Oleh: M. Farid W Makkulau
ETTAPEDIA.ORG – Mencoba mengingat-ingat dan menulis ulang “Elong Pangngaja” yang pernah penulis dengar, ternyata ada dua kata yang sepintas kelihatan semakna, tapi oleh Orang Bugis dahulu sudah membedakannya. Ternyata leluhur kita, Orang Bugis dahulu, sudah membedakan antara “ma’guru” dan “ma’sikola”. Berikut bunyi “Elong Ugi” tersebut.

Elong Pangaja
E, Sining anak mulampekkek e’
Pada laoki magguru
Ajak muonro mammatu – matu
Awelaiyakkitu matu
Pada laokik massikola
Ajak muonro siya-siya
Pada laoki massikola
Ajak muonro siya – siya
Rianakna mitu tauwe’
Namalomo lao magguru
Narekko battowanik maegani
Anu mallawa rialena
Iyana tau rugi tongeng
Tau teyae’ magguru
Iyana tau rugi tongeng
Tau teyae’ magguru.
Terjemahan bebas:
Hei, kalian semua generasi belakang
Pergi semualah mencari guru
Janganlah engkau bermalas-malasan
Nanti engkau menyesal kemudian.Â
Pergi semualah mencari guru
Janganlah engkau melakukan hal yang sia-sia
Pergi semualah bersekolah
Janganlah engkau melakukan hal yang tak berguna
Akan diperlihatkanlah engkau kelak
Segala kemudahan bagi yang berpengetahuan
Jika kelak diperlukan orang banyak
Dirinya yang ditampilkan ke depan.
Sungguh merugilah, rugi yang sebenarnya
Orang yang tak pernah berguru
Sungguh merugilah, rugi yang sebenarnya
Orang yang tak berpengetahuan.

Demikianlah bunyi Elong Ugi yang pernah penulis dengar, yang sebenarnya merupakan “Elong Pangaja”, suatu pesan pengajaran, kebaikan atau nasehat bagi anak. Jika dilihat dari konteks pesannya, Orangtua Bugis dahulunya ingin menegaskan bahwa belajar atau berpengetahuan itu suatu keharusan dan bisa dimana saja.
Ungkapan “magguru” atau ma’guru (keharusan berpengetahuan/belajar dari guru tertentu), jelas lebih tua dari massikola (keharusan bersekolah, berguru secara formal). Itulah sebabnya, seringkali kata “guru” (tempat belajar) seringkali dipadankan dengan kata anre, “anreguru” yang tidak terjadi pada kata sikola.

Kata “magguru” lebih pada pendidikan informal dan non formal sebagaimana leluhur Bugis Makassar dahulu menjalaninya, dengan segala ketaatan dan adab-adabnya kepada “anreguru” (pemberi pengajaran) yang sangat dihormati, dipanggil “anre gurutta”. Sedang kata “massikola” lebih pada pendidikan formal, ketika suatu pendidikan berguru itu sudah dilembagakan.
Magguru mungkin lebih sfesifik alias tidak terstuktur, lebih ditekankan kepada kekuatan/kharisma seorang guru (anreguru) yang biasa diberikan kepada “panrita”, cendekiawan setempat, diakui secara sosial. Sedangkan “massikola” bermakna berstruktur, lebih ditekankan kepada lembaga atau satuan pendidikan, terjadwal, berkelompok, serta diakui oleh kerajaan/negara.
Demikian yang dapat penulis jelaskan. Tabe’, salamaki tapada salama’.Â
(* M. Farid W Makkulau, Pemerhati Budaya dan Sastra Daerah Sulawesi Selatan





















