakang Terbentuknya Kerajaan
Bagian yang tidak disebutkan oleh versi cerita lisan ini adalah keberadaan~menurut tradisi yang berlaku di daerah Bugis dan Makassar~benda yang disebut gaukeng (Bugis) / gaukang (Makassar) adalah faKtor penting dalam pembentukan permukiman awal Bugis Makassar dan sangat dihormati sebagai makhluk halus penjaga pada sebuah komunitas tertentu.
Gaukeng bisa berupa apa saja yang bentuknya tidak biasa atau mempunyai ciri aneh, bisa berupa biji buah yang telah kering, tunggul pohon, bajak tua, namun lebih sering berupa batu. Dipercaya bahwa pada suatu waktu di masa lampau beberapa anggota dari komunitas ini menemukan benda keramat itu, mereka kemudian menyediakan tempat, pelayan, kebun dan kolam untuk merawat benda itu dan penemunya.
Penemu gaukang itulah yang kemudian menjadi pemimpin komunitas baik dalam urusan keagamaan maupun sekuler, sebagai juru bicara untuk gaukeng itu. Inilah permulaan menurut sumber lisan ini, adanya pemimpin dari komunitas gaukeng.
Meski hampir tidak ada pembahasan mengenai asal usul gaukeng atau arti pentingnya, kita masih dapat memahaminya melalui contoh serupa di tempat lain di Asia Tenggara. Kepercayaan terhadap dewa m- dewa penjaga yang bersemayam di batu-batu dapat ditemukan di Asia Tenggara, India dan Cina.[1]
Nampaknya tradisi lisan di Sulawesi Selatan lebih eksplisit daripada yang ada di Champa, Vietnam bagian tengah, menyangkut peran batu-batu keramat ini dalam evolusi sebuah permukiman.
Menurut tradisi ini, komunitas gaukeng asli di Sulawesi Selatan secara perlahan mulai meluas. Daerah yang merupakan tempat asli gaukeng, yang kemudian ditentukan sebagai batas wilayah sebuah komunitas, tidak mampu lagi mencukupi keperluan kelompok komunitas ini.
Bagian batu dari komunitas induk pun diberikan, setiap kelompok mendapat gaukeng masing-masing. Komunitas ini dianggap sebagai “anak” oleh komunitas ‘Ibu” yang merupakan komunitas gaukeng asli, dan gaukeng milik komunitas “anak” ini dianggap sebagai “pembantu” bagi gaukeng asli itu.
Komunitas gaukeng seperti ini ada di banyak tempat di seluruh Sulawesi Selatan, tidak lama, mereka mulai bersinggungan dan perselisihanpun tidak terhindarkan, khususnya dalam memperebutkan hak atas sumber daya yang ada. Kekuatan fisik sering digunakan untuk mengatasi perselisihan ini karena tidak ada cara lain untuk menyelesaikan pertengkaran antar komunitas gaukeng ini. Menurut tradisi lisan, pada tahap ini, muncullah Tumanurung (b. Tomanurung) yang dipersepsi sebagai dewa yang turun atau diturunkan dari langit atau kayangan.
- Pusat Kerajaan
Pusat kerajaan Lombasang diduga mengalami perpindahan dua kali dalam kurun waktu lima abad sejak sekurang-kurangnya Abad XVI, yaitu Lembang dan kemudian dipindahkan ke Kamponga, sedang unit pemukiman utama Lombasang berada di tepi Sungai Soreang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Labakkang.
- Lembang
Lembang, sekarang menjadi salah satu permukiman padat, berada di sekitar jalan utama poros Pangkajene-Pare-Pare, tepatnya di sebelah timur Sungai Soreang. Situs Lembang dipercaya sebagai tempat turunnya tokoh pengasas dinasti: Tumanurung, gelarnya Somba. Pusat kerajaannya mungkin ada di Palambeang, sebelah hulu sungai Malise, tepi sungai Soreang yang terpotong jalan Negara.
