Laporan: M. Farid W Makkulau *)
Related Post: Menikmati Wisata Alam “Bantimurung”
ETTAPEDIA.ORG – Taman Arkeologi Leang-leang Maros adalah satu salah destinasi wisata sejarah budaya yang cukup populer di Sulawesi Selatan, sebelumnya bernama Taman Prasejarah Leang-Leang atau Taman Purbakala Leang-Leang. Lokasi wisata ini menyajikan wisata edukasi tentang kepurbakalaan “Manusia Sulawesi”.
Bagi masyarakat luar Sulawesi Selatan, tentu mempertanyakan apa arti dari kata “Leang-Leang”. Dalam bahasa setempat (Bugis-Makassar), Leang-leang memiliki makna “gua” atau banyak gua. Ya, di kawasan taman arkeologi ini memang terdapat banyak gua prasejarah yang merupakan peninggalan arkeologis manusia purba yang unik dan menarik.
Para arkeolog dalam hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa beberapa gua yang terdapat di sekitar kawasan Taman Wisata Prasejarah ini pernah dihuni manusia sekitar 3.000-8.000 tahun SM, yang mana bukti keberadaannya ditandai dengan lukisan prasejarah berupa gambar babi rusa yang sedang melompat, dan puluhan gambar telapak tangan yang ada pada dinding-dinding gua.


Terdapat pula gambar 5 buah telapak tangan manusia purbakala yang ditemukan di Gua PettaE, dan gambar 32 bekas telapak tangan yang ditemukan di Gua-gua sekitarnya. Selain lukisan prasejarah, juga terdapat benda laut berupa kerang yang menandai bahwa gua tersebut juga pernah terendam dan dikelilingi oleh laut.
Keunikan lain adalah keberadaan sungai yang berada tepat di depan Gua Leang-Leang, singkapan batu kapur yang tersebar di areal persawahan penduduk, dan pemandangan Puncak Bulusaraung dari atas gua. Taman prasejarah ini jaraknya tidak terlalu jauh dengan kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung yang merupakan objek wisata cukup diminati baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.
Taman Prasejarah Leang-Leang terletak pada deretan bukit kapur (karst) di Kawasan Karst Maros-Pangkep, Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, wilayah administratif Kabupaten Maros. Secara administratif tepat berada di Lingkungan Leang-Leang, Kelurahan Leang-Leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Indonesia.

Lihat pula: Membanting Kemurungan di Bantimurung
Untuk mencapai Taman Arkeologi Leang-leang, dapat ditempuh sekitar 15–30 menit melalui jalan lingkungan (Jalan Poros Leang-Leang) dari Jalan Poros Bantimurung yang merupakan jalan utama yang menghubungkan Kabupaten Maros dan Kabupaten Bone. Sepanjang Jalan Poros Leang-Leang merupakan jalan yang telah dibeton sehingga memudahkan akses pengunjung/wisatawan.
Jarak Taman Arkeologi Leang-leang ini ke Kota Turikale adalah 10 km, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin 19,9 km, dan 34,9 km sebelah utara Kota Makassar. Kawasan ini dapat dicapai dalam waktu ± 1,5 jam dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Dari Kota Makassar melalui Jalan Poros Bantimurung (Maros-Bone) pada kilometer 7 belok kiri menyusuri jalan lingkungan kearah utara sampai ke kaki perbukitan karst.
* * *
Awal keterkenalan Kawasan Leang-leang adalah pada tahun 1950, seorang peneliti bernama H.R. van Heekeren menemukan gambar babi rusa yang sedang meloncat dengan bagian dada terpanah pada dinding gua Leang-leang. Sementara Miss Heeren Palm menemukan gambar telapak tangan wanita dengan cat warna merah. Kedua temuan itu terdapat di Leang Pettae dan Leang Pettakere.
Menurut para ahli arkeologi, gua yang ada dalam kawasan Leang-leang ini pernah dihuni manusia purba sekitar tahun 8.000-3.000 sebelum Masehi. Sementara gambar atau lukisan prasejarah tersebut usianya kira-kira 5.000 tahun silam. Karena penemuan “Gambar Prasejarah” di dinding gua Leang-leang inilah, akhirnya kawasan ini dibuka untuk wisatawan pada tahun 1980 dengan nama Taman Prasejarah Leang-Leang.

Di dalam taman ini banyak peninggalan manusia purba, diantaranya gambar telapak tangan manusia yang berwarna merah marun. Menurut arkeolog, gambar telapak tangan tersebut merupakan tangan salah satu suku yang telah mengikuti ritual potong jari sebagai tanda berduka cita atas meninggalnya seseorang. Selain gambar tangan, di dalam gua juga terdapat peninggalan peralatan manusia purba yang terbuat dari batu, sisa-sisa makanan yang berupa tulang binatang dan hewan-hewan laut.
Di sekitar Taman Prasejarah Leang-Leang terdapat gua-gua lain yang jaraknya saling berdekatan, antara lain Gua Balang, Leang Cabbu, dan Leang Sampeang. Salah satu gua yang termasuk dalam periode awal penemuan lukisan-lukisan dinding gua di Sulawesi Selatan adalah Leang Pettae dan Pettakere.

Berdasarkan pelbagai penelitian arkeologi yang telah dilakukan sejak tahun 1902 oleh ahli diperkirakan bahwa gua ini telah dihuni manusia sejak 50.000 tahun sebelum Masehi hingga 6.000 tahun yang lalu. Hal ini telah memberi kontribusi nyata dalam ilmu pengetahuan, terutama terkait dengan satu periode kehidupan manusia prasejarah pada masa lampau, yang oleh para ahli diistilahkan sebagai Kebudayaan Toala.
Temuan penting yang menonjol pada gua-gua prasejarah di kawasan Karst Maros-Pangkep ini adalah lukisan gua yang pertama kali ditemukan pada tahun 1950 oleh Heeren Palm. Lukisan gua tersebut menggambarkan aspek religi, mata pencaharian, teknologi, ekologi, dan seni pada masyarakat masa lalu.
Beberapa peneliti lain yang tercatat pernah melakukan penelitian tentang gua-gua prasejarah di Sulawesi Selatan antara lain Van Stein Callenfels, H.D. Noone dan A.A. Cense pada tahun 1933, W.J.A. Willems dan F.D. Mc’Carthy pada tahun 1936, dan H.R. van Heekeren tahun 1936, 1937, 1947, dan 1950, D.J. Mulvaney dan R.P. Soejono pada tahun 1969, dan I.C. Glover pada tahun 1973 dan 1975.
Pada tahun 1980-an, penelitian gua-gua di Sulawesi Selatan mulai banyak dilakukan oleh orang Indonesia sendiri, terutama oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) dan mahasiswa Jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin. Pada tahun 2007 dilakukan penelitian oleh peneliti Australia, Mike Morwood bekerjasama dengan Balai Arkeologi Makassar untuk menulusuri okupasi pada masa plestosen. (*)
(* M. Farid W Makkulau, Peneliti Sejarah Budaya Sulawesi Selatan, Pimred Ettapedia.
Iklan:























[…] Taman Arkeologi Leang-leang, Maros; Lihat disini: Mengenal Taman Arkeologi Leang-leang Maros […]
[…] Related Post: Mengenal Taman Arkeologi Leang-Leang Maros […]