Oleh: M. Farid W Makkulau *)
ETTAPEDIA.ORG – Dalam khazanah bahasa dan sastra daerah Bugis, banyak sekali “Pappaseng Turiolo”, pesan-pesan leuhur orang Bugis kepada generasinya, anak cucu keturunannya agar senantiasa menjaga amanat, menjaga lisan dan perilaku, serta menjaga adat dan adab dalam masyarakat.
Beberapa “Pappaseng Turiolo” tersebut adalah:
“Aja’ Muangoai Onroang, Aja’to Muacinnai Tanre Tudangeng, Nasaba Detumullei Padecengi Tana, Risappapo Muompo, Rijallo’po Muakkengau.”
Artinya :
Janganlah menyerakahi kedudukan, jangan pula terlalu mengingini jabatan tinggi, karena engkau tak sanggup memperbaiki Negara. Kalau dicari baru akan muncul. Kalu ditunjuk baru engkau mengaku.
Pada hakikatnya, semua orang mencita-citakan kedudukan atau jabatan tinggi, tetapi takdir dan kesempatan membawanya kea rah lain. Akan tetapi manakala keserakahan menjadi tumpuan untuk menggapai cita-cita, maka dalam perjalanan menuju cita-cita unsure moral akan dikesampingkan, bahkan fatal bila ditunjang oleh kekuasaan.
Sebaliknya seorang yang beritikad baik pada umumnya mempunyai harga diri sehingga malu akan mengemis jabatan dan bila diberikan amanah dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab.
“Tellu Riala Sappo: Tauwe’ ri DewataE, Siri ri Watakkaleta, Nenniya Siri’ ri Padatta Rupa Tau.”
Artinya:
Hanya tiga yang dijadikan pagar : rasa takut kepada Tuhan, rasa malu pada diri sendiri, dan rasa malu kepada sesame manusia.
Rasa takut kepada Tuhan membawa ketaqwaan dan memperkuat iman. Rasa malu kepada diri sendiri akan menekan niat buruk dan memperhalus akal budi, dan rasa malu kepada sesama manusia dapat membendung tingkah laku buruk dan meninggikan budi pekerti
“Pala Uragae’, Tebbakke Tongengnge, Teccau maegae, Tassiewa Situla’e.”
Artinya :
Tipu daya mungkin berhasil untuk sementara, tetapi kebenaran tak termusnahkan, kebenaran tetap akan hidup dan bersinar terus di dalam kalbu manusia.
Karena sumber kebenaran datangnya dari Tuhan. Yang sedikit mungkin mengalahkan yang banyak untuk sementara karena kekuatan. Akan tetapi yang banyak tidak dapat diabaikan atau dimusnahkan. Yang banyak saja sudah satu kekuatan apalagi yang banyak membina kekuatan.
Adalah tidak mungkin matahari tenggelam di siang hari, seperti tidak mungkinnya memusnahkan kebenaran.
“Melleki tapada melle; tapada mamminanga; tasiyallabuang.”
Artinya:
Marilah kita menjalin hubungan baik, supaya apa yang dicita-citakan bisa menjadi kenyataan.
Hendaknya, kita tetap menjalin hubungan baik dengan kerabat dan menyambung silaturrahim. Kesuksesan tidak semata merupakan hasil kerja keras sendiri, tapi juga ada andil dan campur tangan orang lain. Dengan menjalin hubungan baik dengan orang lain akan membukakan pintu kesuksesan baik pribadi ataupun bersama. (*)
(Bersambung … )
(* M. Farid W Makkulau, Pemerhati Sejarah dan Budaya Sulsel/Pimred Ettapedia





