Pemeriksaan permukaan situs telah mengidentifikasi konsentrasi fragmen keramik. Penduduk mengonfirmasikan bahwa mereka seringkali menemukan berbagai wadah keramik utuhan ketika menggali. Pada muka tanah ditemukan pula deposit cangkang kerang laut.
Di bukit karst yang berada di sebelah timurnya terdapat gua yang oleh masyarakat dipercaya sebagai lokasi kubur Somba Labakkang. Indikator lain terdapat di tepi jalan raya: sebuah makam keramat dimana dikuburkan salah seorang penguasa bernama : La Upa, gelarnya Daeng Matimun MatinroE ri Zikkiri’na.
Bentuk makam telah dibangun permanen, menyediakan tempat layak bagi para peziarah. Yang otentik ialah bahwa diatas jirat makam berdiri sebuah nisan yang diklasifikasi sebagai nisan tipe Aceh yang populer pada Abad XVI-XVII. Tipe nisan Aceh merupakan indicator penting menentukan benda kubur tersebut sebagai barang impor ketika Islam mulai dianut penguasa Labakkang.
Perlu dicatat khusus adanya situs Pallambeang, masuk Desa Mangallekana, Kecamatan Labakkang. Petunjuk arkeologis adalah makam keramat dengan orientasi timur-barat bercampur dengan makam yang berorientasi utara-selatan. Makam diberi nama Tampung Bissu.
Di dalam kompleks makam banyak pecahan tembikar di permukaan tanah. Penduduk menerangkan bahwa penggalian mereka dulu sering menemukan guci yang berisi abu. Temuan ini, jika benar, akan memberi kita gagasan untuk mempertanyakan apakah bukan tidak mungkin Pallambeang adalah pusat upacara penting Kerajaan Labakkang sebelum islam ?
- Kamponga
Pada periode kolonial Belanda, ibukota Kerajaan Lombasang mengalami pemindahan dari Lembang ke Kamponga. Pemindahan ibukota agaknya dilakukan untuk mengatasi semakin jauhnya garis pantai, dan Kamponga sekarang hanya beberapa kilometer saja dari pesisir.
Pada ibukota terakhir ini symbol-simbol kerajaan tersimpan dan dipelihara dalam sebuah bangunan yang disebut “Balla Lompoa”. Sekarang, Balla Lompoa berada didalam kompleks rumah jabatan camat Labakkang.
Pelabuhan Kuna Malise
Malise dikenal sebagai salah satu unit kekuasaan politik yang membentuk entitas politik Lombasang atau Labakkang. Meskipun demikian, belum jelas betul bagaimana awalnya kedudukan Malise sebelum terbentuknya konfederasi yang mungkin baru terbentuk pada periode paska pemerintahan karaeng Tumapakrisika Kallonna, Raja Gowa yang juga menundukkan Kerajaan Siang. Dalam tradisi tutur diceritakan bahwa malise adalah lumbung padinya Kerajaan Labakkang. Jika ini benar, berarti bahwa Malise mencakup areal persawahan yang luas dan produktif.
Kenyataan menunjukkan bahwa sampai sekarang teritori Malise identik dengan sawah dataran rendah yang luas. Tapi ini barangkali lebih menunjukkan bahwa Malise adalah sebuah sentra ekonomi padi yang dikendalikan oleh seorang kepala lokal, “Karaeng Malise”, yang telah memberi kontribusi penting bagi eksistensi kekuasaan Labakkang dalam bentuk natura.
Dengan begitu kekuasaan politik Malise lebih ditekankan kepada otoritas internal yang memungkinkannya menjadi wilayah semi-otonom. Pusat Malise ditemukan berada di tepi sungai Soreang, sebelah hilir Lembang. Di Desa Malise sekarang, pengaruh karaeng masih kuat dalam masyarakat. Jejak kekunaannya tampak pada konsentrasi fragmen wadah tembikar yang cukup padat diatas permukaan tanah di sekitar kompleks makam Malise.
