27 C
Makassar
Oktober 6, 2026, 11:07 pm

Sumpang Ralla, Sejarah Zaman Megalitikum dalam Kompleks Makam

Oleh: M. Farid W Makkulau

ETTAPEDIA.ORG – SALAH satu peninggalan sejarah budaya yang ada di Kabupaten Barru Propinsi Sulawesi Selatan adalah situs Makam Megalitik Sumpang Ralla, yang berada di Kecamatan Tanete Riaja.

Tak banyak informasi kesejarahan yang disediakan untuk diakses pengunjung khususnya bagi orang awam di lokasi makam ini, sementara tak ada orang yang berada di sekitar lingkungan yang dapat menjelaskan tentang situs tersebut yang disebut sebagai “makam megalitik” tersebut.

Jika dikatakan Makam Megalitik, berarti pikiran kita pertama tertuju pada Zaman Megalitikum. Inilah setidaknya informasi awal yang diberikan Balai Cagar Budaya yang memberikan papan nama di lokasi makam.

Tentu ingin memberikan informasi kesejarahan terhadap situs bahwa makam merupakan peninggalan zaman megalitikum, yaitu zaman dimana Bentuk-bentuk praktik kebudayaan dicirikan oleh pelibatan monumen atau struktur yang tersusun dari batu-batu besar sabagai ciri utamanya.

Penulis di lokasi situs Makam Megalitik Sumpang Ralla di Tanete Riaja, Barru. (foto: wahyu/palontaraq)
Penulis di lokasi situs Makam Megalitik Sumpang Ralla di Tanete Riaja, Barru. (foto: wahyu/palontaraq)
Bentuk Nisan yang berbeda dari makam umum lainnya. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Bentuk Nisan yang berbeda dari makam umum lainnya. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Model dan Type Makam dalam Kompleks situs. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Model dan Type Makam dalam Kompleks situs. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Dari informasi yang berhasil dikumpulkan penulis, Kompleks makam megalitik ini terdiri atas tiga perpaduan makam dengan tiga latar cerita yang juga berbeda. Di sisi Barat ada makam yang disebut Tampung Lebba dimana tidak ada yang mengetahui berapa jenazah yang dimakamkan disana.

Narasi tutur masyarakat setempat, sebagaimana pernah diungkapkan Bapak La Toa’ atau yang akrab disapa Latoanging bahwa dahulunya di tempat ini terjadi perkelahian dengan cara baku tikam, dan semua yang meninggal langsung dimakamkan disitu. Latoanging mencirikan tinggi rendahnya nisan sebagai penanda perbedaan strata atau kedudukan sosial.

Kelompok Makam di bagian tengah situs yang diyakini sebagai Makam dan pengikutnya. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Kelompok Makam di bagian tengah situs yang diyakini sebagai Makam Amirullah Daeng Mamalu dan pengikutnya. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Kompleks Makam Megalitik Sumpang Ralla di Tanete Riaja. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Kompleks Makam Megalitik Sumpang Ralla di Tanete Riaja. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Makam Megalitik di Sumpang Ralla, Tanete Riaja. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Makam Megalitik di Sumpang Ralla, Tanete Riaja. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Penulis di Kompleks Makam Megalitik Sumpang Ralla, Tanete Riaja, Barru. (foto: ist/palontaraq)
Penulis di Kompleks Makam Megalitik Sumpang Ralla, Tanete Riaja, Barru. (foto: ist/palontaraq)

Sementara itu, untuk Makam yang berada pada posisi tengah, tepat didalam pohon besar disebut-sebut sebagai makam Orang Bone bernama Amirullah Daeng Mamalu.

Narasi tutur setempat menyebutkan bahwa dahulu memang Daerah Tanete merupakan palili (daerah kekuasaan) Kerajaan Bone, sehingga Amirullah atau biasa disebut Daeng Mamalu menetap lalu menikah sehingga daerah Tanete ini disebut pula Tanete Riaja Bone.

Pada Zaman Penjajahan Belanda, nama ini berubah sebutan menjadi Tanete Barru. Amirullah Daeng Mamalu disebut-sebut sebagai Ulama Penyebar Agama Islam dari Kerajaan Bone.

Sebelum kedatangan Islam, masyarakat setempat masih menganut kepercayaan lama sebagaimana termaktub dalam Kitab La Galigo, yaitu kepercayaan terhadap Dewata SeuwaE, dengan tradisi permintaan doa di tempat-tempat yang dianggap angker, seperti Makam yang ada di Sumpang Ralla, Tanete Riaja.

Wilayah Tanete awalnya diperintah dengan sistem kerajaan dengan rajanya bergelar Datuk, yang disebut Datu’ Tanete. Raja Tanete atau Datu Tanete yang masih lekat dalam ingatan masyarakat sampai kekuasaan penjajahan Belanda berakhir disebut Datu’ Petta Latitti, yang menandai pemekaran wilayah Tanete Riaja, Tanete Rilau dan Pujananting, termasuk Tiga tanah tertua di Tanete yaitu Jalanru, Pangi dan Lakale. Ketiganya masuk menggabung sebagai wilayah palili dan diakui oleh Kerajaan Bone.

Salah satu type nisan yang unik dalam kompleks situs Sumpang Ralla. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Salah satu type nisan yang unik dalam kompleks situs Sumpang Ralla. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Untuk makam yang ketiga, berada di bagian belakang Sumpang Ralla. Tak ada sumber yang jelas mengenai makam ini, termasuk sumber lokal Bapak Latoanging. Cerita awal makam inipun alpa dalam lontaraq masyarakat setempat yang menceritakan alur kehidupan orang-orang yang berada pada makam tersebut.

Bapak Latoanging hanya berpesan agar apapun yang ada dalam kompleks makam harus dijaga dan dilestarikan. “Karena saksi lahirnya Tanete ada pada Makam Megalitikum ini,” ujarnya. Nampaknya butuh waktu untuk menguak misteri, sejarah atau cerita apa yang pernah ada dalam kompleks makam megalitik Sumpang Ralla ini, khususnya dalam hal penelitian arkeologi yang lebih intensif. (*)

 

(* Tulisan ini pernah dimuat/diposting di Media Palontaraq, 3 Juli 2018

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga