Asal Usul Kata “Ince” dan “Unda”

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Ince: Identitas Keturunan Melayu di Pangkep

ETTAPEDIA.ORG – Bagi orang Pangkajene-Pangkep, dan seringkali keluar masuk kampung Bontomangape, Lempangan, Bulu-bulu, dan Parang-parang maka tentu sudah sering mendengar panggilan nama seseorang dengan predikat Ince’ atau Unda. Keempat kampung ini masuk dalam wilayah administratif Kelurahan Tumampua Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkep (Sulawesi Selatan).

Penyebutan “Ince” atau “Unda” ini juga sering ditemui pada sebagian kecil masyarakat Kelurahan Tekolabbua dan Kelurahan Anrong Appaka, Kecamatan Pangkajene Kabupaten Pangkep. Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan “Ince” atau “Unda” itu? Bagaimana asal usul penamaan atau penyebutan seseorang itu dengan istilah “Ince” atau “Unda” itu?

Sebenarnya, analisis mengenai asal-usul sebutan “Ince” dan “Unda” ini merupakan kunci sosiolinguistik untuk memahami stratifikasi sosial dan sejarah migrasi komunitas Melayu di Sulawesi Selatan, khususnya di wilayah pesisir Pangkep (masa Kerajaan Siang). Sebutan ini bukan sekadar gelar sapaan, melainkan indikator identitas etno-religius yang membedakan pendatang Melayu-Muslim dengan masyarakat lokal.

Etimologi dan Asal-Usul Kata “Ince”

Gelar Ince (kadang ditulis Inche atau Enche) adalah gelar yang sangat identik dengan komunitas Melayu yang menetap di Pusat-pusat perdagangan Sulawesi Selatan sejak abad ke-16. Istilah ini berasal dari kata Melayu “Ence” atau “Encik”. Dalam tradisi Melayu Semenanjung dan Sumatera, Encik merupakan gelar kehormatan bagi laki-laki atau perempuan yang memiliki status sosial menengah, biasanya bagi mereka yang terpelajar, saudagar, atau pejabat rendahan istana yang tidak memiliki garis keturunan bangsawan tinggi.

Ketika saudagar Melayu menetap di Pelabuhan Labakkang dan Pesisir Siang Pangkep, penduduk lokal mengadopsi sebutan ini sebagai bentuk penghormatan kepada pendatang yang membawa agama Islam dan misi perdagangan. Dalam naskah Lontaraq, nama-nama tokoh Melayu hampir selalu diawali dengan gelar Ince (contoh: Ince Tayyeb, Ince Ali).

Gelar Ince menjadi penanda bahwa seseorang adalah keturunan campuran Melayu yang telah berakulturasi dengan Bugis-Makassar namun tetap mempertahankan silsilah “kemelayuan” mereka. Di Pangkep, keturunan Ince secara historis sering menempati posisi strategis sebagai perantara dagang (syahbandar) atau guru mengaji.

Etimologi dan Asal-Usul Kata “Unda”

Berbeda dengan Ince yang akar Melayunya sangat jelas, kata “Unda” memiliki dimensi sosiolinguistik yang lebih lokal namun tetap terikat pada penghormatan terhadap leluhur Melayu. Istilah Unda diyakini merupakan bentuk kontraksi atau perubahan fonetis dari kata Melayu “Bunda” atau “Ibunda”.

Jika Ince cenderung digunakan secara maskulin (meski asalnya netral), Unda di wilayah Pangkep dan Makassar secara spesifik merujuk pada sapaan kehormatan bagi perempuan keturunan Melayu yang dituakan atau memiliki martabat tinggi pada awalnya, namun banyak pula laki-laki yang menggunakannya.

Sebutan “Unda” ini secara sosiologis mencerminkan rasa hormat masyarakat lokal terhadap “Ibu-Ibu Melayu” yang dipandang memiliki keunggulan dalam etika tata krama (adab) dan pemahaman agama. Dalam struktur keluarga keturunan Melayu di Pangkep, Unda diposisikan sebagai penjaga tradisi dan silsilah keluarga agar identitas kemelayuan mereka tidak hilang meski telah berasimilasi selama berabad-abad.

Analisis Komparatif dalam Konteks Islamisasi di Siang

Penggunaan gelar “Ince” dan “Unda” ini sebagai bukti pola Islamisasi yang damai melalui “Islamisasi dari Dalam” (perkawinan/kawin mawin).

Aspek Gelar “Ince” Gelar “Unda”
Sumber Encik (Melayu-Sanskerta) Bunda (Melayu-Sanskerta)
Status Gelar Sosial/Niaga Gelar Kekerabatan/Kehormatan
Peran Agen Literasi & Perdagangan Penjaga Tradisi & Domestik
Pesan Sejarah Kedatangan pendatang laki-laki Melayu Hasil asimilasi dan pemuliaan perempuan

Penggunaan Ince dan Unda di Pangkep membuktikan bahwa komunitas Melayu sejak masa Kerajaan Siang tidak dipandang sebagai orang asing selamanya (outsider), melainkan diserap ke dalam struktur sosial lokal dengan diberikan tempat terhormat. Hal ini kontras dengan perlakuan terhadap bangsa Eropa (Portugis/Belanda) yang tidak pernah mendapatkan gelar sapaan lokal yang bersifat kekeluargaan seperti ini.

Penggunaan istilah “Ince” dan “Unda” ini dalam tesis penulis, digunakan sebagai Argumen Linguistik untuk mendukung teori bahwa Orang Melayu memberikan kontribusi pada pembentukan kelas menengah baru di Pangkep (kelas saudagar-ulama) dan menguatkan bukti bahwa proses Islamisasi sejak masa Kerajaan Siang didukung oleh penerimaan sosial yang tinggi, dibuktikan dengan penyematan gelar kehormatan asli Melayu ke dalam sistem sapaan Bugis-Makassar.

Referensi

Abbas, Irwan. (2013). Sejarah dan Eksistensi Kerajaan Siang di Sulawesi Selatan. Makassar: De La Macca. (Membahas struktur masyarakat di pelabuhan kuno Pangkep).

Andaya, Leonard Y. (2004). Warisan Arung Palakka. Makassar: Ininnawa. (Menyinggung komunitas Melayu di Makassar dan sekitarnya).

Hadrawi, Muhlis. (2015). Lontara’ Pangkep: Edisi Teks dan Kajian Filologis. Makassar: Dinas Kebudayaan.

Mattulada. (1991). Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah. Makassar: Universitas Hasanuddin.

Pelras, Christian. (2006). The Bugis. Jakarta: Nalar. (Membahas kategori sosial Ince di Sulawesi Selatan).

Sutherland, Heather. (2004). The Makassan Trade in the 18th Century. In Journal of Southeast Asian Studies. (Menganalisis peran sosial kelompok Ince dalam jaringan niaga).

Yatim, Nurdin. (1983). Subsistem Fonologi Bahasa Makassar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (Penting untuk analisis fonetik perubahan kata Bunda ke Unda).

(* Muhammad Farid Wajdi, Peneliti Sejarah Budaya/Ketua I Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Kabupaten Pangkep.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Baca Juga