Beberapa makam menunjukkan kekunaan dari abad XVII dan XVIII. Jadi pusat politik Malise sangat mungkin mengacu pada periode Islam, sekurang-kurangnya bermula dari pendirian institusi-institusi kekaraengan mewarisi tradisi kebangsawanan Gowa. Pertanyaannya adalah dimanakah Malise dari periode sebelum Islam seperti tertera pada peta-peta Portugis abad XVI yang menulisnya Malique atau Malisi ? Dr J Noorduyn berpendapat bahwa kedua toponim Portugis itu adalah Malise sekarang.
Dalam peta portugis, Malise ditempatkan di tepi pantai, dekat muara, memberi tahu kita sebuah pelabuhan dari Kerajaan Lombasang. Pelabuhan kerajaan Lombasang yang terakhir ini justru tidak dikenal dalam sumber Portugis. Sekarang ini, Malise terletak sekitar 5 kilometer dari garis pantai. Perubahan topografis itu memberi petunjuk majunya garis pantai.
Jika Malise sebagai pelabuhan yang dikunjungi Portugis (kalau tidak sekedar mencatatnya saja dalam peta berdasarkan informasi sesama pelaut), maka seharusnya pusat politik ada disebelah hulunya, yakni Lembang, ibukota pertama. Maka eksistensi pelabuhan Malise mestinya dikenal dari sekitar abad XIV sampai menjelang masuknya Islam ke Labakkang.
Sesudah ibukota dipindahkan ke kamponga, sebelah hilir Malise, mau tidak mau pelabuhan itu mulai klehilangan fungsinya. Pengendapan yang terus menerus, juga menyebabkan wilayah Malise menjadi dataran rendah yang luas, sejalan dengan semakin banyaknya cabang-cabang sungai menuju muara. Dan kondisi itu lebih memungkinkannya menjadi areal pertanian yang produktif sampai hari ini.
Kalompoang
Kekuasaan politik pusat Labakkang ini memang tidak lagi berfungsi, tetapi kekuatan mistik religius berbagai arajang atau kalompoang—gong, kendang, bende, pedang dan lainnya—yang dipelihara pinati masih kelihatan. Pinati adalah sebuah jabatan spiritual yang tetap resistan, mampu memberi kekuatan spiritual dan sekaligus kultural bagi masyarakat adapt labakkang, khususnya dalam aspek sosial ekonomi. Pinati dilembagakan dalam bentuk upacara ritual pertanian padi : mappalili.
Benda-benda kalompoang (b. arajang) Kerajaan Lombasang berupa dua buah panji atau bendera, masing-masing bergelar “Bakkaka” dan “Jinaka”. Konon kedua bendera tersebut masing-masing berasal dari Karaeng Mangallekana dan Karaeng Malise. Kedua kekaraengan tersebut merupakan negeri inti Kerajaan Lombasang.
Benda-benda Kalompoang Kerajaan Lombasang tersebut kemudian bertambah menjadi tiga buah, karena sebuah lagi yang bergelar “Bolong Kamponga” atau Tamaloba” adalah milik Kerajaan Barasa yang diserahkan oleh Raja Gowa kepada Somba Lombasang (Labakkang) sebagai tanda terima kasih atas bantuannya memerangi Kerajaan Barasa (Pangkajene), hingga akhirnya Barasa dapat ditaklukkan dan dijadikan vasal (daerah taklukan) Gowa.
Raja-Raja Lombasang
Somba Lombasang / Labakkang yang terkenal ialah La Upa. Beliau adalah seorang bangawan tinggi yang pada dirinya menetes darah keturunan Gowa dan Luwu. Beliaulah yang memperanakkan I Biba Daeng Pa’ja Karaengta Campagaya yang diperisterikan oleh La Sulili Matinrowe ri Malili, putera dari La Tenrisessu Cenning Luwu Arung Pancana, Raja Segeri merangkap Raja Agang Nionjo’ (Tanete), dia adalah putera Datu Luwu, We Tenri Leleang.
Perkawinan I Biba Daeng Pa’ja Karaeng Campagaya dengan La Sulili MatinroE ri Malili membuahkan putera – puteri, diantaranya La Ida Karaeng Matinroe ri Balang, Somba Lombasang / Labakkang menggantikan Somba La Upa. Perkawinan Somba Labakkang La Ida Karaeng Matinroe ri Balang dengan Patta Ati, puteri Arung Mampu di Bone, La Makkulau, membuahkan putera bernama La Maruddani Karaeng Bonto-bonto yang melawan Belanda selama 11 Tahun, dari Tahun 1867 hingga Juli 1878 dan La Cella Daeng Muntu Karaeng Ujung.
Somba Lombasang / Labakkang La Ida Matinroe ri Balang kemudian kawin lagi dengan I Endang Daeng Tonji yang kemudian melahirkan putera – puteri diantaranya Karaeng Malise[2], Karaeng Campagaya, Sanapipa Daeng Niasi Karaeng Sapanang, dan Yummu Karaeng Tana – Tana yang dikawini Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang (Raja Gowa yang terakhir).
Dewan Hadat Kerajaan Lombasang (Labakkang) terdiri dari Lo’mo – Lo’mo, Labakkang, Tonasa, Teko, Kayumate, Lembang, Turungang, Moncongbori, Bolosino, Paccikombaja, Kasuwarang, Biringngere, dan Gallarang Labakkang. Negeri-negeri bawahannya terdiri dari 25 buah, masing-masing Labakkang yang diperintah oleh seorang Lo’mo, dan Labakkang yang diperintah oleh seorang Gallarang, Tonasa, Teko, Kayumate, Lembang, Turungang, Moncongbori, Paccikombaja, Kasuwarang, Birengere, Bontobarani atau Kalibarang, Mangallekana, Gentung, Parang-Parang, Pattalassang, Janalabbu, Kabirisi, Pallambeang, Bontowa, Beroanging, Kanaungang, KassiloE, Leang dan Bontotangnga.
Dari 25 negeri tersebut, satu negeri diperintah oleh seorang karaeng, satu negeri diperintah oleh seorang gallarang, satu negeri diperintah oleh seorang mado, tiga negeri diperintah oleh Matowa, tiga negeri diperintah oleh Jennang dan yang lain – lainnya diperintah oleh Lo’mo.
Dari Lombasang Menjadi Labakkang
Dari sejumlah kerajaan yang pernah ada di Sulawesi Se;latan, hanya tiga kerjaan yang diketahui rajanya bergelar sombaya yang berarti raja yang disembah, yaitu hanya Kerajaan Gowa, Kerajaan Bantaeng dan Kerajaan Labakkang. Sampai kira – kira Tahun 1653 Masehi, Kerajaan Labakkang bernama Kerajaan lombasang.
Perubahan nama dari Lombasang menjadi Labakkang menurut Sejarawan Daerah, (alm) Abdur Razak Daeng Patunru adalah atas perintah Sultan Hasanuddin setelah naik takhta dalam tahun 1653 sebagai Raja Gowa ke XVI [3]. Abdur Razak Daeng Patunru dalam tulisannya tersebut tidak menyebutkan alasan Sultan Hasanuddin sehingga merubah nama Lombasang menjadi Labakkang. Diduga perubahan itu didasari atas kesamaan nama Lombasang dengan nama kecil Sultan Hasanuddin, I Mallombasi [4].
Pamor kekuasaan Barasa yang autochtone menurun sejak dilancarkannya Gerakan islamisasi yang dalam tradisi disebut “musu sellenge” (holy Wars) yang dijalankan Gowa dibawah pemerintahan Sultan Alauddin (1593-1639), dan dibantu laskar Labakkang. Kemenangan Alauddin memungkinkan menaiknya agen kekuasaan Gowa di jalur sungai penting (Sungai Marana) dan merubah jalannya sejarah selama dua periode kekuasaan dengan menempatkan Barasa sebagai salah satu palili ata rikale (vasal) Gowa.
Sistem politik ini memberikan hak kerabat raja Gowa menduduki tahta Barasa, Gelar anumertanya: Karaeng Matinroe ri Kammasi yang kemudian diganti oleh Karaengta Allu. Perubahan politik kawasan Pangkajene juga dialami kekuasaan tetangga Siang di utara, yaitu Lombasang (sekarang namanya Labakkang), namun tidak diketahui pasti kapan masa awal berdirinya Kerajaan Lombasang.
Sejarah Lombassang (Labakkang) mulai dikenal sesudah menurunnya pamor politik ekonomi Siang dan kemajuan hegemoni Gowa di pesisir barat Sulawesi Selatan mulai pertengahan Abad XVI dibawah pemerintahan Raja Gowa Karaeng Tumapakrisika Kallonna dan dilanjutkan setelah gerakan pengislaman (islamisasi) Gowa oleh Sultan Alauddin pada awal Abad XVII.
Pada periode islam awal ini, penguasa Labakkaang turut membantu Gowa menundukkan Kerajaan Barasa, dinasti pengganti Siang di Pangkajene. Setelah Belanda mengalahkan Gowa pada Tahun 1667, Labakkang lepas dari Gowa dan masuk ke dalam kontrol VOC sebelum akhirnya menjadi wilayah administrasi Noorderpprovincien dan kemudian menjadi Noorderdistrichten dalam kendali administrasi Belanda berpusat di Fort Rotterdam (nama Belanda untuk Benteng Jumpandang). Somba Labakkang ketika itu didampingi tiga anggota adat yang terkenal dengan nama Bujung Tallua, masing-masing berkuasa di unit politik dan teritorial sendiri, yakni di Malise, Mangallekana dan Lombasang, sebelum lebih kompleks lagi dengan bergabungnya penguasa-penguasa kecil lainnya.
Hubungan kesejarahan Siang dengan Labakkang juga masih belum jelas. Sedikit tradisi tutur hanya memberi tahu bahwa Labakkang tidak pernah tunduk pada Siang. Jadi, ia mungkin saja otonom. Hal ini agak berbeda dengan catatan Antonio de Paiva bahwa Siang menjelang kedatangannya mengklaim banyak vasal (wilayah kekuasaan Siang) di pesisir utara, bahkan sampai ke Mandar ?. Boleh jadi, berita Portugis tersebut terlalu tua untuk mengetahui kedudukan sesungguhnya dari Lombasang pada periode keemasan Kerajaan Siang.
Kepentingan daerah ini buat para pelaut Portugis agaknya hanya terfokus pada Malise (Maliquer) yang dicatat demikian jelas dalam peta mereka. Satu pertanyaan muncul, “Mungkinkah kekuasaan politik Labakkang belum terbentuk ketika Malise memainkan peran utama sebagai pelabuhan Siang ?”. Kemakmuran dan gelombang migrasi para pedagang dari Mandar, Wajo, Bone, Makassar dan Jawa, memberi alasan kuat bagi penguasa kecil di Malise dan unit-unit politik lainnya untuk membentuk konfederasi dalam fungsinya mengendalikan ekonomi daerah ini. Dan entitas unit-unit politik semakin solid ketika mereka menerima Islam dari Gowa, memasuki model budaya baru: Tumbuhnya kekaraengan yang mempunyai kepentingan sama dan membentuk konsiliasi bagi kemakmuran bersama.
Sistem politik (political system) yang diterapkan Kerajaan Gowa terhadap negeri – negeri taklukannya itu adalah menempatkan Ana’ Bate Karaeng (penguasa yang ditunjuk oleh Raja Gowa sebagai penguasa di negeri taklukannya, biasa disebut bate-bate’a). kemudian disusul perkawinan keluarga Kerajaan Gowa, pada puncaknya Kerajaan Siang menjadi negeri keluarga kerajaan Gowa (istana sentris) yang tidak lagi bisa dipisahkan sampai tahun 1668, tatkala Gowa dikalahkan Arung Palakka dan Speelman (Bone-Belanda).
Sampai saat ini tidak ada satupun sumber sejarah yang dapat memastikan umur (history age) Kerajaan Siang sampai ditaklukkan Kerajaan Gowa – Tallo. Kerajaan Siang dibawah hegemoni pemerintahan Gowa berlangsung sekitar Tahun 1512 sampai 1668. Jadi, kurang lebih 156 tahun sampai akhirnya Kerajaan Gowa sendiri takluk setelah dipecundangi armada Angkatan Perang Arung Palakka (Kerajaan Bone) yang membangun aliansi kekuatan bersama dengan pasukan Bugisnya serta dengan pasukan Speelman (VOC/Belanda).
Karena lamanya Siang dalam rotasi kusut dibalik dominasi Kerajaan Gowa, maka sistem budaya yang mewarnai kehidupan masyarakat Siang adalah tradisi kultural Gowa, terutama sekali menyangkut hubungan kekeluargaan akibat perkawinan dengan raja dan bangsawan Gowa. Penguasa Siang punya hubungan kekeluargaan dengan keluarga kerajaan Luwu, Soppeng, Tanete, dan Bone karena pihak keluarga Kerajaan Gowa juga mengadakan hubungan perkawinan (kawin-mawin) antar keluarga Kerajaan Luwu. Kemudian Luwu kawin-mawin dengan Soppeng, Soppeng kawin-mawin dengan Tanete dan Tanete kawin-mawin dengan Bone.
Ringkas cerita, keturunan produk sistem kawin – mawin itu telah mampu menjalin hubungan kekeluargaan / kekerabatan semakin luas. Beberapa negeri atau kerajaan kecil yang berada dibawah Kerajaan Siang, seperti Barasa (Pangkajene), Lombasang (Labakkang), Segeri, dan beberapa unit teritori politik lainnya juga mengadakan kawin mawin antar keluarga kerajaan. Barasa berafiliasi Gowa, Bone dan Soppeng. Demikian pula Ma’rang dan Segeri. Sedang Labakkang lebih banyak dengan Gowa, walaupun pada mulanya Labakkang merupakan keturunan Raja Luwu, Soppeng dan Tanete. Tradisi kawin-mawin inilah yang menyebabkan masyarakat Pangkep saat ini telah menyatukan darah orang Bugis Makassar dalam wujud keturunan, bahasa, tradisi dan adat istiadat.
Sejarah Kekaraengan di Labakkang
Asal Muasal Nama Labakkang
Kata Labakkang (Makassar) secara harfiah berasal dari kata Labba yang artinya luas atau lebar. Dalam terminologi bahasa Makassar, aklaba berarti pelesir atau istirahat. Jadi, arti kata Labakkang yang sesungguhnya ialah suatu tempat yang biasa digunakan untuk istirahat (tempat melepas lelah) ; tempat persinggahan ; atau tempat rekreasi.
Sejarah Kekaraengan di Labakkang
Kekaraengan Labakkang berasal dan bermula dari kebangsawan “Kerajaan Lombasang”, yaitu sebuah kerajaan yang terletak di sebelah utara Siang. Sampai Tahun 1625, Kerajaan Lombasang masih berdiri sendiri, merdeka dan berdaulat, rajanya bergelar Sombayya (raja yang disembah) seperti gelar yang dipakai Raja Gowa, sampai kemudian kerajaan ini ditaklukkan Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV, Sultan Alauddin (Tumenanga ri Agamana). Sejak itulah raja Lombasang dan seterusnya hanya berhak memakai gelar “Karaeng” saja.
Ketika Sultan Hasanuddin, I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape naik takhta Kerajaan Gowa sebagai raja Gowa XVI dalam Tahun 1653, Beliau memerintahkan supaya nama Lombasang diubah menjadi Labakkang. Pada tahun 1667, Daerah-daerah yang dikatakan Noorderprovincien (Daerah – daerah utara) yang kemudian disebut Noorderdistricten ditaklukkan oleh Kompeni Belanda yang bekerjasama dengan pasukan Bugis dibawah pimpinan Arung Palakka dengan kekuatan senjata. Hanya Labakkang sendiri yang menggabung dengan sukarela kepada Kompeni, tetapi kemudian, Labakkang mengadakan perlawanan terhadap kompeni. Kompeni terpaksa menaklukkan Labakkang dengan kekuatan senjata dan kerajaan itu dimasukkan tanah – tanah Gouvernemen berdasarkan pasal 20 dari Perjanjian Bungaya.
Distrik Labakkang dikepalai oleh seorang Karaeng, membawahi 25 kepala kampong, diantaranya seorang yang bergelar Karaeng, seorang bergelar Gallarang, seorang bergelar Mado, tiga orang bergelar Matowa, tiga orang bergelar Jennang dan lain-lainnya yang masing-masing bergelar Lokmo.
Kampong-kampong tersebut ialah Labakkang (lokmo), Labakkang (Gallarang), Tonasa (lokmo), Teko (Lokmo), kajumate (Lokmo), lembang (Lokmo), Turungang (Lokmo), Montjong Bori (Lokmo), Patjikombaja (Lokmo), Kasuwarang (Lokmo), Biringere (Lokmo), Bontobarani atau Kalibarang (lokmo), Gentung (Lokmo), Parang – Parang (Lokmo), Pattalassang (lokmo), Mangallekana (Lokmo), Djannalabu (Lokmo), Kabirisi (Matowa), Palambeang (matowa), Bontowa (Matowa), Boroanging (Jennang), Kanaungang (Jennang), KassiLoE (Jennang), Leang (mado), dan Bonto Tangnga (Karaeng).
Dahulu Karaeng Labakkang didampingi oleh sebuat Hadat yang terdiri dari Lokmo Labakkang, Lokmo Tonasa, Lokmo Teko, lokmo Kajumate, Lokmo Lambang, Lokmo Turungeng, Lokmo Moncong bori, Lokmo Bolosino, Lokmo Patjikombaja, Lokmo Kasuwarang, lokmo Biringere, dan Gallarang Labakkang. Dari mereka itu, adalah Lokmo dan Gallarang Labakkang yang terkemuka. Dalam Upacara – upacara pelantikan Karaeng Labakkang itulah yang memegang peranan terpenting. Lokmo Labakkang adalah juga selaku pinati dari Kalompoang – kalompoang / Arajang – arajang dari Labakkang.
Kalompoang – kalompoang itu terdiri dari tiga pataka, yaitu Bolong Kampongnga atau Tamaloba, Bakkaka, dan Djinaka. Bolong Kampongnga berasal dari Karaeng Barasa (pangkajene), Kalompoang mana diberikan selaku hadiah oleh raja Gowa kepada Karaeng Lombasang karena raja ini membantu raja Gowa pada permulaan abad XVII dalam peperangannya melawan Raja Barasa. Kedua kalompoang yang lain itu adalah masing-masing dari Karaeng Mangallekana dan Karaeng Malise.
Kedua kekaraengan ini terletak dalam daerah Lombasang dan keduanyalah yang sebenarnya merupakan inti Kerajaan Lombasang. Labakkang dahulu rapat kekeluargannya dengan Gowa dan Bone. Karaeng Labakkang yang bernama La Ida MatinroE ri Balang kawin dengan Patta Ati anak dari Arung Mampu La Makkulau, Karaeng Labakkang tersebut kawin lagi dengan I Endang Daeng Tonji, lahirlah Jummu Karaeng Tana-tana, kemudian dikawinkan dengan La Idjo Karaeng Lalolang (Raja Gowa terakhir). Tercatat disini La Maruddani Karaeng Bonto-bonto (anak dari Karaeng Labakkang MatinroE ri Balang) sebagai pahlawan.
La Maruddani Karaengta Bonto-bonto melakukan perlawanan dengan Belanda dari tahun 1867 sampai dengan 1878 beliau menyerah pada Belanda bulan Juli 1878 sebab terdesak. Beliau ke Wajo dan Balanipa (Mandar). Menikah disana dengan anak bangsawan tinggi. Turunannya adalah isteri pertama dari Husain Puang Limboro yang terkenal itu.
Dicatat disini bahwa Regent Labakkang yang bernama Page Daeng PaliE juga melawan Belanda Belanda ia diasingkan Belanda ke Bandung, berputerakan Sondeng Daeng Pasawi, ia menikah dengan I Dellung, puteri dari Karaeng Galesong yang bernama Majengkok Daeng Sila. Dari perkawinan itu lahirlah Tjalla Daeng Muntu, kemudian jadi Karaeng Labakkang. Puteranya yang bernama Andi Bauru menggantikannya menjadi Karaeng Labakkang. Setelah terbentuk Kecamatan Labakkang beliau menjadi Camat Labakkang.
Catatan Kaki:
[1] Salah satu penjelasan terinci tentang hal ini dibuat oleh ilmuwan Perancis, Paul Mus, yang menjelaskan tentang batu-batu keramat di Champa, kini Vietnam bagian tengah. Champa adalah nama sebuah kerajaan yang penduduknya dari ras bangsa Indonesia yang mengembangkan peradaban mengesankan anatara Abad ke 9-14. Menurut Mus, Orang-orang Champa percaya bahwa Dewa Tanah, yang mengandung banyak energi pemberi hidup bagi dunia, bersemayam dalam batu-batu tadi. Batu-batu ini bukanlah representasi, namun Dewa Tanah yang sebenarnya dibuat kasat mata bagi manusia. Karena Dewa Tanah tidak mampu berkomunikasi dengan manusia dalam bentuyk seperti itu, jadi perlu ada perantara bagi manusia dan dewa. Orang yang menjadi perantara diangkat oleh sesama mereka menjadi pemimpin spiritual dan keduniawian bagi komunitasnya karena perannya sebagai juru bicara bagi Dewa Tanah. Batu-batu keramat di Champa ini kelihatannya mempunyai kesamaan asal usul, fungsi dan makna dengan gaukeng di Sulawesi Selatan. Sangat mungkin hal ini merupakan bagian dari kesamaan fenomena yang disebut Mus bahwa batu-batu ini hadir di sepanjang India bagian selatan hingga Jepang selatan (Monsoon Asia). (Mus, 1975 : 7 – 15).
[2] Mantan Bupati Takalar, Drs Tadjoeddin Noer dan mantan Camat Pangkajene, Drs Anwar Mungkara adalah diantara keturunan Karaeng Malise, putera Somba Labakkang La Ida Karaeng Matinroe ri Balang. Mereka karena berjiwa kebangsaan dan agamais, tidak lagi memakai gelar Andi sehingga kurang diketahui sebagai keturunan bangsawan tinggi yang berdarah Bangsawan, Luwu dan Gowa.
[3] Lihat, Majalah Bingkisan No. 7 Tahun II Terbitan Mei 1969, yang diterbitkan oleh Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan Tenggara.
[4] Nama lengkap Sultan Hasanuddin ialah, I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape, Sultan Hasanuddin.
(* Materi ini dibawakan pada Tudang Sipulung Komunitas To Labakkang di Balla Lompoa, Labakkang, Ahad, 8 Januari 2023.
(** Muhammad Farid Wajdi, Budayawan/Penulis Buku “Sejarah dan Kebudayaan Pangkep” (2007), Ketua I Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan Kabupaten Pangkep Periode 2022-2027.






















[…] Related Post: Labakkang dari Masa ke Masa […]
Jika karang bonto bonto adalah raja terakhir,siapakah dia Andi sinapang Karaeng tinggia